Overlord Volume 14 Chapter 2

Countdown to Extinction

overlord bahasa indonesia

Di ibukota Re-Estize Kingdom, di dalam Istana Valencia.

Salah satu ruangan memiliki semacam panas yang khas dari banyaknya orang yang berkumpul di dalamnya. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, ruangan itupun tidak luas. Intinya, orang-orang di ruangan itu sangat serius dan sibuk dengan tugas mereka sehingga mereka mulai menaikkan suhu ruangan sedikit demi sedikit.

Di tengah ruangan ada sebuah meja rapat persegi panjang dan kursi paling penting diruangan itu diduduki Rampossa III. Kursi disebelah kananya pangeran kedua, Zanac, dan sisa kursi diduduki oleh para bangsawan dan menteri Kingdom. Meskipun kenyataannya kebanyakan dari mereka semua sudah tua, jika kau melihat ke sekitar, semua yang dapat kau lihat hanya rambut putih beserta jidat putihnya dan kepala botak yang menyilaukan.

Jika ini merupakan situasi normal, semua orang kecuali raja akan berdiri untuk memberikan penghormatan dan kemudian memulai rapat dengan semestinya – lagipula itu hanya formalitas – tetapi itu tidak terjadi. Masing-masing dari mereka memiliki cangkir berisi teh di depannya, menandakan pertemuan ini akan memakan waktu yang lama.

Setelah memastikan semua orang telah menerima bahan yang telah mereka siapkan, Zanac berkata dengan keras,

“Mari kita mulai rapat istana. Topik pertemuan kali ini adalah deklarasi perang yang telah kita terima dari Sorcerous Kingdom.” Dia telah menggunakan istilah yang sama kuatnya dengan ‘deklarasi perang’ dengan harapan setiap orang akan memperlakukan pertemuan ini dengan nuansa yang semestinya.

Kenyataannya, menteri dalam negeri berambut putih, yang seusia ayahnya, memiliki ekspresi yang paling tidak menyenangkan dari mereka semua. Tampaknya dia sangat cemas tentang keadaan darurat ini.

Zanac melirik ke sebelah wajah ayahnya. Dia paling khawatir tentang penilaian ayahnya. Apakah ayahnya masih mampu sepenuhnya memahami betapa berbahayanya situasi ini dan mengambil tindakan yang tepat terhadapnya?

{Dia mungkin memiliki dendam terhadap Sorcerer King yang telah membunuh ‘pria itu’ …}

Dia telah mendengar bahwa setelah ayahnya menerima berita kematian Warrior Captain Gazef Stronoff, ayahnya terguncang sampai ke intinya dan tidak bisa berpikir jernih. Setelah dijelaskan kepadanya jika tidak mungkin untuk membangkitkannya, ayahnya sangat marah tidak seperti dirinya yang biasa. Zanac memberikan kesaksian untuk semua itu karena dia ada di sana bersama ayahnya ketika itu terjadi.

Sejak itu, ayahnya terlihat semakin menua. Dia telah kehilangan semua motivasinya dan tidak bernyawa seperti manekin yang terbuat dari daging dan tulang.

Apakah ayahnya, yang telah mengalami trauma sebanyak ini, dapat membuat penilaian yang tenang terhadap musuh abadinya, Sorcerous Kingdom?

{Kalau begitu ini berarti terserah padaku—}

Zanac merasa tidak nyaman lalu dia melirik para menteri.

Topik pertemuan ini merupakan sesuatu yang dikirimkan kepada mereka beberapa hari yang lalu oleh seorang utusan dari Sorcerous Kingdom, sebuah dokumen resmi yang terdapat segel meterai Sorcerous Kingdom. Isi dokumen itu berbunyi, “Karavan gandum yang dimaksudkan sebagai bantuan kemanusiaan dari Sorcerous Kingdom kepada Holy Kingdom telah diambil secara paksa oleh seorang warga Kingdom. Kami menganggapnya sebagai tindakan permusuhan terhadap Sorcerous Kingdom dan dengan ini menyatakan perang terhadap kerajaanmu.”

Dokumen itu juga memuat segel dari kerajaan lain yang menyetujui tindakan Sorcerous Kingdom.

Untuk saat ini, utusan itu tinggal di ibukota, menunggu untuk mengembalikan surat tanggapan Kingdom. Mengingat ini merupakan komunikasi resmi antar kerajaan melalui dokumen, tidaklah lazim untuk membalas pihak lain selama satu atau dua minggu kedepan. Meskipun begitu, untuk mereka mencapai suatu konsensus sebagai bentuk responnya, menyelesaikan persiapannya, menyelesaikan penyelidikannya, dan lain-lain mungkin akan memakan waktu lebih banyak daripada yang mereka miliki, bahkan jika mereka melakukannya secara terburu-buru.

“Saya benar-benar minta maaf, karena kami harus menyelidiki dua dari enam segel pada dokumen dari utusan itu, kami membutuhkan sedikit waktu.”

Orang yang menundukkan kepalanya merupakan menteri urusan luar negeri, yang juga menteri persegelan dan bertanggung jawab atas penyelidikan segel yang menyetujui keputusan Sorcerous Kingdom.

“Empat segel yang telah kami yakini yaitu dari Sorcerous Kingdom, Empire, Draconic Kingdom, dan Holy Kingdom benarkan?”

Menteri luar negeri mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan menteri keuangan.

“Itu benar. Dari dua yang tersisa – satu berasal dari Dwarven Kingdom. Meskipun kami telah mengidentifikasi desainnya sebagai Dwarven, segelnya masih memiliki beberapa variasi dibandingkan dengan yang ada pada dokumen yang kami miliki dari mereka sejak dua abad yang lalu. Setelah kami menerima bantuan dari Re-Blumrusher untuk penyelidikannya, kami menemukan segel yang sama, maka dari itu kami menilai bahwa kemungkinan itu merupakan cetakan ulang dari aslinya setelah era tertentu. Meterai yang lain, yang ada di sebelah Holy Kingdom, tampaknya adalah meterai dari yang mereka sebut ‘Si Tak Berwajah’.”

“Mereka menempatkan stempel individu di sebelah stempel kerajaan?”

Menteri urusan militer benar-benar tidak percaya.

Dia adalah yang termuda dari para menteri. Baik dirinya dan Zanac menurunkan usia rata-rata di rungan itu dengan cukup banyak. Bisa dibilang, usianya sudah di atas 40.

Penampilannya tidak sesuai dengan jabatan menteri urusan militernya; dia kurus, terlihat lemah, dan memiliki wajah yang menunjukkan dirinya neurotik. Dia lebih terlihat sebagai pegawai dibidang keuangan daripada pegawai militer.

Hubungannya dengan Gazef tidak terlalu bagus – atau lebih tepatnya, dia dengan sengaja memamerkan ketidaksukaannya padanya – oleh karena itu dirinya tidak terlalu diandalkan oleh Rampossa dan sering absen dari rapat istana. Kurangnya kontak di antara mereka membuat Zanac tidak menyadari kemampuannya.

Namun, karena Marquis Raeven memuji kemampuan menteri itu kepada Zanac, dia pastilah seseorang yang setidaknya sesuai dengan jabatannya. Tidak peduli seperti apa kepribadiannya, dia setidaknya pastilah kompeten kan? Tidak, jika dia tidak kompeten maka tak mungkin dirinya menjadi menteri.

“Sepertinya menteri urusan militer tidak terlalu akrab dengan masalah ini. Biasanya, ketika Holy Kingdom memberikan meterai nasional mereka pada sebuah dokumen, high priest mereka juga akan memberi cap pada meterai kuil mereka. Ini pasti seseutau yang mirip seperti itu.”

“… jadi mereka mencoba mengirim pesan bahwa ‘Si Tak Berwajah’ telah mengambil alih otoritas institusi keagamaan mereka, atau dirinya memiliki otoritas di atas otoritas institusi keagamaan mereka saat ini?”

“Pelanyanmu ini percaya bahwa itulah yang terjadi, Yang Mulia. Dokumen yang kami terima untuk penobatan Holy King saat ini masih memiliki meterai kuil mereka, sehingga kelihatannya dia mulai dengan cepat mengkonsolidasikan kekuasaan setelah peristiwa itu. Maka, meskipun kami belum pernah melihat cap ‘Si Tak Berwajah’ ini dan tidak dapat mengkonfirmasi keabsahannya, karena dicap di sebelah meterai nasional Holy Kingdom, kami hanya dapat berasumsi itulah yang terjadi.”

“Selain dari Council State dan Theocracy, sebagian besar kerajaan telah menyetujui dan bergabung dengan kecaman Sorcerous Kingdom terhadap Kingdom. Ini bukan dalih Sorcerous Kingdom, malinkan kebenarannya.”

“Ya, yang Mulia.”

Ayahnya mendesah lelah.

“Apakah Draconic Kingdom juga menekuk lutut mereka kepada Sorcerous Kingdom?”

“Kami tidak bisa memastikannya, Yang Mulia, karena kami belum menerima informasi tentang apa yang telah terjadi di Draconic Kingdom. Mungkin mereka telah menjadi mangsa kata-kata manis atau mungkin mereka hanya merasa ada lebih banyak keuntungan dengan berpihak pada Sorcerous Kingdom daripada berpihak pada kita.”

Draconic Kingdom mungkin hanya mendukung tindakan Sorcerous Kingdom dan tidak berpartisipasi dalam perang itu sendiri.

“Begitukah? Aku mengerti, menteri luar negeri. Terima kasih atas kerja kerasmu. Lalu… menteri dalam negeri, berapa banyak dari mereka yang mempercayai isi dokumen ini di Kingdom?”

“Ya. Meskipun kami tidak terlalu yakin tentang keseluruhan Kingdom, sekitar tujuh per sepuluh dari mereka yang ada di istana mempercayai itu merupakan taktik Sorcerous Kingdom. Sekitar satu per sepuluh mempercayai itu dibuat oleh organisasi kriminal – sebagian hanyalah kalangan rakyat jelata yang bodoh dan terlalu optimis. Dua per sepuluh sisanya mempercayai itu bisa saja merupakan rencana pihak ketiga.”

“Hmm, jika itu dari pihak ketiga, tujuan mereka kemungkinan besar akan melemahkan Kingdom dan Sorcerous Kingdom atau hanya mengganggu perdamaian antara Sorcerous Kingdom dan Kingdom. Jika itu masalahnya, itu pasti Council State dan Theocracy.”

“Yang Mulia, saya yakin kesimpulan itu terlalu terburu-buru. Ada juga kemungkinan Empire berencana untuk membalikkan statusnya sebagai kerajaan bawahan. Lagipula, jika itu merupakan knight Kekaisaran, mereka mungkin bisa dengan mudah menyerang dan menguasai karavan.”

“—Itu tidaklah mungkin. Insiden itu terjadi di wilayah Kingdom. Apakah penyelidikan kita tidak mengungkapkan adanya puluhan pria? Bahkan jika itu merupakan Empire atau Council State dan Theocracy, tak ada jalan bagi mereka membawa begitu banyak tentara ke wilayah kita tanpa ketahuan. Atau mungkin, mereka mendapat bantuan dari dalam. Mungkin mereka telah menyewa bandit di dalam Kingdom, tentara bayaran juga akan menjadi pilihannya – secara spesifik tidak masalah, yang terpenting adalah kita sebagai bangsa telah melakukan kesalahan.”

Menteri Urusan Militer menegaskan tidak mungkin ini merupakan rencana yang telah dieksekusi oleh tentara asing diluar Kingdom.

Semua orang tahu betapa kerasnya dia bekerja untuk menjaga ketertiban umum yang hampir runtuh di dalam Kingdom setelah pertempuran itu. Dia telah membuktikan bakatnya melalui bencana ini, mungkin itu sebabnya dia sangat percaya diri dalam penilaiannya sendiri.

“Akan sangat sulit meminta bantuan para bandit, tetapi aku masih berharap kita bisa mendapatkan beberapa tentara bayaran ke dalam barisan kita, tetapi kita tidak mampu untuk melakukannya.”

“Apakah kau mengatakan keuangan kita sedang tidak bagus?”

“Aku tidak mengatakan itu sama sekali.”

“Tapi kau menyiratkannya—”

“Menteri keuangan, menteri urusan militer, tolong berhenti berdebat. kita tidak punya waktu untuk itu.”

Keduanya menundukkan kepala setelah mendengar raja berbicara.

Menteri urusan militer terus berbicara pada ruangan yang saat ini sunyi.

“Tapi, aku tidak ragu kalau ini semacam rencana yang disusun seseorang. Aku memiliki kesaksian dari para penjaga di gerbang bahwa karavan itu mengibarkan bendera Sorcerous Kingdom dan memiliki detail keamanan yang cukup mengesankan ketika mereka meninggalkan ibukota.”

Sebagian besar rakyat Kingdom mengetahui tentang pembantaian yang dilakukan Sorcerous Kingdom di dataran Katze, maka tidak ada seorang pun di dalam Kingdom yang berani memprovokasi kerajaan yang begitu menakutkan.

Jika mereka harus menyimpulkan siapa yang ada di balik semua ini, hanya ada satu kerajaan yang menceklis seluruh pilihan.

—Sorcerous Kingdom.

Semuanya menjadi masuk akal begitu mereka menganggapnya sebagai rencana yang disusun sendiri dan dilakukan sendiri.

Mereka mungkin telah memerintahkan karavan untuk membakar atau membuang muatannya – atau mungkin mereka jelas tidak mengisi kereta-kereta itu sejak awal – dan membuat alasan jika mereka diserang oleh entitas yang tidak ada. Sulit membayangkan penjelasan yang lebih masuk akal daripada ini.

“Zanac, meskipun tidak banyak waktu berlalu, berapa banyak progress yang kau buat dalam penyelidikanmu?”

“Sebenarnya … anak anda yaitu diriku sudah tahu siapa yang memulai insiden ini.”

Peserta rapat istana semuanya memiliki ekspresi terkejut.

“… Hanya saja, itulah yang membuatnya sulit. Kami meragukan kalau itu merupakan rencana pihak ketiga karena sangat mudah menemukan pelakunya. Apakah kalian akan berbaik hati memberiku lebih banyak waktu?”

“Tentu saja, kita harus menyelidiki detail yang tepat dari kejadian ini, tetapi mengingat situasinya, beberapa informasi apa pun akan sangat membantu. Bisakah kau melaporkan apa yang sudah kau ketahui – apa yang benar-benar kau yakini?”

“Sesuai permintaan anda, rajaku. Yang kami yakini, adalah para penjahat tersebut termasuk yang dikenal sebagai Baron Philip Dayton L’Eyre Montserrat dan para penduduknya.”

Para menteri berbicara, “Montserrat?” “Pernahkah kau mendengar nama itu?” “Seorang baron dan para penduduknya menyerang karavan?” “Apakah mereka mencoba membalaskan dendam seseorang yang tewas dalam pertempuran itu?” “Mungkin dia salah satu dari mereka yang tidak pernah memikirkan tindakan mereka?” “Emosi bisa membuat seseorang melakukan amukan yang tak terdugakan?”

Di tengah-tengah ini, seseorang yang berbicara adalah menteri kehakiman yang tampak sangat jengkel,

“Yang Mulia, ini … ini pastilah skema Sorcerous Kingdom, ya kan? Pelayanmu tidak dapat memahami mengapa seorang bangsawan Kingdom akan mendalangi sesuatu seperti ini.”

“Saya setuju. Apakah Sorcerous Kingdom bukanlah kerajaan yang dengan acuh tak acuh menggunakan [ Charm Person ] di pengadilan mereka? Sangat mungkin mereka tidak peduli tentang menggunakan metode yang sama-sama curang di tingkat nasional. Misalnya – mungkinkah baron itu dikendalikan menggunakan [ Charm Person ]?”

Gumaman “Aku mengerti” bisa terdengar di seluruh ruangan. Zanac tidak tahu harus berbuat apa, tetapi merasa menyesal telah membocorkan informasi itu setelah mendengar tuduhan menteri yang dibuat di bagian kedua dari retorika.

“Jika itu masalahnya, kita perlu menawarkan perlindungan kepada baron itu sesegera mungkin. Meskipun saya tidak terlalu paham tentang masalah ini, saya telah mendengar bahwa mantra yang disebut [ Charm Person ] membuat korbannya teringat akan apa yang terjadi ketika mantra itu dilemparkan pada mereka. Karena itu dia tidak akan tinggal diam.”

Zanac tidak memiliki pengetahuan sihir seperti menteri itu, maka dia telah membuat kesalahan seorang pemula.

“Panggil baron itu. Selidiki apa yang terjadi. Pada saat yang sama, lindungi dirinya.”

“—Rajaku,” Zanac tidak ingin mengatakannya, tetapi setelah menguatkan dirinya sendiri, dia berkata, “setelah kita mencari tahu apa yang terjadi, bisakah kita menawarkan kepala baron itu sebagai permintaan maaf kepada Sorcerous Kingdom?”

“Apa yang kau bicarakan?”

Tatapan ayahnya cukup tajam sehingga rasanya seolah menembus kedirinya. Bahkan ketika dia menjadi seorang lelaki tua kurus, lelaki yang telah memegang gelar raja untuk waktu yang lama masih memiliki aura yang layak dipuji.

{Aku ragu aku memiliki tingkat keagungan yang sama, tetapi, aku tidak akan mundur dengan mudah.}

Bahkan jika ini merupakan skema Sorcerous Kingdom, apakah itu benar-benar layak untuk bertarung di medan perang yang telah dipersiapkan musuh secara khusus untuk diri mereka sendiri? Dia takut prospek jika mereka akan terus berdebat bolak-balik tentang apakah ‘itu skema’ atau ‘itu bukan skema’ sampai pada titik ketika mereka akan terlibat dalam perang skala penuh.

Daripada menunggu ini sampai ke titik itu, lebih baik menyerahkan kepala bangsawan yang telah memulai semuanya lebih cepat daripada terlambat dan berharap itu akan mengurangi keparahan situasi.

Benar-benar bodoh untuk menghadapi lawan yang sudah menunjukkan kekuatan superior mereka dalam pertempuran sebelumnya. Jika perang terjadi, sulit baginya untuk membayangkan para bangsawan yang mengetahui tentang tragedi itu masih akan mengirim retribusi mereka.

Bahkan jika mereka mau mengirim tentaranya, mereka hanya akan membahayakan diri mereka sendiri.

“Rajaku, aku percaya kita harus menghindari perang dengan Sorcerous Kingdom.”

“Jadi kau mau mempersembahkan seorang bangsawan yang tidak bersalah sebagai pengorbanan? Apakah itu yang harus dikatakan pewaris takhta? Anakku, berpikirlah sebelum berbicara.”

Zanac menjilat bibirnya dan menjawab,

“Jawaban saya tetap sama terlepas dari apa yang orang lain katakan. Saya percaya sangat penting bagi kita untuk menghindari kehilangan banyak nyawa dengan pengorbanan kecil.”

“Jika kita melakukan itu, haruskah kita menyerahkan kepala pelayan setia lain setiap kali Sorcerous Kingdom mengetuk pintu kita? Apakah kau mengerti logika sederhana itu?”

“Saya mengerti … tetapi ayah seharusnya melihat tragedi di dataran Katze yang tidak pernah kualami. Apakah anda masih mempertaruhkan resiko konflik dengan Sorcerous Kingdom dengan hal itu?”

Ayahnya menghela napas dan membentuk bibirnya menjadi garis lurus. Zanac menekan kembali keunggulannya dengan menindaklanjuti, “Saya menentang gagasan itu. Izinkan saya mengulanginya, saya mempercayai berperang dengan kerajaan semacam itu haruslah dihindari dengan cara apa pun, bahkan jika kita harus mengorbankan seorang bangsawan yang tidak bersalah.”

Perkataannya hampir tidak cocok sebagai pewaris takhta. Dia mungkin dijuluki pengecut di belakangnya dan kehilangan kesetiaan beberapa menteri karena ini, tetapi Zanac percaya ini merupakan satu-satunya jalan di mana Kingdom akan bertahan.

“… Yang Mulia. Pelayanmu juga mendukung usul Pangeran.”

Seseorang yang setuju dengannya merupakan menteri urusan dalam negeri, tetapi dia akan menambah usulan Zanac,

“Yang Mulia, pelayan anda mengerti keinginan anda untuk melindungi semua warga kerajaan. Maka bagaimana kalau kita – menjadi kerajaan bawahan dari Sorcerous Kingdom?”

Para peserta rapat istana mulai berteriak, “Apa yang kau katakan!?”, “Apakah kau tak punya harga diri!?”, dan itulah yang terdengan setelah apa yang dikatakan menteri dalam negeri. Menteri itu mengabaikan mereka semua dengan pandangan tertuju pada ayah Zanac.

Dihadapkan pada sebuah saran yang menganggap pengusul sebagai pengkhianat, ayahnya sedikit demi sedikit tersenyum.

“Itu, aku sejujurnya tidak bisa melakukannya. Itu sama saja dengan mengkhianati kesetiaan generasi orang-orang yang telah melayani Kingdom ini. Bagaimana kita bisa menghadapi mereka? Aku minta maaf kepadamu, earl. Terima kasih atas saranmu.”

“Pelayan anda tidak pantas menerima permintaan maaf itu.”

Zanac melihat bahwa mereka berkomunikasi pada tingkat yang lebih dalam melalui tatapan mereka.

Apakah dia dapat memiliki pegawai istana yang seloyal ini?

Ayahnya merupakan pria yang penyayang, tetapi tidak lebih dari itu. Tidak – mungkin karena inilah orang-orang berbakat bersedia melayaninya. Ayahnya sangat berbakat dalam merekrut orang-orang yang lebih berbakat darinya, seperti Warrior Captain Gazef Stronoff.

Zanac merasa lebih baik baginya untuk menjadi raja daripada saudaranya, yang lebih mungkin menjadi boneka dari Eight Fingers atau Fraksi Bangsawan yang akan menghancurkan kerajaan dari dalam. Itulah sebabnya dia bekerjasama dengan Marquis Raeven untuk menjadi raja atau menjadi grand duke yang berpengaruh untuk mempersiapkan masa depan.

Tapi saat ini – Zanac tak bisa melakukan apa-apal lagi selain merasa tidak mampu dibandingkan dengan kejeniusan adik perempuannya dan karisma ayahnya. Bahkan jika dia menjadi raja, tidak mungkin dirinya akan membuat Kingdom menjadi lebih baik.

Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah mengasah dirinya sendiri, tetapi itu bukan tugas yang mudah mengingat usia dan kepribadiannya, ditambah lagi dia tidak pernah ingin mengasah dirinya sendiri. Dia mungkin akan seperti itu sampai mati.

“—menteri urusan militer, aku ingin mengajukan hipotesis. Apa yang bisa kita lakukan untuk memenangkan perang melawan Sorcerous Kingdom?”

“Bisakah kita membentuk aliansi dengan kerajaan lain sebelum itu? Apakah kita akan menghadapi mereka sendirian?”

Zanac, Rampossa III, dan menteri luar negeri saling bertukar pandang. Zanac, sebagai perwakilan mereka, menjawab,

“Kami belum berhasil menjalin aliansi dengan Council State. Dulu kami telah memulai negosiasi dengan mereka – tepat setelah pertempuran itu berakhir. Kami tidak dapat membentuk aliansi yang setara saat itu. Jika mereka tahu hubungan kita dengan Sorcerous Kingdom telah memburuk, kemungkinan penolakannya tinggi.”

“Begitukah … maka Yang Mulia, meskipun pertanyaan ini mungkin tidak sesuai. Apa yang anda anggap sebagai kondisi kemenangan perang ini? Apakah kita harus mengusir musuh dalam pertempuran ini? Atau apakah kita harus membunuh – atau lebih tepatnya, membinasakan Sorcerer King? Jika itu yang terakhir, saya tidak percaya kita memiliki kesempatan sedikitpun untuk menang.”

“… menteri urusan militer, itu tidaklah mungkin. Bagaimana jika kita hanya perlu memaksa musuh untuk menarik pasukan mereka?”

“Biarkan saya memikirkannya…” menteri militer memiringkan kepalanya ketika dia berpikir. Dia datang dengan jawaban, “keberuntungan harus berada di pihak kita, tetapi jika kita lebih dulu menyiapkan pasukan dan menduduki E-Rantel sementara pasukan mereka masih disiapkan dari E-Rantel menuju ibukota, kita mungkin memiliki kesempatan untuk mengubah gelombang pertempuran.”

“Kita harus menembus tiga lapis benteng mereka?”

“Ya Yang Mulia. Itu akan menjadi sesuatu yang hanya bisa dicapai jika kita bisa menyelinap pasukan yang sama besarnya dengan yang bisa kita kumpulkan melewati pertahanan mereka – itulah sebabnya saya mengatakan keberuntungan harus berada di pihak kita. Tentu saja, jika Sorcerous King, orang yang mampu mengeluarkan mantra mengerikan tanpa berkeringat, masih tinggal di E-Rantel maka rencana ini pasti akan gagal.”

Dengan kata lain jika keberuntungan tidak ada di pihak mereka, mereka sama sekali tidak memiliki peluang untuk menang. Zanac tidak yakin apakah ayahnya memahami seluruh implikasi dari ucapan menteri itu.

“Bila itu masalahnya, maka jika Sorcerous Kingdom telah menginvasi kita tanpa deklarasi perang resmi, semuanya akan berakhir. Sebuah serangan mendadak akan membuat kita tidak dapat mengumpulkan pasukan yang cukup pada waktunya, dalam hal ini kita bahkan tidak akan mampu melaksanakan rencana tersebut.”

Merupakan suatu tradisi untuk deklarasi resmi perang yang harus dilalui antar kerajaan, semacam perjanjian terhormat atau etiket perang.

Mengirim deklarasi perang secara resmi berarti mengirim pesan ‘kerajaan kami menjunjung etika’ ke kerajaan-kerajaan lainnya. Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan dipandang sebagai kerajaan yang biadab, yang akan memiliki dampak negatif serius pada upaya diplomatik mereka.

Di antara bangsa-bangsa dari ras yang berbeda, tradisi ini tidak sering diamati. Namun, bahkan ketika kerajaan-kerajaan dari berbagai ras terlibat, itu tergantung pada usia, sejarah, hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan tetangga mereka, dan sebagainya.

Jadi mengingat konteks ini, bagaimana suatu bangsa akan diperintah oleh undead, yang membenci mahluk hidup, akan melakukan hal tersebut? Apakah mereka akan memberikan deklarasi perang resmi?

“—Ayahku. Seperti yang sudah kuduga, kita hanya akan memiliki kesempatan menang sangat tipis jika kita melakukan peperangan. Jika itu masalahnya, bukankah kita harus mencoba yang terbaik untuk menghindari hasil tersebut, dengan pengorbanan kecil?”

“Pengorbanan kecil…?”

“Ya, rajaku. Kita harus segera memanggil baron itu dan mengadilinya. Setelah itu, kita akan membuatnya bertanggung jawab atas tindakannya terlepas dari hasilnya, dan mempersembahkan kepalanya.”

“… Kita tidak bisa melakukan itu, Zanac. Memanggil baron itu dan mengadilinya pastilah tak apa-apa, tetapi jika dia tidak bersalah atau jika kita bisa menyatakan dirinya tidak bersalah, aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku punya rencana yang lebih baik dalam pikiranku.”

“Rencana yang lebih baik …? Apa itu?”

Ayahnya terdiam dan menggelengkan kepalanya.

Setelah menyaksikan itu, Zanac menyimpulkan bahwa ayahnya mungkin berbohong. Jika memang ada rencana yang lebih baik maka dia pastilah mengatakannya dengan lantang. Jika tidak, dia mungkin berbohong untuk menutupi kenyataan dirinya tidak memikirkan alasan yang lebih baik tentang mengapa mereka harus mengampuni bangsawan itu.

Zanac merasa kecewa dengan ayahnya dan merenungkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

{Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, masa depan Kingdom terlihat suram … Sepertinya aku harus melakukannya dengan paksa.}

Pertama-tama, itu merupakan keharusan bagi mereka untuk menyerahkan seluruh tanggung jawab pada baron itu.

Meskipun probabilitasnya tipis, baron itu mungkin merupakan sumber dari semua masalah mereka. Dalam kasus apa pun, jika mereka bisa membuktikan kebenarannya, maka masalah mereka akan terpecahkan.

Namun, Zanac tidak bisa memikirkan cara untuk melimpahkan seluruh tanggung jawab kepadanya. Bagaimana jika dia membunuh baron itu dalam perjalanan ke ibukota dan kemudian melimpahkan seluruh tanggung jawab padanya? Ayahnya tidak akan bisa mengatakan sebaliknya jika memang begitu.

