Overlord Volume 14 Chapter 4

Well-Prepared Traps

Suara langkah kaki berdenting ketika Hilma memimpin tiga rekannya dari Eight Fingers di sepanjang koridor sebuah mansion. Mereka berjalan menuju ruang raksasa yang dipilih salah satu bawahan Sorcerer King.

Sisanya sudah ada di sana, menunggu kedatangan utusan Sorcerer King.

Mereka melakukannya karena meskipun bawahan Sorcerer King telah menentukan hari mereka harus berkumpul di mansion ini, bawahan Sorcerer King tidak menentukan spesifik waktunya. Karena alasan itu, Hilma dan anggota Eight Finger lainnya sedang berjaga bergiliran di aula untuk mencegah skenario di mana utusan itu tiba disini dan menemukan mansion ini kosong.

Jika mereka membuat utusan itu menunggu, itu akan sangat tidak sopan. Ada kemungkinan mereka akan dijebloskan ke neraka lainnya. Tidak peduli seberapa kecil kemungkinan itu, mereka harus menghindarinya dengan cara apa pun.

Saat ini, keempatnya berjalan dalam diam sudah selama satu menit.

Meskipun itu sebagian karena ukuran besar mansion ini, itu juga karena mereka telah mempersiapkan ruangan yang jauh dari aula utama untuk menjadi ruang istirahat mereka. Meskipun mungkin lebih baik menyiapkan ruangan yang lebih dekat ke aula untuk menjadi ruang istirahat, setelah mereka membahas masalah ini, mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakan ruangan yang dekat dengan aula sebagai ruang istirahat.

Keheningan itu sebenarnya tidak tertahankan, tetapi salah satu dari mereka – Perianne Porson – mulai berbicara.

“Bukankah ini sedikit, berisik?”

Hilma berkonsentrasi.

Dia memang bisa mendengar suara anak-anak sedang bermain. Bisa dikatakan, itu terdengar seperti sesuatu yang terlalu jauh dari mansion. Tempat ini cukup tenang sehingga kalian tidak bisa mendengarnya kecuali kalian berkonsentrasi. Ini karena aula jauh dari hirukpikuk keramaian, itu juga alasan mengapa mereka memilih untuk menggunakan ruangan yang dekat dengan aula sebagai ruang istirahat.

Namun, bahkan jika Hilma dan kawan-kawan tidak menganggapnya menganggu, jika utusan Sorcerer King merasa terganggu dengan ini, mereka bahkan tidak bisa membayangkan konsekuensi yang akan di berikan.

“… Mungkin sedikit. Haruskah kita menyuruh mereka diam?”

Semua orang setuju dengan Olin. Jika mereka ingin memperingatkannya pada penjaga di giliran berikutnya, seharusnya penjaga sebelumnya sudah memperingatkan tentang anak-anak itu pada saat giliran mereka untuk beristirahat.

Apakah beban telah terangkat dari pundak Olin karena dia sudah angkat bicara? Dia melanjutkan untuk mengatakan apa yang ada dalam pikiran setiap orang tetapi tidak akan pernah memberikan suara.

“… Namun… Akankah dia benar-benar datang untuk menyelamatkan kita?”

Dia mungkin tidak bermaksud mengatakan itu, tetapi tekanan karena harus menunggu utusan dari Sorcerous Kingdom mungkin telah membuatnya putus asa.

Sudah tujuh hari sejak 400.000 pasukan besar Kingdom memulai pergerakan mereka. Tidak lama setelah itu terjadi, mereka mendengar desas-desus pasukan Sorcerous Kingdom telah mulai berkemah di dekat ibukota. Meskipun itu hanya sehari yang lalu, tekanan mental yang mereka alami jauh melebihi juga kelelahan fisik yang mereka alami.

Mereka telah menerima perintah dari salah satu bawahan Sorcerer King sekitar sebulan yang lalu, ketika perang baru saja dimulai.

Mereka diberitahu, dahulu ketika Sorcerous Kingdom telah memulai penyerbuan mereka menuju ibu kota, untuk memilih sekitar seribu orang dari Kingdom yang bersedia setia kepada mereka untuk disisihkan sehingga orang-orang itu dapat melayani mereka di masa depan. Yang terpilih kemudian akan dibawa ke lokasi yang aman.

Karena alasan itu, seribu orang yang terkait dengan Eight Fingers berkumpul di tempat ini.

Tidak diragukan lagi Eight Fingers merupakan organisasi raksasa jika kau menghitungnya dari dengkuran tidur mereka. Dari jajaran mereka, Hilma dan yang lainnya memilih kumpulan orang luar biasa dan setia, serta juga anggota keluarga mereka. Itu sebabnya di sini terdapat anak-anak.

Apa yang mereka tidak yakin, yaitu apakah utusan Sorcerous Kingdom benar-benar datang untuk menyelamatkan mereka atau tidak.

Peringkat capo pada organisasi Eight Fingers merupakan semua orang yang telah berjanji kepada orang lain jika mereka akan diselamatkan namun mereka akan dibuang begitu mereka tidak lagi digunakan. Apakah saat ini giliran mereka? Dugaan-dugaan ini terus melekat dalam pikiran mereka, keraguan tak tergoyahkan.

Hilma tidak melihat ke arah rekannya, tetapi berkata,

“Aku mempercayai ucapan Yang Mulia Sorcerer King.”

Olin panik dan mulai berkata— Tidak, dia malu. Bagi Hilma, apa yang diceritakan Olin merupakan ketidakpercayaannya pada ketulusan Sorcerer King.

“A-Aku juga berpikir begitu! Apa yang aku katakan tadi tidak dimaksudkan untuk *mendiskreditkan Yang Mulia Sorcerer King.”

Suara Olin menutupi setiap suara yang bisa dibuat oleh anak-anak saat bergema melalui koridor. Olin menyadari apa yang baru saja dia lakukan dan segera menutup mulutnya dan menundukkan kepalanya.

Tidak ada orang lain yang berbicara di sepanjang jalan menuju aula.

Ketika pintu terbuka, yang menyambut mereka yaitu apa yang mereka harapkan: senyum lelah rekan-rekan mereka yang lain.

Utusan Sorcerous Kingdom belum tiba.

Emosi campuran antara kelegaan dan ketidaksabaran muncul dalam hati Hilma. Tentunya teman-temannya merasakan hal yang sama.

“Karena kalian sudah disini, kami akan beristirahat. Jika utusan itu tiba—”

Magic item dalam bentuk bel tangan berdering yang letaknya di tempat Noah Zweden pandang.

Jika salah satu dari keduanya dibunyikan, yang lain juga akan berdering.

Namun, jika jarak di antara mereka terlalu jauh, itu tidak akan berpengaruh sama sekali. Selain itu, itu merupakan satu-satunya cara keduanya dapat saling mempengaruhi sehingga itu bukan alat terbaik untuk komunikasi. Tugas ini cukup mudah sehingga mereka dapat menggunakannya untuk tujuan ini.

“Ahhh, serahkan pada kami.”

Sebagai perwakilan mereka, Perianne menjawabnya.

“-katakan. Apakah aku masih harus menunggu di sini? Kami sudah menyia-nyiakan cukup banyak waktu untuk Yang Mulia… Sorcerer King. Aku tahu, aku tahu. Tidak perlu menatapku dengan mata menakutkan seperti itu.”

Seorang pria botak dan tinggi berkata.

Dia merupakan kepala divisi perdagangan budak, Cocco Doll.

Garda depan tentara Kingdom telah didukung oleh para tahanan yang telah ditahan di ibukota. Ketika mereka dibebaskan, selama kekacauan dan kebingungan beberapa hari itu, Cocco Doll telah diselamatkan dan dibawa ke mansion ini.

Pada awalnya, mereka memiliki dua cara untuk berurusan dengan Cocco Doll.

Jika dia dikirim untuk melawan Sorcerous Kingdom, dalam benak mereka tak akan ragu jika dirinya akan mati, maka tentu saja penyelamatannya tidak kontroversial. Yang kontroversial yaitu bagaimana mereka harus memperkenalkannya kepada Sorcerer King.

Beberapa orang berpikir karena dia merupakan kepala divisi biasa, tak akan ada masalah jika mereka tidak memperkenalkannya sama sekali. Yang lain berpikir jika Sorcerer King sudah mengenalnya dan mereka tidak akan mengenalkannya kepadanya, itu akan berakhir dengan tragedi.

Mereka ingin menghindari membahayakan diri mereka sendiri, tidak peduli seberapa kecil kemungkinannya, dan karenanya mereka mengeksekusi pilihan terakhir.

Kesempatan mereka untuk memperkenalkannya – untuk menempatkannya di atas altar persembahan – akan segera tiba.

Mereka semua sepakat diinya merupakan orang pertama yang harus mereka perkenalkan, untuk menghilangkan keraguan jika mereka berusaha menyembunyikannya.

“Kau harus menunggu di sini agar utusan Yang Mulia Sorcerer King bisa melihatmu dengan baik.”

Untuk alasan itu, dia harus menunggu di ruangan ini. Mereka tidak tahu kapan utusan itu akan tiba. Dia makan dan tidur di ruangan ini, dan benar-benar muak karenanya.

“Maksudku, aku memang sangat berterimakasih pada kalian, terimakasih karena telah menyuap para penjaga agar mereka tidak memperlakukanku dengan kasar di penjara, dan terimakasih juga karena menyelamatkanku dari wajib militer – untuk menyelamatkan orang miskin, dan tua bangka ini.”

“Apa yang ingin kau katakan, Cocco Doll?”

Terhadap pertanyaan Noah, Cocco Doll menanggapinya dengan tatapan tajam.

“Untuk mengambil langkah yang tak terduga dengan menyelamatkan seseorang yang telah kehilangan semua kekuatan, koneksi, dan anak buahnya, bukankah itu terlalu mencurigakan? Apa tujuan kalian? Mengapa kalian mengumpulkan semua orang yang terkait dengan Eight Fingers di sini? Apakah kalian berencana untuk membunuhku?”

“—Hah?”

Hilma membeku. Tidak, bukan hanya Hilma, semua orang di ruangan selain Cocco Doll itu sama.

Jika mereka sama-sama bersalah, tidak ada dari mereka yang bisa mencuci tangan bersih-bersih dari darahnya, mungkin itu yang dia maksudkan—

“A-Apa? Dari raut wajahmu. Tepat sasaran… kan?”

Hilma mengamati sekelilingnya. Semua orang memiliki ekspresi yang sama, yang mengatakan, ‘pria ini akan segera mendapat masalah’. Dia berbicara sebagai perwakilan mereka.

“Apa yang kau bicarakan, Cocco Doll? Tidak, Apéritif. Bukankah kita rekan?”

“—Hah?”

Kali ini giliran Cocco Doll yang terkejut. Ekspresinya mendera, hampir lucu.

“Jadi, apa tujuan kalian!? Ah, aku mengerti, kalian semua monster mengenakan kulit mereka! Karena itulah setiap kata-kata yang keluar dari mulut kalian merupakan pujian untuk Sorcerer King!”

Teriak Cocco Doll dengan ekspresi yang merupakan persilangan antara panik dan ketakutan. Monster yang dia bicarakan merupakan sebuah dongeng yang biasanya digunakan para ibu untuk menakuti anak-anak mereka ketika rewel di malam hari. Sebagian besar petualang sepakat monster seperti itu benar-benar tidak ada.

“Aku pikir ada yang salah sejak awal! Kenyataan jika kalian melakukan diet pada saat yang sama cukup mencurigakan. Bahkan jika aku mengakui hal itu, sosok Hilma sangat tidak menawan! Dia terlalu kurus untuk dibilang sehat. Ini semua bisa dijelaskan jika kalian hanya monster yang mengenakan kulit mereka!”

Hilma memandang ke arah Cocco Doll dengan kehangatan di matanya. Kebahagiaan yang belum pernah mengalami apa itu neraka.

“A-apa? Ekspresimu…”

“Tidak, jangan pedulikan aku, Apéritif. Memang. Aku tersanjung oleh pengamatanmu.”

“-Hah?”

“Apa?”

“Tidak, tidak, tidak ada … tidak ada sama sekali … Aku serius, aku tidak bertanya kepadamu. Apakah kau benar-benar Hilma? Hilma Cygnaeus? Bukan kembarannya atau semacamnya? Apakah kau sudah dicuci otak?”

“Apakah aku benar-benar berubah sebanyak itu?”

Coco Doll tidak merujuk pada betapa kurusnya dirinya. Dia mungkin merujuk pada kepribadiannya, Hilma cukup kalem dari sebelumnya. Biasanya, itu akan menjadi perubahan positif, jadi kecurigaannya terhadap Hilma agak sedikit mengejutkan.

“… Tentu saja, sepertinya kau orang yang benar-benar berbeda. Tidak, itu berlaku untuk kalian semua. Apakah monster benar-benar mencuri kulit kalian?”

“Aku hanya bisa mengatakan kami mengalami hal-hal tertentu yang membuat kami menjadi seperti ini.”

Semua orang setuju dengan apa yang dikatakan Noah. Cocco Doll sangat ketakutan.

“Apa, yang terjadi … Meskipun aku tidak ingin mendengarnya, aku masih ingin tahu. Kalian-”

Kegelapan samar, tak berujung, dan melingkar tiba-tiba muncul di ruangan itu. Sebuah objek semi-oval mulai muncul di atas lantai.

Hilma mengenali ini sebagai mantra [ Gate ] yang telah membawanya berkali-kali. Itu merupakan mantra tingkat tinggi, cukup tinggi sehingga tidak ada magic caster di dalam Kingdom yang mampu melakukannya. Hanya bawahan Sorcerer King yang bisa melakukannya. Kenyataan akan mantra ini yang dirapalkan mengartikan jika—

Hilma buru-buru menekuk lutut. Setelah beberapa saat, dia merasa Cocco Doll melakukan hal yang sama.

Hilma menundukkan kepalanya dan mengepalkan genggamannya.

Ada dua kemungkinan hasilnya.

Mereka dibuang, atau diselamatkan.

Langkah kaki seseorang dapat didengar.

“Sekarang, kalian bisa mengangkat kepala.”

Di depan [ Gate ] merupakan seorang gadis yang ukuran payudaranya tidak cocok dengan penampilan usiannya. Meskipun dia belum mendengar utusan itu mengatakan namanya secara langsung, Hilma tahu namanya adalah Shalltear. Tidak ada seorang pun di sini yang cukup berani untuk menyebut namanya, bahkan seseorang yang tidak mengetahui apa-apa yaitu Cocco Doll bisa mengetahui hanya dari suasana ruangan itu.

“Aku di sini untuk menjemput kalian semua. Meskipun aku mendengar akan ada seribu atau lebih dari kalian-arinsu, bisakah kalian mengumpulkan mereka secepatnya-arinsu?”

“Kami mengerti! Tolong tunggu sebentar!”

Olin berlari keluar ruangan secepat yang dia bisa. Dia memiliki stamina terbaik dari mereka semua.

“-Shadow Demon.”

Shalltear memanggil dan iblis segera muncul dari bayang-bayang. Kapan itu memasuki ruangan? Mungkin sudah lama memantau mereka. Ini sama sekali tidak mengejutkan mereka. Sebaliknya, mereka semua berpikir, { jadi begitu }.

Shadow Demon itu mulai berbisik ke telinga Shalltear. Mereka kemudian mendengarnya merespons dengan gumaman. Setelah percakapan mereka berakhir, Noah mulai berbicara dengan suara bergetar,

“… U-Umm … Olin memerlukan waktu untuk mengumpulkan semua orang di sini. Sebelum itu selesai, ada seseorang yang ingin kami perkenalkan kepada anda. Apakah anda memperbolehkannya?”

“Tidak perlu-arinsu. Daripada melakukan itu, kudengar kalian memiliki barang bawaan untuk dibawa-arinsu, pindahkan itu dulu. Kudengar ada cukup banyak, mungkin akan lebih cepat jika pelayanku melakukannya untuk kalian. Bagaimana dengan itu-arinsu?”

“Kami akan menyerahkannya pada anda.”

Shalltear menjawab dengan ketus, “tentu saja” sebelum mengucapkan mantranya. Itu mungkin sihir pemanggilan. Beberapa undead kuat mulai muncul di sekitar mereka. Mengikuti perintah mereka, mereka keluar dari ruangan dan kembali dengan sejumlah besar barang bawaan, yang mereka pindahkan menggunakan [ Gate ].

Barang bawaan dipindahkan dengan kecepatan yang luar biasa. Begitu mereka selesai mengerjakan itu, mereka bisa mendengar suara banyak langkah kaki.

Meskipun ini mungkin ruangan terbesar di mansion, namun tidak dapat menampung seribu orang.

“Sekarang, masuki pintu itu sesuai dengan perintah yang sudah ditentukan sebelumnya. Di dalamnya ada sebuah desa di dalam hutan-arinsu. Kalian akan dikeluarkan di tempat seperti alun-alun kota. Tunggulah di sana.”

Mereka mengikuti perintahnya dan memasuki pintu dengan tertib.

Meskipun kecil kemungkinan tidak ada dari mereka yang ragu-ragu untuk memasuki portal, semua orang di sana sudah diperingatkan untuk mengikuti perintah mereka yang sebenarnya; sebagai hasilnya, seperti yang diduga ada sedikit kebingungan.

Sebagai perbandingannya, anak laki-laki di sekitar usia {itu} berhenti dan memerah merupakan masalah yang lebih besar. Juga anak perempuan yang menjadi cemburu karena reaksi anak laki-laki menjadi masalah.

Kecantikan Shalltear berada di kelas dunia.

Jadi, mereka jatuh cinta pada pandangan pertama bukanlah fenomena yang tidak biasa, demikian juga kecemburuan para wanita.

Namun – Hilma telah mengukir kenyataan di dalam hatinya.

Jika anak-anak itu melakukan sesuatu yang bodoh, dia yang akan bertanggung jawab. Untuk mencegah hal itu terjadi, dia harus mengawasi mereka. Perhatiannya terutama terfokus pada gadis yang tangannya memegang dada mereka, mencoba untuk membandingkan ukurannya dengan Shalltear.

Tangan anak-anak itu diambil oleh wali mereka dan dipimpin menuju [ Gate ]. Untungnya, tidak ada masalah.

Hilma dan rekan-rekannya adalah yang terakhir memasuki [ Gate ]. Seperti yang utusan itu jelaskan, di depan mereka ada rumah-rumah kayu dan lingkungan mereka terasa seperti hutan.

Di alun-alun tempat undead menumpuk barang-barang mereka, ada keributan. Atau apakah itu kesenangan? Mengingat jumlah pemuda di sana, yang terakhir lebih mungkin.

Apakah ini reaksi mereka terhadap pertama kalinya mereka melewati [ Gate ]?

“Perhatian!”

Teriak Noah. Berangsur-angsur – lebih cepat dari yang Shalltear duga – kebisingan mereda.

Apakah itu dilakukan agar mereka melihat Shalltear? Shalltear perlahan terbang ke langit dan berkata,

“Saat ini desa masih dalam pengembangan. Kalian akan dibawa ke sana sekitar satu minggu lagi. Sebelum itu terjadi, kalian akan tinggal di sini. Supaya kalian bisa mengelola desa dengan efektif, kami akan meminjamkanmu empat Golem. Gunakanlah untuk memindahkan benda-benda berat ke tempat lain, biarkan mereka melakukannya. Undead saat ini mengelilingi desa, jika kalian ingin keluar dari area ini dan mencoba masuk kembali, mereka akan menyerang kalian. Untuk alasan itu, tolong jangan melewati area yang dikelilingi oleh para undead.”

Shalltear melihat dengan seksama untuk memeriksa apakah mereka semua memahaminya, dan melanjutkan,

“Selain itu, kalianlah yang akan menentukan bagaimana cara kalian menghabiskan waktu satu minggu ini. Kami telah menyiapkan makanan-arinsu senilai untuk dua minggu, jadi kalian harus siap menghadapinya. Aku akan kembali dalam tiga hari lagi, jika kalian memiliki masalah, aku akan mendengarkannya.”

Shalltear turun ke tanah dan melihat sekeliling, tatapannya jatuh pada Cocco Doll.

“Kau salah satu dari capo kan-arinsu?”

“Eh? Eeeh? A-, tidak, ya, apa yang bisa saya lakukan untuk anda?”

Cocco Doll telah memahami perbedaan status antara dirinya dan Shalltear, jadi dia mencoba yang terbaik untuk bersikap ramah.

“Kau juga harus pergi ke ruangan Kyuokukou-arinsu.”

“Eh?”

Shalltear menutup [ Gate ] lama dan membuka yang baru.

Apakah itu instingnya? Sesuatu mengatakan kepada Cocco Doll jika sesuatu yang buruk akan terjadi padanya, menyebabkan dia melihat kesekitarnya dengan ekspresi tak berdaya.

Setelah tatapannya bertemu, Hilma mengalihkan pandangannya. Dia tidak bisa menentang keputusan Shalltear. Kepala lainnya juga sama, tidak ada yang berani mengeluarkan suara.

“Tu-Tunggu, Tunggu! Tidak! Kenapa kalian bereaksi seperti ini!? Selamatkan aku!”

“Ya, ya. Ayo pergi-arinsu! ”

Shalltear menyeret pergi Cocco Doll yang berteriak. Menghadapi kekuatan semacam itu, dia telah kehilangan semua dorongan untuk melawan.

“Ahh! Tidak! Selamatkan aku!”

“Maaf, Cocco Doll.”

Hilma berbisik kepada Cocco Doll, yang menghilang melewati [ Gate ]. Setelah itu, [ Gate ] menghilang.

Namun, suasana tegang tidak pernah usai. Mereka semua memahami keheningan yang menyesakkan itu.

Seribu orang, yang tidak menyadari neraka itu, menempati alun-alun ini. Meski begitu, mereka secara naluriah dapat mengetahui nasib apa yang menunggu Cocco Doll yang baru saja diambil dari mereka. Itu sebabnya tidak ada yang berani bergerak.

Mereka mengerti jika mereka telah dibawa ke tempat ini bukan karena kemurahan hati seseorang, dan mulai memahami betapa mengerikannya tempat ini.

“… Kita tidak bisa menyelamatkan Cocco Doll.”

Hilma berkata kepada Noah, yang berjalan menghampirinya.

Dia tidak ingin orang lain mengalami neraka itu. Itulah yang ada dalam pikirannya, tetapi itu tidak mungkin. Rasa bersalah yang kuat menyapu dirinya.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu. Tetap saja, itu tidak berarti kematian … akan lebih tepat untuk disebut pembaptisan. Setelah itu, dia bisa… memahami mengapa kita sangat menghargai satu sama lain.”

“Pembaptisan … benar… jika aku memikirkannya seperti itu, itu akan mengurangi banyak rasa bersalah yang kurasakan.”

“Kalian berdua, sementara aku bisa mengerti betapa khawatirnya kalian terhadap Cocco Doll, kita harus mendiskusikan masa depan kita sekarang.”

Mereka harus membebaskan orang-orang di sana dari kekhawatiran mereka.

Hilma memimpin.

Jika tujuan Sorcerous Kingdom adalah membunuh mereka semua, mereka pasti sudah melakukannya dan tidak membawa mereka ke tempat ini … atau mengambil Cocco Doll.

Itu mengartikan Sorcerer King menetapi kesepakatannya, dilihat dari tindakan Shalltear.

“Terima kasih banyak, Yang Mulia Sorcerer King.”

Hilma menunduk. Tentu saja, dia tidak tahu dimana dirinya sekarang atau di mana Sorcerer King berada, tetapi ini merupakan satu-satunya hal yang dapat dia pikirkan dan dapat dengan tepat mengungkapkan rasa terima kasihnya mengingat situasi mereka.

Gumaman seperti memanjatkan doa.


Tiga Floor Guardian melangkah keluar dari pasukan yang mereka susun di depan ibukota.

Seseorang yang bertanggung jawab atas pengepungan ibukota, Cocytus. Seseorang yang bertanggung jawab atas fasilitas penting, Aura. Dan terakhir, seseorang yang bertugas melemparkan mantra AOE ofensif untuk membuat seluruh ibukota menjadi gunung abu, Mare.

Ketiganya masing-masing memiliki bawahan sendiri.

Mare memiliki bawahan Hanzo, Cocytus memiliki Frost Virgin, dan Aura memiliki magic beast.

Tempat yang mereka tuju, ibukota, sangat sunyi. Apakah mereka berkabung? Atau mungkin mereka gemetar ketakutan karena melihat pasukan Sorcerous Kingdom?

Hanya beberapa hari telah berlalu sejak pertempuran mereka sebelumnya, namun moral pasukan ibukota sudah hancur karenanya. Dari lokasi kamp strategis yang didirikan Ainz di dekat ibukota, tidak banyak tentara terlihat berjaga di luar tembok kota, dan mereka juga sepertinya tidak berniat melakukan perlawanan.