Bahkan jika ayahnya menolak rencana itu, selama dia bisa melakukannya sendiri, semuanya akan baik-baik saja. Dia telah mempertimbangkan jika semuanya akan berubah seperti ini pada saat dia mendengar insiden itu. Sebelumnya dia sudah sampai pada kesimpulan ini.

Kejahatan besar merebut tahta.

Dia begitu dekat untuk mewarisi takhta, dia bahkan tidak perlu melakukan apa pun kecuali menunggu. Jumlah kerugian dari melakukan apa yang akan dia lakukan terlalu banyak untuk dihitung. Satu-satunya keuntungan dari rencana ini yaitu menyelesaikan masalah yang ada.

Jika itu yang terjadi maka perebutan kekuasaan mungkin merupakan ide bodoh di atas kertas, tetapi jika dia membiarkan status quo tetap seperti saat ini, sudah tidak ada lagi yang namanya Kingdom.

Zanac berharap setidaknya dia bisa menerima persetujuan dari para menteri yang hadir dirapat ini. Ada juga kebutuhan baginya untuk meminta kontribusi pria itu dari saudara perempuannya. Brain Unglaus merupakan bagian tak terpisahkan dari rencananya. Jika Brain ada di sana, mereka pasti akan lebih unggul dalam hal kekuatan.

{—Ah — sungguh menyebalkan! Mengapa aku harus merencanakan ini sejak awal! Kalau saja Sorcerous Kingdom tidak ada! Kalau saja undead yang sangat kuat itu tidak ada!}

Jika bukan karena Sorcerous Kingdom, jika bukan karena intervensi pertempuran tahunan mereka dengan Empire, meskipun saudara lelakinya mungkin sudah menjadi raja, Kingdom tak akan terpojokkan seperti saat ini.

Zanac mengutuk dalam benaknya.

Dan kemudian, suara ketukan pintu bisa terdengar.

Zanac memiliki firasat.

Untuk menginterupsi rapat, ini pastilah darurat. Sejujurnya, cara mereka mengetuk pintu juga cukup keras.

Masalah yang sangat penting biasanya – tidak, itu pasti berita buruk. Itu firasat Zanac.

Zanac, sebagai perwakilan mereka, memberikan persetujuannya untuk membiarkan mereka masuk. Seorang knight panik memasuki ruangan, seperti yang dia harapkan.

“Seorang utusan dari Sorcerous Kingdom baru saja memberi tahu kami bahwa Perdana Menteri mereka, Albedo, akan tiba di ibukota dalam waktu kurang dari dua jam!”

Dalam komunikasi mereka sebelumnya, gelar Guardian Overseer tidak masuk akal bagi mereka sehingga mereka sepertinya telah mengubah gelarnya menjadi Perdana Menteri yang mudah dimengerti. Apakah kedatangan seseorang sekaliber seperti itu menegaskan kekhawatirannya?

—Tidak, tunggu.

Firasatnya melenceng. Ini bukan berita buruk – tetapi berita terburuk.

{Jadi – untuk tujuan apa dia datang?}

Utusan yang membawa dokumen resmi tidak ada di dalam istana ini. Meskipun dia ingin dirinya tinggal di ibukota, mereka tidak memiliki keberanian untuk membiarkan undead bersama mereka. Inilah sebabnya mengapa saat ini orang itu menetap di mansion distrik bangsawan.

Mereka menempatkan penjaga di sekitar mansion di bawah kedok perlindungan, perimeter itu dijaga dengan sangat ketat sehingga bahkan seekor slimepun yang keluar tak akan tidak mereka sadari, tetapi utusan itu kelihatannya belum menghubungi Sorcerous Kingdom.

Mungkinkah mereka berkomunikasi menggunakan sihir? Atau apakah mereka berencana untuk mengunjungi Kingdom meskipun utusan itu belum kembali?

Juga, mereka tidak mengirim utusan sebelum mereka pergi, mungkinkah mereka kelupaan. Lalu untuk apa?

{Jika begitu – sepertinya mereka tidak kesini untuk menyatakan perang.}

Jika mereka di sini untuk menyatakan perang, mereka tidak akan mengirim pejabat terpenting kedua mereka menuju wilayah di mana mereka tidak yakin tentang apa yang bisa terjadi.

Sebagai utusan dari kerajaan asing, Kingdom tidak akan berani menyakitinya – meskipun dia mungkin memiliki gagasan naif itu. Namun, dari perspektif Zanac, pejabat itu sepertinya bukan tipe seseorang yang berkeliaran di wilayah yang dirinya tahu akan berbahaya baginya.

“Beri dia audiensi. Segera persiapkan ruang tahta untuk penerimaan tamu.”

“Baik, Yang Mulia!”

Knight itu meninggalkan ruangan setelah mendengar perintah ayahnya.

Biasanya, bahkan jika seorang pejabat asing mengunjungi ibukota, itu tidak seolah-olah mereka akan diberikan audiensi dengan Raja pada hari yang sama. Tetapi, mengingat situasi mereka saat ini, mereka tidak bisa begitu saja memberi tahu Perdana Menteri Sorcerous Kingdom sesuatu seperti, “Anda akan diberikan audiensi dalam beberapa hari.”

“Semuanya, aku minta maaf tapi bisakah kalian semua berganti pakaian dengan yang lebih formal dan berkumpul di ruang tahta?”

Setelah mendengar permintaan raja mereka, para menteri termasuk Zanac, menundukkan kepala mereka.

Ruang singgasana yang digunakan untuk audiensi dengan utusan (ada beberapa ruang singgasana, tiap ruangan digunakan untuk tujuan yang berbeda) tidak terlalu besar, tetapi cukup bagus karena telah disiapkan dengan cepat. Namun, karena pemandu yang mereka kirimkan cukup lambat – ini bukan tindakan yang disengaja oleh mereka untuk membeli lebih banyak waktu – mereka hanya memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan ruangan dan mengumpulkan para menteri yang saat ini mengenakan pakaian seremonial sebelum Perdana Menteri Sorcerous Kingdom, Albedo, tiba.

Aroma bunga yang baru dipetik mulai meresap ke dalam ruangan.

Bagi Zanac, semuanya hanya berbau seperti rerumputan, tetapi Renner mungkin akan mengatakan, “Mungkin Onii-sama sedang flu.” atau sesuatu seperti itu.

Dia merasa tidak perlu memakai bunga segar karena semua orang sudah memakai wewangian seperti parfum, tetapi dia mengerti ada nuansa tertentu ketika melihat bunga yang mekar. Jika itu masalahnya, mengapa mereka tidak bisa menggunakan bunga palsu saja? Yah, karena tidak ada preseden untuk itu, penggunaan bunga palsu bisa memberikan kesan negatif kepada si utusan jika mereka tidak disambut di sana, itu akan merepotkan.

Setiap ras memiliki perlakuan etiket yang serupa, namun perlakuan yang sama dapat ditafsirkan secara berbeda oleh ras yang berbeda. Lalu bagaimana Council State, yang merupakan rumah bagi berbagai ras non-manusia, memecahkan masalah ini?

Alasan mengapa pikiran ini muncul entah dari mana adalah karena tanduk dan sayap milik Perdana Menteri Sorcerous Kingdom, Albedo, yang baru saja berjalan masuk.

Sebagai Perdana Menteri Sorcerous Kingdom, kecantikan menggoda yang memiliki daya pikat misterius tentang dirinya, tak berubah dari terakhir kali dia melihatnya. Kecantikannya sedemikian rupa sehingga hampir bisa membuat mereka melupakan dirinya merupakan pejabat tinggi Sorcerous Kingdom jahanam. Dia tidak yakin apakah Albedo sudah mengatakannya, tetapi dirinya cukup mempesona untuk menjadi seorang utusan dimana kerajaannya akan saling berperang.

Perempuan itu adalah Perdana Menteri Sorcerous Kingdom, Albedo.

Suara pria yang dilanda jatuh cinta bisa terdengar di seluruh ruangan, suara yang mereka buat saat mereka mendesah, “ooooohh.” Para bangsawan yang telah membuat suara-suara itu juga terlihat jelas di wajah mereka yang terpesona.

Keindahan yang mampu menahan tawanan mereka secara bertahap mengeluarkan senyum yang seperti dimiliki seorang ibu yang penuh kasih. Mungkin tidak ada orang lain di dunia ini yang bisa menghasilkan senyum semenawan itu.

Meskipun saudara perempuan Zanac juga dianggap cantik, dia pikir kecantikan Albedo bahkan bisa mengungguli kecantikannya.

Satu-satunya aspek aneh tentang dirinya yaitu gaunnya.

Jika mereka berada di pesta dansa, tidak ada yang lebih pantas daripada gaun berwarna persik terang itu, tetapi mengingat situasi mereka saat ini, itu sama sekali tidak pantas.

Dia tidak mungkin memakainya karena suatu kesalahan. Itu pastilah di sengaja. Apa makna tersembunyi di balik semua ini?

Zanac tidak punya ide mengenai implikasi dari berbagai jenis gaun yang dikenakan oleh wanita. Mungkin saudara perempuannya akan bisa mengetahuinya, tetapi dia tidak terlalu normal dibandingkan dengan wanita-wanita bangsawan lainnya. Bisa dikatakan, keputusannya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu untuk mempercantik dirinya sendiri telah mendapatkan rasa hormat Zanac.

Zanac melirik adiknya.

Dia tidak mengenakan gaunnya yang biasa, melainkan apa yang ia kenakan untuk upacara. Dia tidak mungkin mengenakan pakaian yang sama seperti saat terakhir kali mereka menyambut Albedo kan?

Meskipun dia ingin memberitahu Renner untuk tidak mengenakan pakaian itu karena seseorang akan memandang rendah dirinya, gaunnya tidak terlalu luar biasa dibandingkan dengan apa yang Albedo kenakan.

Beberapa peserta rapat istana juga memperhatikan Renner mengenakan pakaian yang sama seperti saat terakhir kali mereka menyambut dan ekspresi mereka terlihat terganggu, tetapi ekspresi mereka hanya muncul sesaat saja.

“Sudah lama tak berjumpa, Albedo-kakka.”

Setelah mendengar suara Rampossa, para bangsawan yang telah terpesona oleh kecantikan Albedo akhirnya tersentak kembali ke kenyataan.

“Tidak juga, itu salahku karena tidak mengunjungi Yang Mulia dalam waktu yang lama.”

Albedo menjawab dengan suara yang sangat menarik yang cocok dengan penampilannya. Punggungnya tegap dan posisi vertikal kepalanya tidak berubah, sama seperti yang dia lakukan terakhir kali. Ini sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang lembut, itu memperjelas keyakinannya jika manusia terlalu rendah baginya untuk menundukkan kepalanya.

“Sepertinya anda tidak banyak berubah, sungguh melegakan.”

“Sama denganmu, Yang Mulia.”

Cara keduanya tersenyum dan memandang satu sama lain dapat membuat seseorang percaya itu hanya pertemuan antar teman dekat, dan tidak lebih.

“Anda kelihatannya sibuk, jadi saya akan terus terang, mengapa hari ini anda datang ke sini?”

“Memang benar. Aku kemari untuk urusan kita sebelumnya – tentang karavan gandum kerajaanku, yang dimaksudkan untuk menjadi bantuan kemanusiaan bagi Holy Kingdom, telah dirampok oleh salah satu orangmu.”

Meskipun ini bukan suatu hal yang bisa ditertawakan, senyum Albedo tetap teguh seperti sebelumnya.

Sebaliknya, ayahnya berdiri dari singgasananya untuk berkata,

“Saya mengerti, anda di sini untuk itu. Kemudian izinkan saya untuk pertama-tama, minta maaf atas tindakan warga kerajaanku.”

Ayahnya menunduk dan membungkuk lurus. Raja suatu kerajaan menerima ucapan dari pihak lain tanpa penolakan. Dalam diplomasi, itu merupakan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan dengan alasan apa pun. Dalam dunia diplomasi, di mana seseorang yang pintar tak terjamin terkena tipudaya, untuk mengkonfirmasi kesalahan seseorang dari kerajaannya merupakan kesalahan besar.

Tak pernah terpikirkan, kenyataannya itu tidaklah bijaksana bagi seorang kepala kerajaan untuk secara langsung meminta maaf atas sesuatu, karena itu akan sama dengan seluruh kerajaan yang mengaku bersalah.

Melakukan hal itu sama saja dengan mengutuk kerajaan mereka pada setiap tindakan dan keinginan Sorcerous Kingdom. Tidak-

{Mengingat kita berusaha menghindari perang habis-habisan, ini mungkin bukan ide terburuk. Tetapi jika Sorcerous Kingdom menuntut kepala bangsawan itu sekarang, bukankah mereka pasti melakukannya?}

Dia tidak bisa membayangkan jika keadaan akan menjadi seperti ini mengingat apa yang dikatakan ayahnya sebelumnya. Jika dia berniat menolak tuntutan Sorcerous Kingdom pada saat ini, orang yang meminta maaf seharusnya seseorang seperti Zanac, bukan dirinya. Lagipula, perbedaan dalam bobot ucapan kepala kerajaan dan ucapan putranya merupakan dunia yang terpisah.

Tetapi tepat ketika rentetan pemikiran Zanac mencapai titik itu, ucapan ayahnya berikutnya membuatnya kehilangan kata-kata.

“Lalu… apakah dengan mempersembahkan kepala saya sendiri memungkinkan Kingdom menerima pengampunan dari Sorcerous Kingdom?”

Saat ucapan itu keluar dari mulut ayahnya, rasanya seakan seluruh ruangan membeku.

Setelah keterkejutannya berkurang, Zanac hanya bisa merasa malu pada dirinya sendiri dari lubuk hatinya.

Ini tidak diragukan lagi, kartu truf ayahnya.

Meskipun skala insiden akan memengaruhi tanggapan yang diterima, jika persembahan permohonan maafnya adalah kepala dari kepala kerajaan itu sendiri, pihak lain pasti menerimanya tidak peduli siapa mereka bukan? Tidak, jika mereka meminta lebih besar dari apa yang ditawarkan, kurangnya kemurahan hati mereka pasti akan mendapat kecaman dari semua orang.

Ayahnya tidak menganggap dirinya bernasib malang untuk mengorbankan nyawanya, bukan karena dia ingin mati, tetapi karena mengorbankan diri untuk seseorang dari Kingdom sendiri merupakan bentuk dari keteguhan seorang raja.

Ayahnya adalah raja sejati.

Meskipun nyatanya kelemahan ayahnya yaitu dalam cara dia menangani masalah, kelihatannya seolah-olah Zanac telah meremehkan ayahnya untuk waktu yang lama.

“Tentu saja, Kingdom akan bertanggung jawab atas hilangnya gandum-gandum Sorcerous Kingdom, kami bahkan bisa mengganti dua kali lipat jumlah gandum itu jika anda menginginkannya. Seperti itulah tambahan selain tawaran kepalaku. Apa pendapat anda tentang penawaran ini? Albedo-kakka.”

“Hmph …”

Ekspresi di wajah Albedo bertambah berat. Meskipun dia masih cantik, itu anehnya menakutkan.

“… Hehehe, sepertinya kau membuat prediksi yang sedikit salah, Rampossa ketiga?”

Albedo mengalihkan pandangannya, sepertinya ke saudara perempuannya.

“Apakah ini karena kau kehilangan pria itu? Atau apakah ini karena sesuatu yang lain? Apakah kau menyadari kepintaran— “Albedo kemudian memandang Zanac,” —dari anakmu, dan karenanya memutuskan untuk berubah pikiran?”

“Saya yakin jika saya tidak berubah pikiran…”

“Oh, tapi kau melakukannya. Jika itu dirimu yang dulu, kau tidak akan membuat keputusan ini… mungkin ini merupakan kombinasi dari banyak faktor yang telah memengaruhimu, tetapi dasarmu sebagai pribadi tidak banyak berubah? Apapun itu, tidak masalah. Bagaimanapun, kami tidak akan mengubah kebijakan kami terhadap masalah ini.”

Karena perubahan aura Albedo yang tiba-tiba dan aneh telah terjadi, tidak ada yang memperhatikan pada awalnya. Dia telah sepenuhnya melupakan etiket yang diharapkan dari seorang utusan selama audiensi dengan kepala kerajaan. Bahkan jika dirinya merupakan orang asing, ini bukan sikap yang dapat diterima untuk diperlihatkan kepada seorang raja yang secara aktif memimpin bangsanya. Anehnya, sikapnya ini terasa lebih alami bagi Zanac, mungkin karena dariawal kekuatan antara Raja Kingdom dan Perdana Menteri Sorcerous Kingdom sudah berbeda.

Manusia dan iblis.

Dari perspektif itu, sikapnya terasa paling alami.

Mungkin itu sebabnya. Ada tekanan tak terlihat yang berasal dari Albedo yang menghentikan semua orang menyuarakan ketidaksenangan mereka.

Itu hanya sementara, karena iblis dengan cepat mengenakan baju dombanya, yaitu sebagai utusan Sorcerous Kingdom.

Albedo mengamati para menteri yang berdiri di seberang lorong dan menyatakan dengan suara keras,

“Ini merupakan deklarasi resmi perang dari Sorcerous Kingdom. Kami akan mengerahkan pasukan kami sebulan dari hari ini pada tengah hari! Namun, jika kalian menggerakan pasukan menuju E-Rantel – untuk menyeberang ke perbatasan Sorcerous Kingdom, maka kami tidak akan lagi mengikuti garis waktu itu.”

“Mohon tunggu sebentar!”

“Aku tak ingin berlama-lama disini. Baiklah, dengan itu pekerjaanku di sini telah selesai. Hal terakhir yang ingin aku sampaikan dari Yang Mulia adalah—”

“—Kau sudah lama merencanakan sesuatu seperti ini kan?!”

Ucap seorang aggota istana dipenuhi amarah. Albedo menyipitkan mata padanya. Pesan yang disampaikan melalui mata itu mungkin ancaman.

“Kau berani menyela pesan dari Yang Mulia Sorcerer King — manusia. Tidak bisakah kau menunggu untuk mati sebulan dari sekarang?”

Wajah aggota istana yang telah berbicara memucat meskipun Albedo tidak terlalu meninggikan suaranya dan tidak melakukan sesuatu yang tidak biasa. Namun, ekspresi aggota istana itu, yang telah diancam oleh penguasa wilayah dengan tentara sebelumnya, berubah secara dramatis karena tatapan dari si cantik itu.

“… Hmph. Sekarang, izinkan aku untuk menyampaikan pesan dari Yang Mulia Sorcerer King. ‘Aku tidak mempunyai niat untuk menggunakan sihir maha dahsyat seperti yang aku gunakan terakhir kalinya, mari kita nikmati prosesnya. Itu saja’.” Setelah mengatakan itu, Albedo tersenyum masam untuk pertama kalinya. “Bahkan jika kau mengatakan ini merupakan sesuatu yang telah kami rencanakan, jujur saja, apa yang terjadi benar-benar di luar harapan kami. Kami juga ingin mencari tahu kenapa keadaan menjadi seperti ini.”

Albedo kelihatannya mengatakan yang sebenarnya dengan menilai dari ekspresi dan suaranya, seseorang tidak akan mempercayai dirinya berbohong. Tentu saja, kemungkinan ini semua hanyalah akting juga sangat tinggi.

“Jika kau ingin menganggap insiden ini sebagai rencana kerajaan kami, itu tidak masalah bagiku. Sejarah ditulis oleh para pemenang. Semua tuduhan palsumu akan segera dihapus.”

Zanac memahami sikap yang diambil Sorcerous Kingdom untuk insiden ini.

Gagasan mereka dapat menghindari perang adalah sia-sia.

Sorcerous Kingdom tidak berusaha memperluas wilayahnya melalui penaklukan, melainkan penghancuran total Kingdom. Bisa dibilang, perang ini tak terhindarkan. Dalam sebulan, undead Sorcerous Kingdom pasti akan dikerahkan menuju perbatasan Kingdom.

“Tak perlu menemaniku, aku tidak ingin mengambil waktu berharga dan terbatasmu.”

Setelah Albedo menunjukkan sikap yang mengatakan kepada mereka jika dirinya telah mengatakan semua yang dia inginkan, dia membalikkan punggungnya pada yang lain dan berjalan keluar pintu.

Apakah benar-benar menguntungkan bagi Kingdom untuk membiarkannya pergi begitu saja?

Jika mereka membunuh wanita yang memegang jabatan Perdana Menteri ini, akankah hal itu menjerumuskan politik Sorcerous Kingdom ke dalam kekacauan sementara dan membuat mereka tidak dapat memulai perang?

Namun, ketika melihat punggung bermartabatnya membuatnya ragu.

Saat Zanac mempertimbangkan kemungkinan, tidak ada yang berani menghentikan Albedo meninggalkan ruangan.

Pintu-pintu raksasa ditutup ketika siluet Albedo menghilang di seberang pintu. Zanac berkata kepada ayahnya,

“Apa yang harus kita lakukan? Jika kita mengejarnya…”

“Jangan lakukan hal semacam itu. Jika kita melakukan sesuatu seperti membunuh utusan kerajaan lain, kesalahan atas seluruh situasi ini akan jatuh ke pundak kita. Maka tidak ada kerajaan lain yang akan membantu kita.”

Ayahnya menjawab dengan suara lemah ketika dia meletakkan tangannya ke dahinya, seolah-olah dia sedang sakit kepala. Zanac merasa seolah-olah ayahnya baru saja menua dibandingkan dengan beberapa saat yang lalu.

“Yang Mulia. Pelayan anda ingin menyebarkan berita jika anda telah menawarkan kepala anda sebagai persembahan pengampunan kepada setiap bangsa.”

“… Ya, aku akan menyerahkan itu padamu, Menteri Luar Negeri. Jika kau melakukan itu … dalam skenario terburuk…”

“Tolong, jangan mengatakan sesuatu seperti skenario terburuk. Tidakkah kita akan baik-baik saja selama kita berhasil mengalahkan pasukan Sorcerer King?”

“Ya, ya. Kau benar.”

Ucapan Menteri Luar Negeri mengembalikan warna pada wajah ayahnya, tetapi senyumnya masih dipenuhi duka.

“Zanac, Renner. Ada sesuata yang ingin kukatakan kepada kalian. Bisakah kalian datang ke ruanganku nanti? Lalu, aku minta maaf kepada semua orang yang berkumpul di sini, tetapi kita harus melakukan sidang dalam satu jam lagi untuk membahas apa yang akan terjadi dalam sebulan kedepan.”

Para menteri semua menundukkan kepala dan membungkuk.

Setelah kepala penjaga mengantar ayahnya keluar dari ruangan, Zanac dan Renner pergi bersama.

Meskipun Climb dan Brain menunggu di luar ruangan sebagai penjaga Renner, Renner mengatakan kepada mereka untuk menunggu di ruangannya sehingga mereka hanya menyaksikan ketika Zanac dan Renner pergi.

Keduanya berjalan bahu-membahu melewati koridor.

“Jadi, saudariku. Apakah kau mengetahui mengapa ayah memanggil kita?”

“Ya, aku percaya itu untuk alasan yang sama seperti yang dipikirkan onii-sama saat ini.”

“Begitukah? Apakah ayah akan menunjukkan kepada kita makanan penutup lezat yang dibawa Albedo-kakka?”

“Ya! Seperti yang diharapkan dari onii-sama, aku percaya itu yang akan terjadi!”

Zanac menatap Renner dengan mata terbuka lebar sesaat, yang Renner tanggapi dengan senyuman seolah-olah tidak ada yang baru saja terjadi. Wanita ini sangat sakit untuk dihadapi.

“Apa yang kau rencanakan untuk lakukan?”

“Um—”

Renner meletakkan jari telunjuknya di bawah dagunya dan memiringkan kepalanya ke samping. Zanac melihat apa yang dia lakukan dan dengan sengaja menghela nafas berat.

“Apa yang kau dapatkan dari bersikap lucu di depan kakakmu sendiri? Tunjukkan saja itu pada Climb, dialah yang mudah ditipu.”

“Onii-sama, kau sungguh keterlaluan. Selanjutnya aku akan mencoba ini pada Climb – meskipun aku tidak berencana untuk melakukannya. Bukankah onii-sama yang harus ditanya tentang apa yang dirinya rencanakan?”

“Aku, aku ingin kabur. Tapi, itu tidak mungkin. Sorcerous Kingdom pasti akan memburu kita.”

“Akupun memikirkan hal yang sama.”

Bagi seorang wanita yang ingin menikah dengan pria yang status sosialnya jauh dari miliknya dan sengaja bermitra dengan Zanac, jawaban itu terlalu datar. Zanac berpikir Renner akan menjadi tipe yang lebih menghargai kelangsungan hidupnya dan akan berencana untuk meninggalkan istana keesokan harinya atau sesuatu seperti itu. Mungkin Renner juga mengerti betapa mustahil bagi mereka untuk melarikan diri dari cengkeraman Sorcerous Kingdom, dan dengan demikian mengaburkan keinginannya untuk melakukannya.

Zanac mencuri pandang pada Renner tetapi tidak bisa mengatakan perasaannya tentang masalah itu hanya melalui ekspresinya saja.

Setelah mereka berdua memasuki ruangan, ucapan pertama dari mulut ayah mereka sama seperti yang dia harapkan.

“Zanac, Renner. Tinggalkan tempat ini sekarang juga. Kalian hanya pangeran dan puteri dari kerajaan ini, tidak perlu bagi kalian berdua untuk mati bersamanya.”

Mereka berdua saling memandang dan menjawab secara bersamaan jika—

Mereka tidak berniat melakukannya.

Ekspresi wajah ayah mereka pahit.

“Begitukah … tapi, masih ada waktu. Jika kalian berdua berubah pikiran, katakan segera padaku.”

Meskipun dia tidak yakin pilihannya akan berubah, pikiran seorang pria mudah goyah.

Zanac dengan lembut menganggukkan kepalanya ke arah ayahnya.

Renner, yang ada di sebelahnya, melakukan hal yang sama.


Anak-anak, ketika melihat Brain telah kembali, berlari ke arahnya.

“Os-san, kau kembali!”

“Os-san, os-san!”

Sepuluh anak itu mengelilingi Brain, sembilan laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua yatim piatu. Brain telah mengambil orang-orang yang dia yakini memiliki semacam potensi, membiarkan mereka tinggal bersamanya, dan melatih mereka dalam seni ilmu pedang.

Karena mereka tumbuh di lingkungan yang keras, mereka sepenuhnya memahami pentingnya keyakinan teguh dan mampu mengikuti rejimen pelatihan yang keras. Meski dikatakan seperti itu, mereka masihlah anak-anak sehingga Brain masih tidak yakin apakah mereka bisa memenuhi harapannya. Tentunya jika mereka terus berlatih seperti ini, mereka akan bisa, paling tidak, mencapai level Climb.

Anak-anak itu berkeringat tetapi itu tidak menganggu Brain. Bagaimanapun, dia juga pasti sama setelah latihan, ini merupakan bukti jika anak-anak telah bekerja keras.

“Oy oy, kalian. Apakah kalian sudah selesai latihannya?”

“Istirahat-”

“Aku sudah banyak berlatih—”

“Tanganku-”

Karena mereka semua menjawab serempak, sulit untuk sepenuhnya memahami apa yang mereka coba katakan, tetapi mereka telah menyelesaikan pelatihan mereka, yang dia mengerti.

“Sekarang, istirahatlah. Ingat, aku katakan kepada kalian istirahat juga merupakan bagian dari pelatihan ok?”

Anak-anak setuju sembari menjawabnya dengan berisik.

“Sesaat lagi aku akan menemani kalian untuk berlatih, jangan bilang kalau kalian terlalu lelah untuk berlatih, mengerti?”

Anak-anak, sekali lagi, menyetujuinya sembari menjawabnya dengan berisik.

“Baik! Ingatlah untuk minum. Dan juga, jangan lupa untuk makan!”

Beberapa anak berkata “Kami sudah mengerti” atau “Os-san sangat cerewet” tetapi mayoritas dari mereka menjawab jika mereka mengerti.

“Bagus, sekarang bubar. Oh benar. Sebelum kalian pergi, dua orang itu dimana?”

Yang tertua dari kelompok itu, perwakilan mereka, mengatakan kepadanya, “di halaman belakang.”

Brain menjawab dengan “oh”, mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak, dan berjalan menuju halaman belakang.

Anak-anak kembali ke rumah untuk memakan makanan dan minuman yang mereka terima dari pasangan lansia yang telah menunggu mereka dan mungkin tidur siang sesudahnya.

Olahraga yang baik, diet yang baik, dan tidur yang baik. Itulah bagaimana otot-otot yang sangat baik dibangun.

Brain mengangguk puas.

“Kau membuatku menunggu terlalu lama.”

Suara seorang wanita memanggil saat Brain memasuki halaman belakang.

“Ah, maafkan aku. Aku harus bersiap-siap terlebih dahulu untuk menemani Yang Mulia Putri pada pertemuannya dengan para bangsawan, pedagang, dan sebagainya, jadi aku agak terlambat.”

Ada seorang pria dan seorang wanita di sana, yang telah mengajar anak-anak sebelum dia tiba.

Wanita yang berbicara dengan Brain menggulung rambutnya menjadi bentuk roti, terlihat seperti gaya rambut yang disebut ‘Magay’ di Selatan.

Penampilannya, cukup menjadi apa yang biasanya dianggap indah oleh seseorang, memberi kesan dirinya dingin dan tajam. Dia tidak terlalu tinggi, mungkin sedikit lebih pendek dari kebanyakan wanita seusianya.

Orang lain di sana, pria itu, tetap diam.

Meskipun dia memiliki sikap acuh tak acuh yang dapat membuat seseorang berpikir dirinya tidak bahagia, walaupun aslinya tidak begitu. Dia mengangkat tangan sebagai bentuk salam untuk Brain.

Dia kurang bagus mengekspresikan dirinya. Brain sebenarnya pernah mendengarnya berbicara beberapa kali dahulu kala, tetapi suaranya sekecil semut.

Pria itu juga tidak terlalu tinggi. Dia memiliki kaki pendek tetapi sebaliknya secara fisik sehat, tetapi jika rumor tersebar tentang dirinya yang merupakan keturunan dwarf, dia tidak akan memiliki banyak bukti untuk menentangnya.

Keduanya dihitung dalam Six Great Disciples dari dojo pendekar pedang yang dikenal sebagai Vesture Croff di Leoghain.

Brain memiliki keraguan tentang bagaimana mereka mengajar, dalam benaknya, pelatihan ilmu pedang praktisnya lebih berguna daripada latihan ilmu pedang performatif mereka.

Dibandingkan melambaikan udara sekitar beberapa ratus kali, latihan dengan pedang sungguhan – bahkan jika itu pedang tiruan – jauh lebih efektif. Brain percaya jika metodenya akan memungkinkan seseorang mendapatkan lebih banyak memori otot daripada hanya melatih tubuh seseorang.

Namun, ini adalah cara yang baik untuk memungkinkan mereka mempelajari teknik terlebih dahulu dan membangun fondasi yang cukup kuat sehingga kecil kemungkinannya mereka akan mati dalam pertempuran yang sebenarnya.

Sulit mengatakan secara pasti sisi mana yang benar atau salah.

Meskipun mereka semua telah mendapatkan kekuatan, mereka memiliki cara hidup yang sangat berbeda.

Akan merepotkan bagi Brain jika anak-anak mati dalam pertempuran sebelum mereka bahkan memiliki kesempatan untuk sepenuhnya menyadari bakat mereka. Itulah sebabnya dia memilih untuk melatih anak-anak dengan keduanya, sembari membagikan pengalamannya sendiri; akibatnya, rejimen pelatihan anak-anak menjadi lebih keras.

“Apakah akomodasi mereka sudah beres?”

“Yup, mereka akhirnya selesai. Mereka dijadwalkan melakukan perjalanan ke barat laut – dengan sekelompok pedagang yang beroperasi di kota dekat dengan Council State.”

Wanita itu sedikit mengernyit.

“Sudah dua minggu sejak Sorcerous Kingdom menyatakan perang terhadap kita, tetapi belum ada berita tentang mobilisasi pasukan kedua kerajaan. Menurut beberapa rumor yang kudengar, Sorcerous Kingdom hanya ingin memaksa Kingdom untuk menyerah dalam beberapa negosiasi dan tidak benar-benar ingin bertarung dalam pertempuran habis-habisan? Jika itu benar, bukankah itu akan membuat upaya Tuan Unglaus sia-sia?”

“Apakah Sorcerer King itu benar-benar melakukan hal seperti itu?”

Jika Brain tidak bertemu langsung dengan Sorcerer King, dia akan percaya ini hanyalah taktik negosiasi juga. Tetapi sebagai saksi dari pertempuran tragis itu, sulit baginya untuk tidak meragukan Sorcerer King sedang merencanakan sesuatu. Mungkin dia sedang bersiap untuk merapalkan mantra itu lagi.

Apakah kegelisahan Brain menyebar padanya? Wanita itu berbicara dengan nada pelan,

“…Tuan Unglaus pernah bertemu dengan Sorcerer King itu?”

“Aku tidak hanya bertemu dengannya, aku menjadi saksi duelnya dengan Gazef … hmmm, aku masih tidak tahu apa yang terjadi pada Gazef sampai hari ini.”

Pandangannya beralih ke pinggang Brain.

Tersarung di sisinya merupakan salah satu harta Kingdom, Razor Edge.

Ini merupakan sesuatu yang diberikan kepadanya ketika perang diumumkan, meskipun dia telah menolaknya dalam banyak kesempatan. Bagi Brain, pedang ini terlalu berat untuk dia tanggung sehingga dia memperlakukannya sebagai sesuatu yang dipercayakan kepadanya hanya untuk diamankan. Dia tidak bermaksud untuk menghunuskan pedang ini.

Meskipun pedang ini seperti kentang panas yang dia lebih suka berikan kepada orang lain, jika orang itu tidak bisa menyamai kemampuan Gazef Stronoff, dia tidak bermaksud untuk memberikannya begitu saja.

“Duel dengan Tuan Stronoff? Aku…”

Dia berhenti sendiri sebelum dia bisa menyelesaikan kalimat itu.

Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu di seperti, “Aku berharap aku ada di sana untuk menyaksikannya juga.” Brain tidak terlalu memikirkannya, lagipula dia juga seorang warrior. Berharap menjadi saksi duel Gazef merupakan hal yang wajar bagi mereka.

Tidak, lebih tepat untuk dikatakan dirinya ingin pria itu menyaksikannya juga. Dia baru saja mengatakan dirinya masih tidak bisa mencari tahu apa yang terjadi selama duel itu, jadi jika orang lain bisa menjelaskan padanya itu hal yang bagus.

“Aku pikir Sorcerer King sedang merencanakan sesuatu, tetapi aku tidak yakin apa yang sebenarnya dia rencanakan, lagipula aku tak memiliki dasar untuk pemikiran itu. Naluriku membunyikan alarm saat ini, dan aku cenderung sangat mempercayai naluriku.”

“Jika itu merupakan naluri warrior dari seseorang seperti Tuan Unglaus, maka itu mungkin benar…”

“Aku tidak terlalu yakin dengan spesifik … lagipula, kita harus mengeluarkan bocah-bocah ini dari tempat ini secepat mungkin. Bahkan jika aku mati, mereka masih bisa hidup sendiri dengan ilmu pedang yang telah aku ajarkan kepada mereka – bahkan jika itu bukan keahlian yang signifikan.”

“… sebenarnya, sensei kami telah memberi tahu kami hal yang sama dengan Tuan Unglaus, Sorcerous Kingdom merencanakan sesuatu dibalik layar. Maka, ketika anak-anak harus dikirim pergi—” wanita itu memandang ke arah pria yang diam di sebelahnya,” —bisakah kau memintanya pergi bersama mereka?”

“Apa? Apakah dia akan melakukan itu? ”

Dia melirik pria yang memberinya anggukan bisu. Dia tampak kesal, tapi mungkin bukan itu masalahnya.

Tidaklah tepat untuk mengatakan jika pria ini menyukai anak-anak.

Meskipun semua Six Great Disciples telah berada disini, yang paling disukai anak-anak dari mereka semua adalah dirinya.

“Ya, sensei sepertinya sudah mempertimbangkannya. Selama dia hidup, ilmu pedang kita bisa terus diturunkan dari generasi ke generasi.”

Dengan kata lain, mereka memiliki pemikiran yang sama dengan Brain.

Jika itu masalahnya, dia tidak punya alasan untuk menolak permintaan mereka.

“Aku tidak keberatan selama akhirmu baik-baik saja dengan itu. Karena itu, aku berterima kasih untuk kalian semua. Aku akan berbicara dengan para pedagang yang akan membawa mereka pergi.”

Brain mendengar pria itu mengatakan sesuatu dengan suaranya yang kecil, mungkin sesuatu seperti, “tolong jaga dirinya” atau sesuatu seperti itu.

Brain mengangkat tangannya sebagai tanggapannya, yang mana ditanggapi balik oleh pria itu dengan mengangguk dalam.

“Lalu sekarang, setelah anak-anak nakal selesai istirahat, giliranku untuk melatih mereka. Maaf telah merepotkan kalian berdua untuk melatih mereka saat aku pergi.”

Terimakasih merupakan satu-satunya hal yang mengalir keluar dari mulutnya. Meskipun dia belum membayar mereka, mereka masih meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak.

Sensei Vesture mereka mungkin telah mempertimbangkan kenyataan Brain ialah seseorang yang menggunakan ilmu pedang yang luar biasa dan ingin memperkenalkan Six Great Disciples kepadanya, mungkin dalam prosesnya membuat Brain berutang budi padanya, maka rasa terima kasih Brain tidak sebesar itu. Disisi lain Keenam Six Great Disciples menanggapinya berbeda, mungkin mereka memiliki minat mereka pada prospek untuk dapat melatih anak-anak jika seseorang yang dapat mengalahkan mereka dengan mudah, Brain, telah dinilai memiliki potensi, atau mungkin mereka hanya tertarik untuk mewariskan keterampilan mereka untuk anak-anak agar bisa mereka gunakan untuk bertahan hidup? Bagaimanapun, dari awal mereka termotivasi untuk membantu anak-anak tanpa motif tersembunyi.

Karena dia telah bertindak sebagai pengawal pribadi sang putri, dia pastilah berhubungan dengan para bangsawan yang menjengkelkan itu. Inilah sebabnya mengapa orang-orang sejelas Six Great Disciples bersinar bahkan lebih terang di matanya.

“… Aku harus mengatakan aku cukup terkesan karena ternyata Tuan Unglaus sangatlah murah hati. Dengan mengadopsi anak-anak ini dan mengajari mereka keterampilan sehingga mereka mampu bertahan hidup…”

Ekspresi Brain menjadi gelap.

Dia belum melakukan amal yang layak dipuji.

“Berhenti menyanjungku. Aku bukan pria yang baik. Meskipun benar aku mengambil anak-anak ini dari permukiman kumuh, itu untuk suatu tujuan. Ada beberapa yang berada di ambang kematian tetapi aku masih berjalan melewati mereka tanpa mengangkat satu jari untuk membantunya. Jika kau ingin memuji seseorang untuk amal mereka, lakukan itu kepada seseorang yang benar-benar layak mendapatkannya – misalnya seperti putri.”

Dia bisa melihat wanita itu memiliki ekspresi bingung, tetapi dia tidak yakin apa yang menyebabkannya.

“Apakah kau membicarakan tentang Putri Renner-sama? Tentang bagaimana dia mendanai panti asuhannya? Memang benar sang putri telah melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi aku percaya Tuan Brain juga telah mencapai apa yang tidak dapat dilakukan orang lain. Bukankah kalian berdua sama-sama layak dipuji?”

“Sepertinya aku tidak bisa membantahmu. Pikirkan apa pun yang kau inginkan, tetapi jangan lakukan itu di depanku. Aku malah merasa bersalah karenanya.”

“Kalau begitu aku minta maaf.”

“… Tidak, jangan terlalu memikirkannya, itu hanya lelucon. Aku tidak cukup polos untuk merasa bersalah karena sesuatu yang begitu kecil.”

Brain mengalihkan pandangannya dari ekspresi kaget di wajah wanita itu dan memandang ke arah tempat tinggal Gazef Stronoff, saat ini ditinggali Brain.

Dalam benaknya, terpikir anak-anak yang sudah kenyang dan mungkin sedang tertidur saat ini.


Di salah satu ruangan yang terletak di lantai 9 Makam Besar Nazarick, sekitar sebulan setelah peperangan diumumkan.

Di salah satu ruangan yang tadinya disediakan untuk anggota guild baru, berkumpulah para Guardian dan Ainz. Mereka duduk di sekitar meja yang disusun menyerupai huruf U, membaca dokumen-dokumen yang disiapkan untuk rapat ini.

Ngomong-ngomong, tidak hanya para guardian yang berada di ruangan ini. Dibelakang setiap guardian terdapat juga para maid. Dan yang ada dibelakang Ainz adalah Pestonya. Para maid fokus membantu menyelesaikan pekerjaan tanpa sepatah katapun.

Ainz tidak bisa memahami alasan mereka begitu sunyi, tetapi ini merupakan tanda dari keinginan mereka untuk diperlakukan sebagai alat.

“Umu…”

Dengan itu, Ainz hanya akan mengabaikannya sesuai keinginan mereka sendiri.

Ainz membaca materi rapat dengan sungguh-sungguh. Dan Pestonya yang berdiri di belakangnya membuatnya merasa terganggu, namun dia berusaha untuk tetap berkonsentrasi.

Karena mereka akan berdiskusi setelah ini. Akan terasa memalukan jika Ainz hanya mengatakan sesuatu yang konyol, dan itu membuatnya gelisah.

Bagaimanapun, ini berbeda dari dokumen-dokumen yang biasanya Albedo kirimkan dari Nazarick mengenai politik, ekonomi, dan hukum, sesuatu seperti ini jauh lebih mudah untuk dipahami olehnya.

Bahkan jika diutarakan dengan sopan, Ainz hanya memiliki kecerdasan rata-rata. Jika meminta seseorang untuk menemukan kualitas dalam dirinya yang akan membuatnya memenuhi syarat untuk memerintah suatu kerajaan itu merupakan hal yang mustahil. Bukan berarti dirinya pemalas, pada kenyataannya dia merupakan tipe yang rajin untuk mencoba yang terbaik dalam segala hal yang dilemparkan kepadanya. Ini semakin diperburuk oleh kesalahpahaman yang dipegang oleh NPC Nazarick, yang kecerdasannya jauh lebih tinggi daripada miliknya. Untuk memenuhi harapan mereka, Ainz tidak bisa bermalas-malasan.

Pada awalnya, dia melakukannya karena keinginannya untuk menjaga kesetiaan NPC, tetapi saat ini lebih dari keinginannya sebagai sosok ayah untuk tidak mengecewakan anak-anaknya.

Hal ini sampai pada titik di mana dirinya membaca buku tentang pengembangan diri dan bisnis. Dia juga telah mencoba yang terbaik untuk meningkatkan dirinya pada strategi pertempuran, satu-satunya mata pelajaran yang bisa dirinya anggap keahliannya.

Meskipun aman untuk menyerahkan semuanya kepada Albedo dan yang lainnya, masih ada banyak hal yang mereka anggap perlu untuk dikonsultasikan dengan Ainz. Jika dia mengatakan sesuatu yang bodoh ketika waktu itu tiba dan mereka harus menanggapi dengan, “Seperti yang Ainz-sama inginkan, itu akan dilakukan,” dan segera melakukannya, itu cukup bisa mengakibatkan kerusakan yang parah. Untuk menghindari hasil itu, perkembangan individu Ainz sangatlah penting.

Karena itu, Ainz menaruh minat khusus pada dokumen ini dan bahkan lebih fokus pada dokumen itu daripada biasanya.

Ainz, setelah menyelesaikan sebagian besar dan mengkonfirmasi waktu yang ditentukan telah tiba, berkata,

“Sekarang. Apakah semua orang sudah selesai membaca? ”

“Ya, Ainz-sama.”

Sebagai perwakilan mereka, Albedo melirik semua orang dan menjawab.

“Bagus sekali. Sekarang – tunggu, sebelum itu. Meskipun sudah sebulan sejak kita mendeklarasikan perang melawan Kingdom, mereka belum menyadari invasi kita sama sekali. Mereka pasti masih berpikir pasukan kita masih bersembunyi di E-Rantel. Demiurge, kerja bagus. Kemampuanmu untuk sesegera mungkin mengurus semuanya sehingga tidak ada satupun informasi yang bocor benar-benar mengesankan.”

“Saya sangat bersyukur menerima pujian masterku.”

“Dan juga pada hal yang sama, mengancam sebagian bangsawan Kingdom untuk memberontak juga merupakan prestasi luar biasa, Albedo.”

“Terima kasih banyak, Ainz-sama.”

Albedo, seperti Demiurge, menundukkan kepalanya.

“—Umu. Masalah saat ini lebih penting, jadi laporkan kepadaku secara rinci tentang apa yang telah kalian lakukan setelah ini. ”

Ainz mengetuk salah satu halaman di dokumen dengan punggung jarinya dan mengkonfirmasi mereka berdua mengerti apa yang dirinya maksud. Dia mengangguk dengan cara yang cocok dengan statusnya sebagai penguasa dan mengamati para guardian di depannya. Meskipun para maid yang berada di dalam penglihatannya sedang menatapnya dengan mata serius, dia menahan keinginan untuk memperhatikan mereka.

“Baiklah, mari kita bertukar pendapat tentang masalah ini. Pertama-tama, kenyataan kita dapat menaklukkan kota-kota bahkan ketika taktik ini diterapkan sangat membuatku senang. Cocytus, kau sudah melakukannya dengan baik.”

“Saya. Berterimakasih. Atas. Pujiannya. Master. Ku. Namun. Ini. Hanya. Bisa. Terjadi. Karena. Pasukan. Undead. Yang. Di. Pinjamkan. Ainz. Sama. Bisa. Di. Katakan. Ini. Merupakan. Prestasi. Ainz. Sama. Tidak. Salah. Juga. Mengatakan. Saya. Tidak. Melakukan. Apa. Apa.”

“Seperti yang dikatakan Cocytus—”

Ainz mengulurkan tangannya untuk menghentikan Albedo sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya.

“—tak perlu menyanjungku. Cocytus, hanya terimalah apresiasi dariku. Aku sudah mengatakannya berulang kali, kali ini kau melakukan pekerjaan dengan sangat baik.”

“Ya!. Terima. Kasih. Banyak!”

“Bagus sekali. Lalu, sekarang, kita telah menaklukkan kota-kota Kingdom tanpa kesulitan sama sekali.”

Pada permulaan perang antara Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown dan Kingdom, mereka telah mengadopsi strategi untuk menyerang bagian timur terlebih dahulu dan kemudian bergerak menuju utara. Sisi barat Kingdom – di mana ibukota berada – sama sekali tak di incar.

Tujuan utama dari strategi ini adalah untuk mencegah bala bantuan dari kerajaan-kerajaan lain yang ikut campur dalam perang ini, dan untuk mengepung Kingdom dengan mendapatkan kontrol atas perbatasan dengan Council State dan lainnya.

Ini merupakan strategi Cocytus, sebuah langkah yang Ainz sendiri juga anggap luar biasa.

“Hasil ini sangatlah memuaskan – Lalu, Demiurge dan Albedo, mengenai penguncian informasi, laporan menunjukkan sangat mungkin rencana itu akan berhasil. Pertanyaanku adalah, dalam kondisi apa itu akan gagal? Demiurge, sebagai perwakilan berikan jawabanmu.”

“Ya! Kami telah sepenuhnya membangun penjagaan di setiap jalan, kami juga mengirim shadow demons untuk mengintai kota-kota tetangga. Namun, jika ada hermit atau druid, orang-orang seperti mereka, kita tidak akan bisa mengawasi mereka. Jika informasi bocor, pastilah dari mereka.”

“Kalau begitu diskusikan masalah ini dengan Albedo, perkuat jaring pengintai sampai mereka yang kau sebutkan juga bisa ditemukan.”

“Ya!”

“Lalu, selanjutnya merupakan—” Ainz mengganti dokumen dan terus membalik, “umu … beberapa kota telah musnah, ya?”

Di dalam halaman-halaman ini terdapat dokumentasi lengkap tentang siapa yang menggunakan strategi untuk menghancurkan suatu kota tertentu. Halaman yang dia lihat saat ini merupakan tentang kota yang dihancurkan oleh Cocytus.

“… Menyerang kota dengan kekuatan kecil, menghancurkan kota dengan sempurna, dan membantai semua penduduknya. Seperti yang dilakukan Cocytus, kalian semua juga telah memikirkan berbagai macam cara untuk menaklukkan kota demi kota dan desa demi desa. Aku benar-benar terkesan.”

Sorcerous Kingdom telah memulai perang brutal di mana kebijakan mereka adalah untuk sepenuhnya menghancurkan setiap kota dan desa dengan cara mereka dan membantai semua penduduknya. Semua yang tertinggal setelah serangan pasukan Sorcerous Kingdom yang tak terduga hanyalah tumpukan puing dan abu tak bernyawa.

Omong-omong, Ainz tiba-tiba menjadi lebih sadar akan tatapan seseorang, yang seharusnya terpaku padanya.

Dia tidak melakukan tindakan yang mengerikan dan kejam ini karena keinginannya, ada tujuan di baliknya. {Semoga dia bisa memahaminya,} Ainz mengatakan pada dirinya sendiri.

“Terima kasih banyak, Ainz-sama.” Albedo menundukkan kepalanya, menyuruh Floor Guardian lainnya untuk mengikutinya. “Untuk memenuhi harapan Ainz-sama mulai hari ini, kami akan mengabdikan diri kami dengan sepenuh hati untuk semakin meningkatkan diri.”

“—Ah, umu. Aku dengan sepenuh hati menerima tekad dan kesetiaan setiap Floor Guardian. Selanjutnya adalah— ”

{Itu saja kan?}

Ainz pura-pura batuk dan melanjutkan,

“—Tapi, aku khawatir tidak ada di antara kalian yang gagal.”

Sebelum para guardian bisa bereaksi dengan ekspresi bingung mereka, Ainz menambahkan,

“Cocytus, kau merasakan kekalahan selama pertempuran dengan lizardmen. Aku berasumsi jika dirimu mempelajari banyak hal dari pengalaman itu?”

“Seperti. Yang. Ainz. Sama. Harapkan. Saya. Mempelajari. Banyak. Hal. Dari. Pengalaman. Itu.”

“Itulah yang aku bicarakan, kau belajar lebih banyak dari kegagalanmu. Tidak, aku berasumsi ada beberapa pelajaran yang hanya bisa dipelajari dari kegagalan.”

Seperti halnya di Yggdrasil, seseorang hanya akan berpikir bagaimana mereka dapat meningkat jika mereka menghadapi kegagalan.

Mengatur ulang job, peralatan yang berbeda, dan strategi baru. Jika seseorang selalu menang, mereka akan menjadi puas diri, mati rasa dan ceroboh. Mereka akan kehilangan dorongan untuk memperbaiki diri.

{Meskipun ada pengecualian untuk aturan ini seperti Touch Me-san.}

Dia belum pernah mengalami kekalahan berturut-turut namun dirinya terus berupaya untuk menjadi lebih kuat. Seorang pria yang mencari sinergi job terbaik untuk memaksimalkan kinerjanya sampai di titik terobsesi, dianggap seorang maniak oleh rata-rata para player.

Mengesampingkan pengecualian itu, Ainz yakin ada beberapa hal yang hanya bisa kau pelajari melalui kekalahan.

Itulah sebabnya dia mengharapkan beberapa kegagalan dalam usaha penaklukan kota mereka.

Ini adalah bagian dari rencana di mana kegagalan tidak akan berarti banyak, mereka bisa mencoba sebanyak yang mereka inginkan. Mereka harus bersiap untuk pertempuran di masa depan yang pasti akan terjadi, di mana jika mereka kalah, itu akan berarti kekalahan total. Mereka harus gagal saat ini untuk mendapatkan pengalaman yang cukup untuk menghindari kegagalan ketika saatnya tiba.

Karena mereka telah menghilangkan banyak kehidupan, itu pasti akan mendatangkan manfaat bagi Nazarick. Itu benar, nyawa yang hilang harus digunakan dengan cara yang paling bermanfaat.

Ada satu hal lagi – Ainz memutuskan dirinya harus membuat persiapan untuk ini setelah dia mendengar keinginan mereka berdua.

{Kalau begitu, hal selanjutnya akan menentukan apakah aku menang atau kalah.}

“Mereka yang bijaksana—” Dia tidak bisa memikirkan apa yang harus dikatakan setelah itu, dia lupa naskah yang telah disiapkannya. “Lupakan itu. Mereka yang bodoh, belajar melalui pengalaman mereka. Sekarang aku tidak mengatakan kalian semua bodoh, tetapi aku menunjukkan fakta jika bahkan orang bodoh pun bisa memahami perlunya mengumpulkan pengalaman.”

Ainz kecewa pada dirinya sendiri.

Mengapa dia lupa apa yang ingin dia katakan pada saat genting ini? Kenapa dia ini tidak berguna?

Mengapa mereka yang pandai berbicara juga pintar? Bagaimana mereka bisa mengutarakan kalimat dan frasa yang mereka pelajari tanpa henti? Biasanya, bahkan jika seseorang lupa apa yang akan mereka ucapkan, mereka tidak akan berhenti di sana kan?

Hanya ada satu kemungkinan kesimpulannya, otak mereka dibuat secara berbeda.

“… Haaah … Tak masalah jika kita menghancurkan kota-kota Kingdom maupun membantai warganya, itu tidak terlalu merepotkan mengingat kekuatan Makam Besar Nazarick. Namun, kita harus fokus untuk mendapatkan banyak pengalaman. Sehingga jika kita menghadapi situasi yang jauh lebih sulit, pelajaran yang telah kalian pelajari dari perang ini bisa membantu.”

Ainz memiliki pengalaman meluncurkan serangan ke markas musuh dan mengepung kota selama perang guild terakhir dan event serupa lainnya. Namun, itu semua hanya di Yggdrasil. Pengetahuan yang dia peroleh dari game harus diimplementasikan dalam kenyataan dengan tepat.

Dalam konteks itu, pengalaman yang mereka peroleh dari berbagai metode yang mereka gunakan untuk menghancurkan berbagai jenis kota tidak diragukan lagi akan berguna di masa depan.

Makam Besar Nazarick harus memperkuat dirinya sendiri. Sangatlah naif jika meyakini Ainz Ooal Gown dan Makam Besar Nazarick merupakan satu-satunya guild dan markas guild di dunia ini. Ainz ada di dunia ini, oleh karena itu pasti ada player dan guild lain di dunia ini, mungkin mereka akan muncul di masa depan.

Untuk mempersiapkan masa depan itu, merupakan suatu keharusan bagi organisasi ini untuk meningkatkan kekuatannya sendiri.

Memang, sangatlah penting bagi mereka semua untuk mendapatkan pengalaman pribadi dalam masalah ini.

Ainz melanjutkannya lagi pada para Guardian yang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh,

“Berbicara tentang situasi kita saat ini, aku bisa merasakan beban tanggung jawab telah menjadi semakin meningkat pada masing-masing Floor Guardian. Pada saat yang sama, jumlah orang seperti kalian yang bisa aku percayakan pekerjaan ini jauh lebih sedikit.”

Para Floor Guardian – tidak termasuk Victim – semuanya merupakan makhluk berlevel 100 yang kekuatannya bisa membuat Ainz ingin melarikan diri. Dibandingkan Floor Guardian, para Area Guardian lebih lemah sehingga Ainz merasa enggan atas saran untuk membawa mereka ke luar, di mana mungkin ada musuh yang kuat. Inilah sebabnya, mengapa jumlah tugas yang diberikan kepada para Floor Guardian semakin meningkat.

“Namun, jika kita mempertahankan status quo, banyak masalah akan mulai muncul. Ketika Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown muncul untuk menaklukkan wilayah yang cukup luas, Area Guardian akan mengambil tanggung jawab untuk berbagai tugas. Mungkin suatu hari akan tiba ketika bahkan manajemen perang harus didelegasikan kepada seseorang.”

“—bisa dikatakan jika master kita mengharapkan mereka yang tak punya pengalaman harus menciptakan sejarah mereka sendiri benar?”

Demiurge mulai menyemburkan hal-hal yang tidak dapat dipahami lagi. Tapi, apa yang dia katakan tentang menciptakan sejarah mereka sendiri kurang lebih mengenai sasarannya. Kedengarannya keren juga.

“-Itu benar. Seperti dugaanmu, Demiurge.”

Meskipun dia tidak merasa seolah-olah itu bisa disampaikan dengan benar, Ainz masih tersenyum sembari mempraktikan latihannya, intonasi berupa ‘Suatu Omong Kosong Yang Terdengar Seperti Seorang Penguasa!’.

Omong-omong, biasanya jika dia mendengar dirinya sendiri menggunakan suara itu melalui rekaman, dia tidak akan mampu menahan ke cringe-an dirinya sendiri, namun saat ini dia tidak terlalu memikirkannya. Bagaimanapun, dirinya merasa emosinya akan ditekan dengan cepat jika dia membayangkan suara yang dirinya gunakan.

Bagaimanapun, ide ‘sejarah’ Demiurge merupakan ide yang bagus.