Meskipun benar jumlah mereka sedikit, kamp Ainz sama-sama tidak terlihat hidup. Tentara bayaran tingkat tinggi tak ditemukan, bahkan Master Guarders Nazarick pun tidak bisa terlihat. Kamp itu ditempati oleh Ainz, Albedo, dan sekitar sepuluh dari Death Knight Ainz.

Albedo mengenakan full-body armor dan memegang kapak perangnya di tangannya. World Class Item miliknya juga seharusnya sudah dikenakan hanya sebagai tindakan pencegahan.

“… Apakah tinggal menunggu waktu?”

Ainz bertanya pada Albedo setelah para guardian meninggalkan kamp. Mereka tersebar untuk mengelilingi ibukota.

“Itulah seharusnya. Para guardian telah bergerak agak jauh. Jika mereka benar-benar ingin melakukan perlawanan, ini akan menjadi kesempatan terakhir mereka. Mengingat kurangnya gerakan dari pihak mereka, meskipun itu disayangkan, kali ini pun mereka tidak muncul disini.”

“Begitukah,” jawab Ainz dan mengalihkan pandangannya ke arah ibukota.

Dia melihat siluet terbang ke arah mereka dari ibukota. Setelah dia memeriksanya, kelihatannya itu merupakan satu-satunya entitas yang mendatangi mereka. Seseorang yang memiliki keberanian untuk melawan Sorcerer King, seseorang yang membantai 200.000 pasukan dengan satu mantra. Dari informasi yang telah mereka kumpulkan, hanya satu orang yang cocok dengan deskripsi itu.

Powered Suit – kemungkinan Red Drop.

Ainz memicingkan matanya untuk fokus pada entitas yang mendekat dengan cepat dan bergumam, “maka.”

Jika itu masalahnya, mereka bisa beralih ke tahap kedua dari rencana. Namun, Ainz agak gelisah.

Bagaimanapun, ini merupakan rencana terpenting. Harus ditangani dengan hati-hati, seperti selembar es tipis. Apakah dia benar-benar mampu melakukan rencana seperti itu? Huh, dia juga tidak bisa menyerahkan sesuatu yang sepenting ini kepada orang lain.

Siluet semakin mendekat. Jujur, apakah dia tidak mempertimbangkan kemungkinan jika mereka memiliki pasukan udara juga? Atau apakah dia berpikir Floor Guardian tidak akan memperhatikannya jika dia terbang cukup tinggi? Atau apakah itu semacam hasil dari buah pemikiran orang bodoh lainnya? Ainz terpana dengan strategi bodoh lawannya. Tidak, mungkin dia sudah menyadarinya tetapi tidak punya pilihan lain.

Jadi, apakah dia menyadari ini merupakan jebakan, tetapi punya nyali dan tekad untuk melawannya? Atau mungkin-

“—Apakah dia tidak paham situasinya atau karena harga dirinya? Atau mungkin … Apa pun itu, tidak masalah. Kita akan mencari tahu begitu dia sampai di sini.”

“Benar,” jawab Albedo.

“… Kalau begitu, aku akan menyerahkan semuanya padamu?”

“Ya, tolong serahkan semuanya padaku.”

Jawabannya pendek dan langsung pada intinya. Ainz tidak mengetahui kondisi mental Albedo saat ini. Namun, Dia cukup sadar untuk mengatakan Albedo tidak terlalu senang dengan ini.

Ainz melihat kembali ke arah siluet. Butuh waktu cukup lama baginya untuk mencapai di mana mereka berada, mereka bisa membiarkannya mendekat sebelum melakukan penyergapan. Saat pikiran itu terlintas di benak Ainz, dia menyadari jika dirinya telah melakukan kesalahan.

Kemungkinan besar dia merupakan pion yang bisa dibuang.

“Apakah dia mengetahui diriku? Atau apakah dia tidak memiliki petunjuk sama sekali?”

“Entah yang mana, tidak masalah kemungkinan yang akan dia lakukan, rencananya telah memasuki tahap ketiga. Apakah ini sudah waktunya untuk kita mengeksekusinya?”

“… Semuanya telah sempurna. Aku akan menyelesaikan tugasku dengan segenap kemampuanku, kau juga harus melakukan yang terbaik.”

“Ya – ah, tidak. Tolong serahkan semuanya pada saya, Ainz-sama.” Albedo menjawab tepat ketika siluet itu mencapai di depan Sorcerous Kingdom, melayang seratus meter di udara dan sekitar seratus meter jauhnya dari mereka.

Dia bisa dengan jelas melihat penampilan lawannya saat ini. Bisa dikatakan, pada titik ini tidak perlu untuk mengkonfirmasi penampilannya.

Powered Suit merah terang itu berhenti tiba-tiba di udara dan tetap di sana. Meskipun Ainz tidak bisa melihat wajahnya, dia bisa mengatakan dirinya sedang diamati.

Albedo mengangkat lengannya dan para Death Knight di sekelilingnya mulai bergerak untuk membentuk dinding perisai di depannya.

Bahu kanan Powered Suit yang sedang terbang mulai mengeluarkan cahaya pada objek berbentuk kotak. Cahaya diubah menjadi petir dan kemudian dilepaskan.

“- [ Chain Dragon Lightning ].”

Tepat ketika Ainz menggumamkan nama mantera itu, petir sudah terbentuk menjadi bentuk naga dan menyerang salah satu Death Knight. Petir itu memberikan elemental damage yang cukup parah pada Death Knight sebelum menyambar Death Knight di sebelahnya.

Setelah cahaya yang menyilaukan dari petir mereda, undead itu tidak terlihat. Mereka semua dimusnahkan dalam satu serangan, yang tidak mencapai Ainz dan Albedo. Itu mungkin kebetulan bukan langkah yang diperhitungkan oleh lawan mereka.

“Dasar biadab! Perkenalkan dirimu!”

Albedo meraung dengan nada geram. Volume suaranya cukup tinggi sehingga Ainz ingin menutupi telinganya. Mengingat seberapa jauh lawan mereka, dia seharusnya masih bisa mendengarnya, tetapi orang itu tidak menanggapi sama sekali. Yah… tidak, dia merespons, itu hanya tergantung pada definisi seseorang tentang merespons.

Hal berikutnya yang mereka tahu, tempat senjata di bahu kirinya diaktifkan. Cahaya terbentuk lagi saat mantra lain dilemparkan.

Tornado api menyelimuti Ainz dan Albedo, topan itu terdengar seperti lolongan serigala.

Ini merupakan mantra divine serangan AOE, [ Firestorm ].

Api merupakan kelemahan Ainz, tetapi karena mantera itu belum ditingkatkan dengan kemampuan khusus, juga casternya tidak selevel Ainz, tornado itu tidak begitu banyak memberikan damage. Tetap saja, dia tidak bisa begitu saja menahan serangan seperti itu sepanjang hari.

Ainz memberikan perintahnya.

“Pergilah! Albedo. Jangan biarkan dia melarikan diri!”

“Baik!”


Albedo terbang sembari menggenggam erat kapak perangnya.

Sayap hitamnya yang murni mengepak satu kali dan itu sudah lebih dari cukup baginya untuk menutup celah di antara mereka.

Albedo tidak yakin apakah itu karena celah di antara mereka tertutup sangat cepat, menyebabkan Powered Suit berbalik dengan gerakan slow motion.

Albedo hampir memasukkan kapak perangnya ke punggungnya yang tidak terlindungi sebelum Powered Suit terbang menjauh. Dia tidak terbang menuju ibukota, tetapi malah bergerak ke utara.

Albedo mengingat geografi lingkungan mereka.

Dia tidak bisa mengingat sesuatu yang istimewa tentang arah yang powered suit tuju, tidak ada lokasi yang bisa memfasilitasi penyergapan.

Di balik pelindung kepalanya, Albedo geram.

{Yang benar saja, apakah kau pikir kami buta? Kau benar-benar berpikir kami tidak dapat menyadari apa yang kau coba lakukan? Atau mungkin … Jika dia percaya diri mengetahui rencananya telah terungkap … Aku harus mewaspadai ini …}

Albedo memutar kepalanya, mengalihkan pandangannya dari bahunya ke kamp Sorcerous Kingdom, di mana dia baru saja berada. Dia bisa melihat siluet sendirian, itu adalah Ainz sendiri. Bahkan jika dia mengikuti perintahnya, dia seharusnya menjadi seseorang yang menjaganya, terutama mengingat beliau adalah masternya yang terakhir. Namun dia telah meninggalkan seseorang yang seharusnya dia lindungi, hal itu membuatnya sangat gelisah.

Apa yang lebih tidak menyenangkan yaitu kenyataan dirinya tidak diizinkan untuk membuat musuh mereka membayar kekurangajarannya dengan nyawanya.

“Cih,” Albedo mendecakkan lidahnya dan menatap Powered Suit yang mundur.

Ada benda yang menyerupai ransel di bagian belakang Powered Suit. Memiliki enam pipa, masing-masing mengeluarkan cahaya putih yang membentuk jejak cahaya, seperti bintang jatuh.

Mereka yang tidak terbiasa dengan Powered Suit mungkin akan menganggap jika pipa itu dihancurkan, lawan mereka akan kehilangan kemampuan mereka untuk terbang dan dengan demikian jatuh ke tanah.

Namun, master Albedo sudah mengatakan kepadanya, “Itu hanya hiasan semata.”

Itu karena kemampuan terbang Powered Suit bekerja dengan cara yang mirip seperti mantra [ Fly ]. Menurut masternya, meskipun benar jika dikatakan benda itu tidak akan kehilangan kemampuannya untuk terbang begitu pipanya dihancurkan, nyatanya fungsinya tidak seperti yang terlihat. Masternya telah menambahkan, “setidaknya itu masalahnya,” menyiratkan jika beliau belum menguji teori ini sendiri.

{Namun, berapa lama dia akan terbang? Kita sudah sangat jauh dari – kamp? Apakah aku targetnya yang sebenarnya?}

overlord bahasa indonesia

Perlahan-lahan, jarak di antara mereka mulai tersingkap.

Jika ini terus berlanjut, lawannya akan berhasil melarikan diri.

Albedo tidak memiliki kemampuan yang dapat meningkatkan kecepatan terbangnya sendiri. Biasanya, ketika dia terlibat dalam pengejaran, dia akan mengendarai War Bicorn-nya, tetapi itu bukan lagi pilihan. Itu sebabnya dia terbang dengan sayapnya sendiri, yang hanya mampu secepat ini.

Meski begitu, Albedo telah bersiap untuk ini. Dia telah meminjam item dari masternya yang dapat meningkatkan kecepatan terbangnya. Selama dia memakai itu, dirinya bisa dengan mudah menutup celah di antara mereka. Jadi mengapa dia belum melakukannya? Jawabannya adalah karena dia menunggu untuk melihat langkah yang akan diambil lawannya.

Jika dia hanya mencoba melarikan diri, Albedo bisa menangani itu dengan mudah.

Saat dia dengan tenang menganalisis siluetnya, lawannya berbalik.

Dia mulai memasang senjata yang mirip dengan Arcane Rifle milik Shizu.

“Hmph.”

Albedo mempersiapkan dirinya menerima serangan sembari mengejek lawannya.

Dibandingkan dengan jenis assault rifle milik Shizu yaitu Arcane Rifle, Arcane Rifle musuh ini lebih mirip heavy machine gun menurut Cocytus. Kemampuan destruktifnya lebih tinggi dari senjata Shizu.

Suara deretan gemuruh menyertai sejumlah besar peluru yang ditembakkan dari senjata.

Peluru itu lebih besar dari biji pohon ek dan ditembakkan dengan kecepatan sangat tinggi, sulit baginya untuk menghindarinya.

Namun, setidaknya Albedo bisa mengatasinya, dengan cara mementalkan peluru kembali ke arah lawannya. Tidak hanya ini akan merusak senjata lawan, ada juga penambahan damage dari kapak perang Albedo. Dikombinasikan dengan damage yang dia terima dengan kemampuannya, ini seharusnya memberikan damage cukup besar pada musuh.

Namun – Albedo tidak mengaktifkan kemampuan khusus apa pun. Dia mengencangkan cengkeramannya pada kapak perang dan menutup jarak antara dia dan musuhnya, tidak lebih.

Dia berniat untuk menerima seluruh serangan dengan tubuhnya sendiri.

Peluru yang ditembakkan oleh musuh akan terhubung dengan armor Albedo—

{oops … ada cukup besar kesalahan perhitungan…}

—Dia mengira armornya akan mengurangi sebagian besar damage, tetapi bahkan tidak perlu untuk itu.

Tidak ada satu pun peluru yang mendarat di tubuhnya, semuanya terpental.

Sepertinya tidak ada peluru yang di enchanted.

Pada level Floor Guardian, seseorang akan memiliki kekebalan penuh terhadap unenchanted proyektil. Jika senjatanya tidak di enchanted, dia seharusnya dari awal tidak menggunakan itu.

{Aku ingin menguji kemampuan destruktif senjatanya… tetapi pada akhirnya memperlihatkan salah satu dari kemampuanku. Karena itu, selanjutnya dia pasti akan menggunakan serangan yang sudah di enchanted…}

Dari bahasa tubuhnya, pandangan Albedo yang tajam bisa mengatakan lawannya cukup terguncang. Namun, banyak hal berkembang seperti yang dia harapkan. Lawannya melepaskan Arcane Rifle-nya dan mengulurkan sesuatu ke depan.

Serangan berikutnya sepertinya berbasis sihir.

“Bagus, lalu bagaimana?” Saat dia merenung. Albedo tidak menggunakan kemampuan spesialnya saat dia memperpendek jarak di antara mereka. Jika dia menggunakannya, bahkan dengan jarak saat ini di antara mereka, lawannya masih akan berada dalam jangkauan serangannya. Namun, Albedo belum ingin mengekspos kartunya.

Dari tangan kanan musuh, cahaya hijau terang melesat keluar, terbang menuju Albedo, dan menghantamnya.

Tiba-tiba, tubuh Albedo – dan armornya – mulai bersinar dengan cahaya yang sama. Namun, cahaya itu tidak memiliki efek apa pun dan segera menghilang.

Dia tidak terluka. Bahkan, dia tidak merasakan apa-apa sama sekali.

Ini bukan karena dia secara aktif bertahan melawan mantra itu, tetapi karena mantra itu bahkan tidak bisa menembus resistensi sihir pasif Albedo.

Kemungkinan ini merupakan salah satu spesialisasi masternya, necromancy, khususnya mantra instant death.

Beberapa mantra seperti itu tidak hanya dipengaruhi oleh skor kemampuan, kemampuan pasif, kemampuan khusus, dan kemampuan perlengkapan, tetapi juga dipengaruhi oleh resistensi yang diperoleh melalui level, penalti, dan sebagainya. Jika mantra itu di lemparkan pada musuh dengan level yang sama, sangatlah sulit untuk mantra itu memberikan efek jika mantra itu sama sekali tidak di enchanced.

Tidak hanya Albedo yang dibuat sebagai NPC level 100, dia telah dilengkapi banyak item yang memperkuat dirinya sendiri. Mantra selevel Powered Suit itu tidak bisa memengaruhinya sama sekali.

Mungkin musuhnya sedang mencoba mengukur perbedaan kekuatan di antara mereka, dan itulah sebabnya dia memulainya dengan melempar mantra instant-death. Namun, kenyataan jika musuhnya bahkan berpikir mantra rendah ini bisa berfungsi sebagai penyeimbang di antara mereka membuat Albedo kesal.

Albedo harus menunjukkan perbedaan level diantara mereka.

Saat dia dengan cepat mendekati musuhnya, Albedo mengayunkan lengannya untuk memukul.

Dia bermaksud untuk mengejek lawannya dengan tidak menggunakan kapak perang di tangannya. Alasan lain untuk pukulan itu yaitu dia tidak bisa secara akurat mengukur jumlah damage yang musuhnya terima jika dia menggunakan kapak perangnya.

Lawannya berusaha untuk memblokirnya dengan Arcane Rifle, tetapi serangan Albedo jauh lebih cepat.

Meskipun dia sedikit menahan, serangan dari Albedo yang berlevel 100 masih sangat efektif.

Gooong. Suara logam terdengar saat lawannya terpental terbang.

Suit itu, tingginya lebih dari 3 meter, terpental terbang oleh pukulan Albedo meskipun dia satu meter lebih pendek darinya. Bukan hanya terpental terbang aja, suit itu juga mulai bergetar tak terkendali. Itu adalah pemandangan yang lucu untuk dilihat.

{… Sepertinya aku memberikan terlalu banyak damage daripada yang diperkirakan. Dia lebih lembek dari pada tofu…}

Dia tentu saja, tanpa diduga—

{Lemah…}

—Albedo merasa frustrasi sembari tertawa.

“—Ahahaha, sekarang kau akan mengerti betapa bodohnya dirimu menyerang Ainz-sama. Aku akan memotong-motong keempat anggota tubuhmu, mematahkan setiap gigi di mulutmu sehingga kau bahkan tidak bisa bunuh diri dengan menggigit lidahmu… tetapi mungkin aku akan memberikanmu sedikit pukulan lagi. Entah bagaimana, aku akan membawamu kepada Ainz-sama lalu meminta maaf atas kejahatanmu.”

“—cih.”

Albedo mendengar bunyi decakan dari mulut pria itu.

“Apakah kau mendecikan lidahmu padaku…? Kasar sekali. Terserahlah, kau benar-benar bajingan yang berani-beraninya menyerang kami tanpa menyebutkan namamu sendiri, aku benar-benar kagum dengan kesombonganmu.”

“Apa yang kau bicarakan? Pembunuh? Tak perlu sopan santun untuk menyerang iblis sialan seperti dirimu.”

“Cih. Kupikir kau merupakan orang barbar buta huruf yang telah menyerang kami tanpa mengatakan apa-apa. Tidak kusangka… tidak tunggu dulu, penduduk Kingdom tak ada bedanya dari orang-orang barbar kan?”

“Aku tak mau mendengar kata-kata itu darimu, Perdana Menteri Sorcerous Kingdom, Albedo.”

Albedo menghitung pro dan kontra dari menyeret percakapan ini dan menyimpulkan jika ini merupakan situasi yang dapat dieksploitasi.

{Jika yang ada disini itu Ainz-sama atau Demiurge, mereka mungkin bisa melanjutkan percakapan yang lebih baik…}

Albedo percaya diri dalam menangani masalah-masalah urusan dalam negeri, tetapi dia tidak terlalu percaya diri pada kemampuannya untuk merencanakan atau menangani masalah-masalah urusan luar negeri. Tetap saja, dia saat ini sendirian tanpa ada seseorang yang membantunya sehingga dirinya harus mengandalkan kepalanya sendiri.

“Omong kosong apa itu Red Drop? Maaf, aku tidak bisa menyimpan nama seorang petualang di ingatanku.”

“Hmph, bagaimana seseorang sepertimu terpilih menjadi Perdana Menteri suatu kerajaan.”

Apakah dia benar-benar salah satu dari Red Drop? Atau dia mencoba membingungkan Albedo?

Bagaimanapun, Albedo harus melanjutkan pembicaraan. Dari serangannya di sana, dia sudah memahami sepenuhnya kemampuan lawannya. Bahkan jika pertarungan mereka berlanjut, dia benar-benar tidak akan memiliki masalah berurusan dengannya.

Albedo secara mental mempersiapkan dirinya untuk menjebaknya dalam percakapan ini.

{Sungguh cara yang merepotkan untuk mengulur waktu…}

Lagipula, agar tidak membangkitkan kecurigaan lawannya, Albedo harus benar-benar mengadopsi karakter sosok kuat yang angkuh.

Siluet Albedo menyusut secara bertahap saat dia mengejar Powered Suit merah.

Dan sekarang, Ainz merupakan satu-satunya yang tersisa di kamp. Jika semua berjalan sesuai rencana, acara utamanya pasti akan segera dimulai.

Ainz mengucapkan mantranya, [ Body of Effulgent Beryl ].

Mereka yang ingin menghancurkan Ainz, bahkan jika mereka sedikit mengetahui kelemahan monster bertipe skeleton, pastilah mereka mengerti untuk menggunakan senjata tumpul menghadapinya. Jika Ainz kehilangan sebagian besar HP karena kelemahannya sebelum dia mencapai tujuannya, hal itu cukup menjadi masalah.

Kemudian, [ Delay Teleportation ] yang dilemparkan Ainz sebelumnya, mulai berefek.

Dengan kata lain, segala sesuatunya benar-benar berjalan seperti yang dia prediksi.

Sepertinya Albedo bukanlah target mereka. Ainz merasa lega. Jika dia yang menjadi target mereka, semuanya akan menjadi cukup sulit.

Tapi – benarkah itu yang terjadi? Mungkinkah ini jebakan berlapis ganda?

Musuh itu berteleportasi di belakang Ainz.

Satu orang musuh.

Seseorang yang lebih menyukai pertempuran jarak dekat.

Sementara lawannya sedang terkena delay, Ainz melemparkan mantra [ Explode Mine ] pada arah tujuan teleportasi. Setelah itu, dia berdiri diam, menunggu lawannya tiba. Pada awalnya, dia telah merencanakan untuk menggunakan [ Life Essence ] untuk mengkonfirmasi HP mereka yang terkuras, tetapi pada akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya.

Dia mendengar suara ledakan saat lawannya tiba.

Ainz segera mulai bergerak maju, menjauh dari musuhnya, dan berbalik.

“Silver… tidak tunggu, kilau itu berbeda. Apakah itu platinum? Ataukah logam yang tidak kuketahui?”

Ledakan itu mengepulkan sedikit debu dan di pusatnya, berdiri satu set full-body armor berwarna platinum.

Empat senjata melayang berada di dekatnya, mereka mengikuti setiap gerakannya.

Tombak, katana, palu, dan pedang besar.

Seluruhnya terlalu besar untuk ukuran manusia, penampilan senjata itu seperti meneriakan bentuk mereka yang terlalu berlebihan. Ruang Harta Nazarick memiliki lebih banyak senjata seperti ini.

Senjata-senjata itu memiliki kilau yang sama dengan armornya, maka sangat mungkin jika itu bukanlah terbuat dari silver, melainkan platinum.

Namun, karena itulah yang terjadi, hal itu malah semakin membuatnya penasaran. Mengabaikan nilai moneter dari logam mulia, platinum sama sekali tidak memiliki efek sihir khusus. Dia tidak bisa memahami keuntungan apa yang bisa di dapatkan dengan menciptakan senjata dan armor darinya.

Penjelasan yang paling memungkinkan yaitu senjata itu hanya dilapisi platinum saja, untuk menyembunyikan logam sebenarnya yang digunakan untuk membuat perlengkapannya. Contoh yang bisa dia pikirkan yaitu Golem yang baru saja dirinya pelajari di dalam ruangan Kyouhukou. Contoh lainnya teknik serupa yang digunakan di Nazarick.

Penjelasan yang paling memungkinkan berikutnya adalah bahan dasar senjata itu merupakan logam yang identik dengan platinum dari segi warnanya – tetapi Ainz tidak begitu mengetahui jenis-jenis logam di dunia ini.

Seluruh perhatian Ainz terpaku pada setiap gerakan lawannya. Lagipula, informasi sekecil apapun bisa memberi keuntungan pada setiap pertarungan.

Yang membuatnya resah yaitu kenyataan jika lawannya, sejak pertemuan awal mereka, tidak menunjukkan respons emosional sama sekali. Sejak kemunculannya, dia berdiri diam di satu tempat dengan pose tak kenal takut. Apakah karena dirinya tidak menerima damage – dia tidak sama sekali tidak mengucurkan darah – seolah-olah dirinya menunjukan kemampuan penyembuhannya?

Tidak mungkin dia tidak menerima damage sedikitpun.

Sulit bagi Ainz untuk mempercayai orang itu telah menerima serangan penuh [ Explode Mine ] miliknya, tetapi kenyataannya serangannya hanya menodai armor yang menarik perhatian itu dengan debu. Bahkan dengan job class necromancy Ainz, serangan seperti itu masih mustahil baginya untuk mendapatkan kekebalan penuh terhadap damage mantra tingkat tinggi. Kemungkinan orang itu memainkan sebuah trik, terutama karena jenis damage [ Explode Mine ] berupa non-elemental, serangan itu tidak bisa ditidakan begitu saja.

Dalam hal itu, apakah dia menerimanya dan tak mempedulikannya saja, atau apakah itu berasal dari tekad melawan-atau-mati dirinya? Atau mungkin – dirinya benar-benar memiliki kemampuan untuk meniadakan damage serangan barusan.