Mereka telah memperoleh pengetahuan tentang berbagai jenis metode untuk mengepung kota selama invasi melawan Kingdom ini, dan mereka harus mencatat seluruhnya dalam sebuah buku atau yang lainnya. Dengan Area Guardian sebagai fokus mereka, para penghuni Makam Besar Nazarick pastilah bisa mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman bersama ini kan?

Tentu saja, seperti kata pepatah, ‘sebuah gambar bernilai ribuan kata’, mereka yang telah mengalami sesuatu secara langsung dapat belajar lebih banyak darinya daripada mereka yang hanya mendengarnya setelah itu. Namun, dia merasa mereka tidak akan mendapatkan lebih banyak peluang seperti ini lagi.

“Lalu sekarang untuk para Floor Guardian, mulai hari ini dan seterusnya, cobalah untuk membuat strategi unik dalam mengepung kota. Demiurge dan Albedo, kalian berdua terlalu brilian untuk ini, jadi dengarkan saja dan catat proposal yang lainnya. Dari sudut pandangku, sampai saat ini Shalltear-lah yang paling kreatif dalam strateginya.”

“A-apakah Ainz-sama merujuk pada bagaimana saya menggunakan frost dragon untuk membinasakan para tentara dari langit-arinsu?”

“Itu benar. Aku yakin itu merupakan hasil dari Shalltear yang kupercayakan semua tugas yang berhubungan dengan transportasi sehingga dia dapat menemukan ide itu. Dengan taktik ini sebagai dasarnya, kita dapat mengatur – sesuatu yang dinamakan? Pasukan terjun payung? Mampu memikirkan sesuatu seperti itu sama sekali tidak buruk.”

Dia tidak hanya menggunakan serangan napas dragon untuk strategi hit-and-run, tetapi juga untuk menjatuhkan soul eater dari 500 meter di atas kota. Soul eater bisa menyembuhkan diri mereka sendiri, lalu mengamuk di kota membunuh kerumunan orang dengan aura mereka.

Bahkan jika itu merupakan soul eater, menjatuhkan mereka dari ketinggian 500 meter pasti akan memberikan damage. Di dunia ini, akselerasi karena gravitasi sepertinya tidak terpengaruh oleh hambatan udara sehingga kecepatan jatuh bebas seseorang dapat meningkat tanpa batas. Itu sepertinya bisa terjadi atau malah tidak akan terjadi, tetapi Ainz tidak ingin menghabiskan waktu dan upaya untuk eksperimen semacam itu, maka dia tidak memiliki informasi terperinci tentang itu.

Soul eater mampu mengaktifkan aura dari jiwa yang mereka konsumsi untuk mengubahnya menjadi HP, yang berarti strategi ini termasuk cara untuk meniadakan damage jatuh yang diterima oleh unit secepat mungkin.

“Meskipun rencana itu gagal dalam beberapa aspek – tetapi itu merupakan pelajaran yang bagus untuk dipelajari di masa depan. Singkat cerita, mereka malah menabrak atap.”

Aura tertawa ketika dia membaca laporan dan Ainz melakukan hal yang sama dalam benaknya. Tentu saja, mereka tidak menertawakan strategi Shalltear, itu hanya sesuatu yang tidak mereka harapkan, tetapi sangat jelas Ainz sudah memahami apa yang terjadi.

Dari para soul eater yang dijatuhkan dari atas, salah satu diantaranya memantul dari beberapa atap yang runcing, terbang ke arah yang salah, dan menerima lebih banyak damage dari yang mereka duga. Itu masih lebih baik dibandingkan dengan salah satu yang menabrak atap, mencoba mendobrak pintu, dan akhirnya tersangkut.

Dari empat yang dijatuhkan, hanya satu dari mereka yang tak bisa bergerak. Jumlah samplenya sedikit, tetapi hasil tingkat kegagalannya cukup tinggi.

“Akan lebih bagus untuk melakukan percobaan ini beberapa kali lagi, kita mungkin bisa mendapatkan data berharga dari pasukan yang dijatuhkan ini.”

“Ya!”

“Aku akan menyerahkannya padamu, pilih beberapa kota untuk di ujicoba.”

“Seperti yang diinginkan Ainz-sama, saya akan menyusun dan melaksanakan rencana tersebut secepatnya.”

Rincian lain yang menarik perhatian Ainz termasuk bagaimana 300 elder liches digunakan untuk membombardir sebuah kota dengan menyinkronkan mantra [ Fireball ] mereka dan bagaimana assassis dikirim untuk membunuh kepala kota, dimana invasi akan dimulai sementara kota itu jatuh dalam kekacauan.

Catatan-catatan tentang metode yang mereka gunakan untuk menghancurkan kota-kota tidak hanya berguna untuk mendidik Guardian Area, tetapi mereka juga berguna sebagai studi tentang strategi apa yang bisa digunakan musuh untuk menyerang Nazarick.

Ainz menghela nafas dalam benaknya.

Mungkin para guardian berpikir dirinya terlalu paranoid.

Jika Nazarick benar-benar tak terkalahkan, tidak perlu melakukan hal-hal ini, tetapi itu tidak mungkin.

Sangat tidak mungkin.

“—Ini untuk mempersiapkan pertarungan kita yang tak terhindarkan melawan guild yang sama kuatnya atau lebih kuat dari kita.”

Setelah Ainz selesai berbicara, para guardian menjawab jika mereka akan mematuhinya.

“Lalu – sudah saatnya kita memulai pengepungan berikutnya.”

Ainz melirik Albedo – karena Ainz tidak memiliki bola mata, kebanyakan orang tidak bisa melihat pandangannya tertuju pada mereka. Selama ini dirinya harus menoleh untuk berbicara dengan mereka, namun tanpa melakukan itu Albedo cukup peka untuk menyadarinya- Albedo mengangguk dengan cara yang sepertinya menyampaikan pesan, “Seperti yang dikatakan Ainz-sama.”

“Omong. Omong. Ainz. Sama,. Jumlah. Pasukan. Yang. Kita. Gunakan. Untuk. Pertempuran. Ini, Sepertinya. Kurang.. Untuk. Alasan. Apakah. Itu?.”

Ainz seketika membeku.

Dia tidak bisa memikirkan jawaban untuk pertanyaan logis semacam itu. Sejujurnya, dia berpikir akan bisa mengendalikan situasi tidak seburuk ini. Demiurge dan Albedo tidak mengajukan pertanyaan, dirinya mengharapkan Cocytus dan yang lainnya juga akan melakukan hal yang sama—

{—jadi itu sebabnya. Karena Cocytus telah mengalami kekalahan selama pertempuran dengan lizardmen, aku telah menginstruksikannya saat itu untuk berpikir sendiri.}

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, sumber kesengsaraannya selalu seperti yang dia katakan sebelumnya. Lalu bagaimana? Tidak, apa yang dia katakan saat itu benar. Dari perspektif dirinya yang ingin memperkuat Nazarick, pernyataannya sudah bagus. Dahulu dia pernah mengatakan bahwa Cocytus dapat semakin bertumbuh sampai dirinya yang saat ini.

Mengapa Ainz menyusun sejumlah pasukan yang tidak bisa menjamin kemenangan mereka? Penjelasannya tidak serumit itu, tapi itu bukan penjelasan yang bisa dia ceritakan pada para Floor Guardian.

Kenapa begitu? Itu karena penjelasannya bisa membawa kehancuran Nazarick.

Ainz menelan ludahnya (yang tidak ada).

Dirinya membisu terlalu lama. Dia harus mengatakan sesuatu, sesuatu yang kelihatannya masuk akal.

“Omong-omong, hal sama juga berlaku ketika kita menyerbu kota-kota tetangga. Sedikit orang diizinkan untuk melarikan diri kan? Apakah itu ada alasannya?”

“Pertanyaan Cocytus dan Aura sudah diduga, mungkin ada diantara kalian yang memikirkan pertanyaan yang sama.” Ainz mensurvei orang-orang di depannya dengan menatap setiap Floor Guardian yang mengangguk. “…Aku mengerti. Baiklah, mari kita amati bagaimana pertempuran pertama kita akan berlangsung. Setelah itu, aku akan memberi tahu kalian alasannya.”

Ainz hanya menyeret semuanya, meninggalkan masalah yang menyusahkan ini untuk masa depannya.


Berada di ujung utara Kingdom yang menghadap ke laut Rhynd merupakan kota E-Naüru.

Itu merupakan kota terbesar di dalam wilayah Earl Naüa, sebuah kota yang diberkati oleh laut.

Meskipun itu merupakan kota terbesar dalam hal luas wilayahnya, jika kau menuju ke timur melintasi perbatasan wilayah, kau tidak akan terlalu jauh dari kota yang terkenal dengan pelabuhan angkatan lautnya, Re-Urovua. Kota itu memiliki lebih banyak daratan dan kapal-kapal berlabuh di dalam pelabuhannya, satu-satunya keuntungan yang dimiliki E-Naüru atas kota itu mungkin adalah memiliki tangkapan ikan yang lebih bagus. Dengan kata lain, E-Naüru sama sekali tidak memiliki tujuan strategis.

Bisa disimpulkan para gourmet merupakan orang-orang yang menonjolkan nilai sebenarnya dari E-Naüru. Earl Naüa dikenal dengan penelitian makanan laut mereka selama beberapa generasi dan mereka selalu membual memiliki makanan laut terbaik di seluruh Kingdom. Ada yang mengatakan mereka penemu saus, itu dibuat dengan mencampurkan kecap dan madu, yang digunakan untuk glasir atas bahan lainnya. Saat proses mengolahnya, panasnya harus dikontrol dengan tepat untuk mencegah sausnya terbakar. Semua usaha itu menciptakan ikan bakar khas E-Nauru, cerita ini sudah tersebar luas.

Suasana kota seperti itu tetap sama terlepas dari deklarasi perang hingga beberapa hari yang lalu. Nelayan masih berlayar untuk mencari ikan dan pasar masih penuh dengan orang-orang yang berbelanja ikan segar dan kerang. Selain berkurangnya jumlah pedagang keliling di jalanan, di kota ini kehidupan berjalan seperti biasanya.

Tidak dapat dihindari jika tidak ada yang mengambil tindakan khusus.

Mereka telah menerima berita tentang Sorcerous Kingdom yang menyatakan perang terhadap Kingdom dari seorang utusan yang dikirim dari ibukota sekitar sebulan yang lalu, tetapi mereka tidak mempercayai Sorcerous Kingdom akan menyerang hingga ujung utara Kingdom. Dengan logika konvensional, sebelum itu terjadi, ibu kota akan diambil alih dan mengakhiri perang.

Ada juga kota-kota besar lainnya yang berdekatan dengan mereka yang termasuk dalam wilayah orang lain, dan tidak lupa terdapat banyak desa di dalam wilayah mereka sendiri. Sorcerous Kingdom harus melewati mereka sebelum mereka sampai di kota ini.

Jika dan ketika perang mencapai mereka, mereka pastilah menerima permintaan bantuan dari kota-kota itu terlebih dahulu. Itu sebabnya mereka tidak berusaha untuk meningkatkan pertahanan, yang paling mereka lakukan adalah membuat persiapan untuk mengirim pasukan bantuan mereka.

Namun – skenarionya tidak berjalan seperti yang mereka harapkan.

Baron tetangga, beberapa bawahannya, dan anggota keluarganya yang lain dengan tergesa-gesa melarikan diri ke E-Naüru.

Penjelasan Baron sederhana, “beberapa undead tiba-tiba muncul dan membantai setiap warga sipil di wilayah ku.”

Para undead bisa muncul secara alami dan yang bisa menghancurkan seluruh desa tidak pernah terdengar sebelumnya.

Tetapi, untuk undead kuat yang secara alami akan muncul seharunya butuh waktu yang lama. Terkecuali dataran Katze, seharunya ada lebih banyak undead lemah yang muncul dahulu sebelum undead kuat muncul.

Dia berkata, jika wilayahnya dikelola dengan baik, akan sangat mudah untuk menahan para undead disana sebelum mereka mendatangi wilayah ini.

Itulah sebabnya undead kuat biasanya tidak pernah terlihat di dekat tempat tinggal manusia. Hanya ada dua pengecualian untuk aturan ini.

Entah ada seorang evil magic caster yang bisa mengendalikan undead di dekatnya, atau undead itu melintasi wilayah ini dari suatu kerajaan yang jauh.

Jika itu masalahnya, hanya ada satu orang yang terpikirkan.

Ainz Ooal Gown, sang Sorcerer King.

Mereka juga pasti menerima informasi perang diumumkan. Jika mereka menganggap para undead itu sebagai bagian dari pasukan Sorcerous Kingdom, semuanya masuk akal. Kecuali, pertanyaan terus muncul satu demi satu.

Bagaimana dengan kota-kota tetangga lainnya?

Berapa banyak kekuatan musuh? Pasukannya seperti apa?

Apa yang terjadi dengan ibu kota?

Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan, tetapi ada hal-hal yang lebih penting untuk dijawab sebelum mereka dapat menyimpulkan jawaban atas pertanyaan itu.

Setelah mereka mendengarkan Baron menceritakan kembali secara rinci dan menganalisa informasi yang mereka miliki, mereka memprediksi jika E-Naüru berada di jalur yang akan dilalui oleh undead untuk menyerang Kingdom.

Mereka segera mengirim utusan dengan kuda cepat ke setiap desa dan kota di wilayah mereka, memerintahkan warga untuk mengungsi.

Dengan informasi yang mereka miliki, mereka tidak bisa mengatakan untuk tujuan apa tentara Sorcerous Kingdom dikerahkan menuju pelabuhan terpencil seperti ini. Mungkin itu karena Sorcerous Kingdom merupakan kerajaan yang terkurung daratan dan ingin segera mendapatkan kota pelabuhan, sehingga mereka memilih untuk menyerang tempat yang tak terbentengi. Mungkin mereka berharap untuk menggunakan E-Nauru sebagai ujung tombak rencana perang masa depan mereka.

Meskipun masih berbahaya bagi warga untuk mengungsi ke kota, tak banyak yang bisa berlari lebih cepat dari pasukan Sorcerous Kingdom yang terus merambah dan berhasil mencapai wilayah lainnya.

Pada akhirnya, sebagian besar warga memilih untuk tetap berada di dalam tembok pertahanan E-Naüru.

Lima hari setelah evakuasi warga di dalam wilayah mereka berakhir, mereka melihat siluet undead dari atas menara pengawas E-Naüru.

Dini hari, tiga hari semenjak hari itu, seorang pria berdiri di atas menara pengawas.

Dia terlihat berusia lebih dari empat puluh tahun, memiliki kulit yang kecokelatan, dan aromanya lebih mirip dengan sebuah ombak yang menerpa perahu kecil, jelas berbeda dari para tentara. Dari aromanya saja kau bisa mengetahui dirinya merupakan pria yang hidupnya bergantung pada laut.

Meskipun bagian atas kepalanya benar-benar botak, pinggiran dan belakang kepalanya masih memiliki sisa-sisa dari ketampanan masa mudanya. Dia sedang mencoba yang terbaik untuk menyisirnya ke atas untuk menutupi tanah lapang yang merupakan bagian atas kepalanya.

Meskipun penampilan fisiknya mengatakan dirinya seorang nelayan, pakaian yang dia kenakan merupakan milik bangsawan kelas satu; dengan demikian, seseorang dapat dengan mudah membedakan statusnya.

“Woooah – mereka ada di mana-mana-”

Nada suaranya sama sekali tidak sesuai dengan penampilannya dan pada umumnya tidak bermartabat, tetapi orang ini merupakan sang penguasa wilayah: Earl Naüa.

Dalam garis pandangannya sekelompok besar zombie yang jumlahnya kira-kira dua puluh kali lebih banyak dari pasukan pertahanan E-Naüru. Pasukan undead menghentikan serangan mereka seperti menunggu sisa pasukan mereka yang tertinggal, tetapi kelihatannya penambahan zombie ke dalam formasi mereka telah mereda, mungkin saja itu sudah keseluruhan dari pasukan mereka. Mengingat itulah situasinya, perang hanya tinggal sehelai rambut.

“—Mesikupun begitu, mereka hanya segerombolan zombie. Ini bukan masalah besar.”

Seseorang yang menyatakan itu merupakan seorang wanita yang berdiri di sebelah Earl.

Rambut putih bersihnya menari tertiup angin.

Ada yang mengatakan, rambut putihnya bukan hasil daripada umurnya, dia sengaja mengecatnya.

Warna asli rambutnya berwarna emas yang menjadi pemandangan umum di seluruh Kingdom. Beberapa tahun yang lalu dia telah mengecat rambutnya berwarna hitam.

Rambutnya yang dicat bukan untuk kekinian atau untuk bersenang-senang, dia menggunakan penampilannya yang mencolok sebagai semacam iklan untuk party petualangnya. Petualang seperti dirinya bukan hal yang tidak biasa, bahkan ada yang akan mewarnai rambut mereka dengan warna merah muda supaya menjadi terkenal.

Karena alasan itulah dia mengubah warna rambutnya dari hitam menjadi putih.

Dari party petualang peringkat adamantite yang aktif sudah terdapat tim dengan julukan ‘Red’ dan ‘Blue’, tetapi baru-baru ini julukan ‘Black’ juga telah diambil. Di dalam komunitas petualang, saat kau menyebutkan warna hitam, pemikiran kebanyakan orang secara alami akan mengacu pada Momon of Darkness. Namun, karena tidak banyak orang yang melihat penampilan Momon yang sebenarnya, dia mempertimbangkan apakah menjaga rambut hitamnya akan berdampak positif pada publisitas mereka atau tidak. Dia menyerah pada ide itu setelah dia mengetahui jika pasangan Momon memiliki rambut hitam yang indah.

Akibatnya, warna timnya juga berubah dari hitam menjadi putih. Sedangkan untuknya, Skama Herbelot, dia hanya senang jika mereka tidak memasukkan warna ke dalam nama tim mereka, tetapi mereka menamai diri mereka Four Armaments.

“Mereka jelas tidak tercipta secara alami. Banyak dari mereka terlihat seperti petani, maka mereka tidak mungkin berasal dari Sorcerous Kingdom. Mereka pasti telah menghancurkan desa-desa di sekitarnya dan mengubah mayat mereka menjadi zombie. Sungguh menjijikkan.”

Skama berbicara seolah dia akan muntah.

Meskipun ada juga beberapa di antara mereka yang memiliki peralatan yang lebih baik – armor kulit, chainmail, dan sejenis armor ringan lainnya – yang memberi kesan jika mereka merupakan tentara yang berubah menjadi zombie, sebagian besar dari mereka hanya mengenakan pakaian biasa, pakaian itu bahkan tidak berkualitas.

“Bisakah seseorang melakukan itu?”

“Entah mungkin atau tidak untuk menciptakan zombie sebanyak ini, aku tidak tahu. Tetapi, karena mantra untuk menciptakan undead itu ada, seharusnya itu mungkin kan?”

“Oh, haaaaaaaah—”

Earl Naüa menghela nafas dari lubuk hatinya.

Dalam masa-masa sulit ini, suaranya tidak memiliki sedikit pun urgensi. Ini bisa membuat marah beberapa orang, namun ekspresi Skama tetap tidak berubah.

“Jika itu masalahnya, tidak bisakah kita membuat pasukan undead kita sendiri untuk menahan mereka?”

“Jika ada lusinan dari mereka yang menyukai necromancy diluar arcana eksotis dan bisa menggunakan mantra tingkat tinggi karenanya, itu tidak akan sepenuhnya mustahil. Sayang sekali tidak ada di kota ini~.”

Ada alasan mengapa dia begitu yakin pada dirinya sendiri.

Earl Naüa telah mengirim permintaan ke Guild Mage, Kuil, Guild Adventurer dan lainnya — dia pada dasarnya mengirim permintaan ke setiap magic caster di kota untuk bergabung dengan mereka dalam menyiapkan pertahanan, dengan harapan dirinya dapat membentuk unit yang seluruhnya terdiri dari magic caster.

Karena kenyataannya Guild Adventurer memiliki banyak magic caster dan para petualang yang memiliki pengalaman dalam bertempur, party petualang peringkat tertinggi – Four Armaments Skama – dipilih untuk memimpin unit caster ini. Karena alasan itulah, Skama memiliki pengetahuan mendetail tentang setiap magic caster di dalam kota.

“Begitukah? Lalu— semuanya akan mulus kan? Selama seratus dua puluh tahun — kota ini tidak pernah dikepung semenjak awal didirikan sebagai sebuah desa. Kita benar-benar tidak memiliki pengalaman menghadapi pengepungan.”

Ini bukan sesuatu yang seharusnya dikatakan penguasa kota ini saat ini.

Tetap saja, Skama kelihatannya tidak marah dengan ini. Seperti yang dia katakan, seperti biasa, tidak ada satu pun rasa hormat yang bisa terdengar dalam suaranya ketika dia menjawab,

“Semuanya akan mulus? Kurasa tidak~, Earl. Jika kita tidak bisa memikirkan rencana tentang ini, semua orang akan berubah menjadi undead ~. Semua orang berusaha yang terbaik untuk membantu kita karena mereka ingin menghindari hasil itu~”

“Aku mengerti— mengapa hal seperti ini harus terjadi selama waktuku. Kalau saja ini tidak terjadi selama 5 tahun lagi, pada saat itu putra tertuaku mungkin akan menggantikanku.”

“Sial ~. Baiklah, kau sudah mengatakannya, tetapi itu sama bagi kami. Mengapa, mengapa ini harus terjadi ketika kami memilih untuk datang ke kota ini. Jika itu terjadi untuk bulan-bulan mendatang, kami mungkin akan berpindah ke kota lain – kota yang lebih besar~”

“Apa— Tunggu sebentar oke? Ayo kita berpikir dengan jernih. Tolong jangan tinggalkan kota ini!”

“Jika kita benar-benar ingin melarikan diri, sekarang merupakan waktu terbaik! Lihatlah, di sana.”

Skama menunjuk ke arah dua undead yang berada di pucuk pimpinan pasukan zombie.

Mereka cukup mudah dikenali mengingat tingginya sekitar dua kepala lebih tinggi dari zombie di sekitarnya. Sehubungan dengan tekanan yang luar biasa dan membuat mereka semakin terlihat menonjol akan kehadirannya, kekuatan mereka terlihat jelas.

Para undead membawa bendera di tangan mereka.

“Sorcerous Kingdom.”

“Yup … apakah Earl berpartisipasi pada pertempuran di dataran Katze?”

“Hmm? Aku hanya mengirim beberapa bawahan tepercayaku pada pertempuran itu. Baik diriku maupun keluargaku tidak berpartisipasi… tetapi, sepertinya mereka tidak akan pernah kembali.”

“Umm … Semoga mereka bisa beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan. Hanya dua undead spesial yang dikirim oleh Sorcerer King, yang mampu membantai 200.000 tentara… Apakah kau mempercayai mereka lemah?”

“Kurasa tidak.” mendesah. “-mereka pasti sangat kuat—”

“Benar … Apakah kau tidak marah? Jika mereka menilai hanya membutuhkan dua undead untuk menghancurkan kota ini?”

“Tiiidak— Daripada itu, aku hanya memikirkan bagaimana kita bisa selamat dari semua ini.”

Sebagai penguasa wilayah ini, kata-kata itu cukup tidak pantas, namun sederhananya, itu merupakan kebenaran.

“Meskipun aku ingin mengirim utusan untuk menyatakan keinginan kita untuk menyerah, aku sangat meragukan itu akan berhasil.”

“Tidak bisakah melarikan diri melalui laut? Kau mungkin sudah mempersiapkan itu kan?”

Skama bertanya apa yang ada dalam pikiran semua orang selama pertemuan mereka sebelumnya, tetapi tidak ada yang mengatakan dengan keras.

Earl tersenyum dengan ekspresi pahit dan tidak segera menanggapi. Daripada menyembunyikan sesuatu, itu lebih mungkin dirinya hanya mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dimaksud oleh Skama dengan pertanyaan itu.

Meskipun dia tidak terlalu mengenal Earl, keduanya memiliki cukup banyak interaksi karena pekerjaan mereka. Dia tahu sejak saat itu bahwa Earl cukup cerdas.

Apa yang disayangkan adalah meskipun putra Earl merupakan pengganti yang cocok untuknya, dia tidak sehebat ayahnya. Bahkan, ada seseorang yang mempercayai jika putranya bisa sehebat ayahnya dengan mendapatkan beberapa pengalaman.

“Ahem. Tentu saja, tetapi kita tidak bisa membawa semua orang keluar dari kota ini menggunakan kapal. Bahkan jika kita melakukan banyak upaya untuk mendaratkan warga menuju pantai terdekat, apa yang akan kita lakukan dengan kondisi pangannya? Ke mana kita bisa melarikan diri? Dan lebih banyak pertanyaan terus muncul…”

“Tetapi jika itu hanya Earl dan keluarganya, mereka seharusnya bisa keluar dengan aman kan?”

Earl merenung sejenak dan menjawab,

“Kurasa, tapi itu akan menjadi pilihan terakhir. Ucapan seperti ‘semua warga tolong mengevakuasi menuju kota, keluargaku dan aku akan keluar dari sini lebih dulu’ atau sesuatu seperti itu akan sangat membebani pikiranku— ”

Biasanya ketika sebuah kota telah diambil alih, penguasanya akan dibantai atau dipaksa tunduk. Warga di sisi lain – meskipun harta mereka mungkin dijarah – hanya akan berada di bawah manajemen baru. Membantai warga sipil di kota itu sama dengan membunuh angsa yang bertelur emas.

Terkecuali jika meratakan kota memiliki manfaat bagi penjajahnya, mereka tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.

Namun-

“Pasti kau sudah mendengarnya kan? Ucapan Baron yang telah berhasil lolos dari Sorcerer King — invasi Sorcerous Kingdom menuju tempat ini dan ucapan para pengungsi dari desa-desa di wilayahku. Situasi ini tidak terlihat terlalu bagus untuk kita.”

“Maksudmu seharusnya ada lebih banyak pengungsi kan?”

“Ya, benar,” jawab Earl.

Mereka yang telah mengungsi lebih dulu sudah ada di sini, tetapi jumlahnya terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk di daerah sekitarnya. Apa yang terjadi pada orang-orang yang tertinggal atau tidak bisa keluar?

Apakah mereka tidak ingin melarikan diri karena mereka sekarang hidup di bawah utopia? Atau apakah mereka di bawah kondisi pengawasan di mana tidak ada semut pun yang bisa melarikan diri? Atau apakah mereka semua dibawa menuju Sorcerous Kingdom? Ketiganya merupakan satu-satunya hasil optimis yang bisa dia pikirkan.

Tetapi, setelah melihat zombie yang berubah menjadi petani, dia merasa tidaklah mungkin Sorcerous Kingdom memperlakukan mereka dengan baik.

“Meskipun dia memerintah E-Rantel, sepertinya dia masih monster yang tidak bisa mentolerir mahluk hidup—”

“Jadi tujuan dari perang ini adalah untuk mengubah musuh-musuh mereka yang kalah menjadi tentara untuk meningkatkan pasukan mereka. Tentara yang tidak tidur, tidak makan, tidak lelah, tidak takut, dan benar-benar setia. Huh, masuk akal mengapa mereka tidak menunjukkan belas kasihan kepada musuh mereka kan?”

“Itu masuk akal, untuk musuh kali ini. Jika mereka mencoba menaklukkan sebuah kota dan memaksa warganya untuk bekerja untuk mereka, mereka tidak akan melakukan sesuatu seperti ini … Mungkin mereka tidak berniat membiarkan penduduk Kingdom tetap hidup. Jika itu masalahnya, lalu bagaimana kita bisa melarikan diri?”

Apakah Earl mencoba berempati dengan dirinya atau membuatnya berempati dengannya?

Skama mengambil sesuatu.

Dia merupakan petualang terkuat di kota ini. Jika dirinya meninggalkan kota ini, apa yang bisa menjadi kemenangan bisa berubah menjadi kekalahan. Itulah sebabnya Earl berusaha membuatnya berpikir jika tidak ada tempat untuk melarikan diri.

Ketika Skama hendak mengatakan sesuatu, beberapa gangguan telah terjadi di suatu tempat di dekat mereka.

Demi privasi – atau lebih baik untuk dikatakan demi mempersiapkan pertahanan, keduanya menyelinap pergi untuk mengamati formasi musuh.

Orang-orang yang muncul di depan Skama merupakan rekan satu timnya. Timnya, Four Armaments, memiliki empat anggota termasuk dirinya. Rasio pria dan wanitanya sama. Selain Skama yang sebagai warrior, terdapat juga rogue, priestess, dan seorang magic caster dari sekolah pembangkitan. Komposisi tim mereka cukup seimbang.

Di belakang rekan satu timnya merupakan para magic caster yang berkumpul dari seluruh kota.

Jumlah magic caster kurang dari lima puluh, tetapi jumlahnya tersusun sebagai tentara-tentara hebat.

Alasan mengapa mereka bisa mengumpulkan begitu banyak magic caster karena ada celah pada aturan yang tak terucapkan di antara para petualang- mengenai aturan bagaimana mereka tidak bisa berpartisipasi dalam perang antar kerajaan.

Hal ini tidak akan mungkin terjadi jika Sorcerous Kingdom mengirim tentara manusia, tetapi pasukan mereka terdiri dari undead – yang hampir pasti mereka merupakan warga sipil Kingdom yang dijadikan undead.

Mereka pada dasarnya bisa memperlakukannya sebagai suatu kebetulan pasukan undead ini membawa bendera Sorcerous Kingdom.

Mereka menggunakan alasan itu karena mau bagaimanapun aturan itu tidak bisa dipakai jika lawan mereka ini merupakan undead yang mampu mengubah jasad penduduk desa menjadi undead lain.

Terbentuknya unit caster dari orang-orang yang berada disini menyiratkan bahwa mereka bersama- yah, tidak semuanya mempelajari sihir itu, maka ini sekedar hipotetis – bisa mengadopsi strategi terus-menerus menghujani [ Magic Arrow ] pada musuh, yang secara teoritis bisa membunuh para dragon.

Tidak seperti panah biasa, [ Magic Arrow ] terjamin akan terhindar dari skill evoker. Melemparkan skill yang berlevel lebih tinggi hanya akan meningkatkan jumlah proyektil yang dihasilkan dan juga output damage individual dari masing-masing proyektil. Meski begitu, output damage satu proyektil masihlah sangat kecil. Sangat tidak mungkin bagi mereka untuk mengalahkan musuh dengan sekali lempar.

Output damage tidak bergantung dari tempat dimana mantra itu mengenai musuh, yang mungkin itu bisa dianggap sebagai keuntungan.

Dengan semua itu di dalam benaknya, mantra itu cukup lumayan untuk digunakan dalam sebuah kelompok. Jika mereka membentuk pasukan tentara dari orang-orang yang mempelajari mantra itu, peluang keberhasilannya akan tinggi. Namun, tidak ada catatan sejarah tentang strategi seperti ini pernah digunakan.

Hal ini dikarenakan untuk mempelajari mantra itu bahkan ditingkat pemula memerlukan banyak upaya dan bakat, tak bisa dihiraukan waktu yang harus diinvestasikan untuk mendidik magic caster. Mengingat lamanya waktu dan sumber daya yang sama, lebih menguntungkan untuk melatih seratus pemanah daripada satu orang magic caster.

Jika ada beberapa organisme yang secara bawaan bisa menggunakan [ Magic Arrow ] dan mereka membentuk pasukan, potensinya akan sangat menakutkan. Jika bahkan persyaratan bakatnya tak dapat terpenuhi – tidak, lebih aman untuk dikatakan jika itu sangatlah mustahil, karena tidak mungkin ada organisme yang membentuk pasukan dan hanya terdiri dari magic caster, sejatinya itu hanyalah khayalan semata.

Di balik khayalan tentang unit tentara seperti itu terdapat para prajurit di bawah pimpinan Earl dan para petualang yang terampil dalam memanah dan persenjataan jarak jauh lainnya.

Artinya, mereka yang berkumpul di tembok kota bertujuan untuk menyerang pasukan Sorcerous Kingdom terlebih dahulu.

Earl Naüa, berdiri di depan mereka semua, megeluarkan suaranya dan berkata,

“Aku berterimakasih untuk semua orang yang telah berkumpul di sini! Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua atas bantuan yang kalian berikan.”

Skama tidak bisa lagi merasakan perasaan tidak dapat diandalkan dari nada bicaranya, yang tersisa hanyalah martabat dan kepercayaan diri yang pantas bagi seorang pemimpin.

Sikapnya, merupakan hasil dari menjalani gaya hidup bangsawan, membuat Skama kagum.

“Terimakasihnya dalam bentuk yang lebih jelas donk!”

Salah satu teman Skama, sang magic caster, menjawab. Gelombang tawa bisa terdengar di belakangnya. Earl bukanya tidak senang mendengar apa yang dikatakan salah satu perwakilan petualang. Sebaliknya, senyum yang terwujud wajahnya tulus.

“Serahkan itu padaku! Kupastikan kalian akan dihargai, bahkan jika petualang lainnya memaksamu untuk mentraktir mereka, kalian tidak akan kehabisan uang. Aku akan menyerahkan hadiah kalian di depan semua orang, di tempat terbuka.”

“Woooo,” semua orang mulai bersorak.

“Tentu saja, itu juga berlaku untuk pasukanku. Meskipun gajimu mungkin tidak sebanyak para petualang, aku memberikan bonus yang cukup besar sehingga kalian tidak perlu lagi khawatir tentang masa depan istri dan anak-anakmu! Tetapi— “Earl beralih ke nada main-main untuk mengatakan,” —kalian tidak berpikir untuk menyia-nyiakan kekayaan barumu kan~?”

Dia bisa melihat ekspresi tegang pada tentaranya sedikit mereda.

“Aku sedang memikirkan bentuk alternatif kompensasinya. Tentunya Earl memiliki beberapa magic item sebagai peninggalan keluarga atau sesuatu seperti itu kan? Lagipula keluarga anda memiliki sejarah yang panjang.”

Seseorang yang mengatakan itu merupakan seorang wanita yang memancarkan aura seksual. Di lehernya tergantung simbol suci Dewa Bumi, yang terjepit di antara dadanya yang menggairahkan. Ini bisa disebut penistaan kan?.

Wanita ini, Lilynette Piani, juga salah satu dari teman Skama dan pastinya bukan (mengacu kalimat selanjutnya), dia tidak mengenakan pakaian priestess itu karena dirinya merupakan seorang pelacur yang melayani fetish kliennya atau sesuatu seperti itu.

“Huhhh. Peninggalan magic item rasanya sangat sulit. Itu memang ada, aku memiliki magic item yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sudah banyak orang yang mengetahuinya, sering disebut Holy Sword of Pentechromata.”

Itu merupakan pedang panjang yang dimantrai dengan elemen api, petir, asam, sonik, dan es yang memberikan tipe damage tiap jenis elemen ke target yang terpotong.

Tapi, bilahnya tak runcing sehingga hanya bisa digunakan sebagai senjata tumpul, seperti pedang boneka untuk latihan ilmu pedang. Dia tidak tahu mengapa seseorang akan menciptakan pedang seperti itu. Yang lebih membingungkan, pedang itu tidak memberikan divine damage padahal sebutannya pedang suci, mungkin nama itu diubah generasi setelah penciptaannya sehingga tidak terlalu penting.

“Aku menginginkan itu ~”

Lagi pula, itu masih barang yang berharga, maka untuk memberikannya kepada seorang petualang sebagai kompensasi sepertinya sama sekali tidak pantas.

“Kau menginginkan itu? Hmm, tergantung situasinya aku tidak akan mengesampingkannya sepenuhnya.” Earl melanjutkan dalam lantunan terengah-engah, “anakku – aku berharap kau bisa menjadi selir anakku.”

Ekspresi Skama berubah khawatir.

Earl telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan.

Beberapa petualang memandang ke arah Earl dengan mata terbuka lebar, mereka merupakan orang-orang yang telah mengejar-ngejar cinta Lilynette. Sebagai contohnya, salah seorang yang menatapnya mirip seperti tatapan elang.

Mungkin lelucon itu telah melewati batas. Tepat ketika Earl Naüa membuka mulutnya untuk meminta maaf, Lilynette bertanya,

“Earl punya empat anak kan? Istri anda melahirkan putra tertua dan putra ketiga anda. Selir anda melahirkan putra kedua dan putri sulung anda. Um, yang tersulung tak perlu dipertanyakan lagi, maka maksud anda anak mana?”

Nada suaranya telah berubah sepenuhnya. Dari sikap cerobohnya saat itu hingga keseriusan yang diharapkan dari seorang petualang. Inilah kepribadiannya yang sebenarnya.

Yang berarti Lilynette benar-benar serius.

Ekspresi Skama semakin gelap. Dia melirik rekan satu timnya yang lain dengan hati yang dingin menghindari kontak mata dengannya.

Pengecut itu.

“… Yang ku maksud yaitu putra ketigaku.”

“Putra ketiga anda? Tapi bukankah anak itu baru berumur dua belas tahun? Seseorang yang bulunya saja belum tumbuh? Menjadi selir anak itu?”

Earl hendak menganggukkan kepalanya ketika dia tiba-tiba membeku.

“…tunggu sebentar. Bagaimana kau mengetahui usia anakku? Bahkan tanggal lahir putra ketiga seorang bangsawan lokal… Apakah itu informasi yang penting? Atau apakah kalian semua petualang peringkat atas seperti ini?”

“T-tidak”, “Um, tidak”, dan penyangkalan lainnya datang dari para petualang lainnya. Lilynette mengabaikan mereka semua dan melanjutkannya sembari mengangkat rambutnya,

“Hah, baiikkk laaaah. Ahem. Baiklah kalau begitu, aku akan menjadi selir putramu untuk Holy Sword of Pentechro.”

Earl mengamati Lilynette secara mendetail dan mengalihkan pandangannya menuju Skama seolah-olah dia memiliki pertanyaan yang dirinya ingin dijawab tepat pada saat ini.

Skama tahu apa pertanyaan itu, dia tahu betul.

“Padahal akulah yang mengemukakan saran itu. Tunggu, mengapa dia malah ngiler? Apakah dia benar-benar mengejar anakku atau magic item?”

“Itu yang pertama,” Skama mencoba untuk mengatakan, tetapi sebelum kata-katanya dapat mencapai siapa pun, suara riuh terdengar,

“Dasar bodoh! Buah mentah merupakan buah yang paling memikat dari semuanya kan?”

Suasana sunyi terpecah saat mereka tahu suara siapa itu. Pada saat yang sama, beberapa petualang telah jatuh ke tanah, akibat fantasi mereka dihancurkan oleh kenyataan yang pahit ini.

Skama bisa berempati dengan kesedihan para petualang itu.

{Maaf,} pikirnya. Mereka yang telah mengejarnya pastinya telah memahami pada titik ini mengapa mereka tidak pernah berhasil.

Preferensi usia.

“Kupikir kau akan bertanya, ‘mengapa selir,’ atau yang lainnya.”

Lilynette menanggapi Earl Naüa, yang bergumam pada dirinya sendiri,

“Ah, ayah mertua-sama. Bahkan jika dia putra ketiga anda, dia masih terlahir dari istri anda. Jika semuanya berjalan dengan baik, ia seharusnya bisa mendapatkan gelar Baron dan sepetak kecil tanah kan? Dengan mengingat hal itu, akan sangat kurang ajar meminta petualang untuk menjadi istrinya, bahkan jika itu merupakan yang terkuat kan? Meskipun saya memiliki koneksi dengan kuil, itu masih, anda sudah tahu kan. Anda berencana untuk mengatakan sesuatu seperti ‘jika kontribusimu luar biasa dalam pertempuran ini, aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu menjadi istrinya,’ kan? Tetapi jika saya harus puas dengan tawaran menjadi istrinya sendiri, maka tidak akan ada cara saya bisa mendapatkan Holy Sword of Pentechromata. Bagaimanapun, istri putra ketiga anda yang mewarisi harta peninggalan keluarga akan mengguncang kedamaian keluarga kita~”

Dia sudah memanggilnya ayah mertua.

“… Aku telah meremehkanmu … Jika kau mengatakannya dari awal, aku akan menjadikanmu selir putra sulungku.”

“Ah, lima belas … tunggu dulu … tujuh belas tahun ke atas akan terlalu tua bagiku, ayah mertua-sama.”

Earl terus melirik Skama namun gadis itu mencoba untuk mengabaikannya. Ekspresi Earl Naüa terlihat seolah-olah dirinya baru saja menerima pukulan berat dan ingin meneriakinya licik, bahkan dia pun tak mendapat simpati dari kerumunan orang.

“Umm, sesuatu yang harus aku tanyakan— bahkan jika itu merupakan putra ketiganya, masih akan ada hari ketika dia berusia melewati 17 tahun!”

“Itu benar— kalau saja dia ras dengan umur yang lebih panjang. Tetapi jika itu yang terjadi, bukankah aku yang akan menua lebih cepat …? Jadi, apa yang kau katakan dapat diterima olehku.”

“Kau pikir itu layak untuk ditekankan !? Kau berpikir, dari semua hal yang telah aku katakan sejauh ini, itu merupakan hal yang paling layak untuk ditekankan!?”

“Eh? Ayah mertua-sama. Tenangkan diri anda, kenapa anda menjadi tidak tenang?”

“… Kau adalah orang terakhir yang ingin aku dengar mengatakan hal itu.”

Berdasarkan penilaian pribadi Skama, Lilynette merupakan seseorang yang jujur dan peduli sehingga dia pastilah menjadi istri yang baik. Namun, tak ada yang bisa ditunjukkan saat ini.

Jika ini berlanjut lebih lama lagi, itu tidak hanya akan memalukan temannya, tapi itu akan membuat reputasi seluruh timnya mendapati julukan yang aneh. Skama tidak ingin rambut putihnya diidentifikasi untuk konotasi negatif.

“… Maka, Earl. Meskipun kami menghargai usaha anda untuk mengurangi ketegangan kami dengan candaan, kami harus melanjutkan persiapan kami untuk pertempuran. Bisakah saya meminta anda untuk kembali ke pusat komando?”

Bahkan jika dia tetap disini, dirinya, yang tak memiliki keterampilan tempur tidak akan bisa berbuat banyak. Pekerjaannya lebih baik dilakukan di tempat lain. Earl Naüa mengangguk pada proposal logis ini, mungkin karena keinginannya untuk berada sejauh mungkin dari Lilynette.

“Baiklah, kalau begitu. Semuanya, mohon kerjasamanya!”

overlord bahasa indonesia

Dari sudut pandang di dalam tembok kota, terlihat seolah-olah musuh tidak benar-benar memiliki formasi tetapi hanya kumpulan zombie di satu tempat saja. Ini akan memudahkan petualang berperingkat Mythril seperti Skama untuk membersihkannya, jika saja monster-monster itu tidak ada di sana.

“Tidak ada gerakan yahhh? Jadi – apakah ada yang mengenali undead itu?”

Dua undead berdiri di tempat yang ditunjuk Skama.

Salah satunya memegang perisai besar dengan satu tangan dan pedang besar di tangan lainnya, sementara undead satunya lagi menggunakan pedang ganda.

Magic caster di sekelilingnya menggelengkan kepala setelah dia mengajukan pertanyaannya. Skama mengalihkan pandangannya ke arah Lilynette.

Para priest biasanya berpengetahuan luas tentang sesuatu yang terkait dengan undead, entah itu undead biasa atau undead langka.

Dengan responnya mengangkat bahu, hanya ada dua kemungkinan.

Salah satunya merupakan jenis undead yang sangat langka atau spesies baru – untuk saat ini abaikan saja *nomenklatur – undeadnya.

Kemungkinan kedua mereka sangatlah mengkhawatirkan. Biasanya, pada titik ini petualang akan melarikan diri.

Situasi lain di mana mereka akan mempertimbangkan mundur adalah jika undead itu memiliki kemampuan khusus yang dapat melakukan ‘one hit KO’ atau dapat melepaskan serangan fatal.

Ini merupakan skenario di mana mereka sama sekali tidak memiliki informasi untuk menyusun strategi.

Sebagai contoh, para Ghoul memiliki serangan cakar yang dapat melumpuhkan lawan mereka melalui racun ketika mereka memberikan damage menggunakan serangan itu.

Jika seseorang tidak mengetahui tentang efek paralitiknya dan tidak bersiap melawannya, mereka bisa lumpuh masal atau bahkan *TPK. Apa yang akan terjadi pada sebuah party yang tidak mengetahui entang kemampuan Wraith untuk mencuri kehidupan? Atau bagaimana dengan party yang tidak mengetahui tentang werewolve dan resistensi monster serupa lainnya untuk setiap serangan yang tidak dilakukan dengan logam tertentu? Atau bagaimana dengan monster yang bisa beregenerasi jika kau tidak menyerangnya dengan serangan api atau asam?

Informasi merupakan senjata ofensif dan defensif. Jika seseorang bertarung tanpa informasi untuk mendukung mereka, jumlah bahaya yang akan mereka terima pastilah banyak.

“… Ini benar-benar buruk. Kita harus mencoba untuk menyerang dengan segala macam serangan untuk melihat apa yang akan efektif, ada yang keberatan?”

Tak ada yang menjawab.

“Lalu, itulah yang akan kita lakukan – secara spesifik tentang siapa yang casting dan apa yang mereka casting, aku akan serahkan pembahasannya kepada kalian para profesional. Buatlah penilaian berdasarkan apa yang menurut kalian mampu untuk mengalahkan mereka didasarkan dari kemampuannya. Pertama-tama, mereka berdua terlihat seperti petarung jarak dekat.”

Kedua undead memang terlihat seperti itu, maka harapan mereka terhadap undead itu tak akan melenceng terlalu jauh kan? Bukannya monster yang bisa menyembunyikan kemampuan mereka tidak ada, hanya saja Skama belum melihatnya secara langsung.

“Mereka kelihatannya memiliki kemampuan pertahanan yang tinggi, kupikir akan berbahaya jika melakukan pertempuran jarak dekat dengan mereka. Jikat itu yang terjadi, kita akan menyerang mereka dari jauh, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tetapi panah fisik mungkin tidak memiliki efek yang begitu besar. Kita mungkin masih harus melibatkan para petarung jarak dekat, sehingga jumlah damage yang bisa kita lepaskan pada sihir itu sebelum mencapai dinding akan menentukan apakah kita menang atau kalah dalam pertarungan ini. Tapi karena kita juga harus mempersiapkan kemungkinan musuh menghancurkan tembok dan terjadinya perang ditengah kota, kita harus menyisihkan beberapa caster untuk memberikan buff pada garda depan dan juga sihir ofensif.”

Dahulu, dia sudah memperingatkan mereka untuk tidak terlalu pelit menggunakan mana.

“Jika tidak ada yang punya ide yang lebih bagus, kita akan melakukannya seperti ini. Baiklah, mari kita mulai.”

Magic caster mulai bertukar pendapat mereka sesuai dengan perintah Skama.

Skama berpindah ke suatu tempat yang agak jauh, dan kemudian berkumpul kembali dengan teman-temannya – meskipun ada satu yang tidak hadir.

“Jadi, pemimpin, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Skama menjawab, “apa maksudmu?” untuk pertanyaan tidak jelas itu.

Dia sudah mengetahui tentang rencana pertempuran yang telah dijelaskan kepadanya, maka dia pasti bertanya tentang sesuatu selain itu.

Pertanyaan “apa yang harus kita lakukan?” terlalu samar untuknya.

“‘Seberapa keras kita harus berusaha untuk kota ini’ merupakan apa yang aku maksud. Karena sebagian besar musuh merupakan zombie dan seluruh sisi kota tidak akan terkepung, jika kita ingin lari, dengan kemampuan yang kita miliki, kita pasti dapat melarikan diri dengan mudah kan? Mencuri salah satu kapal dan melarikan diri dengan itu bukanlah ide yang buruk kan? Makanan sudah disiapkan sesuai pesanan yakan?”

“Bodoh,” jawab Lilynette dengan nada kesal, “kau tahu, lawan kita ini undead? Itu tidak akan mengejutkanku jika mereka menyergap dari laut~”

Karena ujung utara kota ini menghadap ke laut dan ditutupi dengan dermaga, tidak ada dinding yang menutupi sisi kota itu. Jika musuh mereka benar-benar cerdas, mereka akan memilih untuk menyerang dari sisi itu. Mungkin saja pasukan utama mereka sedang menunggu untuk keluar dari laut.

“Ah – begitu ya? Itu-sangat mengkhawatirkan. Sudahkah kalian memberi tahu Earl tentang ini?”

“Tidak, tidak akan membantu jika aku melakukannya. Bahkan jika kita hanya memasang penghalang jalan, cakupannya terlalu lebar… sejatinya itu akan menciptakan kepanikan yang tidak perlu di kota. Mungkin ada alasan mengapa mereka tidak mengepung kita sepenuhnya. Seperti, bagaimana jika mereka menyiapkan kita sebuah lubang kecil di pengepungan mereka dan jika kita mencoba melarikan diri ke sana, itu akan menjadi jebakan?”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Jika kau ingin lari, lakukan itu lewat sana,” kata Skama sembari menunjuk ke arah sekelompok musuh, “Sangat mudah untuk memecah formasi jika mereka hanyalah para zombie, skenario terburuk kita hanya perlu mengintai kesana dengan [ Fly ] untuk memastikan kekuatan utama musuh tidak ada yang siembunyikan lagi.”

“Aku mengerti, kau sudah memikirkan ini ya?” kata rouge, tidak menyadari tatapan kedua teman wanitanya, seolah-olah mereka mencoba mengatakan ‘itu karena dari awal kaulah satu-satunya yang belum memikirkan hal ini.’ Rouge itu melanjutkan, “Jadi, jika kita lari, ke mana kita lari? Kota tetangga atau di suatu tempat dekat ibukota?”

“Kami baru saja menyerah pada kerajaan ini.”

“Kalian serius!?”

“Teriakanmu terlalu kencang,” Skama melanjutkannya setelah mengkonfirmasi lingkungan disekitar mereka telah aman lalu mengatakan, “… ya.”

Untuk tetap disini dan diperintah oleh Sorcerous Kingdom, kerajaan yang akan mengubah begitu banyak penduduk menjadi undead (meskipun mereka merupakan warga kerajaan musuh), pasti akan menghasilkan akhir yang tidak bahagia untuk mereka semua.

Pertanyaannya sekarang adalah: ke mana mereka harus melarikan diri?

Meskipun mungkin mudah bagi mereka sebagai party petualang untuk melarikan diri, pemimpin party masih harus mempertimbangkan berbagai skenario.

Tiga kerajaan yang bertetangga dengan Kingdom selain Sorcerous Kingdom: Council State, Holy Kingdom, dan Empire.

Dengan proses eliminasi, satu yang tersisa ialah Council State karena Holy Kingdom kelihatannya membuka tangan terhadap Sorcerous Kingdom dan Empire merupakan kerajaan bawahannya. Keuntungan memilih Council State yaitu karena relatif dekat dengan tempat mereka berada, tetapi selain itu, pilihan mereka mungkin City State Alliance atau Theocracy. Draconic Kingdom sedang tidak dalam kondisi bagus dari kabar terakhir yang dia dengar dan kerajaan-kerajaan lainnya manusia memiliki populasi minoritas. Dan lagi, di Council State juga City State Alliance populasi manusia hanyalah minoritas.

Jika mereka harus memperhitungkan persentase populasi yang dimiliki manusia dalam suatu negara, mereka haruslah menghapus Council State dari daftar kerajaan tempat mereka melarikan diri. Dia telah mendengar populasi manusia di kerajaan itu kurang dari 10%.

Jika jarak bukanlah masalah, City State Alliance sepertinya menjadi pilihan terbaik mereka. Rupanya setengah dari populasi City State Alliance merupakan manusia.

“Hufff—, apakah kita benar-benar melarikan diri? Skama, kau harus berusaha lebih keras untuk mengejar kebahagiaanmu sendiri~ ”

“… Jadi kau tidak serius ketika tadi mengatakan sesuatu tentang anak itu?”

Keinginan untuk membantu dan keinginan untuk melarikan diri, emosi yang saling bertentangan itu tumbuh pada Skama. Tepat ketika Skama menyadari bahwa para caster telah menyelesaikan pembahasan mereka.

“Pemimpin! Kami sudah selesai di sini~”

“Aku mengerti! – Sekarang, akankah kita? Bertindak sesuai rencana, jika yang terburuk menjadi yang terburuk – lompatlah turun dan cobalah untuk menerobos kerumunan zombie.”

Untuk melompat turun dari ketinggian seperti itu akan menimbulkan rasa sakit bahkan pada seseorang yang dilapisi armor seperti Skama. Masalah ini diselesaikan oleh magic caster mereka, yang akan memberikan [ Falling Control ] padanya untuk membiarkannya turun dengan aman.

Skama dan yang lainnya berpindah menuju pos mereka dan menunggu tindakan musuh.

Haruskah mereka menganggap diri mereka beruntung karena musuh memilih untuk tidak menunggu sampai malam hari untuk bergerak?

Tidak ada sinyal khusus yang menandakan dimulainya pertempuran.

Tidak ada pernyataan yang dibuat oleh pertukaran panah, tidak ada pihak yang menyatakan pembenaran mereka, hanya kerumunan besar zombie tertahan di tembok kota. Itu tidak terlihat seperti bagaimana pertempuran normal dimulai.

Sekumpulan mayat yang berjalan dengan cepat mendekati mereka pastilah pemandangan yang menakutkan bagi beberapa orang, tetapi bagi seseorang seperti Skama ini merupakan pemandangan yang menggelikan. Jika itu merupakan ras zombie selain manusia seperti giant, dragon, atau monster raksasa lainnya, ini akan menjadi situasi yang sama sekali berbeda. Bahkan petualang pemula tidak akan takut hanya pada zombie manusia. Bagaimanapun, tembok kota ini bukanlah sesuatu yang zombie dari kaliber ini bisa tembus.

Para zombie, meskipun mereka memiliki lebih banyak kekuatan, daya tahan, dan stamina daripada rata-rata manusia baisa, mereka masih lebih buruk daripada seorang petualang dengan sedikit pengalaman dan kepintaran.

Sementara pemanah menyiapkan busur mereka, tatapan para petualang menempel pada dua undead.

Mereka tidak bergerak sama sekali. Mengapa? Apakah mereka sama sekali tidak berencana untuk bergerak?

Akhirnya, ketika mereka mengkonfirmasi bahwa zombie hampir tidak berada dalam jangkauan mereka, para pemanah melonggarkan panah mereka pada sinyal Skama.

Normalnya, mereka akan menunggu sampai jarak di antara mereka lebih pendek dibanding jarak saat ini untuk mulai menembak agar memastikan mereka bisa mengenai target mereka, tetapi karena ini merupakan zombie, kuantitas lebih penting daripada akurasi.

Seperti yang diharapkan dari para tentara yang percaya diri dengan keterampilan memanah mereka, mereka cukup akurat bahkan dari jarak ini. Mungkin hanya dua dari sepuluh anak panah yang meleset dari sasaran mereka, yang merupakan kerugian yang tidak signifikan.

Namun, itu bukan seolah-olah zombie akan musnah dengan satu panah. Bagaimanapun, mereka bisa membabat sebagian kehidupan palsu yang dimiliki lawan mereka selama mereka mendaratkan serangan.

Serangan kedua dan ketiga mulai memusnahkan banyak musuh.

Para petualang dan tentara tidak merasa senang saat melihat dan mendengar suara zombie menghantam tanah, belum ada yang terjadi di luar harapan mereka.

Masalah utama mereka tetap kedua undead itu.

Monster yang kuat bisa mengubah gelombang pertempuran sendirian.

“—Mereka bergerak.”

Undead yang memakai perisai mulai bergerak. Dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada zombie biasa saat dia bergegas menuju gerbang kota. Undead yang membawa perisai menghantam para zombie tanpa banyak pertimbangan saat menerjang mereka dengan perisai di depannya.

Skama, dikejutkan oleh kecepatan luar biasa dari lawan mereka, lalu memberikan perintahnya,

“Lakukan serangan!”

Mantra magic caster terbang pada saat yang sama.

Di antara mereka, yang paling merusak merupakan [ Fireball ] milik rekan Skama, seperti yang dia duga.

[ Fireball ] terbang di udara dan meledak dengan undead yang tidak diketahui di pusatnya, bola api besar muncul dari ledakan dan menyelimuti zombie di sekitar titik itu. Bahkan jika dia berada di belakang perisai yang akan mengurangi jumlah damage yang diterima, kobaran api berikutnya dari serangan itu pastilah bisa menelannya.

Berbagai mantra ditembakkan ke arah “Shield-Bearer”.

Namun kecepatannya tak melambat, masih sama seperti sebelumnya seolah-olah tak menerima damage sama sekali. Hal itu menyebabkan beberapa keributan di dalam formasi para tentara.

“Jangan panik!” teriak seorang petualang.

Bagi para petualang, ini merupakan hasil yang logis. Gerakan undead tak terpengaruh oleh jumlah damage yang mereka terima. Tidak peduli berapa banyak damage yang mereka terima – bahkan jika itu cukup untuk membawa makhluk hidup ke jurang kematian – mereka bisa bergerak seperti biasa selama kehidupan palsu mereka tidak ditiadakan.