“Apakah kau berpikir aku hanya akan berdiri di sini tanpa melakukan tindakan pencegahan? Masih ada banyak lagi di sekelilingmu— ”

Dia mencoba mengukur reaksi lawannya melalui percakapan, atau setidaknya itulah yang dia maksudkan. Namun lawannya, tidak memberinya banyak kesempatan untuk berbicara, karena armor itu tanpa malu-malu mengambil sikap ofensif. Palu yang melayang di sekelilingnya berpindah menuju tempat yang mudah diraihnya.

Itu memberikan sedikit informasi pada Ainz, membuatnya tertawa lembut di lubuk hatinya.

Ini menyiratkan jika target mereka bukanlah Albedo, melainkan Ainz sendiri.

Karena mereka tidak mau repot-repot berbicara dengan Ainz sebentarpun, mereka tidak berusaha untuk mengulur waktu. Mereka mungkin berencana untuk mengakhiri pertarungan ini sebelum bala bantuan bisa tiba.

Jika mereka muncul dari langit dan mulai berbicara dengannya, itu akan menyiratkan jika target mereka adalah Albedo atau malah mereka berdua merupakan target mereka.

Semuanya yang telah terjadi sampai saat ini sudah berada di ruang lingkup rencana Ainz.

Bagaimanapun, untuk seorang Ainzpun tidak bisa memprediksi langkah selanjutnya yang diambil lawannya.

Karena senjatanya bergerak bersamanya, Ainz menduga lawannya merupakan tipe petarung dan ingin memperpendek jarak di antara mereka. Sebaliknya, lawannya menggerakkan tangannya dengan gerakan *somatik, menyebabkan palu raksasa tiba-tiba menembak ke depan.

Sangat cepat.

Serangannya yang dilemparkan ke arahnya seperti serangan seorang warrior tingkat tinggi, Ainz tidak bisa mengelak sedikitpun. Jika senjata ini tidak di enchanted, serangannya akan ditiadakan oleh kekebalannya terhadap proyektil yang tidak di enchanted, tetapi entah dugaan Ainz mana yang akan terjadi, senjata itu pasti di enchanted. Jika itu masalahnya, Ainz berdiri diam, menirukan sikap yang tadi digunakan lawannya ketika dia menerima serangan. Tentu saja, mantera diaktifkan sesaat palu itu mengenai tubuh Ainz.

Seluruh damage serangan *gada itu ditiadakan oleh mantra [ Body of Effulgent Beryl ]. Tatapannya tetap tertuju pada lawannya selama ini, mengamati setiap gerakannya. Pada saat itu, lawannya berhenti bergerak, mungkin karena terkejut Ainz sama sekali tidak menerima damage.

Palu kembali ke posisi semula secepat diluncurkannya, lalu melayang di sekeliling musuh.

“Muwahahahaha—”

Ainz tertawa keras dengan tangan terulur ke luar untuk menunjukkan dirinya tidak terluka.

“-Apakah kau mengerti sekarang? Aku yakin kau sudah menyadarinya, skeleton lemah terhadap serangan gada. Itu juga berlaku bagiku. Jadi, apakah kau benar-benar mempercayai aku tidak akan mengambil tindakan pencegahan untuk serangan itu? Kau tahu aku tidak akan sebodoh itu? …Ya benar.”

Ainz menepuk tubuhnya sendiri, “Aku kebal terhadap serangan gada.”

Sementara dia mencibir, lawannya tidak mengambil kesempatan untuk menyerang. {Apa artinya itu?} Ainz merenung. Jika dia membuat kesalahan di sini, dia mungkin tidak bisa menguasai situasi.

Musuh mendarat, mengangkat tangan, dan berbicara. Suaranya merupakan suara seorang pria.

“[ Wall of the World ]!”

Dengan musuhnya sebagai pusatnya, gelombang kejut yang melintas di udara melewati Ainz.

Jika terus berkembang dari bentuk awalnya, tempat ini akan tertutup dalam kubah. Ukurannya sangat besar, setidaknya lebarnya satu kilometer. Albedo dan semua guardian lainnya seharusnya berada di luar jangkauannya.

Ainz mulai berpikir dengan tenang.

Ini merupakan salah satu trik lama pada buku panduan, untuk memutus hubungan musuh dengan dunia luar. Lalu, seberapa sulitkah untuk menembusnya? Apakah itu dapat mencegah seseorang melarikan diri? Apakah teleportasi masih berfungsi?

Efek dan luas efeknya juga harus dipertimbangkan. Karena bentuknya berupa kubah, bisakah seseorang menembusnya melalui tanah?

Dan yang paling penting, bisakah dia menghancurkannya dengan suatu cara?

Dia sangat kekurangan informasi dan dengan demikian tidak bisa memastikan apa pun, namun dirinya setidaknya bisa membuat beberapa kesimpulan yang belum sempurna..

Pertama-tama, lawannya mengetahui Ainz pastilah seorang magic caster, maka kubah ini setidaknya harus mampu memblokir mantra teleportasi.

Kecuali dia punya alasan untuk tidak menggunakan World Class Item yang bisa mendominasi pikiran, orang ini bukanlah orang yang mencuci otak Shalltear. Bagaimana jika ada alasan khusus mengapa dia tidak menggunakannya? Pertanyaan terus menumpuk, tetapi satu hal yang dia yakini adalah dirinya tidak boleh meremehkan musuh ini.

Itu karena Ainz menguasai berbagai macam mantra dan kemampuan khusus. Dari pengalaman yang dia kumpulkan melalui eksperimen, dirinya mengetahui kemampuan penuh mantra-matra itu. Hal Ini yang menempatkan Ainz di puncak Nazarick dalam bidang strategi pertempuran.

Namun, kemampuan yang baru saja digunakan musuh ini, Ainz tidak bisa mengingatnya. Kemampuan yang akan mencakup area seluas ini pasti berasal dari mantra Tingkat Super atau World Class Item. Ini berarti lawannya memiliki akses yang mudah pada – penggunaan langsung – skill yang dapat menyaingi ketinggian kemampuan itu.

Dia tidak diragukan lagi merupakan musuh yang kuat.

Seseorang yang bisa menghapus Ainz, dan Floor Guardian Level 100 lainnya, dari dunia ini.

Namun, dihadapkan dengan musuh ini, Ainz sama sekali tidak menunjukkan ekspresi.

Tentu saja, wajah Ainz tidak bisa menunjukkan apapun, tetapi ketidakyakinannya masih bisa diamati dari sikap dan nada bicaranya. Ainz Ooal Gown tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak sedap dipandang seperti itu.

Pada saat yang sama, dia tidak bisa membiarkan musuh untuk merasakan kegembiraan dan kelegaan Ainz.

Pemikiran, {lebih bijak bagiku untuk menjadi seseorang yang menghadapinya} muncul di benaknya.

Ainz menyipitkan matanya dan terus mengamatinya.

Meskipun ini merupakan kemampuan yang tidak diketahui, dia masih bisa menangkap aspek-aspek tertentu darinya. Pertama, ini merupakan kemampuan yang cukup banyak menghabiskan HP. Mengingat itu, barrier ini bukanlah hanya pajangan. Jika dirinya tidak bisa mengetahui efek pastinya, dia akan berada dalam masalah besar.

Ainz telah melihat HP lawannya terkuras ketika dia mengaktifkan kemampuan itu menggunakan mantra [ Life Essence ]-nya. [ Mana Essence ] tidak memperlihatkan warna mananya, itu menyiratkan musuhnya merupakan warrior murni yang sama sekali tidak memiliki mana.

Jika dinding misterius itu merupakan penjara yang tak dapat di bobol, tidak akan aneh bagi lawannya, yang secara efektif memenjarakan Ainz di kubah ini, untuk sedikit bersantai.

Dengan pemikiran seperti itu, Ainz mulai dengan tenang mengajukan pertanyaan.

Dia menggunakan nada lembut berbeda dari nada suaranya setelah di serang menggunakan palu.

“Aku akan mengampuni seranganmu sebelumnya. Aku yakin kau sudah mengetahui namaku, tetapi izinkan aku memperkenalkan diri kembali. Aku adalah Sorcerer King Ainz Ooal Gown. Lalu, sekarang giliranmu. Bisakah kau memberitahuku namamu?”

Setelah beberapa detik hening, dia menerima balasan.

“… Riku Agneía”

Ainz segera mulai menganalisis informasi yang baru saja didapatnya.

Kemungkinan barrier ini tidak hanya mencegahnya melarikan diri, tetapi juga mencegah bala bantuan mendatanginya. Kenyataan dirinya akan mengambil risiko mengekspos informasi mengartikan dia mencoba untuk memberitahu Ainz, “kau tidak bisa melarikan diri,” dan juga, “bala bantuanmu tidak akan datang.”

Dalam dokumen yang disusun oleh Sebas dan Demiurge, tidak ada yang menyebutkan nama ‘Riku’. Seseorang yang sekuat ini tidak akan terlewat dari jaringan pengumpulan informasi mereka. Bahkan jika dia merupakan hermit, masih ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Bagaimanapun, seseorang yang sekuat ini pasti akan berakhir muncul pada buku-buku sejarah Kingdom. Sangat tidak masuk akal karena sama sekali tidak ada catatan mengenai dirinya.

Penjelasan yang paling mungkin yaitu dia memberikan nama samaran padanya.

Tapi mengapa dia memberinya nama samaran?

Jika dia berasal dari Kingdom, dirinya seharusnya dengan bangga mendeklarasikan namanya dan tujuannya untuk menghancurkan akar semua kekejaman yang telah memulai perang ini. Apakah itu karena dia merupakan seseorang yang ingin tetap anonim atas kemauannya sendiri? Kemungkinan lain yaitu dia mencoba membuat Ainz bermusuhan terhadap Riku Agneia yang asli, atau mungkin pengetahuan tentang nama aslinya membuat Ainz dapat mengatasinya atau sesuatu yang seperti itu.

Meskipun pada dasarnya kerajaannya mencakup hutan belantara murni ketika wilayah itu berada di bawah kekuasaannya, mereka masih mengumpulkan cukup banyak informasi dari penduduk demihuman di tanah itu. Dari informasi yang mereka peroleh, salah satunya yaitu mengenai beberapa hubungan antara nama asli dan jiwa mereka, dan bagaimana seseorang bisa menjadi lebih rentan terhadap kutukan jika nama asli mereka diketahui. Namun, setelah Nazarick melakukan beberapa penyelidikan, mereka tidak dapat menemukan bukti konklusif dari fenomena semacam itu. Mereka telah menurunkan kategori informasi ini sebagai legenda rakyat biasa.

Maka mungkinkah Riku berasal dari suku yang memiliki kepercayaan yang seperti itu?

Dia memiliki informasi sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Ini bukan situasi yang paling ideal baginya untuk mengambil keputusan secara gegabah. Sejauh yang dia ingat, hanya ada dua makhluk kuat yang memiliki relasi dengan platinum. Salah satunya bukan humanoid, yang kedua yaitu—

“Aku telah mendengar lagu-lagu dari para Bard, kisah heroik dari Tiga Belas Pahlawan. Beberapa nama mereka telah menghilang, meskipun aku ingat salah satu dari mereka mengenakan armor yang ditempa menggunakan platinum … Jika ingatanku benar, namanya adalah Riku Agneía. Apakah para penyair itu tidak menyukai orang itu berada dalam kisah mereka?”

“Begitukah? Aku tidak tahu jika diriku cukup terkenal sehingga para bard menyanyikan namaku.”

Musuhnya tidak mengangkat bahu, juga tidak melakukan gerakan apa pun saat dia menjawab dengan tenang.

Apakah dia benar-benar salah satu dari Tiga Belas Pahlawan, atau dia hanya penipu? Mungkin ada detail yang dirinya lewatkan.

{Astaga}, pikir AInz.

Apa yang benar dan apa yang salah, sulit baginya untuk mengatakannya. Namun, mengingat bagaimana lawannya cukup percaya diri datang sendirian untuk menghadapi Ainz Ooal Gown yang bisa dengan mudah memusnahkan 200.000 pasukan dengan satu mantra, seluruh kemampuannya pasti sedang diselidiki dalam pertempuran ini.

“Riku, apakah kau keberatan aku memanggilmu dengan nama ini?”

“Kutolak.”

Sebuah jawaban langsung, yang terisi dengan nada jijik.

“Sepertinya aku sangat tidak sopan padamu. Mungkin itu terlalu akrab memanggilmu dengan nama itu. Haruskah aku menyebutmu Agneía? Apakah kau masih keberatan?”

“Itu lebih baik.”

“Oh. Kalau begitu, aku memiliki sebuah penawaran untukmu. Jadilah bawahanku, bagaimana dengan itu?”

Udara di sekitar Riku sedikit membeku. Dia tidak mengambil sikap, juga tidak bergerak sedikitpun. Riku hanya berdiri di sana tanpa terpengaruh.

Ainz tidak bisa mengerti dirinya.

Jika Riku melihatnya sebagai inferior, akan masuk akal mengapa dia tidak mengambil sikap sedikitpun. Bagaimanapun, Cocytus juga sama selama pertarungannya dengan lizardmen. Maka, apakah Riku memandang rendah dirinya atau tidak?

Dia merasa berbeda dibandingkan dengan Cocytus saat itu.

Jadi, mungkin itu sudah merupakan sikap yang ingin dia ambil untuk pertempuran ini.

Dia mungkin telah merencanakan untuk berdiri di satu tempat dan menyuruh senjata melayangnya melakukan semua pekerjaan untuknya, itulah sebabnya dia mengambil sikap bertarung seperti itu.

“… Sepertinya aku ditolak. Sungguh disayangkan. Bisakah aku memintanya sekali lagi? Saat ini aku mencoba merekrut individu-individu kuat untuk melayaniku. Bahkan Momon of Darkness dengan senang hati bekerja dibawahku. Jika kau bersedia menjadi bawahanku – aku bahkan akan mengakhiri penaklukan Kingdomku di sini. Kau sendiri lebih berharga dari kerajaan ini.”

“Kutolak.”

Jika kata-kata bisa membunuh. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam suaranya.

Ainz, tanpa menunjukkan emosi apa pun, mulai merenungkan makna tersembunyi di balik percakapan kecil mereka barusan.

Bahkan jika dia memiliki keyakinan dirinya bisa mengalahkan Ainz dan menyelamatkan Kingdom, apakah dia benar-benar tidak memiliki sedikitpun keraguan? Bahkan jika Ainz terbunuh, apakah dia benar-benar meyakini pasukan Sorcerous Kingdom akan menyerah?

{… Mungkinkah dia sama sekali tidak mempedulikan Kingdom…? Apakah dirinya dari kerajaan lain?}

“[ Cloak of Light ]”

Armor Riku mulai bersinar. Untuk sesaat, Ainz berpikir jika itu adalah pantulan cahaya matahari yang mengenai armornya sampai dia menyadari bahwa HP Riku baru saja berkurang. Itu tidak diragukan lagi merupakan aktivasi semacam kemampuan.

Saat ini dia memiliki bukti nyata.

Kemampuan Riku membutuhkan pengorbanan HPnya sendiri.

Namun, karena HP yang hilang hanya bisa dipulihkan melalui mantra restoration atau potion, jika dibandingkan dengan kemampuan lain, kemampuan yang membutuhkan pengorbanan HP biasanya lebih lemah. Pada dasarnya, semakin tinggi biaya kemampuan HP, semakin kuat kemampuan itu. Logika yang sama pasti berlaku bahkan di dunia ini.

Riku telah mengaktifkan kemampuan istimewanya, itu mengartikan jebakan mereka telah gagal. Ainz segera melantunkan mantranya.

“[ Greater Teleportation ]”

Ainz berteleportasi menuju keluar kubah angin ini. Setelah penglihatannya telah disesuaikan, dia melihat barrier angin masih menghalangi jalannya.

“Gagal melakukan teleportasi…”

Dia melihat sekeliling. Sepertinya Riku tidak memiliki kemampuan untuk mengikuti teleportasinya, Riku tidak terlihat.

Di depan Ainz, tidak terlalu jauh, adalah tujuan yang ditujunya, Makam Besar Bawah Tanah Nazarick.

Dia setidaknya bisa mengkonfirmasi satu hal dari barrier ini: yaitu menggagalkan teleportasi sepenuhnya. Bisa dikatakan, karena dia saat ini berada di depan dinding barrier, itu mengartikan teleportasi ke tujuan yang berada di dalam barrier masih dapat dilakukan. Hanya teleportasi masuk dan keluar dari kubah yang dinonaktifkan. Sepertinya jika seseorang mencoba dan berteleportasi ke luar, mereka malah akan diteleportasi ke tepi kubah terdekat dengan tujuan yang ditujunya.

Ini merupakan informasi yang sangat penting.

Dia awalnya bermaksud untuk tidak menggunakan teleportasi sepanjang pertempuran ini, tetapi masih layak untuk mendapatkan informasi ini dengan mengorbankan salah satu kartu trufnya.

Ainz kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh barrier.

Jika itu memiliki kemampuan pertahanan, dia mungkin akan segera menerima damage, tetapi itu tidak mungkin. Dia mengira begitu karena teleportasinya yang digagalkan juga tidak memberinya damage.

Tulang-tulang di jarinya membuat kontak dengan barrier.

Berlawanan dengan penampilannya yang lembut, menembusnya sangatlah sulit. Ketika dia mencoba mengerahkan kekuatan padanya, tidak pernah tertembus, tidak berefek sedikitpun. Kubah itu seperti tembok yang memisahkan dunia.

Ainz mengeluarkan koin emas biasa dan melemparkannya.

Koin itu mengenai barrier dan memantul.

Selanjutnya, dia melemparkan mantra [ Lightning ] pada sudut yang sudah dihitung sebelumnya.

“… Tidak bisa menembusnya, hmmm.”

Saat dia merasa puas dengan hasil eksperimennya, mantra [ Delay Teleportation ] diaktifkan sekali lagi. Tidak diragukan lagi itu merupakan Riku.

Ainz melantunkan [ Body of Effulgent Beryl ] dan berdiri di sana, dengan punggung menghadap Riku.

Setelah Riku muncul, dia menggunakan beberapa benda tak dikenal untuk membanting tubuh Ainz dengan kecepatan tinggi. Karena itu merupakan damage senjata gada, damage itu sepenuhnya ditiadakan oleh [ Body of Effulgent Beryl ].

Namun entah karena alasan apa, tubuhnya dibuat terbang dan ditekan menuju barrier. Itu sangat tidak biasa. Biasanya ketika damage serangan telah ditiadakan, efek sekundernya tidak akan berlaku. Namun, serangan Riku tidak mengikuti aturan ini. Jadi apa artinya itu? Dia belum mengetahuinya.

Ainz perlahan, dan anggun, berbalik.

Palu kembali ke sisi Riku. Keempat senjata yang mengelilingi Riku berbeda dari sebelumnya: mereka semua bersinar putih. Dikombinasikan dengan armornya, itu terlihat keren.

Di sisi lain, HP Riku semakin menurun.

Dia telah kehilangan lebih banyak HP dibandingkan ketika dirinya mengaktifkan kemampuan itu pada armornya beberapa saat yang lalu. Apakah itu karena dia harus menerapkan kemampuan itu untuk setiap senjata secara terpisah atau karena teleportasi telah menyebabkan juga dirinya kehilangan sedikit HP? Ainz menginginkan lebih banyak informasi.

“Aku kebal terhadap serangan gada, aku yakin diriku sudah mengatakan itu… jadi bagaimana kau melakukan itu?”

“… Bahkan jika kau bisa berteleportasi, kau tidak bisa menggunakannya untuk menembus barrier ini. Takdirmu adalah mati di sini.”

{Jawab pertanyaannya, goblok}, Ainz memikirkan itu tetapi tidak mengatakannya dengan keras. Lagipula, jika dia ingin lawannya berbicara, dirinya harus berhati-hati agar lawannya tidak kesal padanya.

“Aku mengerti. Aku terkesan kau mampu menciptakan barrier yang tak tertembus. Aku berasumsi jika dirimu telah membulatkan tekad kan?”

Tiada respon. Salah satu dari empat senjata, pedang besar, berhenti bergerak.

-Dia datang.

Riku sepertinya tidak ingin berbicara dengannya. Ainz membuat langkah pertama dengan pemikiran itu.

“[ Twin Magic: Obsidian Sword ]”

Ainz men-summon dua pedang obsidian dan bergegas melesat kearah Riku.

Jika lawannya menggunakan senjata yang bisa melayang, dia akan melakukan hal yang sama.

Salah satu pedang dipentalkan oleh pedang besar Riku dan serangan lainnya dihindari dengan cara yang tidak wajar.

“Apa!?”

Ainz yang terkejut menyuarakan pikirannya.

Yang mengejutkan bukanlah kenyataan jika Riku bisa mengelak dari serangan itu, melainkan bagaimana dia menghindarinya. Bahkan Cocytus tidak akan mampu melakukan apa yang baru saja dilakukan Riku.

Riku telah melakukan salto ke samping setinggi kepala untuk menghindari serangan. Meskipun ada keanehan lain selain dari apa yang baru saja dia lakukan, Ainz seharusnya tidak fokus pada detail itu saat ini. Pertanyaan-pertanyaan itu terwujud karena gerakan itu tidak manusiawi.

Biasanya ketika seorang humanoid melompat, mereka akan menekuk lutut dan memberikan kekuatan pada kakinya. Harus ada gerakan refleksif sebelum lompatan yang sebenarnya. Namun, Riku melewatkan semua itu, tidak menggunakan kekuatan sama sekali, namun masih melakukan salto ke samping dengan sikap yang sama sepanjang waktu pertarungan berlangsung.

Sementara itu bukanlah tidak mungkin, terutama dengan mantra seperti [ Fly ], bahkan Ainz tidak mampu melakukannya. Tubuh seseorang akan selalu bergerak secara refleks dengan cara tertentu ketika melakukan gerakan seperti itu.

Mungkin mereka yang mahir menggunakan [ Fly ] akan bisa melakukan gerakan itu, tetapi Ainz masih merasa aneh oleh gerakan itu. Kesimpulan seperti itu masih samar di lidahnya, tetapi otaknya tidak bisa mengekspresikannya dengan benar.

Sementara Ainz semakin kesal, Riku membalas dengan pedang besarnya. Dua pedang Ainz dipentalkan oleh senjata melayang lain di sekeliling Riku.

Pedang besar itu, seolah-olah memiliki pikirannya sendiri, melesat ke arah Ainz, membuatnya memikirkan Guild Weaponnya. Ainz memberikan sihir pertahanan sebagai responsnya.

“[ Wall of Skeleton ]”

Pedang besar beradu dengan dinding yang baru dibuat. [ Wall of Skeleton ] dihancurkan dalam satu serangan.

“Impresif.”

Di tempat di mana [ Wall of Skeleton ] berdiri, ujung pedang besar itu menunjuk ke arah Ainz saat melayang. Dia kira pedang itu akan kembali ke sisi Riku setelah barusan, tetapi sebaliknya melesat ke arah Ainz seolah-olah seseorang memegangnya. Di sisi lain, Riku berdiri diam di lokasi asalnya, dengan sikap sebelumnya.

Dari pengamatannya pada sikap itu, apa yang ada di ujung lidah Ainz akhirnya keluar.

Memang, dia hanya seperti boneka.

Riku bergerak seperti boneka yang senarnya masih utuh.

Seolah-olah tangan raksasa ada di belakangnya, yang satu mengendalikan tubuh dan yang lain mengendalikan senjata.

{Ini bukan sesuatu seperti [ Psychokinesis ] mengendalikan senjata, tetapi juga armor? Itupun, kalau isi armor kosong? Atau apakah ada juga seseorang yang memakai di dalamnya?}

Dihadapi dengan pedang besar yang memotong dari atas ke bawah, Ainz mengeluarkan [ Blasting Staff ] untuk menghentikannya.

Jumlah tekanan yang diberikan padanya membuatnya merasa seolah-olah dia sedang dipaku ke tanah.

Jika dia memiliki skill penghancur senjata, akan sangat berharga untuk menargetkan pedang besar ini secara khusus, tetapi Ainz tidak mau repot-repot mempelajari skill seperti itu. Bahkan mantra asam anti-material akan membutuhkan sedikit waktu untuk melelehkan pedang ini, karena hal itu dia lebih memilih menyerang Riku sebagai gantinya.

“[ Grasp Heart ]”

Itu merupakan mantra necromancy favorit Ainz, namun itu tidak berpengaruh pada Riku sedikitpun.

Apakah dia memiliki kekebalan terhadap necromancy? Atau apakah lawannya dapa menahan efek status negatif? Sementara Ainz masih mempertimbangkan hal-hal itu, pedang besar itu diayunkan padanya dengan kecepatan yang lebih cepat.

“Guhhh!”

Dia tidak bisa menahan atau menghindarinya tepat waktu, karena itu tubuhnya menerima serangan penuh darinya. Setelah menerima seramgam, Ainz mundur sedikit sampai menabrak barrier di belakangnya. Posisi ini tidak menguntungkan baginya.