Bahkan mantera terkenal [ Fireball ] tidak tertandingi dalam output damagenya. Beberapa petualang tangguh dapat menahan mantra itu dan masih hidup, yang lebih kuat bahkan bisa menerima banyak serangan.

Sihir sekaliber ini tidak cukup untuk menjatuhkan Shield-Bearer, petualang yang tidak mempertimbangkan kemungkinan ini seharusnya telah dipecat sejak lama.

Namun, masih ada pertanyaan.

Memangnya undead itu benar-benar menerima damage atau tidak? Tidak mungkin mereka bisa mengetahuinya.

Karena itulah Skama memusatkan perhatiannya pada hal itu.

Biasanya, damage mantra tidak dapat dihindari, meskipun diberi barrier, atau dikurangi dengan armor fisik. Serangan mantra berbasis energi murni seperti itu pastilah efektif melawan musuh dengan beberapa armor atau pengguna *exoskeleton. Tetap saja, itu tidak seperti monster dengan resistensi sihir atau elemen tidak ada.

Jika dia harus memikirkan contoh di antara undead.

Ada yang terkenal, sangat berbahaya yang dikenal sebagai Skeletal Dragon yang memiliki kekebalan absolut terhadap semua sihir. Ada juga monster yang bisa mengurangi jumlah damage elemen api yang diterimanya atau bahkan menyembuhkan dari serangan.

Bukan tidak mungkin bagi undead itu untuk memiliki kemampuan semacam itu.

Jika serangan sihir tidak berhasil, mereka harus secara drastis mengubah rencana pertempuran mereka.

“Tidak apa-apa! Serangan kita efektif!”

Temannya, seseorang yang melemparkan [ Fire Ball ] berteriak.

Caster satu-per-satu dapat merasakan dengan intuisi mereka jika serangan mereka menghasilkan damage dan mulai berpadu mengatakan “itu bekerja”, “serangan kita mempan”, dan frasa serupa lainnya.

“Skama! Setiap jenis serangan sihir sepertinya efektif pada mahluk itu!”

Skama menghela napas lega mendengar berita terbaik yang diterimanya sepanjang hari ini. Mungkin mereka memiliki kesempatan untuk menang.

“Aku mengerti! Sekarang – teruslah menyerang!”

Lawan masih berlari ke arah mereka dengan kecepatan sangat tinggi. Dia berdoa agar mereka bisa mengalahkannya sebelum mencapai gerbang. Jika mereka mempertimbangkan bila makhluk ini tidak memiliki resistensi, maka jumlah damage yang telah dimilikinya pastilah sudah terlihat jelas, ini menandakan musuh yang mereka hadapi saat ini bukanlah undead biasa.

{Aku tidak ingin bertarung dengan mahluk itu dalam jarak dekat!}

Seolah setuju dengan pikiran Skama, gelombang mantra lainnya dilemparkan.

Banyak zombie telah musnah pada saat ini namun Shield-Bearer terus maju.

Kebanyakan undead akan ditaklukkan setelah beberapa lusin mantra.

Skama merasakan hawa dingin di punggungnya.

{Dia lebih kuat dari yang diharapkan … tidak, dia terlalu kuat … mahluk ini, bisakah kita, benar-benar mengalahkannya?}

Shield-Bearer bukan satu-satunya musuh yang harus mereka waspadai, ada juga satu lagi yang masih menunggu di tempat. Mengapa dia tidak bergerak, mereka tidak mengetahuinya—

{Apakah mereka kartu truf Sorcerous Kingdom? Itu sebabnya hanya ada dua …? Atau apakah bisa dikatakan seluruh kota ini termasuk kami cukup lemah sehingga hanya dua dari mereka yang diperlukan?}

Rasa dingin lainnya meluncur ke tulang punggungnya.

Bagaimana jika Sorcerous Kingdom telah menerima informasi dari setiap petualang di kota, termasuk Four Armaments Skama dan telah mengirim pasukan dalam jumlah yang tepat untuk menjamin kemenangan mereka? Dan ‘pasukan’ yang dimaksud bukanlah para zombie melainkan Shield-Bearer?

Seolah-olah untuk menyangkal kekhawatirannya sebagai paranoia, Skama menggigit bibirnya dan menahan keinginan untuk berteriak, “Bunuhlah secepat mungkin!”

Semua orang sudah fokus pada undead itu dan berusaha yang terbaik. Efek apa yang akan diterima dalam pikiran para tentara jika dirinya, petualang terkuat di sini, sampai berteriak?

Meskipun dampak negatif, itu mungkin akan menurunkan moral mereka.

Dia harus menolak desakannya untuk saat ini.

Skama mempersembahkan doa kepada Tuhannya, Dewa Api, namun itu tidak bisa membuat senyum di wajahnya.

Shield-Bearer sudah berada di gerbang.

Undead itu telah berada di blinspot para caster, di mana mereka tidak bisa membidiknya dengan sempurna.

Skama mempertimbangkan apakah dia harus melompat dari tembok kota dan melarikan diri.

Saat melihat kearah lain, undead yang tidak bergerak membunuh gagasan itu.

Jika undead satunya secepat Shield-Bearer, dia bisa dengan mudah menyusulnya.

Bukan tidak mungkin baginya untuk bertahan hidup, dia sudah menggunakan [ Fly ] untuk mencari di luar pasukan zombie dan tidak menemukan apa pun selain dua undead itu.

Jadi jika mereka menggabungkan [ Gate ] dengan [ Floating Board] atau menarik musuh ke kota dan menyelinap keluar dalam kekacauan, itu bisa berhasil. Selama tidak ada pasukan undead lainnya yang siaga, tidak ada yang bisa menghentikannya.

Jika mereka melakukan rencana yang terakhir dan memikat musuh menuju kota, itu pasti akan membebani mereka semua dengan rasa bersalah yang jauh lebih kuat daripada jika mereka hanya meninggalkan kota. Mungkin rasa bersalah itu dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup.

Saat Skama menggertakkan giginya, dia mendengar suara ‘Boom!’ dari gerbang kota, seolah-olah seekor domba jantan baru saja menabrak gerbang.

Mereka kehabisan waktu.

Skama membuat pilihannya.

“… Sekarang giliran kita! Kalian tetap awasi undead yang tak bergerak itu dan apa yang ada di bawah tembok! Aku akan menjadi umpan agar kalian dapat melihatnya. Begitu kalian bisa melihatnya, segera lemparkan mantra kalian!”

Setelah perintah singkat kepada rekan satu timnya dan rincian perintah kepada para tentara dan para caster, Skama berlari menuju tangga yang menuju ke bagian bawah tembok kota. Temannya, yang masih memiliki mantra [ Fly ]-nya aktif, mengikuti dari belakangnya.

“Mahluk itu memiliki tingkat resistensi yang luar biasa, tapi seharusnya sudah cukup banyak damage yang dia terima!”

{Namun apakah itu benar …? Apakah kesimpulannya tidak terlalu optimis? Tapi…}

Skama menampilkan ekspresi senyum pahit.

{Seorang undead yang telah menerima begitu banyak serangan mantra. Aku tidak merasa bisa cukup untuk membeli waktu sehingga mantra itu selesai dan dapat menyerangnya.}

Tapi, dia harus melakukannya bahkan jika dia harus mempertaruhkan hidupnya pada cobaan ini.

Gerbang kota merupakan sebuah pintu raksasa tunggal sederhana yang terbuat dari kayu kokoh. Itu akan menjadi titik kebanggaan bagi desa nelayan, tetapi sekarang tidak seperti itu mengingat situasi saat ini.

Serangan dari seekor domba jantan mungkin akan menghancurkan engselnya. Karena mereka tidak bisa menggantinya dengan sesuatu yang lebih kuat mengingat jumlah waktu yang mereka miliki, mereka hanya bisa memperkuatnya dengan papan kayu dan menyegel pinggirannya. Ketebalan gerbang itu sekitar dua kali lipat dari yang dulu.

Dari ujung pintu semacam itu, suara tubrukan berulang bergema.

“Kekuatan macam apa ini …”

Dengan “Crack!”, Sebagian bala bantuan papan kayu mulai runtuh.

Ada celah di antara dobrakan, mungkin Shield-Bearer mundur untuk memulai berlari sebelum mendobrak gerbang lagi.

“Apa yang harus kita lakukan? [ Lightning ] bisa mengenai mahluk itu melalui gerbang, haruskah kita melakukannya?”

Pintu seperti ini dapat bertahan terhadap serangan berbasis petir tetapi bukan mengartikan jika pintu itu benar-benar tidak akan menerima damage dari mantra semacam itu.

Potensi damage mantra seperti itu bisa dilakukan pada pintu harus dibandingkan dengan apa yang bisa dilakukan pada makhluk hidup. Perlu juga mempertimbangkan manfaat dari casting [ Lightning ] saat ini maupun menyimpan mana untuk mantra lain setelah Shield-Bearer menembus gerbang.

Tidak, pertimbangan tidak perlu.

Mereka seharusnya tidak mencoba menghadapi musuh secara langsung tetapi untuk memberikan sebanyak mungkin damage pada musuh saat ini.

Skama menganggukan kepalanya dan temannya segera memulai perannya.

“[ Lightning ]”

Sebuah busur petir melesat keluar dan melewati pintu, seharusnya memberikan beberapa damage pada Shield-Bearer.

“Owoahwoahwoahwoah!”

Entah mahluk itu merasa kesal atau tidak, undead mulai meraung cukup keras hingga suaranya menembus gerbang. Raungan itu memiliki tekad yang cukup di belakangnya untuk membuat seseorang lupa bernapas.

Garis keringat mengalir di wajah Skama.

Tidak ada kemampuan berbasis teriakan yang digunakan, tetapi raungan itu masih bisa membuat tubuh seseorang gemetaran, jadi ini pasti dari perbedaan kekuatan mereka sendiri – alam bawah sadarnya telah memahami perbedaan kekuatan di antara mereka.

{Tidak bagus, ini, ini tidak bagus sama sekali… itu tidak lagi pertanyaan apakah kita bisa menang atau tidak. Jika Sorcerer King bisa mendominasi undead semacam ini … ahhh, itu masuk akal. Lagipula, dia merupakan monster yang bisa membunuh lebih dari seratus ribu orang dalam sekejap mata.}

Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa mengendalikan beberapa undead di level ini. Mungkin undead ini merupakan kartu truf Sorcerous Kingdom.

Apakah kota ini layak dijadikan investasi semacam itu?

Mengapa dia berada di kota yang begitu mengerikan? Skama menyesali nasib buruknya.

“Boom!” suara keras lain terdengar, beberapa balok yang diperkuat sudah patah.

“[ Lightning ]”

Deretan petir bersinar, meninggalkan seberkas cahaya putih, namun suara dobrakan berulang gagal untuk berhenti.

Satu-satunya hal yang berubah adalah gerbanya. Kayu-kayu kokoh itu telah terbelah menjadi dua, papan-papan penguatnya tertiup angin, dan hanya paku engsel yang terpilin yang tersisa di pinggirannya.

“Sudah cukup dengan serangan mantranya. Bisakah kalian memberikan buff padaku saja?”

“… Ahhh”

Skama menghindari serpihan kayu sebaik mungkin sembari juga bergerak mundur. Dia menerima buff Divine dan Arcane dari kedua temannya.

Mereka menggunakan mantra tingkat satu [ Anti-Evil Protection ], mantra tingkat dua [ Lesser Strength ] dan [Lesser Dexsterity ], mantra tingka tiga [ Haste ], dan banyak lagi. Dibandingkan dengan mantra untuk melawan kemampuan spesial, lebih banyak mantra digunakan untuk meningkatkan kemampuan tubuhnya.

Gerbang akhirnya memberi jalan setelah mereka selesai memberi buff dan menghantam tanah dengan suara keras.

Di dalam awan debu yang perlahan mengendap yang baru saja tertiup, sepasang mata merah cerah muncul. Ketakutan yang tak tertahankan menyebar ke seluruh tubuhnya setelah menerima tatapan mata ganas itu.

Giginya gemerincing dan tangannya bergetar. Untuk menyembunyikan fakta ini dari yang lain, dia harus menekannya sampai hampir pingsan.

Tingkat teror ini tidak bisa dirasakan di atas tembok kota, itu merupakan sesuatu yang harus kau hadapi untuk menghadapi monster ini.

“Apa yang aku lihat …? Hanya satu dari mereka bisa berhasil merobohkan gerbang yang sudah diperkuat … Sang Sorcerer King mendominasi undead semacam ini… ”

“Aku mengatakan ini dari lubuk hatiku, kita tidak boleh menjadikan Sorcerer King sebagai musuh di waktu berikutnya.”

Skama menjawab teman-temannya setelah menelan banyak air liur.

Meskipun dia sudah mendengar bagaimana Sorcerer King menghancurkan pasukan lebih dari seratus ribu orang, dia tidak merasakan ketakukan dan bukti nyatanya. Apa yang terjadi di depan matanya, bagaimanapun, memengaruhi ketakutannya terhadap Sorcerer King yang memiliki kendali atas makhluk ini.

Dia sama sekali tidak ingin melawan undead ini. Jujur, dia ingin lari sejauh mungkin.

Tapi, tidak mungkin undead yang sedang meremehkan mereka akan membiarkan mereka melakukan itu.

Bagaimanapun, satu-satunya harapan mereka untuk bertahan hidup adalah melakukan sesuatu terhadap undead ini.

Perwujudan kematian yang mengerikan menyapu debu dari mereka menggunakan perisainya, melangkahi puing-puing gerbang, dan bergerak ke arah mereka.

Mereka akhirnya menembus tembok.

Fakta jika undead di depan mereka telah memerintah zombie di sekitar gerbang menuju ke sini merupakan keberuntung bagi mereka, tetapi tidak ada keraguan dalam pikiran mereka keberuntungan mereka akan segera berakhir.

Skama mengangkat tomahawknya. Menilai dari kecepatan undead itu, dia harus menganggap dirinya berada dalam jangkauan serangannya.

Setelah mengaktifkan kemampuan kapaknya, salinan *senjata ethereal itu muncul di sebelahnya. Ini merupakan kemampuan senjatanya, Doppel, yang menciptakan salinan dirinya sendiri untuk melayang pada jarak yang tidak terlalu dekat atau terlalu jauh dari pengguna. Bisa secara otomatis menyerang musuh dengan tingkat akurasi dan kecepatan yang sama dengan penggunanya.

Senjata ethereal ini tidak bisa dihancurkan dengan serangan fisik, untuk menghancurkannya akan membutuhkan kemampuan penghancuran senjata khusus; sebagai hasilnya, itu bahkan bisa bertahan lebih lama dari pertarungan Skama.

Meskipun kemampuan ini tak memiliki kelemahan nyata, senjata ini hanya bisa memberikan setengah damage dari senjata aslinya.

“Owoahwoahwoahwoah !!”

Sang undead mengeluarkan raungan lain yang membuat mereka gemetar ketakutan.

Apakah mahluk itu sedang merayakan keberhasilannya setelah membantai manusia? Mahluk itu mengangkat perisai tinggi di atas kepalanya sendiri dan menghantamkannya ke bawah menuju serpihan gerbang.

Pecahan kayu itu terbang ke arah mereka dengan momentum yang luar biasa, tetapi Skama melambaikan senjatanya untuk dengan mudah menangkisnya.

Tindakannya sepertinya menarik perhatian Shield-Bearer, yang melangkah menghampirinya.

Mahluk itu menyiapkan pedang berbilah ombak saat menerjang ke arahnya dengan perisai.

{Ini, buruk … Omong-omong, mengapa mahluk ini belum mati setelah menerima begitu banyak serangan mantra? Bukankah ini terlalu tidak adil?}

Itu merupakan kebohongan yang terlihat jelas jika dirinya menepis semua serpihan kayu itu dengan mudah. Dia nyaris tidak berhasil melakukannya padahal sudah diberi sihir buff.

“Semuanya, perlahan—”

Shield-Bearer menyerang ke arah mereka. Kesenjangan di antara mereka ditutup dalam sekejap, seolah-olah ada tembok yang melesat ke arah mereka, seolah-olah berencana menggunakan perisainya untuk menghancurkannya sampai mati.

Tapi-

Skama tidak cukup mahir menggunakan [ Impenetrable Fortress ] jadi dia memilih menggunakan [ Fortress ] sebagai gantinya untuk menghentikan perisai dengan tomahawk-nya. Shield-Bearer dengan cerdik menepis tomahawk dengan perisainya, bermaksud untuk merobohkan postur Skama. Ini merupakan manuver sulit yang membuat Skama merasa seolah-olah kapaknya tersedot menuju perisainya. Skama menyerah melawan kekuatannya, berguling ke samping, dan menggunakan kekuatan aksi balasan dari tindakan itu untuk mundur.

Kapak ethereal berayun dari atas ke bawah tetapi ditepis oleh pedang berbilah gelombang. Pada saat yang sama, undead itu menghampiri Skama.

Dia bahkan tidak punya waktu untuk bernapas. Terpaksa melakukan pertahanan lagi, Skama menangkis serangan dengan tomahawk-nya dan menyerang lawannya.

Jika lawannya sebesar ini, kadang-kadang akan lebih baik untuk maju menyerangnya daripada diam menunggu saja.

“[ Sunlight ]!”

Seolah ingin mendorongnya maju dalam keputusannya, kilatan cahaya yang menyilaukan dipancarkan dari belakangnya.

Ini merupakan mantra divine tingkat tiga.

Cahaya menyilaukan itu tidak hanya membutakan musuh, tetapi juga memberikan damage pada undead. Meskipun ada mantra dari tingkat sama yang disebut [ Holy Light ] yang akan memberikan damage penuh pada iblis, itu tidak akan membutakan mereka. [ Sunlight ] mungkin dipilih untuk mendukungnya daripada digunakan untuk melancarkan damage murni.

Caster terbang mengirim tiga kilatan cahaya menuju undead dengan [ Magic Arrow ].

Meskipun dia menerima dukungan, perisai undead itu masih memblokir segala sesuatu seperti halnya dinding dan tidak meninggalkan celah untuk dieksploitasi. Skama menyarangnya dengan tomahawk-nya, tetapi dengan mudah ditepis.

{Sial! Gerakannya terlalu halus. Dia tidak sekuat ini ketika menggunakan pedangnya – kemampuannya dengan perisai terlalu tinggi! Jadi spesialis utamanya merupakan pertahanannya? Hah? Tetapi, bagaimana dengan serangan kuat itu? Tidak, mustahil…}

Ketakutan akan apa yang dia sadari, Skama perlahan mundur. Tak perlu dikatakan, ini supaya caster di atas tembok bisa menembak dengan jelas. Dia tidak boleh bergerak terlalu jauh agar undead itu tidak mengabaikannya dan berlari menuju kota. Itu merupakan skenario yang harus dihindari dengan cara apa pun mengingat seberapa cepat mahluk itu berlari, baik Skama maupun yang lain tidak akan bisa mengejarnya jika itu terjadi.

Jika itu terjadi, kota yang tak berdaya ini akan menerima banyak sekali korban jiwa.

Lebih baik berada di sisi yang aman. Rouge di tim Skama sedang menunggu di pinggiran, malah tidak membantunya dalam strategi mengejar monster jikalau undead itu memilih untuk berlari menuju kota. Itu merupakan rencana untuk menghentikan lawan agar tidak pergi, tetapi kemampuan fisiknya membuat kegagalannya sangatlah mungkin.

Dia perlahan-lahan menirunya sembari memperhatikan setiap gerakannya. Kelihatannya reouge itu tidak menyadarinya dan dirinya mengikuti dari kejauhan.

Saat mereka hendak membawanya menuju barisan api, teriakan bisa terdengar dari atas mereka.

“Tidak! Satunya lagi sedang menuju kearah kita! Orang-orang sedang menyerangnya disana!”

Implikasi dari ucapan itu perlahan meresap ke dalam kepalanya. {Ah … skakmat}, pikir Skama.

Jika “Dual-Wielder” berada pada level yang sama dengan Shield-Bearer, tak akan ada cara Skama dan yang lainnya dapat menangani keduanya pada saat bersamaan. Tidak, mungkin mereka akan mati saat mereka bersentuhan dengan lawan.

“Skama, apa yang harus kita lakukan!?”

“… Ayo rawat orang ini dulu.”

Skama mengatakannya dengan penuh tekad setelah suara panik temannya agak menenangkannya. Jika mereka bahkan tidak bisa menggores mahluk ini, sangatlah mustahil bagi mereka untuk melarikan diri. Mereka hanya bisa berharap serangan mantra itu sudah mengurangi HP mahluk ini hingga tersisa sedikit.

Setelah dia berhenti mundur, Skama berbalik menghadap Shield-Bearer dan melesat kearahnya.

Tomahawknya mudah diblokir oleh perisai dan begitu juga ethereal copynya. Serangan Skama tidak cukup untuk menghancurkan pertahanan Shield-Bearer.

Dia berharap serangannya akan digagalkan, hanya itu yang harus dia lakukan.

Serangan sebenarnya yaitu [ Magic Arrow ] dan [ Shockwave ] yang mengikuti.

Serangan mantera diikuti oleh rogue, yang melemparkan botol ke sisi kaki undead.

Cairan yang keluar dari pecahan botol milik rekannya merupakan lem yang bisa dibuat oleh alkemis atau sejenisnya. Ini merupakan strategi yang hanya bisa bekerja jika musuh berdiri di atas batuan yang halus.

Tidak peduli seberapa tinggi pertahanan yang dimiliki oleh Shield-Bearer, kemampuannya untuk menghindar tidak berfungsi pada botol yang dilemparkan padanya.

Undead itu tertahan ditempatnya karena lem.

Bahkan jika itu hanya untuk sesaat, lawan mereka tidak bisa bergerak. Ini merupakan strategi umum yang mereka gunakan ketika bertarung dengan musuh yang jauh lebih kuat daripada mereka.

Skama berputar menuju lengan Shield-Bearer yang tidak memegang perisai, yaitu tangan yang memegang pedang berbilah gelombang, dan mulai menyerang.

Shield-Bearer mengayunkan pedang besarnya, dia sangat ahli dalam menangkis setiap serangan yang datang. Meskipun kedua kakinya benar-benar terpaku di tanah dan Skama telah menggunakan martial arts dalam rangkaian serangannya, Skama tidak bisa mendaratkan satu seranganpun.

{Mahluk ini, seperti dinding logam!}

Skama melihat dari sudut penglihatannya menyaksikan undead menggunakan kekuatan ganasnya untuk mencabut kakinya yang telah terpaku dengan tanah. Dua mantra yang lebih ofensif dilemparkan namun itu masih gagal menggoresnya.

{—Kemampuan abadi? Atau kemampuan seperti dapat menyembuhkan dirinya sendiri dari waktu ke waktu?}

Terdapat monster seperti Hydra atau Troll yang memiliki kemampuan regenerasi. Bagi mereka, kau tidak bisa hanya memberikan damage dari serangan biasa secara terus menerus tetapi harus mendaratkan satu serangan fatal yang bisa mengurangi HP monster sampai nol.

Sangatlah sia-sia jika melanjutkan serangan panik mereka.

Skama bahkan tidak bisa mendaratkan satu serangan pun padanya.

{Persetan!}

“—Dia datang!”

Skama tak bisa mengabaikannya dan mengalihkan pandangannya setelah mendengar teriakan rogue itu. Siluet yang berdiri di depan gerbang merupakan undead yang satunya.

Dual-Wielder.

Skama merasakan perutnya bergejolak, tekanan gabungan dari keduanya membuatnya ingin muntah.

{Disinikah aku mati!?}

Rogue yang telah melakukan kombo bersama Skama tak bisa menangani tekanan dan mundur ke sisinya. Dual-Wielder merespons dengan baik dan berjalan ke sisi Shield-Bearer.

“… Mereka tidak menyerang. Yang berarti … sial. Kedua mahluk ini sangat kuat.”

Skama merasa seolah dia bisa merasakan senyuman dari wajah busuk Dual-Wielder. Shield-Bearer telah menunjukkan kepada mereka serangan yang tidak pada level yang sama dengan kemampuan pertahanannya, tetapi mungkin dia hanya menanamkan keputusasaan pada mereka hanya untuk membeli waktu agar Dual-Wielder sampai disini.

Kedua musuh ada di sana, ini merupakan kesempatan terbaik untuk menggunakan serangan mantra AOE. Namun, mantra itu tidak pernah dilemparkan. Tidak, mungkin lebih baik dikatakan jika mereka tidak bisa memulai merapalnya.

Alasan mengapa itu terjadi seharusnya jelas. Meskipun mantra serangan telah terbukti efektif, itu juga akan memprovokasi kedua undead untuk memulai serangan mereka.

Takdir mereka hanyalah mati.

Bahkan jika pihak mereka menunda menyerang, musuh mereka akan melakukannya cepat atau lambat. Tapi, mereka tidak bisa membangun keberanian untuk mempertaruhkan takdirnya di tangan mereka sendiri.

Setelah dia menderita karena hal ini, Skama membuat keputusan.

“Kalian berdua, larilah!” Dia menepuk pinggang rogue, “kami akan memberi kalian waktu.”

“Hah? Sungguh!? Aku juga!? Tunggu, kau ingin aku melakukan itu!?”

Si rogue meratap tetapi Skama mengabaikannya.

Terdapat dua lawan, jika setidaknya mereka tidak memiliki dua orang untuk menahannya, mereka hanya akan— ‘boom’ terdengar di telinga mereka.

“…hah?”

Para undead di depan mereka, kepala Shield-Bearer telah ditusuk oleh apa yang tampak seperti jarum panjang.

Tunggu, tidak.

Apa yang menembus kepala Shield-Bearer bukanlah sebuah jarum; benda yang menembus tengkoraknya dan saat ini tertancap ke tanah di bawahnya merupakan sesuatu seukuran jari telunjuk.

Itu berarti benda itu begitu cepat sehingga penglihatan kinetik Skama benar-benar tidak bisa melihatnya terbang di udara, tetapi hanya bisa menyaksikan bayangannya, yang tampak seperti jarum.

Shield-Bearer bergetar, kakinya yang menginjak tanah goyah, nyaris tidak membiarkannya berdiri. Alasan hal ini terjadi mungkin karena dia merupakan undead yang bisa tetap berdiri walaupun kepalanya tertusuk.

Skama dan yang lainnya mau tidak mau mengalihkan pandangan mereka dari musuh dihadapan mereka dan melihat ke mana serangan itu berasal. Para undead tidak berusaha untuk menyerang mereka selama waktu ini karena merekapun melihat ke arah yang sama.

Serangan lain menusuk kepala Shield-Bearer lagi dan dengan itu, kerangka raksasa Shield-Bearer musnah.

Hanya butuh dua tembakan. Tidak, mungkin karena dia sudah menerima begitu banyak serangan mantra dan sudah melemah. Tetapi, siapa yang bisa mencapai hal seperti itu—

Siluet seorang pria bisa terlihat di udara—

“A-Apa?”

—Suara siapa itu?

Entah itu Skama sendiri atau teman-temannya? Dia sangat terkejut sehingga dia tidak bisa lagi mengatakan hal yang begitu sederhana.

Di depan mereka terdapat sesosok armor raksasa.

Setinggi sekitar tiga meter yang mengenakan armor merah darah aneh terbang di udara. Di tangannya ada item berbentuk semacam *seruling yang dipegangnya layaknya panah, mungkin salah satu item sebesar jari telunjuk barusan.

Karena telah menyerang Shield-Bearer, mereka dapat menyimpulkan sosok itu bukanlah musuh mereka, bahkan jika sosok itu bukan sekutu mereka pun.

Skama dan yang lainnya perlahan-lahan menjauh dari Dual-Wielder. Jika mereka terjebak dalam pertempuran keduanya, dia sangat yakin, dirinya dan teman-temannya akan mati ditempat itu.

Mungkin saja Dual-Wielder sudah kehilangan minat pada kelompok Skama atau mungkin karena sosok armor raksasa di udara merupakan satu-satunya ancaman yang layak diperhatikan, apa pun alasannya, dia tidak berusaha menghentikan upaya mundurnya.

Dan kemudian, pertempuran dimulai.

Saat ini giliran Dual-Wielder.

Dia melemparkan salah satu pedangnya.

Dia melempar pedang dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga tak mungkin Skama bisa menghindarinya. Jika dia mencoba untuk memblokirnya, serangan itu masih akan memberikan damage mematikan.

Armor itu tidak mencoba menghindarinya tetapi menahan dengan tubuhnya sendiri. Mungkin tidak bisa menghindarinya, atau mungkin benar-benar tidak merasa perlu untuk menghindari serangan itu?

Suara logam yang menusuk telinga berbenturan dengan logam berdering ketika pedang yang dilemparkan memantul dari armor raksasa. Kemudian menghilang seolah-olah pedang itu menguap di udara, dan muncul kembali di tangan Dual-Wielder.