“[ Greater Teleportation ]”

Ainz berteleportasi ke atas. Karena mereka di-summon menggunakan summoning magic non-konvensional, kedua pedang segera kembali ke sisi Ainz.

Karena dia tepat di atas lawannya, dia akan mudah ditargetkan. Ainz tidak berteleportasi jarak jauh, juga tidak bertujuan untuk mengulur waktu sampai Albedo tiba. Pertempuran ini merupakan keinginannya.

Hanya sebagai tindakan pencegahan, dia melantunkan [ Body of Effulgent Bery l ] lagi sembari mengamati Riku, yang terlihat seperti titik dari sudut pandangnya. Dia mulai terbang keatas begitu dia melihat Ainz.

Dia tidak mencoba menyerang Ainz dengan senjatanya, itu mungkin karena batasan jangkauannya.

Ainz merespons dengan turun.

Saat mereka saling berpapasan, dia meluncurkan pedang obsidian kembar.

Konstruksi [ Obsidian Sword ] hanya bisa digunakan sebagai alat ofensif dan tidak bisa digunakan untuk membela diri. Itu karena durability pedang obsidian telah berkurang banyak setelah digunakan untuk menerima serangan lawan. Jika digunakan secara defensif, daya tahan pedang akan cepat berkurang sampai hancur.

Riku menggunakan senjata di sekelilingnya untuk mementalkan dua pedang yang melayang tinggi di langit.

Apakah dia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk pertahanan? Riku tidak memilih untuk melakukan serangan balik.

Setelah menyerang Riku, Ainz mendarat di tanah dan menyadari tombak meluncur ke arahnya dengan kecepatan menggelikan.

Ainz melompat maju, nyaris tidak menghindari serangan. Karena dia sudah mengaktifkan [ Fly ], dia tidak memiliki masalah untuk terbang kembali.

Ainz berdiri untuk menjauhkan diri dari tempat itu ketika Riku dengan santai turun ke tanah. Tiga senjata melayang di sekelilingnya dan tombak yang telah ditancapkan ke tanah segera kembali ke posisi mereka lagi.

Ainz juga membuat dua pedang obsidiannya melayang di sisinya.

Gerakannya membuat Ainz semakin mempercayai adanya makhluk hidup di dalam armor itu. Lututnya tidak menekuk sama sekali ketika dia mendarat.

Pada saat inilah Riku, yang telah berdiri dengan sikap yang sama selama ini, tiba-tiba mengambil pedang besar dengan tangannya sendiri.

Jarak antara mereka ditutup dalam sekejap. Ini merupakan kecepatan tercepat yang pernah dia gunakan.

Dia seperti bintang jatuh.

Ainz mengirimkan dua pedang obsidian untuk menahan serangan Riku, tetapi mereka dipentalkan oleh katana Riku, kemudian jatuh ke tanah.

“[ Call Greater Thunder ]”

Beberapa kilatan petir menyambar pada Riku, namun dia tidak melambat sedikitpun. Bukannya dia tidak menerima damage, Ainz bisa melihat kolam HP-nya berkurang. Kemungkinan terbesarnya dia telah menahan seluruh bentuk rasa sakit yang dirinya terima.

Pedang besar itu diangkat tinggi di atas kepala Ainz sesaat sebelum diluncurkan ke bawah.

“Oooof!”

Saat Ainz menerima damage, dia melihat dari sudut matanya, katana Riku berayun mendekat dari samping.

Ainz mulai meluncurkan Blasting Staff-nya.

Riku menahan serangan itu dengan tubuhnya sendiri. Serangan fisik seorang magic caster tidak begitu mengesankan, maka jika dia memilih untuk menahan serangan itu, dirinya juga pasti berencana untuk menyerang Ainz.

Keputusannya tepat.

Jika Ainz ada di posisinya, dia akan melakukan hal yang sama.

Namun, itu merupakan kesalahan yang sangat fatal dalam situasi saat ini.

Ainz tersenyum puas ketika gelombang kejut mulai menyebar keluar. Riku terhempas jauh.

Blasting Staff memiliki efek knockback yang dienchanted serupa dengan Yamaiko’s Female Sensei’s Iron Fist of Wrath. Biaya enchantnya merupakan kurangnya kemampuan ofensif sepenuhnya staf, tetapi itu bisa memberikan jarak antara seorang magic caster dan musuh mereka, salah satu hal yang paling penting bagi seorang caster.

Apakah itu dikarenakan oleh Riku yang terhempas? Serangan katananya hanya menggores Ainz sedikit, hampir tidak menyentuh tulang dadanya.

Riku tetap bertahan dengan sikap itu bahkan setelah dirinya dihempaskan. Ainz mengucapkan mantra lain.

“[ Summon Tenth-Tier Undead ]”

Yang menggantikan pedang obsidian kembar yaitu warrior berlevel 70, Doom Lord. Mahkota berkarat menempel di kepalanya dan jubah bernoda darah menggantung di punggungnya. Yang menghiasi full-plate armor-nya adalah beberapa bilah melengkung seperti scythe.

Sejumlah kecil energi negatif berbentuk kabut hitam terpancar dari celah dalam zirahnya. HPnya terus berkurang, penalty yang diberikan pada Doom Lord karena kelincahannya yang sangat tinggi untuk level 70. Mengoptimalkan mahluk summonan memerlukan penguasaan dari penempatan unit tersebut.

Namun, Ainz hanya ingin dia menjadi tamengnya, selain itu tidak ada yang penting baginya.

Summonan bagus digunakan sebagai perisai atau pedang.

Secara umum magic caster yang bisa menggunakan semuanya cukup kuat. Tetapi, jika seseorang mengerahkan warrior murni yang kuat akan bisa dengan mudah mengabaikan mahluk summonan seperti ini.

Misalnya, apa yang akan dilakukan Cocytus?

Dia mungkin akan mengabaikan mahluk summonan dan menuju summoner untuk membuat mereka berdua berada dalam jangkauannya.

Lalu apa yang akan dilakukan Albedo?

Dia mungkin akan menggunakan kemampuan defensifnya untuk mempersiapkan serangan langsung ke arah caster, mahluk summonannya hanyak akan Albedo abaikan. Dia juga bisa mengalihkan agro sehingga mereka akan saling membunuh.

Maka, apa yang akan Riku lakukan? Strategi Riku sampai saat ini adalah mengandalkan senjata serang otomatisnya. Meskipun dia telah menggunakan pedang besarnya, dia tidak menggunakan kemampuan khusus atau seni bela diri untuk menghadapinya. Karena alasan itu, Ainz benar-benar tidak memahami kemampuannya sebagai seorang warrior.

Itu sebabnya—

Riku memperpendek jarak di antara mereka dan langsung menuju Ainz tanpa ragu sedikitpun. Keputusan yang nekad.

Dia mungkin tipe yang memiliki spesialisasi dalam pertempuran jarak dekat bukan semata-mata mengandalkan senjata melayangnya. Karena alasan itu, jika dia dapat dengan cepat menghancurkan mahluk summonan-nya, Ainz akan kehilangan pilihan untuk memperlebar jarak di antara mereka.

Dihadapkan dengan Riku yang mendekat dengan cepat, Doom Lord mempererat cengkeramannya pada senjatanya, sebuah bilah melengkung panjang yang terpasang pada sebuah tiang, yaitu War Scythe. Scythe itu diselimuti energi negatif, terselimuti kabut hitam yang sama seperti sebelumnya.

Ainz menggunakan magical link yang dimilikinya dengan Doom Lord untuk memberikan perintahnya.

“Sangat mungkin jika lawan kita bukanlah makhluk hidup, tetapi cobalah untuk memastikannya,” perintahnya tidak jelas. Tak perlu dikatakan, seorang mahluk summonan memiliki sebagian dari pengetahuan pemanggilnya, maka dirinya pastilah bisa memahami tujuan Ainz bahkan tanpa perintahnya, tetapi lebih baik untuk bermain dengan aman.

Doom Lord mengaktifkan kemampuan khususnya.

[ Ruinous Night ]

Ketika intensitas kabut hitamm yang terpancar meningkat, menyebar ke sekelilingnya.

HP-nya menurun lebih cepat dari sebelumnya, untuk digunakan sebagai biaya boost jangka pendek setiap statistik yang terkait dengan pertempuran.

Tidak hanya itu, kemampuan pasif lawan untuk mengurangi damage yang diterima dari Doom Lord padanya karena perbedaan level akan sepenuhnya ditiadakan. Undead yang berdiri di kabut hitam – termasuk Doom Lord itu sendiri – akan menerima lebih sedikit damage dari serangan berjenis Light dan Holy Elemental. Hal yang sama berlaku untuk bonus damage karena perbedaan karma. Kekuatan lain dari kemampuan ini yaitu dapat diaktifkan secara bersamaan dengan buff lainnya.

Ainz ingin menerima buff itu juga, namun cakupan kabut hitam hanya mencapai sejauh itu.

Untuk memastikan jika dirinya tidak akan menjadi target Riku, Ainz menjauh dari kedua petarung.

Dia telah membuat persiapan untuk menjadi penonton.

Sudah saatnya baginya untuk menggali informasi sejauh mana kekuatan Riku yang sebenarnya.

Scythe Doom Lord berbenturan dengan pedang besar melayang, suara menusuk telinga bergema di daerah sekitar.

Tidak berpindah satu incipun, mereka juga tak terpental sama sekali.

Mereka pasti memiliki tingkat kekuatan yang sama karena itu yang terjadi.

Setelah itu, scythe terus berbenturan dengan katana dengan kecepatan tinggi, benturan logam terus berdencing.

Tebasan pedang besar itu diblokir scythe dan tusukan scythe itu diblokir palu layaknya sebuah perisai. Tombak yang melesat dipentalkan oleh gagang scythe ketika Doom Lord dengan anggun menghindari tebasan pedang besar itu.

Dengan cepat – untuk mengambil keuntungan dari jarak yang telah dibuat untuk menghindar – Riku melompat maju.
Keduanya memiliki kedudukan yang sama dalam hal kemampuan ofensif dan defensif, tetapi Riku memiliki lebih banyak trik yang belum dikeluarkan.

[ Negative Burst ]

‘Sinar cahaya’ hitam mulai keluar dari tubuh Ainz sembari menelan sekelilingnya.

HP Doom Lord sembuh setelah menerima energi negatif, tapi itu bukan cara yang paling ‘mana-efficient’ untuk menyembuhkan. Di sisi lain, Riku tidak menerima damage dari mantra itu sedikitpun.

Untuk dirinya yang tidak menerima damage, apakah itu dikarenakan dia memiliki kekebalan terhadap energi negatif? Apakah itu karakteristik rasnya? Atau karakteristik jobnya? Atau mungkin, penjelasan yang paling mendekati, yaitu itu ada hubungannya dengan perlengkapannya.

Secara logika, ketika berencana untuk bertarung melawan undead Ainz berarti dia harus bersiap menghadapi serangan energi negatif, sumber kehidupan undead. Ainzpun akan memakai item yang memberikan ketahanan api jika dia bertarung melawan naga yang memiliki semburan api.

Sementara suara senjata mereka yang beradu satu sama lain terdengar tanpa henti, Ainz melantunkan mantra berikutnya.

[ Perfect Unknowable ]

Ainz, yang saat ini keberadaannya menghilang, menghampiri bayang-bayang tanknya – Doom Lord – untuk mengelilingi mereka berdua. Tiba-tiba, katana melesat ke arahnya dengan kecepatan yang tidak bisa dia hindari. Menembus jubah di area perutnya.

Dia tidak menerima damage apa pun karena kekebalannya terhadap serangan tusukan, tetapi Ainz masih bergegas menuju bagian belakang sosok Doom Lord. Katana itu, kembali melayang di udara, kemudian sebagai gantinya mulai menebas Doom Lord.

“… Dia bisa menyadari kemampuan ketiadaan ya?”

Ini tidak mengejutkan, seseorang tidak perlu mencapai level Ainz untuk mendapatkan tindakan pencegahan terhadap strategi itu. Masalahnya terletak pada metode apa yang dia gunakan untuk mendeteksinya. Ainz tidak memiliki jawaban. Terlalu banyak tindakan pencegahan, sulit baginya untuk mempersempit kesimpulan dengan infomasi yang dimilikinya.

Maka, apa langkah selanjutnya? Riku sepertinya ingin menargetkan Ainz secara langsung mengingat bagaimana semua senjata melayang diarahkan padanya, tetapi dengan kehadiran Doom Lord, serangan mereka sulit mencapai dirinya.

Setelah kalkulasi kasar dari opsi yang tersedia mengingat status pertempuran saat ini, dia sampai pada kesimpulan jika dirinya harus men-spam mantra ofensif. Jika Doom Lord kalah, dia bisa memanggil yang lain. Kemungkinan strategi untuk menang ini cukup tinggi.

Namun, Ainz tidak ingin mengakhirinya seperti ini.

Riku merupakan musuh yang kuat, sosok yang langka di dunia ini, dan dengan segudang kemampuan yang asing bagi Ainz. Karena itu yang terjadi, lebih bagus untuknya menyaksikan kekuatan penuh Riku selama pertempuran ini sehingga dia akan lebih siap jika lawan yang sama muncul di masa depan.

Ainz membatalkan melempar mantra serangan.

Sementara dia mengetahui prioritasnya saat ini yaitu untuk membela dirinya sendiri, dia punya alasan khusus untuk tidak melakukannya. Karena berbahaya, tentu saja, tetapi dia harus menahan keinginannya.

Ainz mengamati serangan dan pertahanan keduanya. Doom Lord sedang ditekan sedikit, tetapi tidak ada yang menerima damage fatal.

Seseorang bisa menyaksikan jika mereka daritadi saling beradu serangan, tetapi kesederhanaan dalam gaya bertarung Riku cukup mengkhawatirkan. Ainz sangat mengetahui mengapa Doom Lord tidak bisa mendapatkan keunggulan. Tak satu pun dari keterampilannya, serangan energi negatif, atau serangan spiritual yang memiliki efek terhadap Riku.

Pada titik ini, itu semua menegaskan jika Riku merupakan ras yang memiliki karakteristik serupa dengan Golem atau boneka. Mungkin itu dikarenakan beberapa kemampuan item atau skill yang memberinya keunggulan, atau malah mungkin dia ini hanya seorang boneka.

Dalam hal opsi mana yang paling mungkin, itu pastilah yang pertama mengingat Riku dapat berbicara. Half-Golem atau ras serupa memiliki resistensi yang sama seperti boneka, maka dia mungkin salah satu ras itu.

Namun, mengapa seseorang dari ras seperti itu membantu Kingdom? Yang terpenting untuk saat ini adalah kemampuan Riku dan bukan motivasinya. Kenapa dia menggunakan serangan sederhana seperti itu? Daritadi sepertinya dia tidak menggunakan skill atau seni bela diri.

Salah satu Supreme Being merupakan pengguna Golem. Gerakan Riku hampir identik dengan Golem yang dikendalikan oleh orang itu.

Riku akan mudah ditangani jika dia adalah Half-Golem, tetapi jika dirinya merupakan golem murni yang bisa berbicara sendiri atau dibuat melalui teknik rahasia, segalanya akan jauh lebih sulit.

Sejauh yang Ainz ketahui, kekuatan Golem ditingkatkan dengan nilai logam yang digunakan untuk menciptakan mereka, kemampuan pencipta, dan penambahan efek kristalnya.

Golem tingkat tinggi relatif mahal untuk diproduksi.

Jika Riku merupakan Golem, yang dibuat dari logam semurah platinum namun sekuat ini, mungkin ada lebih dari beberapa atau bahkan puluhan darinya yang belum ditemukan.

Dia harus mengumpulkan lebih banyak informasi.

Ainz memberi perintah pada Doom Lord.

Doom Lord mulai melepaskan lebih banyak kabut hitam setelah menerima perintahnya.

Kecepatan dan kemampuan ofensifnya ditingkatkan lebih tinggi, ke titik di mana armor Riku mulai rusak. Namun, Doom Lord yang kehilangan HP dengan cepat menyebabkannya menghilang tidak lama kemudian.

Ainz sudah menentukan waktunya untuk ini, ketika dia melemparkan [ 10th Tier Summon Undead ] yang lain.

Itu adalah undead level 68, Elemental Skull.

Penampilannya berupa kerangka melayang, dikelilingi kabut cahaya magic yang terus-menerus bergantian di antara empat warna: merah, biru, hijau, dan kuning.

Ainz menyuruhnya mundur dan dirinya menggantikan tempatnya di depan.

Elemental Skull merupakan undead tipe caster yang mampu menggunakan sihir dari empat elemen utama.

HP-nya hampir sama dengan magic caster di levelnya, jauh di bawah Doom Lord. Kemampuan ofensifnya cukup mengesankan, itu karena setiap mantra yang dilemparkannya memiliki kandungan metamagic [ Maximize Magic ].

Dalam hal pertahanan, dia memiliki kekebalan terhadap sebagian besar serangan mantra, termasuk Api, Petir, Asam, Es, dan jenis serangan serupa. Sebaliknya, dia sangat rentan terhadap serangan fisik, terutama damage serangan gada.

Karena itulah Ainz harus berdiri di depannya.

Riku tidak meningkatkan kewaspadaannya lebih tinggi meskipun seorang magic caster saat ini berada di garis depan. Dia hanya diam, memperpendek jarak antara dirinya dan Ainz, dan mulai menyerang.

{Kenapa kau tidak sedikit pun mengkhawatirkan ini?} Ainz menggerutu dalam benaknya ketika dia menggunakan pengalaman yang dia dapatkan saat berlatih dengan Albedo untuk memblokir tebasan Riku.

Bisa dikatakan, dia hanya bisa memblokir satu dari lima tebasan, itu pada dasarnya merupakan serangan satu sisi. Saat staf Ainz diabaikan, pedang besar, tombak, dan katana memulai serangan mereka. Meskipun sesekali palu digunakan, damagenya ditiadakan oleh [B ody of Effulgent Beryl ]. Setelah tiga kali ditiadakan, Riku akhirnya menyadari hal itu. Dia tidak pernah menggunakan palu setelahnya.

Sementara Ainz sudah mengetahui tentang ini, Riku memang sangat cepat.

Meskipun dia tidak secepat layaknya Floor Guardian, dia masih relatif cepat. Ainz cukup beruntung ketika Riku telah berhenti menggunakan palu. Jika masih digunakan, Ainz tidak akan bisa menang sedikitpun.

Setelah menyaksikan pertempuran Doom Lord, Ainz menyadari dirinya tidak bisa menjadi petarung garis depan.

Tentu saja, Ainz memiliki pilihan untuk menggunakan [ Perfect Warrior ], tetapi kurangnya peralatan yang memadai akan menjamin kekalahannya jika dia melakukannya.

Namun, perjuangan Ainz menjadi petarung garis depan mulai memperlihatkan hasil ketika mantra mulai menjulang di udara dari punggungnya.

Pada saat yang sama, Ainz menggunakan mantra tingkat sembilan, [ Vermillion Nova ].

Serangan terkuat single-target, serangan mantra berbasis api mulai menghanguskan Riku, namun lawannya tidak menunjukkan tanda-tanda melambat ketika pedang besar itu hendak menebas Ainz lagi.

Meskipun tubuhnya bermandikan api, pedangnya tetap tenang dan stabil. Jika dia telah membulatkan tekadnya sebagai seorang pejuang, ini tidak akan terlalu mengejutkan, tetapi kurangnya respon darinya sedikit mencurigakan.

Elemental Skull memberikan mantra tingkat sembilan, [ Polar Claw ].

Sebuah cakar yang mengeluarkan udara sedingin kutub mencabik Riku. Ini merupakan mantra yang tidak dipelajari Ainz. Mantra itu tidak memiliki efek sekunder tetapi menghasilkan banyak damage, sejujurnya DPSnya paling tinggi diantara mantra berbasis es lainnya.

Ainz mengingat jumlah damage yang Riku terima dari dua mantra.

Ini terjadi bertepatan ketika dirinya menerima serangan serentak dari tombak dan katana.

Dia melemparkan mantra tingkat sembilan lainnya, [ Call Greater Thunder ].

Elemental Skull di sisi lain, mengucapkan mantra tingkat sepuluh, [ Mist of Super Acid ]. Ini juga mantra yang Ainz tidak pelajari, itulah alasan mengapa dia memanggil Elemental Skull.

Riku segera diselimuti oleh kabut asam kuat dan begitu pula senjatanya.

[ Mist of Super Acid ] tidak hanya memberikan damag pada lawan, tetapi juga perlengkapan dan senjata mereka, meskipun hanya menimbulkan sedikit damage. Tentunya senjata melayang di sekiling Riku dianggap sebagai perlengkapannya kan?

Bahkan senjata di sekeliling Riku sudah rusak namun Ainz, yang berada di dalam AOE, tidak terluka. Ini karena kondisi khusus yang diterapkan pada mantra.

Riku yang kehilangan HP karena asam itu informasi penting. Dari keempat elemen, paling banyak dia menerima damage dari asam.

Bisa dikatakan, persentase aktual hilangnya HPnya masih rendah.

Melalui analisis setiap bit informasi yang dimilikinya, Riku pasti memiliki job class yang berfokus pada pertahanan. Dia mungkin sekitar level 90.

{Bagaimanapun, strategi terbaik yaitu menggunakan serangan asa— Ahhh! Itu sangat menyakitkan!}

“Pengganggu!”

Kemarahannya berkobar saat pikirannya terganggu, tetapi kemudian sebuah keajaiban terjadi.

Dia berhasil menangkis katana yang dengan sempurna mengincar dirinya menggunakan staffnya, menyebabkan mata Ainz yang ‘tidak ada’ melebar.

Katana itu diterbangkan seolah-olah efek knockback telah diaktifkan.

{Kok bisa!?}

Efek knockback staf ini sudah terpenuhi kondisi aktivasinya.

Pertama-tama, memblokir serangan warrior dengan staf tidak akan mengaktifkan efeknya. Efeknya tidak akan aktif sama sekali jika staf tidak digunakan untuk serangan ofensif.

Jika lawan memblokir serangan penyerang menggunakan pedang atau perisai, efeknya tidak akan aktif. Itu hanya akan aktif jika seseorang mendaratkan serangan ke tubuh lawan mereka dengannya. Pedang atau perisai jelas tidak akan dihitung sebagai tubuh lawan. Itu sebabnya efeknya masih akan muncul jika seseorang menyerang sarung tangan lawan.

Jadi apa yang terjadi pada katana Riku?

Mengingat kondisi yang disebutkan, itu mengartikan jika senjata melayang dianggap sebagai bagian dari tubuh penggunanya.

Namun itu tidak masuk akal.

Dahulu Sebas telah membawa pulang senjata dari ibukota.

Senjata melayang yang digunakan oleh penari.

Senjata dianalisis secara rinci ketika diserahkan ke Ruang Harta dan dinilai sebagai senjata melayang sederhana yang mematuhi perintah untuk menyerang secara semi-otomatis. Seharusnya hanya dihitung sebagai perlengkapan, yang berarti jika staf ini menyerang senjata penari, efek knockback seharusnya tidak akan aktif.

Jika knockback itu diterapkan pada perlengkapan, hanya senjata seperti Female Sensei’s Iron Fist of Wrath yang akan mampu melakukannya. Itu merupakan senjata yang memiliki tujuan menciptakan gelombang kejut ketika pengguna meninju udara. Sebagai senjata yang menerapkan knockback untuk semuanya, senjata itu juga bisa menerapkan knockback pada perlengkapan

Tetapi staff ini tidak sekuat senjata itu, jadi mengapa staff ini bisa melakukan hal seperti itu?

Dari serangkaian tautologi ini, dirinya menyimpulkan jawabannya: Senjata Riku dihitung sebagai bagian dari tubuhnya.

{Aku mengerti…}

Ainz memiliki dua hipotesis pada mekanisme di balik ini.

Pertama adalah senjata Riku merupakan makhluk seperti Blade-Bug Entoma. Jika dia seperti Sword Saint Golem, cukup masuk akal mengapa efek knockback diaktifkan.

Hipotesis lainnya, yang lebih mungkin, yaitu senjata itu benar-benar bukan perlengkapan, melainkan bagian tubuh Riku yang sebenarnya. Ini akan menjadi situasi yang mirip dengan bagaimana efek knockback akan tetap berlaku jika staff berbenturan dengan serangan cabikan dragon.

Dia merasa senjata-senjata itu memiliki HPnya juga, tetapi perkiraan itu dikarenakan mereka terhitung sebagai perlengkapan Riku. Itu suatu asumsi yang keliru berdasarkan kenyataan mereka menerima akan damage ketika Riku menerima damage juga. Sepertinya bar HPnya terpisah dari milik Riku, maka-

Detik itu terasa seperti selamanya bagi Ainz dalam kebingungannya yang tak terbatas.

Bagaimana jika dia menggunakan metode itu—

Tapi— apakah itu keputusan yang benar?

Tidak— salah, itu akan menjadi kesalahan.

Ainz merasakan Elemental Skull hendak melemparkan mantra divine tingkat sepuluh, [ Seven Trumpeter ] dan segera membatalkan lemparannya.

Dia harus menegaskan kembali perannya dalam semua ini.

Ainz diam-diam menggunakan [ Message ] saat Riku mundur seolah dia mengejar katana yang terlempar. Katana kemudian kembali ke posisi semula.

Jadi jika senjata itu dipisahkan dari Riku dengan jarak tertentu, mereka tidak bisa lagi bergerak? Atau lawannya berusaha membuatnya berpikir seperti itu? Atau apakah dia hanya terkejut senjatanya terlempar ke belakang?

“… Kita kurang lebih telah memahami kekuatan satu sama lain. Itu bagus sekal—”

Riku menebas Ainz saat dia meluncur ke tanah. Dia tidak berniat untuk berbicara.

Ainz menggerutu sebal karenanya.

Masuk akal bagi lawannya untuk berpikir memanfaatkan waktunya, menjawab ucapan lawan dalam pertempuran merupakan tindakan bodoh. Maka sementara dia menghormati komitmen Riku terhadap strateginya, dirinya masih kesal karena lawannya mengabaikannya.

“Tunggu! Tunggu! Aku belum selesai—”

Ainz, di tengah-tengah serangan Riku, melemparkan staffnya ke belakang. Dia bisa melihat Riku sedikit kebingungan.

Ainz segera berlutut.

“Tunggu! Tunggu sebentar! Dengarkan aku!”

Pedang besar di tangan Riku berhenti di tengah jalan menuju kepala Ainz.

Karena dia kebal terhadap serangan kritikal, dia tidak terlalu takut untuk menundukan kepalanya yang tak berdaya. Dia memberi perintah kepada Elemental Skull pada saat yang sama.

“Aku tidak bermaksud untuk bermusuhan dengan-Mu. Semua ini bermula karena Kingdom mencuri gandum yang dimaksudkan sebagai bantuan makanan bagi Holy Kingdom. Di antara mereka dan kami, kejahatan yang lebih besar seharusnya terlihat jelas. Apa yang Engkau pikirkan? Apakah Engkau berpikir kamilah yang paling jahat!?”

“… Kau bertindak terlalu jauh. Pasti ada cara yang lebih baik untuk menghadapinya.”

Ainz mengangkat kepalanya.

Pedang besar Riku tetap ditangguhkan, sepertinya dia tidak punya niat untuk menebasnya saat ini.

“Itu karena Engkau bukanlah korbannya! Bagaimana ketika Engkau yang menghadapinya!? Ketika gandum yang rekan kerjamu hasilkan dicuri sampai tak tersisa!?”

“Jika kau tidak memiliki kekuatan seperti yang kau miliki saat ini, segalanya tidak akan menjadi seperti ini. Seseorang dengan kekuatan harus berhati-hati tentang bagaimana mereka menggunakan kekuatan mereka dan bertanggung jawab atas tindakan mereka – diriku, misalnya, melindungi dunia. Benar. Dunia ini dibawah perlindunganku.”

Setelah mendengar retorika lawannya, Ainz berpikir, {si goblok ini akhirnya berbicara}. Sejak tadi dia hanya menjadi pendengar bisu. Beberapa orang lebih menyukai respon para penonton selama pidato mereka sementara yang lain tidak. Dari nada suaranya, Ainz mengetahui yang terbaik yaitu untuk tetap diam.

Ainz mencatat semua yang dia katakan.

“Perbuatan mereka yang mendekati ibuku tercinta itu salah. Kesalahan mereka sama seperti yang pernah ayah lakukan. Pada akhirnya, ‘kekuatan absolut sejati tidaklah ada’. Karena itu merupakan sumber dari segala keburukan.”

Ainz mengamati Riku dalam diam, menenangkan nafasnya sepelan mungkin.

Riku sedang berapi-api, Ainz tidak seharusnya menganggu dirinya.

Sejujurnya, sedikitpun Ainz tidak bisa mengerti apa yang dibicarakan Riku, tetapi pada saat yang sama dia tidak terdengar seperti dirinya hanya mengoceh omong kosong belaka. Dia harus setidaknya berbicara dengan cara yang bisa dimengerti oleh orang awam seperti Ainz.

“Meskipun akar dari segala kesalahan dapat ditelusuri kembali pada kami, aku tidak akan meminta maaf untuk itu, aku juga tidak bisa membiarkanmu melanjutkan jalan kehancuranmu saat ini. Itu sebabnya – Binasalah. ”

“Woosh,” pedang besar itu mengayun ke bawah.

Mungkin dia merasa bersalah karena mengeksekusi Ainz yang tak berdaya, pedang itu diayunkan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dari sebelumnya.

{Tunggu sebentar, tunggu sebentar, tolong ungkapkan beberapa informasi lagi saat kau sedang berada dalam suasana hati yang baik}, Ainz hampir mengatakannya dengan kencang. Lawannya tidak berniat untuk berbicara lagi, maka tidak perlu lagi bermain kata.

—Pertarungan berlanjut.

Elemental Skull, yang dia perintahkan untuk bersiaga, bergegas menuju lintasan pedang besar dan menerima serangan itu.

Ini merupakan penggunaan summon yang efektif, karena Elemental Skull tidak lagi berguna baginya. Itu sebabnya ini pilihan yang tepat. Jika sifat senjatanya sama dengan Spuit Lance milik Shalltear, dia tidak akan melakukan itu. Namun, karena senjata Riku tidak memiliki kemampuan lifesteal, dia dapat dengan bebas menggunakan summon sebagai tumbalnya.

“Hiiiiiiii!? Jadi ini semua salahmu!? Apa kau tidak salah!?”

Ainz menjerit sedih. Siapa ‘mereka’? ‘Apa’ yang mereka lakukan salah? Ainz tidak bisa mengerti sama sekali, tetapi jika dia mengutarakan jawabannya dengan cara ini, mungkin Riku akan menunjukkan lebih banyak informasi. Itu patut dicoba.

Mungkin dia benar-benar merasa bersalah, gerakannya jauh lebih lambat dari sebelumnya. Ainz memanfaatkan kesempatan ini untuk mundur.

Elemental Skull bergegas di antara mereka.

“—Blokir dia!”

Elemental Skull mengucapkan mantranya sementara Ainz berteriak. Riku mengabaikan kerangka itu dan menyerang Ainz. Elemental Skull berusaha menghentikannya, tetapi karena ukurannya dan kurangnya skill untuk melakukannya, dia gagal.

“[ Wall of Skeleton ]!”

Ainz melemparkan mantranya untuk menciptakan dinding memblokir Riku dan Elemental Skull di sisi yang lain.

“Sungguh menyedihkan, Sorcerer King!”

Riku berteriak marah. Mungkin amarahnya dikarenakan Ainz telah meninggalkan summonannya di sisi lain dinding sehingga dia bisa melarikan diri, tetapi itu tidak masalah bagi Ainz. Jika seorang magic caster tidak berada di belakang seseorang tetapi berdiri sendiri, itu tidak akan berbeda dari bunuh diri. Itu akan lebih buruk dari—

Dia bisa dengan mudah terbang ke atas dinding, tetapi Ainz merasa Riku sedang menyerang Elemental Skull dan dinding miliknya.

Dibandingkan dengan Elemental Skull, [ Wall of Skeleton ] tidak terlalu tahan lama. Kemudian segera runtuh karena serangan Riku.

Elemental Skull telah melemparkan beberapa [ Vermillion Nova ] untuk mengurangi HP Riku, tetapi untuk mengalahkannya akan menjadi hal yang sulit. Itu mungkin karena job classnya, tetapi magic resistancenya sangat tinggi.

Mengingat itu yang terjadi, Ainz melemparkan mantra pada Riku.

“[ Temporal Stasis ]”

Ini adalah mantra single-target tingkat sembilan. Meskipun mantra itu bisa menghentikan gerakan lawan, itu juga mencegah mereka dari menerima damage saat mantra itu bertahan. Itu sebabnya biasanya digunakan ketika ada beberapa musuh.

Namun, Ainz melihat mantranya tidak hanya ditolak, tetapi juga ditiadakan sepenuhnya. Sepertinya Riku memiliki tindakan penanggulangan time-stop. Tentu saja, itu tidak terlalu aneh mengingat betapa kuatnya dia.

Pada saat yang sama pedang besar itu diayunkan ke arah Ainz, palu itu juga diayunkan ke arah Elemental Skull.

Ainz menerima damage dari pedang besar itu dan sebagai tindakan pencegahan, melemparkan [ Greater Break Item ] pada senjata lain yang terbang ke arahnya. Itu tidak hanya ditolak, tetapi ditiadakan lagi.

Jadi memang benar senjata itu bisa dianggap sebagai tubuh Riku.

Saat Elemental Skull menerima sejumlah besar damage, Riku melihat ke udara dengan panik.

Sosok itu dengan cepat turun.

Itu adalah Albedo.

“-!”

Ainz mendengar Riku mengeluarkan suara yang bahkan tidak bisa didefinisikan sebagai suara. Dia benar-benar terpana.

Ketika Riku terkejut. Albedo mendekatinya, kecepatannya setara dengan salah satu panah Aura. Lalu-

“Dasar bajinganaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!!”

Sementara raungan mengerikan itu terdengar, kapak perang bernama 3F diayunkan dengan niat untuk membelah kepala Riku. Riku mengangkat pedang besar dan tombaknya membentuk tanda silang untuk memblokir serangannya.

Dampak yang diciptakan oleh 3F cukup besar, menyebabkan kedua kaki Riku tenggelam ke tanah.

Pada saat berikutnya, Riku terpental ke samping.

Albedo telah menghentakan kakinya menuju dada Riku. Armor mengeluarkan dentang menyedihkan.

“Dasar serangga! Beraninya kau tidak menghormati Ainz-sama! Tidak bisa dimaafkan !!”

Deklarasi Albedo menyebabkan udara di sekitar mereka bergetar. Dia mulai menyerang setelah itu.

Jarak antara keduanya diperpendek dalam sekejap saat Riku menerima serangan dengan kekuatan yang cukup untuk mengirimnya terbang menuju orbit.

Suara logam berbenturan bersamaan terdengar pada volume yang menusuk telinga.

Riku menggunakan dua senjata melayangnya untuk memblokir serangan ini.

Dia terbang mundur dengan seluruh kekuatannya. Tidak dengan melompat, dia terbang mundur tanpa kakinya menyentuh tanah.

“Albedo, hentikan! Sudah cukup!”

Ainz menghentikan Albedo, yang akan melanjutkan serangannya.

Itu sudah cukup, dia seharusnya tidak membiarkan Albedo bertarung lagi.

“—Saya mengerti.”

Sementara tatapan Albedo mengatakan kepadanya dirinya tidak bahagia, Albedo masih menghentikan tindakannya.

Mungkin benar untuk berasumsi Ainz tidak lagi ingin bertarung, Riku mulai mendekat untuk memperpendek jarak di antara mereka.

Albedo berdiri diam di sebelah Ainz, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai menghadapi Riku. Dia mungkin waspada untuk serangan jarak jauh yang akan diluncurkan musuhnya.

“Agneía-danna. Aku akan mengatakannya lagi. Jadilah bawahanku! Bagaimana dengan itu!? Aku akan memberikan semua yang kau inginkan!”

Usulannya tidak mendapat jawaban, namun Ainz melanjutkan.

“Sungguh disayangkan! Bagaimanapun, pintu Sorcerous Kingdom selalu terbuka untukmu. Kau bisa datang berkunjung kapan saja kau mau!” Setelah dia mengatakan itu, Ainz merendahkan suaranya untuk berkata pada Albedo, “apakah kau pikir dia masih ingin bertarung?”

“Tidak – saya tidak berpikir dia ingin melanjutkannya lagi. Tetapi, jika dia tidak mundur, mungkin yang terbaik bagi kita untuk mengalahkannya di sini. Jika kita berdua menyerang secara bersamaan, itu seharusnya tidak terlalu sulit kan?”

Meskipun dia seharusnya tidak mendengar percakapan mereka, Riku tetap menghilang. Penghalang yang diciptakannya juga melebur.

Ainz tidak yakin apakah dia telah berteleportasi sebelum menghentikan penghalang atau sebaliknya, dia juga tidak mengetahui kemana Riku melaikan diri.

Meskipun masih ada banyak sesuatu yang harus diselidiki, Ainz merasa seolah-olah mereka telah berhasil menyelesaikan misi mereka.

“… Ya ampun, akhirnya selesai. Kerja bagus.”

“Saya tidak layak menerima pujian seperti itu. Mungkin masih ada seseorang yang mengawasi kita. Lebih baik kita kembali terlebih dahulu ke Nazarick.”

“Ya, benar.”

Setelah memanggil kembali Elemental Skull, Ainz menciptakan [ Greater Teleportation ] untuk pulang bersama Albedo.

Pria ber-armor yang menyebut dirinya sebagai Riku Agneía menggunakan [ World Teleportation ] untuk mencapai tempat pertemuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dia muncul di depan kolaboratornya, yang sudah menunggunya di sana.

“Maaf aku terlambat.”

“Yah, tak usah dipikirkan. Akupun baru saja tiba,” yang menanggapinya tersebut tidak lain yaitu pemimpin kelompok petualang Red Drop, Azuth. Karena dia mengenakan Powered Suit yang dikenalnya, Riku harus memandang ke atas ketika berbicara dengannya.

Namun dia tidak mengatakan yang sebenarnya, Azuth sudah menunggu di sana selama lima menit.

Dan untuk alasan mengapa Riku mengetahuinya, dari tadi dia telah mengamati tempat ini dari jauh.

Alasannya jelas, dia khawatir Azuth berfungsi sebagai umpan.

Jika bawahan Sorcerer King memang mengawasi Azuth, Riku akan segera meninggalkannya dan pulang ke kerajaannya sendiri. Itulah sebabnya sebelum dia bahkan mulai memeriksa apakah mereka diawasi, dirinya telah mengawasi sekelilingnya.

Bisa dikatakan, di sana terbentang bahaya yang berbeda, yang akan membutuhkan percakapan dengan Azuth untuk mengkonfirmasinya. Itulah sebabnya Riku tiba disini sebelum Azuth.

“Maaf, Tsa. Dia lolos. Kupikir dia menuju ke tempatmu berada … apakah kau berhasil menghabisi Sorcerer King?”

“Sayangnya tidak. Meskipun kau meminjamkan kekuatanmu, aku benar-benar minta maaf.”

Orang yang menyebut dirinya Riku Agneía di depan Sorcerer King, Tsaindorcus Vaision, menundukkan kepalanya.

Mungkin para dragon lord lainnya akan mengatakan hal ini sebagai tindakan tidak bermartabat bagi seorang dragon lord berumur panjang, yang berdiri di puncak dunia, tetapi Tsa tidak terlalu mempedulikannya. Jika dirinya membungkuk memungkinkannya menjilat pihak lain, dia akan melakukannya.

“Tidak perlu meminta maaf. Salahku karena tidak bisa menahan wanita itu lebih lama. Kau tidak bisa mengalahkannya karena dirimu tidak punya cukup waktu kan?”

Tsa berpikir keras dan lama mengenai respons seperti apa yang akan menggambarkan jawaban terbaik dan akhirnya dengan lembut berkata kepada Azuth, “Bukan begitu”.

“Tidak, Azuth. Meskipun sangat disayangkan Perdana Menteri Sorcerous Kingdom, Albedo, bukanlah seseorang yang bisa kau tangani, dirimu masih bisa menahannya untuk waktu yang lama. Sejujurnya itu sangat membantu. Aku tidak bisa mengalahkan Sorcerer King hanya karena dia jauh lebih kuat daripada yang kuduga.”

Sebenarnya, memang itulah masalahnya.

Selama pertemuan mereka sebelumnya, Azuth ditugaskan untuk menjauhkan Albedo dari barrier. Sejujurnya, dia berpikir tidak akan terlalu mengejutkan jika Azuth dibunuh oleh Albedo, tetapi jika dia mengatakan ini dengan keras, mudah baginya untuk membayangkan Azuth tidak lagi menawarkan bantuannya. Karena itu, dirinya belum menjelaskan detail lengkap rencana itu kepadanya.

Mengingat hal di atas, sungguh mengesankan bagaimana Azuth berhasil selamat dari pertarungannya dengan Albedo.

Bagi Tsa, tugasnya yang paling penting adalah tetap waspada terhadap player yang memiliki niat jahat terhadap dunia ini, itulah sebabnya dia tidak ingin membabi buta menghabiskan kekuatannya.

Tetap saja, dia memiliki pertanyaan di benaknya, atau lebih tepatnya sesuatu yang tidak dia ketahui.

Itu tentu saja, mengapa Azuth bisa bertahan. Powered Suit yang dia kenakan memang bisa meningkatkan kemampuan ofensif dan defensif si pemakai sembari juga menyediakan berbagai kemampuan bagi penggunanya. Namun, itu tidak meningkatkan HP atau MP pemakai sedikitpun. Itu seperti *chitin exoskeleton yang kokoh menutupi tubuh lembut serangga.

Sementara interaksi pertarungannya dengan Albedo sangat sebentar, dia menyadari satu hal – wanita itu jauh lebih kuat daripada Sorcerer King.

Itu mungkin karena Sorcerer King lebih mahir dalam menangani pasukan besar, maka kemungkinan dirinya tidak bisa bertarung dengan potensi penuhnya dalam pertarungan satu lawan satu.

Bagaimanapun, Azuth jelas tidak cukup kuat untuk bertahan melawan Albedo dengan mudah.

Jadi, bagaimana caranya Azuth bisa bertahan?

“Iblis itu, Albedo, adakah cara untuk kita bisa mengalahkannya?”

“Tidak, itu hampir mustahil. Aku harus menggunakan seluruh persenjataan armor dan menciptakan jarak sejauh mungkin dengannya dan itupun aku hampir mati.”

Jadi begitu keadaannya.

Memang benar, Albedo tidak menggunakan serangan jarak jauh, juga tidak terlihat memiliki senjata jarak jauh.

Semuanya masuk akal kalau begitu. Spekulasi dirinya yang sebelumnya sepertinya cukup tepat.

Tsa merasa malu dengan apa yang dipikirkannya. Dia mencurigai Azuth telah membuat kesepakatan dengan Albedo, atau mungkin dengan Sorcerer King itu sendiri, untuk mengkhianatinya. Dengan kata lain, hipotesisnya semuanya berjalan dengan adil. Pada akhirnya, Azuth hanyalah kolaborator dan bukanlah seorang teman. Selain itu, dia tidak memiliki bukti nyata untuk mendukung gagasan Azuth yang tidak mengkhianatinya.

“Ah, benar. Aku mengatakan kepada Sorcerer King namaku adalah Riku Agneía, ingatlah itu. Jika Sorcerer King menanyai tentang diriku, sebut aku menggunakan nama palsu itu.”

“Riku Agneía? Apakah nama itu menandakan sesuatu?”

“Sama sekali tidak ada, hanya nama acak yang kutemukan. Tetapi, jika seseorang di dunia ini memiliki nama itu, itu mungkin akan membuat mereka mendapatkan masalah.”

Itu hanya setengah kebenaran.

Memang benar, dia belum pernah mendengar ada nama keluarga menggunakan nama Agneía, tetapi nama Riku memang ada yang memilikinya.

“Itu akan membuat mereka menjadi sasaran kemarahan Sorcerer King, yang tidak akan menjadi masalah kecil.”

“Benar. Dan juga jangan melupakan kemarahan Perdana Menteri Sorcerous Kingdom, Albedo.”

Keduanya tertawa pelan.

Tentu saja, jika seseorang bernama Riku Agneía benar-benar ada di dunia ini, ini bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan candaan, setidaknya untuk orang itu.

Tsa tertawa ketika dia mengingat sesuatu.

Iblis itu bernama Albedo.

Sang Sorcerer King tidak bisa menerobos barrier, maka dia bukanlah sebuah ancaman. Namun iblis itu, mampu melewati mantra wild magic, [ World-Isolating Barrier ].

Mantra sihir tingkat menengah ini bisa menciptakan ruang yang terpisah dari kenyataan. Ini mencegahnya dimasuki menggunakan semua cara konvensional serta upaya untuk berteleportasi darinya. Karena bisa memasuki barrier mengartikan Albedo merupakan pengguna wild magic, atau memiliki World Item.

Sementara dia belum mengkonfirmasi apakah iblis itu merupakan player atau NPC, dari hubungan master-servant antara keduanya, kemungkinan besar yang terakhir. Namun jika itu yang terjadi, mengapa Ainz tidak menggunakan World Item itu sendiri, tetapi malah memberikannya kepada Albedo? Itu merupakan sebuah misteri.

{Kecuali Albedo merupakan player dan Sorcerer King merupakan NPC?}

Ini bukan ide yang terlalu konyol. Untuk berada pada peringkat kedua dalam hierarki dunia ini mungkin merupakan pilihan yang lebih aman.

{Mungkinkah Sorcerer King juga memiliki World Item? Tetapi karena dia tidak bisa keluar dari barrier, kemungkinannya akan rendah kan? Atau mungkin dia meninggalkan World Item miliknya di markasnya?}

Itu tentu saja mungkin. Dia telah mendengar dari Riku ada guild yang memiliki dua World Class Item, maka mungkin juga {mereka} memiliki dua.

“Tsa, seberapa kuatkah Sorcerer King? Jika dia merupakan seseorang yang bahkan tidak bisa kau kalahkan, aku merasa dia akan sangat kuat. Jika itu aku, tidak, jika itu {ini}, bisakah itu menang?”

“Azuth, jangan tersinggung, sebenarnya tidak. Dia lawan yang bahkan aku tidak bisa kalahkan dengan mudah.​​”

“Begitukah…”

“Tapi berkat bantuanmu, sekarang aku memiliki infromasi mengenai kemampuan dasarnya. Tentu saja, jika aku menghadapi Sorcerer King satu lawan satu lagi, aku seharusnya bisa menang.”

Dia telah mengatakannya terlalu banyak, tetapi jika dirinya mengandalkan armor ini, kemenangan akan sulit untuk diraih. Mungkin dia harus membuat persiapan di mana mereka akan bertarung.

{Tetapi…} Tsaindorcus menghela nafas.

Jika dia memiliki level yang sama dengan vampir terakhir kalinya, armor ini mungkin akan terjebak dalam pertarungan serius. Namun, jika dia tidak menggunakan armor tetapi menghadapi langsung Sorcerer King, dia tidak akan kalah. Bahkan jika kebenarannya dia sekuat vampir itu. Selama dia bertarung menggunakan tubuh aslinya, tidak akan ada masalah sedikitpun.

Tetapi, jika dia memberi mereka terlalu banyak waktu untuk memperluas pengaruh mereka, segalanya akan menjadi tidak terkendali.

“Seperti yang diharapkan darimu, Dragon Lord terkuat di dunia.”

“Aku sendiri tidak berpikir begitu. Ada banyak di luar sana yang lebih kuat dariku. Hmmm… aku bisa menang melawan Sorcerer King karena aku merupakan musuh alaminya.”

Kemampuan Tsa lebih efektif melawan undead. Dia juga telah mengkonfirmasi dalam pertarungan saat itu jika kemampuannya bekerja pada Sorcerer King. Itulah sebabnya Tsa menilai Sorcerer King sebagai lawan yang tidak terlalu membuat ancaman.

Dibandingkan dengan Sorcerer King, iblis bernama Albedo jauh lebih berbahaya.

“Maafkan aku, Azuth, jika lain kali situasi seperti ini muncul kembali, apakah kau masih bersedia membantuku?”

“Lain kali…? Hmm.”

Azuth dengan serius menggumamkan satu kalimat. Tsa mengerti arti di balik kata-katanya, dan tidak menanyainya lebih jauh.

Setelah beberapa waktu berlalu, Azuth akhirnya berbicara.

“Apakah Kingdom akan binasa?”

“… Kemungkinannya itu yang akan terjadi. Tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk membantunya bahkan jika aku menginginkannya.”

“Begitukah … Maka lain kali aku juga harus mengulur waktu dengan iblis wanita itu? Aku bisa, tetapi kau tahukan ada kemungkinan aku tidak akan dapat mengulur waktu sedikitpun di kesempatan berikutnya?”

“Tentu saja, mereka mungkin nanti tidak akan berpisah. Karena itu, jika entah bagaimana iblis wanita itu tak berada di sisi Sorcerer King, maukah kau melawan Sorcerer King bersamaku?”