Pedangnya tidak kembali ke tangannya. Melainkan, penggantinya yang muncul.

Armor di udara mengarahkan seruling kepada Dual-Wielder dengan gerakan halus, seolah-olah lemparan pedang barusan tidak sama sekali tidak merusaknya.

Seruling menemukan targetnya dan kemudian – mengeluarkan sesuatu setelah kilatan api dan listrik.

Apa yang tadinya merupakan serangan sekali pakai berubah menjadi rentetan proyektil yang tak terhitung jumlahnya. ‘Grakatatata’, suara gemuruh tembakan dapat terdengar di mana-mana.

Menghadapi proyektil yang tidak diketahui, Dual-Wielder mengayunkan pedangnya. Suara ‘ting’ yang kencang dari entah apa itu terbang ke arahnya undead, suara logam yang saling beradu dapat terdengar. Tetapi serangan itu ada batasnya.

Dua buah pedang tidak mungkin mampu menahan lusinan atau bahkan ratusan proyektil. Proyektil kecil terbang dengan kecepatan yang mengejutkan saat menembus musuh. Dual-Wielder mulai bergetar seolah-olah dia mengalami kejang otot dan seperti Shield-Bearer sebelumnya, dia menghilang.

Kedua undead telah menghilang dalam sekejap mata.

Skama benar-benar, dari lubuk hatinya, terdiam.

Sejujurnya, dia tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi.

Tapi Skama mengerti satu hal, armor itu sangat kuat, lebih kuat dari semua orang yang dirinya kenal.

Dia tidak bisa berhenti berkedip.

Tidak ada yang terasa nyata. Sulit baginya untuk menerima kenyataan jika mereka telah diselamatkan. Keputusasaan dan kesiapan mereka untuk pengorbanan diri hancur begitu saja, pikirannya tidak bisa mengikuti sama sekali.

“A-Apa-apaan itu?”

“… Hei, bukankah itu plate dari Guild Adventurer?”

“Hah?”

Dia memicingkan matanya dan kembali tersadar setelah rogue mengatakan itu dan melihat ke arah leher armor – meskipun dia hampir tidak bisa melihat bentuknya – sebuah kalung yang terdapat plate logam. Meskipun ukurannya hampir sama dengan milik Skama, platenya terlihat sangat kecil pada sosok raksasa itu. Seperti yang diharapkan dari rogue bisa melihat sesuatu yang tak dirinya sadari.

Plate logam pada kalung armor itu warnanya tak dikenali.

Dia telah melihat warna Orichalcum sebelumnya, maka dengan proses eliminasi ini,

“Seorang petualang peringkat Adamantite?”

Ada tiga kelompok peringkat Adamantite di Kingdom dan warnanya membuat dirinya menyadari bagian dari tim mana armor itu.

“Mungkinkah dia seseorang dari Red Drop…?”

Setelah mendengar pertanyaan Lilynette, Skama menjawab, “seharusnya.” Jika dia merupakan seseorang dari Blue Rose atau Darkness, dia akan mengoceh tentang mengapa mereka memilih warna armor seperti itu.

Armor terbang itu membelakangi Skama.

“T-Tunggu!”

Armor itu menanggapi suaranya dan berbalik perlahan.

Dia mengangkat tangan kirinya, meluruskan telunjuk dan jari tengahnya, dan mengarahkan mereka ke dahinya. Seolah-olah armor itu mengucapkan selamat tinggal, armor itu megangguk pada mereka dengan lembut.

Kemudian terbang begitu saja.

Skama menatap langit yang kosong dan bertanya kepada rogue,

“…Tadi itu apa?”

“Siapa yang tahu…”

Dia tidak bisa mengerti sama sekali, tetapi seseorang dari Red Drop datang untuk membantu mereka, itu mungkin yang terjadi.

“Tapi, umm, aku mengerti satu hal. Jika kita memiliki seseorang yang sekuat dirinya – mungkin invasi Sorcerous Kingdom akan berakhir di sini. Tentu saja, ini dengan harapan armor itu masih bersedia untuk melanggar Kode Etik Petualang dan akan terus berpartisipasi dalam pertempuran sejak saat ini dan seterusnya.”

———–

Dia merasa seolah-olah dia baru saja mendengar suara, “eh?”. Ainz berpikir suaranya seperti itu karena berasal dari dirinya sendiri.

Seorang Death Knight dan Death Warrior, dua undead tiba-tiba mati. Seseorang yang mengalahkan mereka juga mengenakan item dari Yggdrasil, Power Suit.

Ainz merasa dia telah kehilangan dua kontak – meskipun perasaan itu tidak terlalu kuat mengingat seberapa banyak koneksi yang dirinya miliki saat ini – yang mana dia telah belajar mengetahuinya jika itu bukan ilusi.

Keheningan memenuhi ruangan.

Dia merasakan tatapan setiap Floor Guardian – mungkin juga para maid – padanya.

Ainz merupakan perancang strategi pengepungan ini, maka tidak salah untuk menganggap ini sebagai kekalahan Ainz.

Meskipun sesuatu yang tak terduga telah terjadi, pasukan lemah yang mereka kirimkan kesana musnah, bukanlah suatu masalah besar. Jadi Ainz berharap mereka tidak akan bertindak begitu terburu-buru dan selalu berhati-hati.

Namun, mengingat situasi saat ini, jika dia mengatakan kepada mereka tidak apa-apa kalah dalam pertempuran itu, ini akan terdengar lebih seperti alasan seorang pecundang. Dirinya haruslah selalu sempurna.

Keyakinan dirinya bahwa dia tidak akan melakukan hal seperti itu haruslah meningkat.

Ainz memutuskan untuk menggunakan keterampilan aktingnya yang telah lama dipraktikkannya, tentu saja, dia dapatkan dengan berlatih di depan cermin ketika para maid tidak ada.

“Hmmm … seperti yang aku duga, mmm.”

Situasi terkendali.

Ainz menunjukkan kesan arogansi seperti bos-bos mafia yang tiba-tiba berbicara sendiri ketika mereka menikmati aroma anggur merah dari gelas anggur mereka.

Bagian terpenting dari tindakan ini yaitu untuk tidak berbicara dengan suara kencang. Suara yang kencang akan sangat timpang tindih saat ini. Triknya adalah bertindak seolah-olah dirinya hanya bergumam sendiri.

Aktingnya, hasil penelitian kerasnya, menyebabkan riak keributan yang bergema di sekitar ruangan.

Ainz menelan ludahnya yang tidak ada.

Apakah dia berhasil atau tidak tergantung pada respons Demiurge.

“Saya. Mengerti. Jadi. Itulah. Mengapa….”

{-Apa!? Cocytus!?}

Sementara Ainz panik, Shalltear menjawab, “Ya ya ya!” karena kedua tangannya terangkat. Meskipun sepertinya Shalltear telah mengerti Ainz, dia hanya cari perhatian saja. Shalltear tersenyum bangga ketika tatapan semua orang menimpanya.

“Saya juga mengerti itu-arinsu! Ainz-sama memprediksi sesuatu seperti itu akan terjadi-arinsu! Karena itu kita mengirimkan pasukan yang lemah, apa aku benar-arinsu!?”

Ini terasa berbeda dari biasanya.

Apakah ini berhasil atau gagal? Ainz melirik Demiurge, tapi dirinya hanya tersenyum misterius sembari menganggukkan kepalanya.

“Seperti yang diharapkan dari kalian berdua.”

Mereka berdua mengangkat kepala tinggi-tinggi setelah menerima pujian Demiurge. Mungkin Demiurge sudah sampai pada kesimpulan ini tetapi menyerahkan kepada mereka berdua untuk menjawab terlebih dahulu.

Ainz menghela nafas lega.

Ini sepertinya sukses.

Albedo melanjutkan,

“Informasi dari Sebas, Demiurge, dan juga pendukung kita di ibukota menyebutkan jika Red Drop berada di ujung utara Kingdom. Karena itu, Ainz-sama memutuskan untuk mengerahkan pasukan yang lemah untuk memancing mereka keluar. Sejumlah pasukan yang menghantam tempat pancingan dengan mudah dikalahkan oleh orang itu, tetapi pada saat yang sama cukup untuk menaklukkan kota tanpa bantuan mereka. Sasuga Ainz-sama. ”

“Seperti. Ikan. Yang. Terjerat…”

{Eh? Itu Red Drop? Bisakah kita mempercayai informasi itu? Adakah kemungkinan jika dia seorang player?}

Jika dia memakai Power Suit dari Yggdrasil, bukankah kemungkinananya cukup tinggi bahwa dia seorang player?

Apakah mereka sudah yakin itu Red Drop? Jika begitu, bukankah sebagian informasi itu seharusnya sudah dia ketahui?

Tidak, tunggu— Sepertinya lebih mungkin jika Ainz hanya melupakan potongan informasi itu saat dia membaca dokumen. Karena alasan itu, Ainz berpura-pura jika semua ini sesuai dengan rencananya dan tertawa lembut.

Tak perlu dikatakan, dia juga telah beberapa kali mempraktikkan tertawa seperti ini.

“-hehe. Mmm, aku tidak berpikir dia benar-benar akan muncul. Aku juga sangat terkejut … Kupikir mungkin mereka sedang menyiapkan pasukan mereka untuk pertempuran di ibukota.”

“Ainz-sama selalu bisa memikirkan situasi yang tidak bisa kami pikirkan!”

Ucap Aura saat Mare bergumam, “luar biasa,” kepadanya.

Pandangan hormat yang tak tercemar dari mereka berdua merupakan pukulan besar bagi perasaan Ainz yang saat ini telah rapuh seperti kaca.

{Benar-benar tidak seperti itu.}

Tapi, dia tidak pernah bisa mengucapkan kalimat itu.

Ainz tidak pernah menganggap hal seperti itu bisa terjadi. Meskipun dia memiliki pola pikir jika kalah itu bagus dan menangpun juga bagus, itu untuk alasan yang berbeda dari apa yang mereka pikirkan saat ini.

Ainz mengenang tentang pertemuan antara dirinya, Sebas, dan yang lainnya, pertemuan yang membuat Ainz bertanggung jawab atas pertempuran ini.

—-

“Ada apa, Sebas? Apakah ada yang salah?”

Ainz baru saja kembali ke Nazarick dan di depannya adalah Sebas, yang seharusnya bersiaga di E-Rantel, maka wajar baginya untuk bertanya.

Ainz tidak ingat akan isi perintah terakhirnya kepadanya, apalagi perintah kemunculannya saat ini. Mungkin dia ada di sini atas kehendaknya sendiri, Ainz juga baik-baik saja dengan itu.

Meskipun Sebas ditempatkan di E-Rantel, dia masih diberi kebebasan cukup banyak. Hak untuknya kembali ke Nazarick kapanoun diberikan.

Namun, jika tujuannya adalah untuk bertemu dengan Ainz, dia bisa melakukannya di E-Rantel. Ini pasti tentang sesuatu yang penting dan mendesak.

“Saya benar-benar minta maaf, Ainz-sama. Apakah anda akan berbaik hati untuk meluangkan waktu anda yang berharga — atau lebih tepatnya, dapatkah saya mengganggu anda sebentar?”

Ainz merasa seolah ada sesuatu yang tidak menyenangkan tersembunyi dalam pilihan kata Sebas yang kacau. Dia memerintahkan maid yang paling dekat dengannya – yang ditugaskan untuk Ainz hari itu – untuk meninggalkan mereka. Maid itu, bersama dengan maid lainnya yang ditugaskan di ruangan ini, dengan lembut menundukkan kepala mereka dan meninggalkan ruangan.

Ainz memandang ke arah Eight-Edge Assassins di langit-langit.

“Kalian semua, tinggalkan kami berdua.”

Eight-Edge Assassins terjun dari langit-langit seolah-olah mereka benar-benar tak memiliki berat dan dengan tenang keluar dari ruangan.

Jika Ainz memerintahkan mereka untuk tidak pernah berbicara tentang apa yang dikatakan di ruangan ini, mereka mungkin akan mengikuti perintah itu sampai mati, tetapi di dunia ini terdapat sihir yang dapat membuat seseorang mendominasi pikiran mereka dan mengekstrak informasi melalui cara-cara itu. Tak perlu dikatakan, meskipun Ainz tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, masih lebih baik untuk berjaga-jaga.

“Ainz-sama, saya sangat berterima kasih.”

Jika Sebas yang memerintahkan mereka untuk pergi, itu bisa menyiratkan bahwa Sebas tidak mempercayai rekan-rekannya, para maid.

Maka, rasa terima kasihnya mungkin diarahkan pada pertimbangan Ainz untuk tidak memulai ketegangan di antara mereka.

Ainz dengan lembut menggelengkan kepalanya untuk menanggapi apa yang dikatakan Sebas. Agar mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ada dalam pikirannya, Ainz bertanya lagi,

“Jadi, ada apa? Sepertinya itu bukan masalah biasa. Mungkinkah keadaan darurat?”

“Ya, ahem, tidak. Saya tidak terlalu yakin apakah ini dianggap darurat atau tidak … Seseorang ingin berkomunikasi dengan Ainz-sama secara pribadi … Saya diminta untuk meminta kehadiran Ainz-sama atas permintaan mereka.”

“Jadi mereka menginginkan aku menemuinya? Mereka tidak bisa menemuiku di ruanganku?” Mengingat jika Ainz merupakan Supreme Beings dari Makam Besar Bawah Tanah Nazarick, ini merupakan permintaan yang tidak biasa. “… Ini bukan tentang manusia itu kan?”

“Tidak, itu bukan Tsuare. Dia merupakan seorang guardian yang belum menerima izin untuk meninggalkan wilayah mereka. Mereka mengetahui bahwa ini tidak sopan, tetapi mereka masih ingin merepotkan Ainz-sama sebentar…”

Sebas memandang ke arah Ainz dengan ekspresi minta maaf.

“Ahhh, aku mengerti.” Ainz mengerti.

Jika itu adalah Area Guardian, maka semuanya masuk akal.

Tentu saja, jika dia memerintahkan mereka untuk datang, mereka kemungkinan besar akan melakukannya. Beberapa NPC mungkin merespons secara negatif karena perintah sebelumnya dari sekutu Ainz, yang merupakan pencipta mereka dan yang mereka sebut sebagai Empat Puluh Satu Supreme Beings. Namun, sebagian besar akan mematuhi perintah Ainz.

Ada juga yang tidak bisa pergi.

Salah satu contohnya Area Guardian di lantai tujuh, Guren.

Karena aura pasifnya, dirinya pasti akan menyebabkan banyak kerusakan di sepanjang jalan ketika bergerak ke lantai sembilan. Sesuatu seperti karpet wol yang terbakar masih baik-baik saja, tetapi jika harus melewati makhluk seperti para maid, mereka pasti akan menerima banyak luka.

Jika itu masalahnya, lebih baik bagi Ainz untuk menemuinya daripada sebaliknya. Ainz tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Selain itu, dirinya tidak memiliki tugas yang harus ditangani secepatnya. Setidaknya itulah yang dipikirkan Ainz.

“Aku mengerti. Aku akan menemui mereka. Jadi, siapa yang mencariku?”

“Beliau adalah Nigredo-sama dan Pestonia”

Sebas merupakan seseorang yang memanggil orang lain dengan penambahan “-sama” namun dia tidak melakukannya pada Pestonia, apakah itu karena mereka merupakan rekan kerja?

“Hanya mereka berdua …”

Ekspresi Ainz berubah muram dan dia mencoba yang terbaik untuk menyembunyikan kenyataan itu. Meskipun rupa skeletal Ainz tidak bisa menunjukkan ekspresi apa pun, sepertinya seolah-olah beberapa guardian terpilih benar-benar bisa membaca ekspresinya. Albedo merupakan salah satunya. Sebagai catatan, Demiurge sepertinya akan selalu menafsirkan ekspresinya dengan cara yang aneh.

Apakah itu disengaja?

Ainz berpikir dia telah menyembunyikan emosinya dengan cukup baik, tetapi kelihatannya Sebas masih bisa menangkap beberapa petunjuk yang lolos dari nada suaranya. Ekspresi Sebas menjadi semakin meminta maaf.

{Meskipun aku merasa kasihan pada Sebas … tapi jujur, aku tidak mau pergi~}

Tidak ada yang bagus dari ini.

Dia yakin bisa menyatakan itu.

Bayangkan jika kau berada di kantor dan seseorang memberi tahumu, “orang-orang dari departemen lain sedang mencarimu. Mereka tidak ingin memanggilmu tetapi meingingkan dirimu menemui merekaa. ” Delapan atau sembilan kali dari sepuluh itu akan merepotkan.

Meski begitu, Ainz tidak punya pilihan lain. Jika masalah yang lebih besar muncul karena dia telah mengabaikan masalah yang lebih kecil, tanggung jawab atas konsekuensinya akan jatuh pada dirinya.

Sementara memanglah benar Ainz merupakan penguasa mutlak Nazarick, baginya untuk berpuas diri sangatlah tidak pantas.

Ainz mengingkan supaya tidak ada NPC yang membencinya, tetapi juga Ainz hanya mengingkan dirinya dikagumi layaknya seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya.

“…Ayo pergi. Mengenai jadwalku … ”Ainz mengeluarkan sebuah buku catatan untuk memeriksa apa yang telah dia jadwalkan hari ini. Dia merupakan seseorang yang akan menunda tugas-tugas yang dia anggap menjengkelkan tetapi juga seseorang yang berharap urusan menjengkelkan itu akan diselesaikan sesegera mungkin. “Ada slot waktu disini, tak ada sesuatu yang perlu aku kerjakan. Bisakah kita pergi ke sana sekarang?”

Nigredo dan Pestonia. Meskipun mereka berdua merupakan Area Guardian, dengan apa yang baru saja dikatakan Sebas, Ainz sangat mengetahui apa yang mereka inginkan. Itu sebabnya dia masih bisa menyampaikan pemikirannya kepada Sebas bahkan dengan setengah pertanyaan ini.

“Jika kita membiarkan Pestonia tiba lebih dulu, bagaimana kalau satu jam lagi?”

“…Tidak apa-apa. Sepertinya – tidak pantas membawa Albedo dan Demiurge.”

“Ya. Meskipun saya lancang untuk mengatakan ini, mereka berharap Ainz-sama akan menemui mereka sendirian.”

Ainz mengangguk.

“Bagaimana dengan boneka itu?”

“Saya akan meminta Pestonia untuk mengurus masalah itu, seharusnya tidak ada masalah.”

“Bagus. Satu jam lagi… hmm? Sebas, akankah kau ikut juga?”

“Ya. Saya berharap anda akan mengizinkannya. Apakah saya diizinkan?”

Sebas menundukkan kepala putihnya setelah menerima persetujuan Ainz.

Satu jam kemudian, Ainz menggunakan kekuatan cincinnya untuk berteleportasi menuju Penjara Beku di lantai lima.

Tidak ada yang menemaninya. Dia telah mengatakan kepada maid yang ditugaskan kepadanya jika dirinya memiliki hal-hal penting untuk diperhatikan dan telah memerintahkan mereka untuk menjaga rahasia dan tetap tinggal.

Awalnya dia memprotes dengan mengatakan, “Saya akan berpura-pura tidak melihat apa-apa sama sekali. Anda bisa mengabaikan kehadiran saya sepenuhnya, jadi tolong bawa saya bersama Anda.” Sementara Ainz menemukan sarannya dapat dipercaya, dia sepertinya sudah benar-benar pro untuk diabaikan.

Ainz telah membicarakan hal ini dengannya di masa lalu dan jawabannya adalah bagi Ainz untuk mengobjektifikasi mereka, akan menyiratkan bahwa mereka telah menyelesaikan tugas mereka sebagai maid terbaik. Mereka rupanya juga aktif mencari interaksi semacam itu. Dan lagi, Ainz hanya bertanya pada salah satu dari mereka jadi mungkin dia satu-satunya – tidak, dia pastilah satu-satunya yang memiliki fetish seperti itu.

Bahkan jika itu merupakan seorang maid seperti dirinya, untuk memastikan dirinya tidak mengabaikan bahkan 1% dari kemungkinan jika hal ini bisa menjadi bola salju dan menjadi masalah di kemudian hari, Ainz menguatkan dirinya sendiri.

{Aku harus melakukan sesuatu yang akan membuatnya lebih bahagia ketika aku kembali … mungkin menugaskannya untuk beberapa tugas sulit dan kasar … sehingga dia akan bahagia atau sesuatu yang seperti itu. Ya, aku malah bingung …}

Ada terlalu banyak orang di Nazarick yang berperilaku seperti maid ini, itu sebabnya tidak ada liburan jangka panjang dan kebijakan menggaji saat sedang berlibur. Jika ini terus berlanjut, harapan dan impian Ainz pasti akan gagal.

Ainz membuka pintu es berbalut gaya chateau layaknya pintu di istana suatu dongeng. Sama seperti sebelumnya, hawa dingin berhembus keluar dari dalam, namun Ainz, sebagai undead dengan kekebalan mutlak dari temperatur dingin, tidak terganggu akan hal tersebut.

Ainz berjalan sendirian melewati koridor menyeramkan. Selain memeriksa lubang di langit-langit sembari dirinya berjalan, dia melangkah tanpa henti menuju pintu yang berdiri sebagai pusat *mural raksasa yang membentang keseluruhan dinding.

Sama seperti sebelumnya, plester pada titik-titik tertentu mural sudah terjatuh. Itu terlihat sangat menyedihkan.

Pintu didorong dengan satu dorongan dan perlahan terbuka, ketiga penghuni ruangan berdiri untuk menyambut Ainz.

Pemilik ruangan, Nigredo.

Maid berkepala anjing, Pestonia.

Dan yang terakhir dari trio tersebut, yaitu Sebas.

“Selamat datang, Ainz-sama.”

Dengan pemilik ruangan, undangan Nigredo, Ainz mendekati meja tempat mereka duduk.

Terakhir kali dia berada di ruangan ini, yang dia dapatkan hanyalah sebuah *buaian. Kali ini buaiannya tidak terlihat, hanya sebuah meja dan empat kursi.

Kursi itu mungkin diambil dari ruangan lain di Frozen Prison. Sebagai catatan, Nigredo hanya Area Guardian dari bagian atas tanah Frozen Prison, Neuronist merupakan Area Guardian untuk bagian bawah tanah

Setelah Ainz duduk, Pestonia segera menyiapkan teh. Uap yang keluar dari cangkir di depannya membawa aroma teh hitam yang ada di dalamnya. Sebas mengeluarkan beberapa biskuit pada saat yang bersamaan.

Tentu saja, Ainz tidak bisa mengkonsumsi apa pun dengan kondisi tubuhnya, tetapi dia dengan senang hati menerima keramahan mereka. Setelah itu, Ainz memerintahkan mereka bertiga yang masih berdiri untuk duduk.

Biskuit yang diberikan pada Ainz sama sekali tidak mewah, hanya dibungkus kotak biasa. Itu bisa dikatakan pemandangan langka di Nazarick.

Apakah ini eksperimen seseorang? Ainz memandang ke arah Sebas dan bertanya tentang itu melalui tatapannya sendiri, menyuruh Sebas untuk menjawab,

“Itu bukan dari Nazarick, tetapi barang-barang yang saya bawa dari E-Rantel. Karena banyaknya bahan-bahan segar dan murah yang dibawa ke kota, budaya makanan perlahan berkembang di sana. Biskuit ini merupakan salah satu makanan yang sedang dikembangkan. Ada yang pernah mengatakan, sebelumnya biskuit itu lebih keras, tetapi saat ini sudah cukup lembut.”

“Saya sudah pernah mencicipinya, kualitas rasanya sudah di tingkap dapat diterima sebagai camilan, woff.”

“Hmmm.”

Ainz mengambil biskuit dan menggigitnya. Memang, itu tidak sekeras yang dia harapkan.

Biskuit itu patah menjadi dua ketika Ainz menangkap remah-remah dari bagian dalam rongga rahangnya dan meletakkan serpihannya di sebelah cangkir teh hitam.

Dia bisa mengetahui tekstur biskuitnya, tetapi tidak dengan rasanya, sungguh mengecewakan tubuh ini.

Akan tetapi, dari sudut pandang Ainz sama sekali tidak demikian. Itu secara khusus dikarenakan kenyataan bahwa tubuh ini tidak mempunyai libido, nafsu makan, dan membutuhkan tidur, berkat itu dirinya bisa berhasil dalam perannya sebagai penguasa Nazarick.

Jika salah satu aspek itu berlaku untuknya, tentunya sejak awal dirinya akan berada pada kegagalan tanpa henti menjadi seorang penguasa.

“Jika Ainz-sama menyewakan lebih banyak undead untuk tujuan pertanian, maka pasti akan ada perkembangan dalam perbaikan jenis makanan. Budaya makanan pasti akan berkembang dan mungkin mereka bahkan bisa menghasilkan makanan dengan kualitas yang sama sebanding dengan kualitas sajian Nazarick.”

“Itu akan bagus, karena tubuhku, aku tidak bisa memeriksa buff yang diberikan dari berbagai macam food item. Jika kita menanamkan lebih banyak sumber daya untuk ini, maka akan membantu memperkuat nazarick. Tetapi- jika itu masalahnya, aku berasumsi mereka yang tidak memiliki level pada [ Cook ] tak bisa memasak sama sekali kan?”

“Kami juga mengkhawatirkan tentang itu, maka akan lebih baik untuk menyelamatkan sebanyak mungkin ras sebisa kami.”

Ainz mengangguk setuju dalam menanggapi saran Nigredo.

Tiba-tiba, Ainz teringat mengenai *biodomes eropa di masa lalu dan konflik yang muncul setelahnya. Meskipun dia tidak terlalu tertarik pada topik saat itu, Blue planet sangat kesal.

“Ah, ya. Itu akan lebih baik. Satuan tugas harus dibentuk untuk mengatasi masalah tersebut.” Dia mungkin harus mengusulkan ide ini pada Albedo. “Sekarang – sudah saatnya kita membahas topik utamanya. Katakan kepadaku. Mengapa kalian mengundangku kesini?”

Nigredo, sebagai perwakilan mereka,berbicara,

“Ya, mengingat situasi saat ini, bukankah sudah saatnya kita menghentikan pembantaian warga Kingdom?”

“Ditolak, bagaimanapun, bukankah ini adalah sesuatu yang seharusnya kalian tanyakan kepada atasanmu langsung, Floor Guardian, daripada diriku?”

Ainz menjawab seketika.

Penghuni Nazarick – terutama Area Guardian – telah diinformasikan, secara tertulis, tindakan Floor Guardian dan tujuan dibaliknya.

Jika mereka memiliki saran, seharsunya mereka melapor kepada atasannya, Floor Guardian. Ini untuk menyatukan seluruh penghuni Nazarick, untuk mendapatkan pendapat dari mereka yang memiliki sudut pandang yang berbeda dan untuk menarik minat dan keingintahuan mereka semua.

Namun, meskipun Nigredo menyatakan pendapatnya seperti yang dia harapkan, dia seharusnya melapor kepada atasannya, Floor Guardian lantai 5 Cocytus. Jika Ainz menerima sarannya secara langsung, itu akan merugikan otoritas Cocytus.

Sebagai *konformis sosial, dia sama sekali tidak bisa melakukan itu.

Jika beberapa dari kalian tidak mengerti, jangan melewatkan atasanmu sendiri dan mengajukan petisi yang lebih tinggi dari departemen lain semau kalian. Apakah kalian mengerti sekarang? Tak ada hal baik yang akan datang setelahnya.

Dari sudut pandang tersebut, Ainz, sebagai kepala dewan direktur – puncak hirarki perusahaan atau bisa disebut guild master – harus dapat melakukannya, tetapi untuk membangkitkan perselisihan antara bawahannya dapat membuat perusahaan berada pada situasi yang sulit dan karenanya harus dihindari dengan cara apapun.

Jika konsekuensinya hanya menyerahkan Floor Guardian lantai 4, Gargantua, sebagai gantinya, Ainz akan bersedia melakukannya.

“Ainz-sama benar. Maka, izinkan juga saya untuk mengajukan saran ini, woff.”

Dalam arti tertentu, atasan pestonia yaitu Sebas.

Jika Floor Guardian ditugaskan sampai lantai 9 dan 10, Sebas akan menjadi Floor Guardian lantai 9 dan Albedolah yang akan menjaga lantai 10.

Karena Sebas yang mengundang Ainz, seharusnya sejak awal tak ada masalah mengenai penghinaan.

“-Aku mengerti, Aku memahami perasaanmu sekarang, tetapi aku mau mengajukan satu pertanyaan. Perang ini merupakan eksperimen besar-besaran untuk kebaikan kita dalam memperkuat Makam Besar Bawah Tanah Nazarick, rumah kita. Itu tidak akan berhenti hanya karena berkah pengampunan, maka apakah saran mu berdasarkan atas alasan tersebut?”