Jika Azuth menangani mahluk summonannya, Tsa pasti bisa mengalahkan Sorcerer King.

Dia belum diserang oleh bawahan Sorcerer King selama percakapan kecil mereka di sini. Ditempat ini sudah tidak ada lagi yang harus dia lakukan. Tsa mengalihkan pandangannya menatap jauh ke ibukota, jauh sekali.

Tsa telah menyaksikan kehancuran banyak kerajaan. Yang satu ini akan segera menghadapi kehancurannya sendiri. Tsa merasa agak kesepian, tetapi dibandingkan dengan itu, dia lebih cemas dengan kenyataan tanah ini akan segera jatuh di bawah kekuasaan Sorcerous Kingdom.

Meskipun dia belum menerima keuntungan apapun dari Kingdom ini, dirinya akan tetap merindukannya.

Sementara dia sudah memberi tahu teman-temannya, mungkin diperlukan juga memanggil Dragon Lord lainnya.

“… Hampir lupa, aku bertemu dengan orang-orang dari Theocracy dan menyebutkan nama yang kau beritahu padaku.”

“Benarkah? Sekarang mereka akan tahu jika ada seseorang yang mendukungmu.”

Jika itu yang terjadi, keselamatan Azuth kurang lebih sudah terjamin.

Azuth sendiri tidak memiliki nilai sedikitpun, tetapi Powered Suit yang dimilikinya merupakan item yang sangat penting, cukup penting sehingga Theocracy mungkin merencanakan untuk melawannya. Untuk alasan itu, dia harus membuat mereka berpikir jika Azuth memiliki perlindungan untuk melarikan diri sehingga mereka tidak akan bergerak melawannya. Ini juga memperkuat hubungan yang dia miliki dengan Azuth. Itu merupakan langkah yang tidak memiliki apa-apa selain sisi buruknya.

“Aku punya pertanyaan, mengapa tidak memberi tahu mereka jika aku mendengarnya langsung darimu?”

“Sederhana, jika mereka tidak mengetahui dari mana sumber informasinya, mereka akan mencoba untuk menyelidikinya. Ada kemungkinan itu dapat menyebabkan beberapa gesekan di antara eselon atas Theocracy.”

Selain itu, ada alasan lain.

Jika keadaan darurat muncul, dia bisa membunuh Azuth tanpa kehilangan apapun.

“Ini bukan tempat untuk membicarakannya, mari kita kembali. Temanmu pasti menunggumu kan?”

“Ya, mereka menungguku. Aku akan menyerahkannya padamu, Tsa.”

Tepat ketika Tsa hendak melemparkan [ World Teleportation ], dia memikirkan Azuth.

Hanya karena satu alasan, pertanyaannya apakah masih bermanfaat untuk membantunya atau tidak.

Tentu, Powered Suit Azuth sangat berharga, tetapi tanpa itu dia bukanlah apa-apa. Terus terang, jika Powered Suit berada di tangan seseorang yang lebih mampu, mereka pasti akan dapat menggunakannya secara maksimal.

Plus, Tsa tidak yakin dia bisa memerintahnya.

Azuth sendiri, lebih membantu Tsa daripada seorang teman.

Jika dia keluar dari skenario seperti terakhir kalinya, kemungkinan besar akan menyebabkan kerugian besar.

Memang, Tsa juga salah saat itu.

Untuk memberi Azuth tingkat kewaspadaan seperti itu menghadapi invasi Sorcerer King, Tsa telah membahas kemungkinan hasil dari invasi dengan dirinya secara rinci.

Azuth telah meminta bantuan Tsa untuk mengalahkan Sorcerer King dan menyelamatkan Kingdom. Dia seharusnya sudah menduga waktu itu Auzth akan menggunakan Powered Suit untuk menyelamatkan kota.

Jika dia tidak mengambil tindakan independen saat itu, pasti Tsa akan mampu mengalahkan Socerer King selama pengepungan ibukota.

—Apakah dia harus membunuh Azuth dan mengambil Powered Suit?

Ini bukan ide yang buruk untuk Tsa. Jika dia memberikan Powered Suit kepada seseorang yang cukup kuat untuk menggunakannya sesuai keinginan mereka, itu pasti akan lebih berguna daripada membiarkan Azuth yang menyimpannya. Dia juga bisa mendapatkan kartu truf yang lebih kuat ditangannya untuk saat itu.

Secara pribadi, Tsa merasa tidak meremehkan Azuth, juga tidak ingin membunuhnya dengan tangannya sendiri, tetapi sungguh berharganya emosi di dunia ini.

{… Riku}

{Apakah yang saat ini sudah menjadi kenangan bagiku ternyata berubah seperti ini?} Tsa menertawakan dirinya sendiri secara internal. Kedua tangannya ini sudah kotor. Lebih baik melakukannya saat ini daripada nanti.

Terlebih lagi, dia bisa menyalahkan Sorcerer King jika dia melakukannya saat ini.

Azuth bertarung dengan Albedo sampai dia sekarat dan kemudian menyerahkan Powered Suit kepada Tsa. Itu akan menjadi sampul cerita yang bagus.

Namun – haruskah dia benar-benar membiarkan sejarah terulang kembali?

“Oy, ada apa, Tsa?”

“Hah?”

Tsa akhirnya menyadari dirinya sudah tenggelam dalam dunianya sendiri.

“Ada yang salah? Apakah kau menyadari sesuatu yang mencurigakan?”

“…Tidak ada. Azuth, ayo kembali.”

Dia harus mengesampingkan pemikiran itu. Terdapat sihir kebangkitan, kematian tidak bisa menjamin seseorang untuk diam. Jika dia kembali hanya dengan Powered Suit tanpa membawa tubuh Azuth, itu akan menimbulkan kecurigaan. Jika seseorang bertindak murni berdasarkan prinsip utilitarian, itu akan lebih sering menyebabkan konsekuensi negatif daripada tidak.

Agar dia tidak menyesalinya, yang terbaik yaitu dirinya kembali dan memberikan pertimbangan yang lebih matang sebelum membuat keputusan apakah dia harus menyerah pada Red Drop atau tidak.

Tsa berdoa agar tindakannya pada hari ini tidak akan mengarah pada kesalahan fatal di masa depan saat dia menggunakan [ World Teleportation ].

Angin malam berhembus melalui ruang kosong.


Ainz kembali ke Nazarick menggunakan [ Gate ] dan mengambil cincin itu dari tempat biasa. Dia menggunakan kekuatannya untuk pergi menuju lantai sembilan bersama Albedo.

Setelah beberapa menit berjalan kaki, mereka mencapai ruangan yang menjadi tujuan mereka.

“Albedo, apakah kau ingin masuk terlebih dahulu?”

“Tidak, tidak apa-apa. Kali ini kaulah yang berkontribusi paling banyak, maka dirimulah yang seharusnya masuk terlebih dahulu.”

Ainz berterima kasih padanya dan membuka pintu raksasa.

Dia berjalan ke tengah ruangan, di depan tahta, dan berlutut ketika dirinya membungkuk. Dia bisa merasakan jika Albedo, yang ada di belakangnya, membuat gerakan yang sama.

“Kerja bagus, Pandora’s Actor dan Albedo.”

“Kami tidak layak menerima pujian anda.”

Setelah mengangkat kepalanya, dia melihat masternya mengangguk dengan anggun. Di sisinya terdapat Shalltear dan Demiurge, yang memegang Mirror of Remote Viewing.

Dia pasti telah mengamati keseluruhan pertarungannya dengan Riku melalui item itu.

Pandora’s Actor melepaskan transformasinya.

“Sementara kami ingin mengembalikan magic item yang kami pinjam dari Ainz-sama, kami merasa tidak sopan untuk membuat Ainz-sama menunggu lebih lama. Maafkan kami karena masih memakai perlengkapan Ainz-sama.”

Maksudnya yaitu perlangkapan yang saat ini dia kenakan, item cadangan tingkat rendah yang telah mereka pinjam dari masternya. Dia merasa menyesal dan meminta maaf karena masih mengenakan item-item itu.

“Haha. Pandora’s Actor, jangan pedulikan itu. Tidak apa-apa bagimu untuk melakukan apa yang kau inginkan. Bagaimanapun, itu bukan masalah besar. Yang terpenting yaitu lawanmu – sekarang, saat kami telah menyaksikan pertempuran, aku masih ingin mendengarnya dari petarung itu sendiri. Bagaimana menurutmu?”

“Baik. Saya yakin jika dia merupakan seorang tank yang levelnya sekitar 90. Karena mantra biasa tidak efektif terhadapnya, saya berasumsi levelnya dari hal tersebut.”

“Aku mengerti. Musuh yang kuat. Hmmm… ya? Ada apa, Albedo? Apakah kau memiliki pendapat lain?”

“Ya, pendapat saya berbeda dari Pandora’s Actor. Saya tidak yakin dirinya sekuat itu. Tentu saja, saya hanya mendaratkan dua serangan padanya, maka dari itu saya tidak bisa membuat penilaian yang akurat, tetapi dia terasa seperti seorang tank berlevel sekitar… 80 atau lebih.”

Mengingat mereka berdua meyakini dia merupakan seorang tank, maka pendapat Albedo tentangnya sebagai seorang tank pasti jauh lebih akurat ketimbang pendapatnya sendiri.

“Aku mengerti. Meskipun aku berpendapat Pandora’s Actor, yang terkunci dalam pertarungan dengannya lebih lama, akan dapat membuat penilaian yang lebih akurat, Shalltear yang telah mengamati pertempuran di sisiku sudah memperkirakan kisaran yang sama dengan Albedo. Sekitar level 85 atau lebih. Karena hal itu, sepertinya kita perlu memanggil Cocytus dan Sebas.”

Sementara kemampuan tempur Shalltear tinggi, dia diciptakan tidak berfokus pada output damage fisik murni. Sangat disayangkan jika Sebas disiagakan di E-Rantel dan Cocytus mengawasi pengepungan ibukota sehingga mereka tidak dapat dipanggil pada saat ini.

“Jika keduanya, tidak, jika kita menggabungkan ketiga dugaan kalian… Maka, apakah kalian bertiga sepakat jika musuh kali ini merupakan seorang tank yang berspesialisasi dalam magic resistance?”

Ketiganya jatuh ke dalam perenungan mendalam.

“… Shalltear, mengapa kau terlihat bermasalah? Jika ada sesuatu yang salah, utarakan pikiranmu.”

“Saya mungkin baru saja mendapat kesan kekeliruan-arinsu …”

“Itu juga tak apa. Bagaimanapun, seluruh operasi ini untuk mengekspos kemampuan musuh dan dengan itu telah direncanakan dengan cermat sejak awal. Selama kita bisa mendapatkan beberapa informasi mengenai lawan kita, jangan ragu untuk mengatakannya.”

“Jika itu yang terjadi. Ainz-sama, karena saya juga bisa men-summon Doom Lord, mungkin Ainz-sama sudah menyadarinya-arinsu. Rasanya kemampuan tempurnya melemah secara signifikan, apakah itu karena Pandora’s Actor summonernya-arinsu?”

“Bukan karena itu. Sementara transformasi Pandora’s Actor lebih lemah dari aslinya, summonannya tidak akan lebih lemah dari aslinya. Selain itu, dia telah diperintahkan untuk tidak menggunakan kemampuan khususku untuk memperkuat mahluk summonan… Dalam hal apa pun, haruskah kita men-summon Doom Lords untuk kalian semua amati setelah ini? Mungkin kalian bisa mengetahui sesuatu yang mengganjal dipikiran kalian.”

“Kami mengerti!”

“Lalu, Pandora’s Actor, kau berbicara dengannya kan? Apa yang kau bicarakan, sikap apa yang dia tunjukkan, dan emosi apa yang dapat kau rasakan darinya? Beritahu kami secara detail. Bagaimanapun, cermin ini tidak dapat mengirimkan suara.”

“Baik!”

Pandora’s Actor mulai menceritakan kembali percakapannya dengan Riku. Percakapan mereka tidak lama, jadi cukup mudah untuk diingat. Dia bahkan menyuntikkan beberapa interpretasinya sendiri di tengah dialog: emosi yang dia rasakan melalui intonasi Riku dan penjelasannya masing-masing.

Di tengah jalan, Pandora’s Actor merasakan dari belakangnya, aura tidak menyenangkan yang dipancarkan oleh Albedo. Dia berbicara dengan nada kesal.

“Bahkan jika kau menginginkan lawan kita menurunkan penjagaannya, berlutut sebagai seorang Sorcerer King, dan dengan ekstensi sebagai Absolute Overlord dari Makam Besar Bawah Tanah Nazarick, Ainz-sama, itu sudah diluar batas.”

Memang benar, dia merasa sudah berlebihan. Jika masternya ada di sana, dia tidak akan pernah melakukan itu. {Aku harus membayar pelanggaranku,} pikirnya ketika dia mengangkat kepalanya untuk melihat masternya mengangguk dengan puas.

Dia pasti setuju dengan pendapat Albedo.

Tetapi tepat saat Pandora’s Actor hendak menurunkan kepalanya, suara masternya mencapai telinganya.

“Tidak, itu dieksekusi dengan indah.”

Sementara masternya terdengar agak sarkastik, masternya sepertinya berada dalam suasana hati yang baik. Pandora’s Actor tidak bisa mengatakan di sisi mana dia berada dan karenanya kehilangan kesempatan untuk membungkuk.

“Berlutut itu luar biasa. Jika hanya berlutut dapat menyebabkan lawan goyah, aku akan mencoba melakukannya. Kita tidak mengalami kerugian sedikitpun melakukannya, tetapi itu membuat lawan berpikir jika tidak perlu terlalu waspada. Hehe … Dia seharusnya tidak menyadari jika dirinya telah ditipu.”

—Sungguh menakjubkan.

Meskipun dia sudah memiliki gagasan tentang sejauh mana keinginan penciptanya untuk meraih kemenangan, rasa terkagum-kagum meresap di hati Pandora’s Actor.

Bahkan melawan lawan yang bisa dengan mudah dikalahkan seandainya dia serius, dia masih tidak akan berkenan melakukan hal semacam itu hanya untuk memunculkan rasa aman palsu baginya.

Mungkinkah raja mana pun, tidak – bisakah Overlord™ benar-benar tidak mempedulikan reputasi mereka sendiri pada perencanaan setingkat ini?

Mungkinkah ada makhluk yang hanya dilayani tetapi tidak pernah melayani, bertekuk lutut di depan musuh mereka?

Tidak ada makhluk seperti itu, selain masternya, yang tengah duduk di depannya.

Mereka pasti memiliki pemikiran yang sama, para guardian lain di ruangan itu memiliki ekspresi yang melukiskan kekaguman yang muncul di dalam hati mereka.

Di antara mereka, Demiurge merupakan orang yang bertanya.

“Tidakkah itu justru membangkitkan kecurigaan lawan kita jika seseorang sehebat Ainz-sama berlutut dalam situasi seperti itu? Dia pasti menilai Ainz-sama merupakan seseorang yang mampu menyimpulkan langkah terbaik untuk setiap situasi.”

“Tidak, tentu saja tak ada jalan bagi mereka untuk berpikir seperti itu sampai pada kesimpulan normalnya kan? ‘Dia sama sekali tidak mengesankan’ atau ‘jadi itulah yang benar-benar kau sukai’ mungkin apa yang ada dalam pikirannya kan? Jika situasinya terbalik… Jika aku berada di posisinya, aku mungkin akan menurunkan penjagaanku seperti dirinya kan? Tidak, aku mungkin akan segera membunuhnya. Apa yang akan kau lakukan, Albedo?”

“Jika mereka hanya warga sipil biasa, saya akan segera membunuh mereka, tetapi jika mereka merupakan seorang raja, saya mungkin akan menangkap mereka untuk mendapatkan informasinya. Saya yang menurunkan penjagaan… sepertinya mungkin.”

“Begitukah…? Shalltear, bagaimana denganmu?”

“Saya akan memikirkannya terlebih dahulu-arinsu.”

“… Mmm. Mungkin saja itu sama sekali tidak memberikan efek… Sepertinya lebih baik tidak perlu sampai berlutut. Situasinya tidak akan bagus jika kau tidak bisa menghindari serangan musuh – mari ubah topiknya. Mengenai barrier itu.”

Pandora’s Actor sama sekali tidak mengetahui barrier itu. Dia menduga barrier itu hanya memblokir akses keluar masuk fisik dan magis, tetapi Albedo bisa memasukinya tanpa masalah. Jadi, apakah misteri itu terpecahkan?

“Kalian berdua mungkin sudah menyadarinya, tetapi aku yakin itu disebabkan World Item. Pandora’s Actor, dari apa yang kau katakan, kau tidak terlalu yakin kan?”

Mata Pandora’s Actor melebar.

Memang benar, jika itu yang terjadi, semuanya masuk akal. Albedo membawa World Class Item saat itu dan dirinya tidak. Tetapi-

“Bagaimana Ainz-sama mengetahuinya?”

“Pertanyaan yang logis… Aku menggunakan cermin untuk mengamati pertarungan Pandora’s Actor dan Riku. Bahkan setelah barrier itu didirikan, cermin itu tidak terpengaruh sedikitpun. Awalnya kupikir itu hanyalah hiasan untuk menakuti kita…” Tatapan Ainz menuju pada Pandora’s Actor, ” namun itu memang memiliki efek. Aku mengubah sudut pandangku dan mulai menyelidiki perbedaan di antara kita – lebih tepatnya, perbedaan antara aku, pengguna cermin, dan Pandora’s Actor.”

Ainz menyentuh World Class Item di perutnya.

“Setelah aku melepas ini, aku tidak bisa lagi melihat apapun dari cermin. Mengenaknnya membuatku bisa melihat area pertarungan lagi. Sangat mungkin Riku memiliki kemampuan yang mirip dengan World Item Aura.”

“… Kumohon tunggu sebentar, Ainz-sama. Riku menggumamkan frasa [ World-Isolating Barrier ] dan itu memang mengurangi HP-nya. Maka bukankah itu special skill yang hanya bisa didapatkan oleh makhluk tingkat tinggi seperti Ainz-sama? Seperti kartu truf Ainz-sama?”

“Mustahil baginya untuk mencapai kekuatan serupa dengan sistem yang mendasari kekuatan kita. Sebaliknya, bukankah lebih mungkin dia menggunakan istilah itu sebagai gertakan? Pengurangan HP bisa menjadi kondisi aktivasi untuk World Item. Masalahnya adalah, aku belum pernah mendengar World Item seperti itu. Meskipun banyak yang memiliki biaya aktivasinya, hanya mengurangi HP saja itu terlalu… manis.”

“Apakah HP-nya terus-menerus terkuras?”

Pandora’s Actor menggelengkan kepalanya pada pertanyaan Albedo.

“Hanya berkurang setelah dia mengaktifkannya. Barrier itu sepertinya tidak terus menerus menguras HPnya untuk mempertahankan bentuknya.”

“Tepat sekali. Bukankah tadi kau mengatakan kemampuannya yang lain juga menguras HPnya? Memang benar, ada World Item dengan berbagai kemampuan, misalnya, yang ini.” Masternya menyentuh orb, “tetapi, aturan yang ditunjukkan kemampuannya terlalu berbeda dari kita.”

Kemampuan yang dia gunakan mungkin merupakan peningkatan senjata, peningkatan armor, teleportasi, dan barrier.

“… Sebelumny aku mengatakan mengenai kemampuan sistem karena jika kekuatannya unik untuk dunia ini, maka semuanya akan terjelaskan. Dengan asumsi skenario terburuk, itu merupakan beberapa kemampuan langka yang dapat menyaingi World Item. Jika itu yang terjadi, kita bahkan tidak bisa memastikan apakah Shalltear yang dicuci otak menggunakan sebuah World Item atau tidak. Kita harus mengevaluasi kembali itu. Menyebalkan sekali!”

“Ainz-sama, sebagaimana adanya, kita tidak memiliki informasi yang cukup.”

“Tepat sekali, Demiurge… mungkin kita perlu mendapatkan kekalahan melawan Riku.”

Dua guardian di sisi takhta itu tidak senang terlukis dari ekspresi di wajah mereka, mudah untuk membayangkan Albedo di belakangnya pasti sama.

Bahkan jika itu disengaja, tidak ada seseorangpun disini yang akan merasa senang mengetahui master mereka akan kalah.

“Hapuslah ekspresi itu dari wajah kalian. Aku tidak kalah karena aku menginginkannya, tetapi karena itu merupakan keharusan untuk memahami dek lawan kita. Itulah cara kita menjamin kemenangan, itu tak terhindarkan. Jika ini merupakan latihan sederhana, kekalahan bukan berarti kematian, kita juga tidak harus melakukan tindakan seperti itu. Namun, ini merupakan pertarungan yang sebenarnya.”

Semua orang, termasuk Pandora’s Actor, membisu mendengarkan setiap kata master mereka.

“Kita telah mengkonfirmasi jika kalian semua dan penduduk dunia ini dapat dibangkitkan – tetapi bagaimana denganku? Sementara kita tidak memiliki bukti kuat tentang ini, Six Great Gods dan Eight Greed King dahulu kala mungkin merupakan makhluk yang mirip denganku. Legenda mereka berakhir dengan kematian mereka, jadi kemungkinan besar mereka tidak bisa dibangkitkan. Kita tidak memiliki pilihan selain menganggap itu kebenaran ketika menjalankan operasi ini. Sederhananya, untuk menghindari kematianku, bentuk kekalahan terburuk, kita tidak mempunya pilihan selain menerima bentuk kekalahan lainnya.”

“—Ainz-sama.”

“Ada apa, Albedo?”

“Ainz-sama, apa yang baru saja anda katakan sangat masuk akal. Maka bukankah lebih baik bagi anda untuk tetap tinggal di Makam Besar Bawah Tanah Nazarick, daripada pergi ke dunia luar?”

Kesimpulan yang sangat logis. Jika ada kemungkinan master mereka tidak dapat dihidupkan kembali, maka membiarkannya tinggal di tempat yang paling aman baginya dan tidak keluar dari tempat itu merupakan pilihan terbaik.

“…Memang benar. Aku juga sudah memikirkan itu, tetapi tentunya kau juga bisa memahaminya. Terutama kalian semua?”

Otak Pandora menjadi overdrive karena berusaha untuk memahami apa yang masternya katakan, tetapi tidak ada yang terlintas dalam pikirannya.

Sungguh hal yang menyedihkan.

Sebagai salah satu ahli strategi di Nazarick, dia masih tidak bisa langsung memahami pikiran masternya.

Pandora’s Actor memutar otaknya sampai cairan aneh hampir mulai merembes keluar. Hal itu sama untuk Demiurge dan Albedo, seseorang bisa melihatnya di wajah mereka. Shalltear di sisi lain, sepertinya dia tidak berpikir sama sekali.

{Jangan pikirkan yang lain.} Pandora’s Actor memaksa perhatiannya menjauh dari mereka.

Keheningan menyelimuti kelompok itu untuk beberapa saat, dan dihancurkan oleh desahan masternya yang kecewa.

Pandora’s Actor merasakan malu yang tak tertahankan, demikian pula Demiurge. Sementara dia tidak bisa melihat Albedo, yang ada di belakangnya, dia pasti sama.

“Ada apa? Angkat kepala kalian.”

Dia berbicara dengan nada yang begitu keras, namun Pandora’s Actor tidak bisa membiarkan dirinya melanggar perintah langsung dari masternya.

Dia mengangkat kepalanya.

“… Mmmm, mari kita beralih ke topik selanjutnya. Siapa orang itu? Apa yang kalian pikirkan mengenai keterkaitannya dengan platinum?”

Albedo yang pertama kali menjawab.

“… Salah satu kemungkinannya yaitu seperti yang dikatakan Pandora’s Actor, lawan kita merupakan salah satu dari Tiga Belas Pahlawan.”

Masternya mengangguk setuju.

“Kemungkinan lainnya yaitu dia merupakan salah satu anggota Council-State, Platinum Dragon Lord. Itulah satu-satunya makhluk yang bisa saya pikirkan mengenai keterkaitannya pada platinum.”

“Jika begitu, izinkan aku mengajukan pertanyaan. Apakah dia mencoba membodohi kita untuk mempercayai dirinya merupakan Platinum Dragon Lord atau salah satu dari Tiga Belas Pahlawan sehingga membuat kita akan memushinya? Jawabannya mungkin juga terletak di antara kedua hal besar itu. Jadi, menurut kalian jawaban mana yang paling benar?”

“Saya benar-benar minta maaf, Ainz-sama. Karena kami tidak memiliki cukup informasi untuk menyelesaikannya, sulit untuk menilai dengan keyakinan tinggi mana yang merupakan jawaban yang paling benar.”

Demiurge menjawab begitu.

Pandora’s Actor setuju, tetapi karena masternya bertanya, “Menurut anda, jawaban mana yang paling benar?” respons yang benar seharusnya menjadi salah satu opsi. Mungkin itulah sebabnya dia mengawali jawabannya dengan permintaan maaf.

“Apakah ada pendapat lain…? Sepertinya tidak ada. Aku juga setuju dengan pendapat Demiurge jika kita tidak memiliki cukup informasi. Setelah kita selesai berurusan dengan Kingdom, kumpulkanlah pendapat para Floor Guardian lainnya mengenai masalah ini. Mungkin salah satu dari mereka dapat menyadari detail yang kita lewatkan. Bagaimanapun, kita masih tetap melanjutkan rencana untuk mengirim utusan menuju Council-State. Sementara mereka menyapa para kepala kerajaan, pancinglah mereka menggunakan sebutan Platinum Dragon Lord beberapa kali – Itu seharusnya baik-baik saja kan? Albedo.”

“Ya. Bagaimana saya harus berurusan dengan isi surat resminya?”

“Kuserahkan padamu.”

“Saya mengerti.”

“Itu seharusnya mengenai kesimpulan pertemuan ini kan? Aku harus segera kembali ke ibukota. Pandora’s Actor, meskipun mungkin memalukan, aku harus memintamu untuk berusaha—”

Suara “—ahh” bisa terdengar. Masternya menoleh ke arah guardian yang telah membuat suara itu.

“Ada apa, Shalltear? Apakah kau melupakan sesuatu?”

“Ya, Ainz-sama. Saya punya pertanyaan-arinsu. Apakah anda benar-benar berencana untuk merekrut seseorang bernama Riku itu sebagai bawahan-arinsu?”

“Ahhh, mengenai itu. Tentu saja tidak. Jika dia benar-benar menjadi bawahanku, aku akan mengumpulkan semua informasi yang kubutuhkan – organisasi yang dia layani, tujuannya, dan lain-lain – dan dia akan dibunuh sesudahnya.”

“Bukankah sia-sia untuk membunuhnya?”

Dia bisa merasakan masternya tersenyum masam setelah mendengar pertanyaan Albedo.

“Aku tidak yakin dengan kemampuanku untuk memerintahnya. Jika kau bertanya apakah kita bisa mengeksploitasi kemampuan yang tidak biasa itu dari World Item-nya, mana pun yang terjadi … Albedo, apakah kau cukup percaya diri untuk melakukan itu? Jika kau mampu, aku akan menyerahkan semuanya padamu…”

“Akan sulit untuk melakukannya sebelum kita mengumpulkan informasi yang cukup detail tentangnya. Tetapi jika ternyata memang memungkinkan bagi kita untuk melakukannya, ada banyak cara memanfaatkannya untuk kepentingan kita.”

“Mmmm.”

Tatapan masternya tertuju pada Albedo.

Beliau mungkin sedang merenungkan mengenai kemampuan Albedo dan Riku. Jika penciptanya termasuk seseorang yang memasukkan apa saja yang bisa terjadi dalam rencana besarnya untuk seribu tahun kedepan, beliau mungkin telah menganalisis Riku yang akan menjadi faktor penentu di dalam rencananya.

Kehancuran Kingdom juga pasti menjadi bagian dari rencana itu.

Beliau pasti memiliki rencana tersembunyi untuk menunjukkan kepada dunia perbedaan dalam perlakuan yang diterima oleh Kingdom dan Empire karena tindakan mereka, itu sebabnya beliau menyebutkan kembali untuk menyerang Kingdom. Ini merupakan pendapat umum yang dianut oleh Pandora’s Actor, Albedo, dan Demiurge.

Seseorang tidak perlu berpikir terlalu keras untuk menghubungkan percobaan penciptaan undead dengan ini.

Bagaimanapun, beliau merupakan penciptanya. Tidak diragukan lagi ini adalah firasat akan sesuatu hal besar yang akan datang, sesuatu yang bahkan tidak dapat dia pahami.

Penciptanya, Supreme Being yang kecerdasannya memiliki kedalaman seperti itu, seberapa hebat dirinya? Sejujurnya, Pandora’s Actor merasa kasihan pada yang lainnya. Sungguh menyedihkan untuknya karena dia harus menahan diri agar tidak membual mengenai sosok sang pencipta yang disayanginya.

“Aku mengerti. Memang benar, dia tidak akan berguna bagi kita jika sudah mati. Aku juga akan mendengar pendapat Demiurge mengenai hal ini dan tergantung pada situasinya, Albedo akan ditugaskan untuk itu. Tentu saja, dengan asumsi Riku akan bersedia untuk menjadi bawahanku. Jika dia tidak mau, diperbolehkan untuk membunuhnya.”

Mustahil bagi siapa pun untuk menolaknya. Jika master mereka menghendakinya, itu pasti benar.

“Baik. Sekarang… pendapat lain … sepertinya tidak ada. Sudah waktunya bagiku untuk kembali ke ibukota. Aku masih harus menutup tirai di acara itu.”

“… sandiwara kecil seperti itu tidak mengharuskan Ainz-sama untuk berpartisipasi secara pribadi kan? Saya yakin saya sendiri mampu menanganinya…”

“Tidak, Albedo. Jangan seperti itu, aku tetap akan pergi. Hehe, meskipun aku mungkin tidak berada pada level yang sama dengan Ulbert-san dan yang lainnya, aku masih memiliki standar sendiri untuk mendisiplinkan bentuk-bentuk perlawanan.”

“… Jika begitu, apakah itu sebabnya?”

Albedo menjawab dengan cara yang menyiratkan dirinya telah menyadari makna tersembunyi di balik kata-katanya, membuat masternya untuk meliriknya. Beliau pasti sedang mengamati seberapa banyak dari kata-katanya yang Albedo mengerti.

Setelah beberapa waktu berlalu, masternya terlihat puas ketika dia menyatakan dengan cara yang diharapkan dari seorang penguasa yang terhormat.

“… Tepat sekali, Albedo. Itu tepat seperti yang kau duga.”


Climb, Renner, dan Brain diberi tahu oleh beberapa knight yang tersisa jika ada tamu yang sedang menunggu mereka setelah mereka kembali ke istana.

“Blue Rose” meminta untuk bertemu.

Dalam keadaan normal, mereka akan segera dituntun ke ruangan ini, tetapi pakaian trio saat ini cukup tidak pantas. Terutama Renner, yang pakaiannya seperti seorang pelayan ketimbang sebagai seorang putri. Mereka benar-benar basah oleh keringat. Para knight diperintahkan untuk membawa mereka masuk satu jam kemudian, untuk memberikan trio ini waktu yang cukup memperbaiki penampilan mereka.

Tentara Sorcerous Kingdom sedang dalam formasi di luar ibukota dan bisa menyerang kapan saja. Untuk ibukota dan pertahanan kastil, terlihat banyak knight berlalu-lalang. Penyebabnya mereka harus mengurus tugas-tugas kasar, karena tidak ada pelayan di sana.

Sebagian besar pelayan yang ada di istana merupakan putri bangsawan. Mereka lari dari istana ke rumah keluarga mereka. Apakah mereka melihat itu sebagai pilihan teraman.

Dia telah mendengar dari masternya, Renner, kekejaman yang dilakukan tentara Sorcerous Kingdom sepanjang jalan mereka menuju ibukota kemungkinan besar akan dilakukan di sini juga. Itu merupakan deduksi logis. Tidak ada tempat di dalam ibukota yang aman untuk saat ini.

Jadi apa yang bisa dilakukan untuk menjamin keselamatan mereka? Renner menjawab pertanyaan ini dengan menyarankan meninggalkan ibukota.

Karena itu, Climb dan Brain telah mendiskusikan secara rahasia mengenai menyiapkan kereta di luar istana. Jika Renner memutuskan untuk melarikan diri, itu bisa bermanfaat.

Tentu saja, dia tahu Renner benar-benar tidak berniat untuk lari, namun dirinya tidak bisa mengatakan dengan pasti jika masternya tidak akan berubah pikiran. Ini hanya rencana kalau-kalau dia melakukannya.

Climb menyiapkan air dan handuk supaya Renner dapat menyeka keringatnya. Biasanya dia akan menyiapkan bak mandi untuknya, tetapi mereka hanya punya waktu satu jam sehingga itu tidaklah mungkin.

Karena tidak ada pelayan di sana, Climb tidak punya pilihan lain untuk membantu merias Renner. Tugas untuk menyiapkan teh kemudian dijatuhkan pada Brain. Adegan pendekar pedang yang membolak-balik lemari mencoba menemukan teh itu benar-benar lucu meskipun Climb merasa kasihan padanya.

Setelah Renner menyeka keringatnya dan mengoleskan parfum pada tubuhnya sendiri, sembari dia memilih gaunnya, kedua pria itu mandi.

Tidak seperti seorang wanita – tidak seperti sang putri – kedua pria merapikan diri dengan proses yang jauh lebih sederhana.

Mereka menanggalkan pakaian, membiarkan air mengalir dari atas kepala mereka, dan menyekanya. Mengulanginya sekali lagi dan kemudia selesai. Tentu, mereka juga harus mengganti pakaian dengan yang bersih, tetapi keseluruhan prosesnya tidak lebih dari sepuluh menit untuk keduanya.

Satu jam yang terasa lebih pendek dari yang seharusnya dilewati dan ketiganya sudah siap. Renner sepertinya telah mencium bau yang tidak sedap ketika dirinya mengendus rambut dan pergelangan tangannya. Climb tidak bisa mencium aroma keringat, tetapi dua samar-samar bisa mencium aroma minyak dan asap yang menempel pada rambut masternya ketika Renner memasak. Seharusnya tidak terlalu tercium setelah tercampur dengan aroma parfumnya.

Para knight tidak hanya membawa Lakyus masuk.

Melainkan seluruh anggota Blue Rose. Lakyus merupakan satu-satunya yang mengenakan gaun, sisanya memakai perlengkapan perang. Mereka terlihat seperti pengawal seorang wanita bangsawan.

Climb sedikit terkejut.

Itu karena, Lakyus tidak datang sendirian kesini seperti biasanya, cukup jarang melihat mereka semua bersama. Ini mungkin pertama kalinya mereka berkumpul bersama.

“Kau telah menyisihkan waktu di sela-sela waktu sibukmu, namun aku masih membuatmu menunggu. Aku sangat menyesalinya.”

“Tidak, tidak apa-apa. Aku tidak memberitahumu mengenai kedatanganku sebelumnya, jadi ini kunjungan mendadak. Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk menemui kami — ah, tidak perlu menyiapkan teh. Bagaimanapun, kita tidak punya banyak waktu.”

Ketika Renner hendak mengambil teh yang telah didapatkan Brain, Lakyus menghentikannya.

“Oy, Lakyus. Aku merasa kita seharusnya memiliki cukup waktu untuk meminum secangkir teh kan?”

Seseorang yang mengatakannya adalah Evileye. Anggota Blue Rose lainnya mengangguk setuju, menyebabkan ekspresi terkejut muncul di wajah Lakyus.

“Kalian… ingin minum teh?”

Evileye mendesah berat dengan sengaja.

“Sang putri telah begitu ramah untuk menyambut para tamu yang menerobos masuk tanpa pemberitahuan dengan menyajikan teh, akankah pemimpin kita begitu kejam sehingga menolak tawarannya? Sungguh seseorang yang tak peka. Oy, otak otot.”

Dia tidak menerima tanggapan dari Gagaran. Meskipun tatapan semua orang di ruangan itu menatap ke arah Gagaran, Evileye menganggap Gagaran telah mendengar dan mengalihkan pandangannya.

“Oy, kau yang di sana dengan ekspresi malu-malu, wanita yang akan langsung tenggelam ke dasar jika dia jatuh ke laut.”

Dia memang benar-benar diabaikan. Evileye menghela napas panjang sebagai tanggapan atas perilakunya.

“Oy, Gagaran.”

“Oy? Oh? Apa? Untuk apa kau memanggilku? Kenapa Evileye?”

“… kau ingin meminum sesuatu juga kan?”

“Ahhh, ya. Aku ingin membasahi tenggorokanku. Jika boleh, aku mungkin bisa minum sepuluh liter.”

“Bahkan … Apa kau tahu seberapa lama waktu yang telah kau habiskan hanya untuk mendengarku mengatakan itu … Mmm, terserahlah. Terlepas dari seberapa lamanya, bos, bisakah kami mendapatkannya juga?”

“Haaaah, tentu saja tidak apa-apa… kau juga mau minum Evileye?”

Mata Lakyus melebar saat dia mengatakannya. Memang benar, jika Evileye juga minum, Climb akan sama terkejutnya dengan dirinya. Untuk meminum teh, Evileye harus melepas topengnya tetapi sejauh yang diketahui Climb, magic caster ini tidak akan melepas topengnya dalam keadaan apa pun.

Evileye tidak menjawab pertanyaannya, tetapi hanya mengangkat bahu seolah mengatakan tidak.

“Kalau begitu, kita akan minum teh sembari bos dan putri mengobrol. Aku jamin tehnya akan lebih nikmat dari yang kau harapkan.”

“Eh? Kau sudah menuangkannya ke dalam Warm Bottle ya?”

Lakyus mengucapkannya dengan ekspresi terkejut ketika Tia mengangguk.

“Kupikir tehnya tidak akan cukup, mempertimbangkan jumlah orang yang ada di sini. Kita lihat saja nanti.”

Tia mulai menuangkan teh, tetapi gerakannya begitu tidak efisien sehingga sebagian besar tehnya tumpah ke lepek gelas. Budaya minum teh kerajaan ini tidak menentukan jika teh harus diminum dari lepek gelas, itulah sebabnya Lakyus mengerutkan alisnya. Seperti yang dia katakan, Warm Bottle tidak akan cukup untuk menyajikan teh kepada delapan penghuni ruangan ini.

“Aku tak usah.”

“Ah, saya juga.”

Climb menolak cangkir setelah Brain juga melakukannya. Itu bukan berarti mereka memiliki cukup teh untuk sisanya. Bahkan ketika keduanya diperhitungkan, jumlah teh yang mereka miliki masih tidak memadai untuk enam orang.

“Kita jarang meminum minuman ini … Kalian benar-benar tidak tahu cara berterima kasih.”

Bisakah kau benar-benar menganggap menyajikan teh sebagai tindakan rahmat tamah yang baik? Mungkin itu tak sesuai dengan definisinya.

Setelah menuangkan lima porsi teh, Tia mengayunkan Warm Bottle itu seolah-olah untuk menekankan kenyataan jika isinya kosong.

“Ah – kosong – sayang sekali – tehnya kurang, terutama untuk teman peminum 10 liter kita disini—” Tia melirik Tina, “tidak akan ada rumor yang tersebar seorang putri ketiga tidak memiliki cukup teh untuk disajikan pada seluruh tamunya kan?-”

Lakyus menggosok dahinya ketika Renner tertawa, “ufufu.”

“Itu membuatku resah. Meskipun, pada saat seperti ini, mungkin tidak bijaksana untuk mempertahankan citra gaya hidup mewah. Tetapi kupikir cukup perlu untuk menunjukkan keluarga kerajaan masih memiliki masa depan. Jadi, haruskah aku mengambilkan tehnya lagi?”

“Istirahat dulu, Renner.”

“Lakyus. Ada batasan seberapa banyak kau bisa tetap berterimakasih untuk niat baik seseorang kan?”

“Eh?”

Lakyus tidak percaya ketika Renner tersenyum masam.

“Haruskah aku mengeja-nya untuknya? Nona Evileye.”

“Mmmm. Sepertinya dia mulai mengerti … tolong ajari pemimpin kami yang keras kepala ini.”

“Baiklah kalau begitu… Momen terakhir akan segera tiba untuk kita. Semua orang hanya berusaha mengulur waktu sebanyak mungkin untuk kita berdua.”

“… Ahhh, jadi itu sebabnya.”

Climb akhirnya saat ini mengerti jika dia telah melakukannya.

Nomralnya, para petualang tidak bisa berpartisipasi dalam sebuah perang, ini merupakan langkah yang dilakukan untuk mencegah jumlah korban lebih tinggi dari biasanya.

Namun, karena musuh kali ini merupakan undead dan telah melakukan pembantaian dalam skala besar, Guild Adventurer Kingdom telah menerima permintaan kingdom untuk mengklasifikasikan perang ini sebagai quest yang bisa diterima. Kasus ini sama seperti serangan iblis Jaldabaoth, guild telah menyetujui mobilisasi anggotanya.

Rincian persis mengenai bagaimana mereka akan beroperasi, sepenuhnya diserahkan kepada kebijaksanaan para petualang.

Beberapa bahkan memilih untuk bergabung dengan pasukan tentara yang dikirim hampir seminggu yang lalu, dan tidak ada yang kembali. Beberapa tim lain telah memilih untuk bertahan di ibukota.

Ada beberapa tim tingkat atas yang menghilang baru-baru ini, mungkin mereka telah menerima undangan Theocracy atau menyelinap keluar dan melarikan diri dari ibukota atas kemauan mereka sendiri.

Lakyus dan timnya, Blue Rose, merupakan salah satu tim yang telah memutuskan untuk bertahan di ibukota.

Mereka baru saja menerima informasi tentara Sorcerer King telah mendirikan camp di dekat ibukota, Lakyus dan yang lainnya tidak boleh menyia-nyiakan waktu berharga yang tersisa.

Namun karena itu, Lakyus secara sadar menyisihkan waktu untuk bertemu dengan temannya, Renner. Mempertimbangkan itu sangatlah mungkin— tidak, mereka 100% yakin ini merupakan terakhir kalinya dia bisa bertemu dengan Renner.

Sebenarnya, Renner sudah menyiapkan teh untuk lima orang. Yaitu untuk Evileye, Gagaran, Tia, Tina, dan tentu saja, yang diberikan kepada Climb. Namun, sepertinya tidak ada dari mereka yang berencana untuk meminumnya.

Jika mereka mengatakan langsung kepada Lakyus bahwa dirinya harus mengalokasikan waktu berharga ini untuk mengucapkan selamat tinggal kepada temannya, dia pasti akan menolak gagasan itu hanya berdasarkan kepribadiannya. Namun, jika mereka mengutarakannya sebagai secangkir teh bersama teman-temannya, dia mungkin akan jauh lebih mudah menerima gagasan itu. Teman-temannya hanya bersikap perhatian.

“… Maka, Brain Unglaus. Aku ingin membuatkan teh untuk yang lainnya, teh yang paling nikmat. Tunjukkan padaku dimana tempat memanaskan airnya.”

“Oh. Kesini.”

{Itu mungkin sebabnya.} Tina dan Tia merupakan pengawal yang bagus tetapi mereka berdua keluar dari ruangan.

“Haruskah aku ikut juga?”

“Hmmm? Oh, jangan pedulikan itu. Itu bukan alasan mereka membawanya keluar.”

Climb bertanya pada Evileye dan hanya menerima jawaban negatif darinya.

{Eh?} Climb agak bingung. Jadi mereka tidak berusaha membiarkan Renner dan Lakyus mengobrol empat mata dengan menyuruh semua orang keluar dari ruangan?

Gagaran dan Evileye sepertinya tidak mau pergi sama sekali. Apakah dia benar-benar hanya ingin Brain membawanya ke tempat memanaskan air?

“Karena semua orang bersikeras, mari kita mengobrol sedikit sebelum tehnya jadi. Ah! Sebelum itu, aku memiliki pertanyaan. Di mana kau tadi? Jika kau sibuk mempersiapkan apa yang akan terjadi, maka aku akan segera pergi.”

“Apakah kau mengetahui mengenai panti asuhan yang aku dirikan? Aku tadi memasak disana dan baru saja kembali.”

“Hah? Memasak? Di saat seperti ini?”

Lakyus secara vokal mengekspresikan keterkejutannya. Climb juga terkejut ketika Renner memintanya menyiapkan kereta agar dia bisa memasak untuk anak-anak itu.

Namun, setelah tiba di lokasi dan melihat keadaan tempat itu, Climb mengetahui dia telah membuat keputusan yang tepat.

“Ya. Saat ini pasukan Sorcerer King telah mengepung ibukota selama beberapa hari, ditambah pasukan yang dikirim beberapa hari yang lalu juga telah menghabiskan banyak makanan. Jatah kita hanya terus berkurang dari hari ke hari. Itu sebabnya aku mengambil beberapa bahan makanan yang tersimpan di sini dan memasaknya untuk mereka.”

Panti asuhan tidak memiliki banyak makanan yang tersisa. Selain itu, harga makanan telah meningkat karena situasi yang memburuk di ibukota, sehingga panti asuhan tidak bisa lagi mempertahankan operasinya sendiri. Tak ada pilihan lain selain mengurangi jam makan perharinya serta porsi makanan yang diterima anak-anak. Itu sebabnya dia memilih memasak untuk mereka, karena dirinya sudah berada di sana lalu secara rahasia memberikan mereka makanan dan juga ini merupakan kesempatan langka bagi Renner.

Gumaman Renner mulai melintas di pikiran Climb.

Renner, ketika dia memasak untuk anak-anak dengan keterampilan kulinernya yang bagus, mengatakan, “Aku ingin membagikan gandum kepada semua orang, tetapi kita tidak memiliki cukup banyak yang tersisa. Aku sangat munafik.”

Berhadapan dengan tentara Sorcerous Kingdom yang telah mengalahkan 400.000 tentara besar Kingdom, mereka tidak memiliki harapan untuk melawannya. Ibukota ditakdirkan untuk hancur dan begitu pula keluarga kerajaan.

Namun, tidak peduli seberapa keras dia mencoba meyakinkan Renner yang lembut untuk melarikan diri, dia tidak akan bergerak sedikitpun.

Terjebak di antara kesetiaannya dan perasaannya sendiri, Climb merasakan sakit yang menyesakkan di hatinya. Namun, dia tidak bisa membiarkan kedua orang di depannya menyadari itu dalam keadaan apa pun.

Climb dengan paksa menekan rasa sakit yang terasa seperti bisa menghancurkannya.

“Kau mungkin satu-satunya bangsawan dalam sejarah yang mengetahui cara memasak.”

“Aku kira tidak. Pasti ada yang lainnya, hanya saja semua tidak dicatat dalam buku-buku sejarah… Anak-anak itu pasti menikmati makanan mereka saat ini, itu sepadan.”

Awalnya, masakan Renner dimaksudkan untuk menjadi makan siang semua orang, tetapi untuk mencegah anak-anak memperebutkan makanan atau pekerja panti memilih pergi meninggalkan mereka, dirinya lalu memasak hidangan lain untuk menemani hidangan utamanya. Saat ini perut semua orang yang ada disana pasti sudah sangat kenyang.

Dia telah memasak begitu banyak hidangan sehingga akan cukup tersisa untuk dijadikan makan malam.

Omong-omong, Renner, yang bahkan tidak bisa mengupas kentang sebelumnya, telah meningkatkan kemampuan memasaknya dengan sangat baik. Ketipisan kulit yang bisa dia kupas saat ini sungguh menakjubkan.

Wanita ini, dengan kilauan cahaya di matanya, sepertinya secara alami berbakat dalam seni kuliner.

Renner tampaknya telah menyadari tatapan Revenant Climb, dan tersenyum sebagai tanggapannya.

Senyum yang hangat dan ramah.

Percakapan keduanya dipenuhi dengan topik optimis, mungkin mereka secara tidak sadar menghindari diskusi mengenai nasib mereka yang tak terelakkan. Atau lebih tepatnya, apakah justru karena mereka mengetahui nasib apa yang menunggu mereka sehingga mereka menghindari membicarakannya?

Tidak lama kemudian, Tia kembali sendirian dengan Warm Bottle.

“Di mana Tuan Unglaus dan Tina?”

“Hmmm? Mereka berdua keluar mencari makanan penutup untuk disandingkan dengan teh ini, jadi aku kembali lebih dulu.”

“Makanan penutup?” Lakyus setengah-menyipit pada Tia, “Seharunya kita yang membawanya-”

“—Aku tidak keberatan jadi tak makasalah. Seharusnya aku membuat banyak kue untuk dijadikan makanan cadangan. Karena aku menambahkan banyak gula di dalamnya, itu dapat digunakan sebagai makanan penutup.”

“…Lihat? Bahkan sang putri setuju. Oni … bos Oni hanya pelengkap. Juga, ini merupakan pertama kalinya aku mencoba menyeduh teh.”

Teh yang mengalir keluar dari Warm Bottle terlalu kental.

“Hei. Bos oni. Rasanya nikmat untuk ditelan dalam satu tegukan. Teh ini memiliki tekstur yang bersih.”

“Terima kasih.”

“Rasanya benar-benar luar biasa, kurasa Yang Mulia putri tidak akan membutuhkan rekomendasiku. Ambilah bagianku juga, ini sudah dingin.”

Tia meletakkan cangkir tehnya yang penuh di depan Renner.