Jangan salah, Makam Besar Bawah Tanah Nazarick – Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown tidaklah unik, juga tidaklah tak terkalahkan. Jika mereka bertemu Guild lain yang juga dikirim ke dunia ini, mereka bisa kalah.

Untuk berasumsi jika mereka bukanlah satu-satunya yang dikirim ke tempat ini. . . sangatlah terlalu optimis.

Sejujurnya, dia sudah merasakan kehadiran World Class Item yang lain maka asumsi bahwa beberapa guild berada di tempat lain bukanlah sekedar imajinasi belaka.

Ini sebabnya, untuk menjamin kemenangan dalam perang guild yang tak terhindarkan, itu merupakan tugasnya untuk memperkuat Nazarick sebanyak yang dia bisa.

“Tak bisakah kita memberikan berkah agar mereka diselamatkan karena belas kasihan saja? woof.”

“. . .uh. Apa maksudmu? Jika ada manfaat yang bisa dipetik dari saranmu, katakanlah, kalau itu sesuatu seperti ‘jika kita menyelamatkan sebanyak mungkin yang kita bisa, makhluk yang kuat mungkin akan terlahir di masa depan’ aku tidak akan memperalatkannya. Sepanjang sejarah Kingdom, tidak ada yang lebih kuat dari peringkat petualang Adamantite. Dalam hal kekuatan murni, mungkin itulah batasan manusia. Jika itu masalahnya, akan lebih baik memilih dragon atau ras kuat lainnya.”

“Semua bayi memiliki potensi, Ainz-sama.”

Pestonia memberikan tatapan dingin pada Nigredo – setidaknya Ainzmengira itu hanya – lirikan.

“Bukan hanya bayi, woof.”

Nigredo memiliki titik lemah pada bayi, bahkan mungkin melampaui Pestonia. Namun, belas kasihnya hanya sebatas pada bayi. Begitu mereka berumur 2 tahun, dia melihat mereka hanya sebagai sekarung daging untuk dibuang.

Untuk alasan itu, balita yang telah diselamatkan selama penyerangan di ibukota sudah tak dirawat Nigredo dan ditempatkan dibawah pestonia setelah mereka berusia 2 tahun.

Saat ini mereka mungkin dikirimkan ke panti asuhan milik Yuri.

“Begitu, itu benar. Tetapi, bukankah hal yang sama juga berlaku untuk capung?”

“Aku mengerti, itu benar. Tapi, bukankah hal yang sama juga berlaku untuk dragonling?”

“Apa yang baru saja kita bicarakan, meningkatkan jenis makanan, bukankah itu juga berlaku untuk manusia? Jika kita menerapkan teknik berbeda yang kita miliki di Nazarick untuk memperkuat mereka, tentu saja variasi manusia yang lebih kuat dapat dibuat. Plus, nilai ras bukan hanya dalam kekuatan mereka, kecenderungan manusia untuk kreativitas dalam ciptaan mereka… anda bisa menyebutnya kemampuan pengembangan budaya, saya percaya mereka memiliki kemampuan itu. Jika kita harus mengurangi populasi mereka hingga tak tersisa, bukankah itu kerugian bagi Nazarick? ”

Apakah itu sebabnya mereka memberi Ainz biskuit? Jika itu masalahnya, semuanya telah berjalan seperti yang mereka inginkan. Tidak, itu tidak masalah. Selama mereka bisa meyakinkan Ainz, itu akan menjadi kemenangan mereka.

“Memang, itu patut dipertimbangkan. Namun, aku tidak ingin penghuni dunia ini menjadi terlalu kuat, bahkan aku mempercayai jika peradaban mereka berkembang, itu akan menjadi suatu ancaman.” Ainz mengepalkan tangannya. “Mereka yang kuat tetapi tidak bisa menjadi lebih kuat dan mereka yang lemah tetapi masih memiliki ruang untuk berkembang, pembalikan nasib harus dihindari dengan cara apa pun. Begitu kita menemukan kemungkinan sekecil apa pun dari hal itu terjadi, kita harus mencegahnya dengan cara apa pun. Ini semua untuk kebaikan Nazarick… benar kan?”

Mereka berdua terdiam. Ainz mengalihkan pandangannya pada Sebas.

Daritadi Sebas tak mengatakan apapun.

“Saya berterimakasih karena Ainz-sama bersedia datang ke sini dan mendengarkan pemikiran mereka. Itu sebabnya saya tidak akan membuat permintaan lebih lanjut.”

“Hmmm…”

Ainz menangkupkan dagunya dan mengalihkan pandangannya kepada mereka berdua.

“Mmmm, memang benar, itu akan merugikan kita jika mendorong umat manusia menuju ambang kepunahan. Ketika dorongan datang untuk mendorong, mereka akan melakukan apa saja untuk menjadi lebih kuat karena putus asa. Untuk alasan itu, tindakan terbaik untuk kita yaitu memusnahkan semua yang memiliki pengalaman semacam itu. Jika kalian ingin mengasuh mereka, kembangkan mereka yang belum melalui pengalaman-pengalaman seperti itu – mereka yang tidak memiliki dorongan untuk memperkuat diri mereka sendiri.” Ainz mengalihkan pandangannya di antara mereka berdua. “Apakah kita sudah selesai di sini? Haruskah aku kembali ke ruanganku?”

“Ya, woof!”

Suara Pestonia agak terlalu keras. Dia menundukkan kepalanya karena malu dan berkata, “Saya sangat menyesal.”

“Tidak apa-apa. Daripada meminta maaf, katakan saja.”

“Ya – Ainz-sama. Saya telah mendengar strategi anda kali ini disebut Permen dan Cambuk, untuk memberitahu kerajaan-kerajaan di sekitar kita tentang perbedaan hasil antara Empire yang memilih untuk menjadi pengikut kita dan Kingdom yang memilih untuk menganggap kita sebagai musuh. Apakah itu merupakan alasan pembantaian saat ini, woff?” Pestonia melanjutkan setelah Ainz mengangguk, “Jika semakin banyak orang yang berhasil melarikan diri dari pembantian ini, bukankah persepsi tentang betapa bodohnya tidak mematuhi Ainz-sama, atau lebih tepatnya Sorcerous Kingdom, menjadi semakin meluas? Uh, woof.”

“Kau menyarankan agar aku sengaja membiarkan beberapa dari mereka lolos karena itu?”

“Ya, woof.”

Jika itu masalahnya, ada beberapa nilai yang memungkinkan mereka untuk melarikan diri.

Namun.

Dia tidak percaya jika Albedo dan Demiurge belum mempertimbangkan hal ini. Keduanya merupakan tipe yang tidak menjalankan rencana sampai mereka memikirkan kemungkinan semacam ini. Jika Ainz membiarkan itu, dia akan menjalankan rencana yang Albedo dan Demiurge tinggalkan karena suatu alasan.

Bagaimana mereka berdua, yang selalu mengira tindakan Ainz sebagai orang jenius, bereaksi terhadap ini?

Perut Ainz yang tidak ada terasa sesak saat dia memikirkan hal ini.

Tunggu sebentar, dia telah mengatakan kepada mereka, “Aku akan membuat kesalahan dengan sengaja,” jadi bahkan jika sesuatu yang luar biasa terjadi, itu masih bisa berjalan dengan baik pada akhirnya. Namun, pertama-tama masalah sebenarnya terletak pada apa yang akan terjadi sesudahnya, khususnya tindakan mereka yang akan menyebut warna putih sebagai hitam dan sebaliknya.

{Jika mereka menyerah pada rencana karena kesalahan fatal dan aku memerintahkan mereka untuk melaksanakannya, itu bisa menyebabkan kerugian besar di pihak kita.}

Itu akan sama dengan perusahaan yang mengalami kerugian besar karena ketidakmampuan CEO sementara karyawan tidak berdaya untuk menghentikannya.

{Bahkan jika mereka memulihkan kerugian, seseorang seperti diriku akan terlalu lemah lembut dan tidak berdaya untuk melakukan apa pun. Seseorang yang bahkan tidak bisa memikul tanggung jawab dan konsekuensi dari tindakan mereka seharusnya tidak melakukan sesuatu seperti ini.}

Tetapi bahkan jika dia ingin menolaknya, dia tidak bisa memastikan apa yang salah dengan saran Pestonia.

Meskipun “tidak” yang sederhana mungkin sudah cukup.

{… Jadi aku seharusnya dengan paksa membawa Albedo dan Demiurge ya? Tapi…}

Dia tidak melakukan itu karena dia kurang lebih mengetahui tujuan pertemuan ini setelah mengetahui yang ingin ditemui adalah Nigredo dan Pestonia.

Inilah sebabnya mengapa itu berubah menjadi situasi yang sulit.

Karena, keduanya pernah dipenjara sebelumnya. Saat itu, Albedo sudah menyarankan untuk mengeksekusi mereka. Dia takut jika hal yang sama terjadi lagi, Albedo akan sangat meminta untuk mengeksekusi mereka. Dia juga takut akan perpecahan yang tidak bisa didamaikan di masa depan.

Sebuah organisasi yang kelihatannya tangguh bagi orang luar masih bisa runtuh dari dalam.

Itulah sebabnya mereka harus menghindari apa pun yang dapat mengancam mereka.

Maka, apa yang harus dia lakukan saat ini?

Akal sehatnya menyuruhnya untuk menolak saran mereka tetapi sesuatu masih mengganggunya: masa depan.

Meskipun Makam Besar Bawah Tanah Nazarick hanya akan menerima satu set orang luar ke dalam pasukan mereka, Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown telah menyerap sejumlah besar orang luar. Meskipun mereka mungkin tidak memegang jabatan penting dalam organisasi, itu mungkin hanya berlaku sementara.

Jika orang luar itu ingin menjadi pejabat tinggi, mereka tentu akan memiliki banyak pendapat yang berbeda. Mungkin juga akan ada saran untuk kebajikan yang akan membuat Albedo dan sisanya menyebut mereka “berkemauan lemah” atau sesuatu yang serupa.

Apakah mungkin untuk menugaskan Nigredo dan Pestonia dengan mengintegrasikan pendapat-pendapat semacam itu?

Jika itu masalahnya, mengabaikan saran mereka saat ini dapat menyebabkan masalah di kemudian hari.

Jika orang-orang dengan pendapat yang sama seperti mereka merupakan pengecualian di Nazarick, maka dia harus mengalihkan perhatian lebih ke masalah ini.

Juga-

{Aku sudah membayar kebaikan yang ditunjukkan Touch Me-san kepadaku, jadi jika aku menganggap ini sebagai balasan kebaikan Mochi-chan dan Tabula-san, ini seharusnya baik-baik saja.}

“… Meskipun aku mempercayai kalian semua saat ini sudah mengetahui tentang hal ini, aku akan mengulanginya lagi. Aku tidak pernah bermaksud untuk memusnahkan setiap manusia dari Kingdom. Yang benar adalah, kita telah meyakinkan banyak bangsawan untuk bergabung dengan pihak kita… paling banyak, hanya sekitar 90% dari mereka yang akan terbunuh.”

“Maka beberapa orang yang terpilih untuk selamat akan hidup di bawah kekuasaan Nazarick, woof. Saya tidak yakin hal itu akan mengiklankan pesan lebih luas dibandingkan jika kita membiarkan orang-orang yang tak terpilih melarikan diri.”

Dia bisa memahami keinginan Pestonia untuk membantu mereka yang belum dipilih oleh mereka.

“Aku benar-benar mengerti apa yang ingin kau katakan. Jika itu bukan karena belas kasihan, tetapi untuk kebaikan yang lebih besar dari Nazarick, ada ruang untuk dipertimbangkan … Aku akan mempertimbangkan untuk membiarkan beberapa dari mereka melarikan diri.”

“Kami berterimakasih sedalam-dalamnya.”

“Kami berterimakasih sedalam-dalamnya, woof.”

Sebas juga dengan tenang menundukkan kepalanya.

Namun, meskipun dia mengatakan itu, dia tidak mengetahui tepatnya bagaimana dia harus melakukan ini. Hati Ainz bertambah berat.

Dia harus memikirkan solusi. Mungkin dia hanya perlu membiarkan beberapa ratus orang melarikan diri untuk menenangkan mereka..

Meskipun ini benar-benar tak terduga, kenyataannya sebagian besar penduduk kota selamat. Selama dia membiarkan mereka melarikan diri, dia akan memenuhi janjinya kepada mereka berdua. Bisa dikatakan, mereka tidak akan dihitung sebagai orang-orang yang selamat karena melarikan diri dari pembantaian.

Haruskah dia mengirim undead yang lebih kuat untuk mencobanya lagi?

Tidak, ada sesuatu yang harus dia konfirmasi terlebih dahulu.

“Ahem! Lalu, Albedo. Meskipun kau telah mengatakan dia ini merupakan anggota Red Drop, seberapa dapat dipercaya sumber informasi kita untuk yang satu ini?”

“Saya benar-benar minta maaf, Ainz-sama. Memang benar, kami tidak memiliki bukti konkret dari klaim itu. Kesimpulan itu hanya didasarkan dari plate Adamantite pada armor dan juga warnanya.”

Albedo berdiri dan membungkuk serendah-rendahnya.

“Berdirilah. Aku hanya ingin memeriksa apakah kau memiliki akses informasi yang tidak aku miliki. Aku tidak terlalu terganggu dengan itu.”

Sementara dia senang akan keloyalan Albedo, diperlakukan seperti itu biasanya membuatnya sangat tidak nyaman. Bagi Ainz, manifestasi konsep kegagalan, ini bukan masalah besar. Namun, apa yang baru saja ditunjukkan Albedo tidaklah bisa dikategorikan sebagai kegagalan.

“Saya sangat berterimakasih, Ainz-sama.”

“Umu … Jadi itu Red Drop, atau rencana seseorang yang menginginkan kita mempercayai mereka adalah Red Drop? Floor Guardian, utarakan pendapat kalian.”

Dari pendapat singkat mereka, kebanyakan dari mereka mendukung yang pertama. Ainz juga berpikir kemungkinan yang pertama.

“Maka – aku harus menanyakan sesuatu kepada kalian sekali lagi. Adakah yang tahu tentang spesifikasi Powered Suit? Jika kalian semua tidak terlalu yakin akan hal itu, aku akan menjelaskannya.”

Ainz mengkonfirmasi jika para guardian tidak mengetahui tentang Powered Suit dan mulai menjelaskan apa yang dia ingat tentang kemampuan Powered Suit.

Kembali pada game Yggdrasil, Powered Suit tidak ada pada awalnya tetapi kemudian ditambahkan sebagai item untuk player baru agar bisa menaikan level dengan cepat.

Juga, game pertarungan mecha sangat populer saat itu, jadi itupun pasti merupakan upaya untuk menarik player pecinta genre tersebut.

Meskipun dirinya tidak bisa memastikan apakah itu berkontribusi pada pendapat ini atau tidak, kemampuan Powered Suit cukup tinggi.

Pertama-tama, seperti yang terlihat, suit itu memiliki kemampuan untuk terbang di udara dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada [ Fly ]. Suit itu dapat bertahan selama lebih dari satu jam di bawah air tanpa ada kerusakan dan pada dasarnya kebal terhadap hampir semua *damage lingkungan.

Suit itu bahkan bisa diaplikasikan dan diaktifkan pada pundak, punggung – dan tergantung pada jenisnya, bahkan pergelangan tangan dan kakinya – berbagai jenis mantra ofensif.

Meskipun ini mungkin terlihat jelas, suit itu memiliki pelengkap seperti jari manusia yang bisa – jika tangannya tidak berubah menjadi senjata itu sendiri – memegang senjata.

Persenjataan sihir dapat secara bebas disesuaikan pada pengaturan Powered Suit, tetapi setengahnya merupakan transaksi mikro eksklusif sementara setengah lainnya membutuhkan grinding.

Meskipun kustomisasi itu bisa dilakukan hampir di mana saja di luar pertempuran, masih ada beberapa batasan pada powered suit.

Tingkatan mantra tertinggi yang dapat disimpan pada armor adalah tingkat sepuluh dan pemakaian mantra tersebut dikenakan batasan satu jam per penggunaan. Mantra yang lebih kuat bahkan pemakaiannya lebih terbatas. Meskipun ada beberapa mantra yang dapat digunakan secara berulang, sepertinya suit itu memiliki batasan dimana mantra yang disimpan di dalamnya tidak dapat ditukar ketika masih cooldown meskipun cooldownnya hanya sebentar.

Damage fisik dan sihir armour tersebut ada di tingkat tinggi, terlepas dari kemampuan penggunanya. Hal yang sama berlaku untuk kemampuan bertahan dan mengelak.

Kau bisa menyebutnya armor yang jelas-jelas menutup celah antara si lemah dan si kuat.

Berbicara tentang kelemahan, ada dua kelemahan armor itu.

Salah satunya yaitu karena dihitung sebagai Full-Body Armor, maka tidak dapat dikombinasikan dengan potongan armor lainnya. Namun, kalung dan peralatan dekoratif lainnya masih bisa dikenakan dengannya.

Satunya lagi yaitu fakta karena tidak bisa menyimpan *metamagic di dalamnya. Tapi, karena mantra itu masih bisa ditingkatkan melalui peralatan, ini sebetulnya tidak bisa dianggap sebagai kelemahan.

Namun, jika penggunanya player lemah, kelemahan suit itu sangatlah jelas.

HP dan MP.

Meskipun output damage dari suit itu dapat mengimbangi statistik rendah pemakainya, nilai HP dan MP dari penggunanya tetap tidak berubah meskipun memakainya.

Dengan kata lain, player lemah yang memakai armor akan memiliki kemampuan pertahanan yang tinggi tetapi juga total HPnya sedikit. Tentu saja, jika lawan mereka tidak bisa menembus pertahanan armor yang relatif tinggi, itu sama sekali bukan kelemahan.

Jika disangkutpautkan pada Nazarick, seorang Floor Guardian seharusnya benar-benar tidak akan kesulitan melawannya.

Ancaman baru timbul kepada NPC seperti Pleiades, yang tidak begitu kuat. Jika mereka bertarung dengan suit itu, mereka harus memilih untuk mundur.

Ainz menyimpulkan penjelasannya dan mulai mengambil pertanyaan.

Yang pertama mengajukan pertanyaan yaitu Albedo.

“Jadi selama kami yang menanganinya, itu akan baik-baik saja benarkan?”

“Benar. Bahkan Powered Suit terkuat hanya bisa memiliki kemampuan ofensif yang setara dengan karakter level delapan puluh. Namun, itu bergantung pada wawasanku tentang Powered Suit. Hipotetisnya, jika ada powered suit yang lebih langka atau kelas Artifact, itu akan menjadi situasi yang sama sekali berbeda. Jika itu masalahnya, mungkin ada Powered Suit yang jauh lebih kuat daripada yang aku jelaskan.”

“Tidak bisakah anda mengetahuinya dari penampilannya saja?”

“Umu, aku minta maaf, Aura. Karena sejujurnya aku tidak terlalu terbiasa dengan Powered Suit, aku tidak bisa mengatakan kemampuannya hanya dari penampilannya saja. Juga, meskipun seseorang tidak akan diizinkan untuk mengubah terlalu banyak penampilannya, masih ada sedikit perubahan yang bisa dilakukan oleh penggunanya.”

Sementara Powered Suit mungkin berguna untuk player yang lebih lemah, itu sama sekali tidak berguna untuk player yang lebih kuat.

Tak perlu senjata kelas Divine, bahkan peralatan kelas Legendary yang cocok dengan kekuatan player bisa mengungguli Powered Suit. Itulah sebabnya ketika Powered Suit diperkenalkan kedalam Yggdrasil, Ainz dan teman-temannya, yang sudah mencapai level maksimal, tidak tertarik.

Masalah terbesar bagi Ainz saat itu adalah dia hampir tidak bisa menggunakan mantra.

“Apakah ada dua atau tiga? Seharusnya ada beberapa set Powered Suit di Nazarick, aku nanti akan mengunjungi Ruang Harta untuk memeriksanya. Mungkin semua orang harus merasakan bagaimana rasanya mengenakannya.”

Dia ingat jika item itu seharusnya masih ada di sana, sesuatu yang diperoleh Amanomahitotsu setelah mengetahui jika bahkan mereka yang memiliki job berbasis manufaktur dapat ikut berperang dengan mereka. Rupanya dia diam-diam cukup percaya diri karena dia juga memainkan game pertempuran udara, tetapi kemudian dia dengan mudah dihancurkan oleh Peroroncino dalam pertempuran tiruan. Item itu tak pernah terlihat lagi setelahnya.

Dia juga mengingat bagaimana Nishikienrai mengatakan, “Mainkan saja Aberage”, sembari tertawa.

Ainz tenggelam dalam ingatannya ketika dia kembali pada kesadaranya.

Jika Red Drop memiliki Powered Suit dari Yggdrasil – pedang hitam dari pemimpin tim peringkat Adamantite lainnya, Blue Roses, bisa memiliki level kekuatan yang sama.

Menurut informasi yang mereka kumpulkan dari pembantu mereka di ibukota, senjata yang dia gunakan dikatakan cukup kuat untuk meratakan seluruh kota. Meskipun pembantu itu menganggap informasi tersebut tidak masuk akal, informasi itu memang berasal dari anggota tim itu sendiri.

Ainz selalu berpikir jika orang itu berbohong kepada teman satu timnya, atau hanya mengada-ada.

Tetapi mengingat apa yang dia ketahui saat ini – mungkin, informasi itu benar.

Dia telah mendengar pemimpin Blue Roses dan Red Drop berkerabat.

Jika mereka memiliki hubungan, maka memiliki tingkat peralatan yang sama seharusnya tidak aneh sama sekali.

Tentu saja, Ainz tidak cukup paranoid untuk mempercayai Floor Guardian bisa langsung kalah dengan serangan apapun, tetapi dia juga tidak memiliki bukti hal itu benar-benar mustahil. Mungkin pertahanan guardian bisa dengan mudah dihancurkan oleh beberapa senjata kuat dari dunia ini.

Ainz tidak ingin menderita konsekuensi parah karena mendesak lawannya ke titik sampai orang itu dengan putus asa menggunakan kekuatan pedangnya.

Jika pertempuran dengan Blue Roses terjadi, dia mungkin harus menggunakan monster panggilan untuk memancing keluar kemampuan itu dan kemudian mengalahkan mereka.

Namun, itu akan menjadi pilihan terakhir.

Dia mengingat suatu peryantaan tentang ‘Bagian terbaik dari keberanian, merupakan kebijaksanaan’, dia harus mengikuti saran itu.

Lagipula, tujuan utama menghancurkan Kingdom bukanlah untuk mengakhiri Blue Roses, tetapi jika mereka ingin menghalanginya, dia tidak akan keberatan membunuh mereka. Bisa dikatakan, yang terbaik adalah tidak membuat gerakan terburu-buru sebelum mereka mengetahui seluruh kemampuan dari pedang wanita itu. {Aku harus minta maaf pada Entoma dan berharap dia mengerti.}

Ainz secara mental menghela nafas pada dirinya sendiri ketika dia menggelengkan kepalanya dalam upaya untuk mengembalikan pemikirannya ke jalur yang benar.

Ini bukan saatnya untuk memikirkan sesuatu semacam itu.

“Ada pertanyaan lain?”

Ainz melihat sekeliling, kelihatannya tidak ada guardian yang memiliki pertanyaan lain.

“Jika itu masalahnya, kita akan menghentikan sementara diskusi mengenai Powered Suit untuk saat ini. Lalu, Demiurge, bagaimana kita harus berurusan dengan kota ini? Menurut pendapatku, memberi umpan pada mereka sangatlah memuaskan.”

“Akan sangatlah buruk bagi mereka jika menyangka bahwa mereka telah mengalahkan Sorcerous Kingdom. Kita harus mengirim entitas yang lebih kuat dan membayar kembali hutang kita.”

“Hmmm, itu juga tidak apa-apa …”

Tidak, itu tidak bagus sama sekali.

Jika mereka melakukannya, dia harus berusaha ekstra keras untuk menyelamatkan beberapa kota lain untuk menepati janji yang telah dirinya buat kepada mereka berdua. Meskipun dia berhasil melewati masa ini, untuk mencapainya lagi akan sangat sulit.

Demi Pestonia, yang telah berdiri di belakangnya dan mendengarkan, dia harus menyelamatkan orang-orang di kota ini untuk memenuhi janji mereka.

“Tidak, Demiurge. Jangan kita jangan melakukan itu. Itu akan menuntun kita pada situasi yang serupa jika terjadi lagi. Bagaimanapun, sudah saatnya kita mengepung ibukota. Mari kita tutup tirai pada pertempuran ini. Kita akan baik-baik saja selama kita secara sistematis menghanguskan seluruh kota. Bagaimana menurutmu?”

Dia memberi penduduk kota ini kesempatan dan waktu untuk melarikan diri. Jika mereka terbunuh setelahnya karena mereka tidak melarikan diri, mereka berdua seharusnya tidak memiliki masalah dengan itu kan?

“Jika Ainz-sama berkata demikian, itulah yang terbaik.”

Meskipun sepertinya Demiurge bersikap sarkastik, dia bukan orang yang melakukan hal seperti itu pada Ainz.

Beberapa orang selalu bisa mendengar segala macam nada dalam ucapan orang lain, Ainz merupakan salah satunya, mereka yang biasanya menyembunyikan sesuatu.

“Jangan mengatakan seperti itu, Demiurge. Jika kau memiliki ide yang lebih bagus maka itu yang harus kita terapkan.”

“Seperti yang diharapkan dari Ainz-sama. Saya benar-benar kagum akan bertapa rendah hatinya anda.”

Pendapat Ainz tentang Demiurge yang membungkuk menjadi kacau.

Pertama-tama, apa yang dia katakan merupakan dari segi akal sehat, tidak ada artinya untuk dipuji.

Meskipun dia merasa tersanjung, dia merasa seolah-olah diperlakukan lebih seperti anak kecil jika bahkan hal-hal sepele yang telah dia katakan dan lakukan disanjung seperti itu.

Mungkin itu hanya karena harga dirinya yang rendah.

“… Apakah ada guardian lain yang memiliki pendapat berbeda?” Ainz menoleh pada Shalltear setelah memastikan bahwa tidak ada keberatan, “Tarik kembali undead yang kita kirim menggunakan [ Gate ]. Lalu, kumpulkan pasukan kita di E-Rantel dan lakukan pengepungan di ibu kota.”

“Ya rajaku. Saya akan segera melakukannya-arinsu.”

“Apakah pasukan utama termasuk orang-orang dari Nazarick?”

“Kirimkan Penjaga Utama Nazarick dan penjaga elit lainnya. Mereka tidak terlalu kuat secara individu tetapi sudah cukup untuk dilihat sebagai satu kesatuan.”

“Diengerti.”

“Bagus sekali. Kita akan menaklukkan kota-kota satu per satu dan menggelar pertempuran terakhir di ibukota sesuai rencana. Setelah itu, meskipun saat ini mungkin sudah diluar rencana, kita akan selesai membantai penduduk semua kota yang tidak berguna. Melalui unjuk kekuatan ini, dunia akan memahami konsekuensi dari tidak tunduk pada kekuatan Nazarick.”

Seluruh Floor Guardian merespons dengan percaya diri. Ainz mengangguk dengan tegas.

“Baiklah kalau begitu, Floor Guardian—” Ainz memikirkan masa depan sebentar dan membuka mulutnya lagi untuk berkata, “tidak, sebagian dari guardian harus tetap di belakang layar. Semuanya, tunjukkan padaku kekuatan kalian yang sebenarnya.”.


Overlord (LN)

Overlord (LN)

Ōbārōdo, オーバーロード, 不死者之王, 오버로드
Score 9
Status: Ongoing Type: Author: Artist: Released: 2010 Native Language: Japanese
Pada abad ke-21, dunia memasuki tahap baru VR Games ... dan "YGGDRASIL" dianggap di atas semua MMORPG ... tetapi, setelah mengumumkan bahwa semua servernya akan mati, game internet 'YGGDRASIL' ditutup ... atau seharusnya terjadi, tetapi untuk beberapa alasan, karakter pemain tidak keluar beberapa waktu setelah server ditutup. NPC mulai menjadi sementara. Seorang pemuda normal yang mencintai bermain game di dunia nyata tampaknya telah diangkut ke dunia alternatif bersama dengan guildnya, menjadi penyihir terkuat dengan penampilan skeleton, Momonga. Dia memimpin guildnya "Ainz Ooal Gown" menuju petualangan fantasi legendaris yang belum pernah terjadi sebelumnya!

Comment

error: Jan kopas gaesss!!!

Options

not work with dark mode
Reset