Pelanggaran etiket semacam itu membuat Lakyus agak marah, tetapi Tina tetap diam. Climb merasa jika dirinya juga harus menutup mulut.

Lakyus mengambil cangkirnya dan menghirup aroma harum. Ekspresinya menjadi aneh.

“Armoanya terlalu kuat…”

“Jangan pedulikan itu.”

“… tentu saja aku akan keberatan. Ini merupakan pertama kalinya aku meminum teh sekental ini. Berapa banyak daun yang telah kau masukkan…?”

“Hei, hei. Aku tahu kau mengatakan ini merupakan pertama kalinya untukmu, tetapi tidak perlu merasa bahagia seperti itu~”

“Jadi itu sebabnya mereka mencari makanan penutup, untuk menyeimbangkan rasa. Dapat dimengerti… Renner, kau benar untuk tidak meminumnya.”

“Kasar sekali. Bahkan istilah ‘oni’ sangatlah cocok untukmu, bos oni.”

“Haaaah, lain kali cobalah membuat sesuatu yang lebih bisa dimakan.”

Lakyus mengambil cangkirnya dan menyeruput dari sudut bibirnya. Ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang menyerupai sebuah karakter. Seberapa kental tehnya?

Tia, yang berdiri di sebelah Lakyus meliriknya dan bertanya dengan nada datar, “apakah itu enak?”

“Hah? Jika aku boleh jujur, ini terlalu pahit. Aku tidak akan menyebutnya ena— hugh!”

Ekspresi Lakyus mulai berubah.

Dia mendorong Tia ke samping dan memegangi perutnya. Benda-benda di atas meja bergetar saat dia mengalami kejang-kejang.

Di tengah-tengah kekacauan ini, Climb akhirnya menyadari gaun Lakyus telah berubah berwarna merah. Sebuah benda tipis, seperti jarum telah ditusukkan padanya.

Dia tidak bisa memahami apa yang terjadi. Otaknya tidak bisa menerima apa yang dilihatnya saat ini.

Siapa yang menyangka Lakyus akan ditusuk oleh Tia.

Lakyus juga dalam keadaan bingung, bahkan tidak memberikan sihir penyembuhan pada dirinya sendiri. Seolah-olah dia mencoba yang terbaik untuk memahami apa yang terjadi.

Gagaran berlari ke sisi Lakyus.

Climb berpikir dia akan segera bergegas untuk membantu Lakyus, tetapi keadaan menjadi lebih buruk ketika Gagaran memukul perut Lakyus dengan pukulan kencangnya.

Lakyus tetap tidak berdaya melawan serangan itu, berpikir temannya sedang bergegas untuk membantunya. Gagaran memukul perutnya dengan kekuatan brutal.

“Ooooof.”

“Biarkan aku yang melakukannya.”

Tia menusuk Lakyus dengan jarum lainnya saat nafasnya habis, membuatnya tidak bisa bernapas.

Mata Climb tak salah lihat, ada semacam cairan di ujung senjata itu. Pasti semacam racun.

“Yang Mulia.”

Climb menarik tangan Renner, menyembunyikannya di balik tubuhnya, dan bergerak ke salah satu sudut. Tia dan Gagaran mengabaikannya sepenuhnya, memilih untuk berulang kali menyerang Lakyus sebagai gantinya.

Lakyus mencoba yang terbaik untuk menghindari serangan mereka, tetapi dihadapkan dengan combo kedua orang itu, dia bahkan tidak bisa membela diri dengan baik, tidak pernah bisa menghindar. Lakyus yang tak bersenjata tidak bisa melakukan perlawanan efektif menghadapi Tia dan Gagaran yang sepenuhnya bersenjata.

Climb berteriak dengan marah ke arah seseorang yang menyaksikannya dalam diam, Evileye.

“Apa yang sedang terjadi!!”

“Jangan bergerak. Kalau tidak, aku tidak hanya akan menargetkanmu dengan sihirku, tetapi juga sang putri.”

Climb hendak menghunus pedangnya tetapi berhenti sendiri ketika dia melihat Evileye telah mengangkat tangan ke arahnya dan Renner. Dia secara alami seharusnya membantu Lakyus, tetapi Renner lebih penting baginya. Melindungi Renner menjadi prioritas mutlak.

Climb ingin membimbing Renner keluar dari ruangan, tetapi saat dia hendak mengeluarkan kristal pedang pendeng yang berada di kantung celananya.

“Jangan bergerak. Jangan tinggalkan ruangan ini. Jika kau tak mematuhiku, aku akan … memotong salah satu kaki putri…? Selama kau mendengarkanku, aku tidak akan menyakitimu.”

Climb tidak berdaya menghadapi ancaman Evileye.

{Jika aku bertemu dengan Brain – jika aku memberi tahu Tina mengenai situasi saat ini…} Ketika Climb merenung, situasi yang tidak biasa di antara anggota Blue Rose terus berlanjut.

Tia kelihatannya menggumamkan sesuatu pada Lakyus.

“Aku sudah cukup lama mengamatinya, mencari cara untuk membunuh Lakyus… Metode biasa pasti akan gagal, maka kugunakanlah kombinasi sihir dan racun. Itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Tentu saja kau tidak bisa bisa menangkal efek dari banyak racun secara bersamaan bukan? Evileye, giliranmu.”

“Baik.”

Kebingungan, ketakukan, dan kesedihan. Rasa sakit bukan satu-satunya hal yang disampaikan dari ekspresi Lakyus, yang menonjol di antara itu semua yaitu ketidakmampuannya untuk memahami apa yang terjadi. Evileye mengucapkan mantra padanya.

“Aku mengerti. [ Resist Weakening ]… Tidak ada gunanya. Dia menangkalnya.”

“Baiklah.”

Gagaran mendaratkan pukulan lagi menuju perut Lakyus, dia meringkuk untuk melindungi bagian tubuhnya yang diserang, seperti kura-kura yang masuk ke dalam tempurungnya. Tia mengambil jarum baru dan menusukannya pada Lakyus tanpa ragu-ragu.

“[ Resist Weakening ]… baiklah. Lalu- [ Charm Person ]. Selesai. Kerja bagus, kalian berdua. Kita berhasil.”

Gagaran dan Tia menjauh dari Lakyus.

“Lakyus, cepat, sembuhkan dirimu.”

“Baik, aku mengerti. Tia, bisakah kau membantuku mengeluarkan ini?”

Lakyus mengatakannya seolah tidak ada yang terjadi. Teror dari pengendalian pikiran membuat Climb gemetar ketakutan.

Tepat saat Tia akan melakukannya, Evileye membuka mulutnya untuk menghentikannya.

“Jangan. Jika sekarang kau memberikan rasa sakit padanya, kau akan dianggap sebagai musuh dan mantra itu bisa lepas. Lakyus, maaf tapi cabutlah sendiri. Jarum itu seharusnya tidak menembus terlalu dalam.”

“Tujuannya hanya untuk menyuntikkan racun, jadi jarumnya sendiri tidak terlalu tebal… itu merupakan jenis senjata yang akan dianggap tidak efektif jika lawanmu mengenakan armor.”

“Aku tahu, tapi mencabutnya sendiri masih memerlukan sedikit keberanian.”

Lakyus menggigit bibir bawahnya dan menarik keluar jarum. Dia kemudian mulai memberikan sihir penyembuhan pada lukanya.

“Gagaran. Buka jendelanya dan biarkan udara masuk… Apa yang harus kita lakukan dengan darah di lantai?”

“Kebanyakan sudah terserap oleh gaunnya sehingga tidak banyak yang berceceran di lantai. Tidak perlu mengkhawatirkan itu.”

Renner membalasnya dengan tenang. Semua orang selain dirinya sendiri berbicara dengan cara yang begitu tenang sehingga Climb merasa seperti apa yang dia saksikan merupakan sebuah ilusi. Seolah-olah dia telah dipindahkan ke dunia yang tidak dikenal.

“Wow. Sama sekali tidak terguncang. Aku sudah mengetahuinya sejak awal kau ini cukup punya nyali ya.”

“Kupikir bukan begitu…” Renner berkata dengan ekspresi bingung, “Aku hanya merasa kalian semua tidak akan saling menyakiti tanpa alasan sama sekali… namun pengendalian pikiran benar-benar mengerikan… Climb, bagaimana kau memikirkannya?”

“Ya, saya pikir juga seperti itu.”

“Jadi… bisakah kalian memberitahu kami mengapa kalian melakukan ini?”

“Bagaimana jika kami mengatakan ‘kami tidak mau’?”

“Apakah kalian tidak sedikit pun minta maaf karena telah mengotori ruangan ini?”

Evileye sepertinya tertawa di balik topengnya.

“Baiklah, tidak ada yang bisa kukatakan tentang itu. Alasannya sederhana. Dibandingkan dengan Kingdom atau yang lainnya, kami yakin hidup sahabat kami jauh lebih berharga. Itu saja.”

“Membantu ibukota merupakan keputusan bos sendiri. Dari awal kami sudah menentangnya.”

“Tapi jika kami mengatakan itu padanya, si bodoh ini pasti akan mengatakan, ‘maka aku akan mempertahankannya sendiri’ atau hal yang serupa. Jadi, kami memutuskan satu-satunya pilihan kami yaitu dengan paksa membawanya pergi, tetapi menculiknya di siang hari pastilah tidak mudah. Kami juga tidak memiliki keyakinan pada kemampuan kami untuk membuatnya menyetujui saran kami, jadi, meskipun kami harus meminta maaf kepada Yang Mulia Putri atas apa yang telah terjadi, kami harus memanfaatkan kesempatan ini.”

Tia dan Gagaran mengangkat bahu setuju. Ini pasti keputusan kolektif yang dibuat oleh Blue Rose kecuali Lakyus. Brain masih belum kembali, maka Tina pasti sedang membuatnya sibuk.

“Tapi tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ini terlalu berlebihan.”

“Haaaah, itu juga yang aku katakan, tapi mereka ini—”

“Akan sangat buruk jika dia menjadi waspada setelah menolak saran kami… untuk menangkap oni… untuk menangkap Lakyus pastilah membutuhkan waktu saat dirinya benar-benar dalam keadaan lengah. Aku mengatakannya berdasarkan pengalamanku.”

“Jadi ini dilakukan dengan rencana yang sudah matang ya?”

“Ya. Kami menggunakan lima jenis racun, tidak membiarkannya memakai perlengkapannya, menggunakan sihir debuff, namun masih harus mengandalkan keberuntungan apakah kami dapat memberikan charm padanya. Itu sebabnya kami harus melakukan seluruh hal ini, jika ada satu elemen saja yang hilang, kami akan gagal. Nah sekarang—” Evileye menepuk tangannya,” setelah Tina kembali, kami akan kembali ke penginapan menggunakan [ Teleportation ], mengambil perlengkapan Lakyus, dan berteleportasi keluar dari kota ini.”

Evileye memandang ke arah Climb dan Renner.

“…Oy, peluang seperti ini tidak akan datang dua kali. Kau tahu kan, aku bisa mengajak kalian? Aku akan berterus terang kepadamu, kerajaan ini akan hancur dan nasib yang menanti putri dari kerajaan yang hancur tidak akan berakhir indah. Ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk melarikan diri.”

Climb tidak bisa menyangkalnya tetapi memandang ke arah Renner.

Bukankah inilah yang dirinya harapkan?

Jika itu merupakan teleportasi, mereka bisa melarikan diri walaupun kota ini telah terkepung. Ditambah lagi, apa yang dikatakan Evileye adalah kebenaran. Entah nasib seperti apa yang menanti Renner, dia tidak akan berakhir bahagia, juga tidak ada cara lain yang bisa diramalkannya. Bagaimanapun, musuh mereka berupa bangsa undead yang menginjak-injak orang-orang tidak bersalah.

“Aku ingin bertanya. Dimana tempat yang kalian tuju?”

“Ya, hal paling pertama, kami harus meninggalkan kerajaan ini. Mengenai itu… kemungkinan kami akan menuju kearahSelatan Tenggara. Jika kami terus bergerak ke arah itu, ada kerajaan yang sudah lama menjadi reruntuhan. Di ibukotanya – kami akan menuju reruntuhan yang telah dibersihkan oleh api. Karena tempat itu cukup jauh, kami harus berteleportasi beberapa kali. Mmmm, bagaimanapun juga itu merupakan wilayah yang jauh, wilayah yang tak akan kalian dengar sebelumnya.”

“Begitukah…”

Renner sedikit menundukkan kepalanya. Apakah dia ragu-ragu? Tidak lama kemudian, dia mengangkat kepalanya seolah-olah dirinya telah membulatkan keputusannya.

“Terima kasih, tetapi aku tidak bisa ikut.”

“Begitukah…”

Evileye tidak berbicara lagi.

Perasaan panik mulai muncul di hati Climb. Jika itu merupakan keputusannya, maka tak ada nasib baik yang menanti Renner. Hanya itu yang bisa dia pikirkan.

Loyalitas sejati. Bukankah itu yang ditunjukkan oleh para anggota Blue Rose? Haruskah dia membawa Renner ke tempat yang aman, terlepas dari apakah dia harus melakukannya secara paksa atau tidak?

Untuk menghindari rasa frustrasi yang muncul di dalam dirinya, dia memandang ke arah Renner yang senyumnya mengatakan kepadanya jika dirinya telah mengerti sepenuhnya. Ini merupakan ekspresi yang ditunjukkan pada Climb setiap kali Renner ingin mengungkapkan kebenaran.

“Climb. Sebagai keluarga kerajaan, aku harus memenuhi tugasku bahkan jika itu mengorbankan hidupku.”

Dia merasa seolah baru saja dipukul.

Sementara keberadaan Renner sendiri sangatlah penting baginya, nilainya setara dengan status yang dia miliki sebagai pemilik kerajaan.

Dalam situasi ini, harus memenuhi tugas seorang anggota keluarga kerajaan bukanlah hal yang bagus sedikitpun. Namun, Renner, sebagai keluarga kerajaan, sebagai seseorang yang mempedulikan rakyatnya, masih bersedia untuk tetap setia pada status keluarga kerajaannya sampai akhir.

Dibandingkan dengannya, seseorang yang memikirkan hanya untuk bertahan hidup, Renner sungguh murah hati kan?

Climb membulatkan tekadnya.

Tanggung jawabnya pada akhirnya, yaitu membuat Renner hidup selama mungkin, meskipun jika hanya sedetik lagi. Dia akan mati di tangan pasukan Sorcerous Kingdom, melayani sebagai perisai Renner sampai akhir.

Pada saat yang sama Climb menguatkan dirinya, dia mendengar Evileye dengan pelan berkata, “berisik sekali.” Ketukan datang berdering dari pintu saat dibuka, Brain dan Tina berdiri di luar, memegang nampan yang terisi penuh.

“Kami menemukannya dan membawa beberapa makanan penutup.”

“Karena ada seseorang yang mengajakku ngobrol ngalor-ngidul, jadi membutuhkan waktu agak lama, apakah kami bisa membuatnya— Apa? Apa yang terjadi di sini?”

Meskipun jendelanya terbuka, Brain masih bisa menyadari aroma samar darah yang masih melekat. Dia menggeser tumpuan tubuhnya ke bawah saat dia dengan hati-hati melihat sekeliling ruangan.

“… Nona yang di sana. Ada darah di bajumu – apakah ada seorang penyusup yang masuk?”

“Tidak-”

“Jangan pedulikan itu. Tanyakan saja kepada Yang Mulia mengenai hal itu setelah kami pergi.”

Gagaran menyela Lakyus yang hendak berbicara. Mungkin dia masih merasa gelisah, Brain melirik Renner. Seseorang bisa merasakan pertanyaan ‘apakah semuanya baik-baik saja?’ dari tatapan matanya. Jika Renner merespons dengan negatif, dia mungkin akan menghunuskan pedangnya.

“Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu diwaspadai.”

Pandangan Brain beralih pada Climb.

Climb menjawab dengan cara yang sama seperti Renner.

“…Begitukah? Kalau seperti itu baguslah.”

“Ah, benar. Brain Unglaus, aku memiliki pertanyaan untukmu. Mau pergi dari tempat ini?”

“…apa?”

Setelah mendengar pertanyaan Evileye, Brain mulai menyurvei ruangan itu sekali lagi.

“Bagaimana dengan rencana mereka berdua?” Brain menjawab pertanyaannya sendiri ketika pandangannya terayun ke arah Climb dan Renner. Bibirnya melengkung tersenyum setelah Evileye menggelengkan kepalanya. “Begitukah. Jika itu yang terjadi- tidak, apa pun yang terjadi, aku tidak akan memilih untuk melarikan diri – lagipula tidak ada gunanya… Sejujurnya… dahulu aku pernah mengatakan jika aku akan memilih jalan yang paling sedikit kesulitannya, namun sekarang aku harus menarik kata-kata itu.”

“…Benarkah? Aku juga berpikir kau akan menjawabnya seperti itu, ternyata aku benar”

Para anggota Blue Rose berkumpul di dekat Evileye dan tiba-tiba menghilang seolah-olah mereka sudah mengucapkan selamat tinggal. Yang tersisa hanyalah bau darah dan teh hitam.

Ini seharusnya menjadi perpisahan terakhir mereka, namun itu berakhir dengan begitu tiba-tiba. Tetapi, mengingat rasa sakit yang mereka berdua rasakan ketika mereka tidak punya pilihan selain berpisah, mungkin tidak ada alternatif yang lebih baik dari perpisahan seperti ini.

Bagaimanpun, itu hal yang dipikirkan Climb, bukan Renner.

Mental Renner pasti terguncang, jadi bagaimana seharusnya dirinya menghiburnya? Climb mencuri pandang kearah Renner dan melihat dirinya yang lesu. Senyum lembut yang biasanya menggantung di wajahnya kini tak terlihat, seperti daritadi dia mengenakan sebuah topeng.

Perpisahan itu pasti memiliki dampak yang ekstrem baginya.

Climb berdiri di sebelah Renner.

“Putri, saya bisa membayangkan keterkejutan yang pasti anda alami saat ini, tetapi…”

Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Lebih akurat jika dikatakan dirinya tidak ingin menyelesaikan kalimat itu. Sementara Climb ingin mengatakan bahwa dia akan berada disisinya sampai akhir, bagaimana dia bisa dibandingkan dengan petualang peringkat Adamantite, yang merupakan seorang wanita bangsawan dan teman Renner. Tetap saja, dirinya harus menghibur sang putri, kemudian dia memutar otaknya lagi.

Mungkin keinginannya tersampaikan dengan cukup baik, karena ekspresi Renner tiba-tiba berubah. Ekspresinya kembali menjadi senyumnya yang normal dan lembut.

“Aku baik-baik saja~, Climb… Jangan terlalu dipikirkan, Brain-san memiliki hal penting untuk dilakukan bukan?”

“Ahhh… Maka, Yang Mulia, Climb. Waktunya tepat, saatnya aku mengucapkan selamat tinggal. Aku minta maaf tetapi aku harus pergi sekarang.”

Perkembangan situasi mendadak macam apa ini?

Climb tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan Brain, jadi dia mengajukan pertanyaan.

“Kemana anda akan pergi?”

“Hmmm? Aku berencana untuk melawan Sorcerer King sendirian. Mmm, kemungkinan besar aku akan kalah, namun setidaknya aku bisa mengurangi salah satu bawahannya.”

Brain mengambil pedang yang tersimpan di sisi pinggangnya, melemparkannya ke arah Climb, dan berkata, “Aku mengembalikan ini.”

“Apa !? Apa yang anda bicarakan!? Satu-satunya yang pantas untuk memegang pedang ini merupakan seseorang yang mewarisi keinginan Stronoff-sama! Brain-san!”

“Oy oy, aku sudah bilang padamu dulu kan? Aku tidak mewarisi keinginannya. Pertama-tama, ini merupakan salah satu harta kerjaan kan? Itu tidak cocok untuk seseorang serendah diriku. Putri, maaf, tapi kumohon kembalikan itu pada Yang Mulia.”

“Aku mengerti.”

“Yang Mulia Putri!”

“—Climb, Brain-san sudah membuat keputusan.”

“Seperti yang diharapkan dari putri, kau wanita yang baik. Sejujurnya, aku tidak benar-benar mengerti wanita. Mmmm, bagaimana aku mengatakannya.” Brain berdiri tegap. “Ini mungkin perpisahan terakhirku. Putri, aku benar-benar menikmati waktuku di sini. Climb— saat itu, aku beruntung bertemu denganmu dan Sebas-san. Itu membangkitkanku… dan aku berterimakasih untuk itu.”

Brain memunggungi mereka dan mulai melangkah maju.

“Anda dan Gazef, sebuah kehormatan bagi saya untuk bertemu kalian berdua.”

Ketika kata-kata itu keluar, siluet Brain menghilang di balik sisi lain pintu.

“… Bagaimana bisa berakhir seperti ini… Sorcerer King… andai saja kau tidak ada…”

Segala sesuatu di sekitar Climb telah hancur. Segala sesuatu selain dari yang paling penting baginya telah direnggut dan bahkan itu mungkin tidak lama untuk dunia ini. Waktunya hampir habis.

“Climb, aku ingin menyerahkan pedang ini kepada otou-sama terlebih dahulu.”

Ketika suana hati depresinya melanda, kata-kata itu berhasil menariknya kembali. Memang benar, sampai saat itu tiba, dia bersumpah untuk memberikan segalanya pada Renner – untuk menyelamatkan wanita yang telah menyelamatkan dirinya, untuk melayani seseorang yang paling penting baginya.

“… ano, itu, ini, umm.” Suara yang keluar dari mulut Renner sama sekali tidak cocok dengan suasana ruangan itu. “Bolehkan aku memegang pedangnya sebentar?”

“Eh? Baik, silahkan!”

Setelah dia menyerahkan pedangnya, Renner mengeluarkannya.

“Ini cukup berat.”

Renner menyerahkan sarungnya kepada Climb. Bilah dari Razor Edge tajam dan bisa memotong armor seperti kertas. Sebelum Climb bisa mengatakan ‘itu berbahaya,’ Renner mulai melambaikan pedang di udara.

Climb sedikit terkejut. Memang benar, karena beratnya, gerakannya goyah, menyebabkan ujung bilahnya menyentuh lantai. Itu murni karena Renner tidak memiliki cukup kekuatan untuk menggunakannya, karena latihannya masih berupa menyesuaikan postur dan gerakannya. Dia bisa merasakan ketajaman mata pedang dari jauh. Jika seorang pria tanpa pengalaman mengayunkan pedang ini, pria itu tidak akan bisa membuat pedang ini bersinar, seperti yang dilakukan Renner.

“Uuugh – Hmmm. Aku tidak terlalu cocok untuk menggunakan ini.”

“B-Bukan, bukan seperti itu. Saya yakin jika anda lebih banyak berlatih, anda pasti bisa menang melawan saya dalam sebuah duel.”

“Jangan bercanda. Ditambah lagi, sangatlah kecil kemungkinan untukku memegang sebuah pedang lagi.”

Renner menyarungkan pedang setelah Climb menyerahkan sarung pedang padanya dan mengembalikannya kepada Climb.

“Lalu, ayo kita menemui otou-sama, tetapi sebelum itu—” Renner memandang dirinya sendiri.

“Aku perlu melakukan beberapa persiapan.”


Brain Unglaus melangkah melalui jalanan kosong di ibukota. Biasanya jalan-jalan ini akan dipenuhi keramaian, namun hari ini tidak ada seorangpun yang dapat terlihat. Semua orang bersembunyi di rumah mereka karena takut pada Sorcerer King, tetapi Brain menyadari itu tidak akan memberikan mereka keselamatan.

Cukup lama Brain berada di sisi Renner sehingga bisa menyadari Sorcerer King tidak punya alasan untuk tidak menghancurkan ibukota.

Namun, jika seseorang bertanya kepadanya “bagaimana kita bisa selamat?” dia tidak akan tahu bagaimana menjawabnya.

Jika semua orang berkoordinasi dan melarikan diri dari ibukota ke segala arah, pasti beberapa dari mereka akan berhasil keluar hidup-hidup. Itulah satu-satunya jawaban yang dimilikinya.

Brain melihat ke arah bangunan di sepanjang jalan, setiap pintu dan jendela tertutup rapat. Mereka pasti sengaja dikunci dari dalam sehingga sulit untuk memasukinya.

{Sekarang … di balik pintu itu pasti ada beberapa orang yang ingin bunuh diri atau bahkan satu keluarga telah mati…}

Tidak mungkin hal itu tidak terjadi.

Rumor tentara Sorcerer King saja sudah menyampaikan sebuah teror.

Dia memikirkan bagaimana situasi ini dapat berbalik bila Tuhan menghendakinya. Jika setiap penduduk di ibukota bisa bangkit untuk membalas dendam – meskipun itu akan sia-sia, mungkin saja akan membuat musuh sedikit gentar. Tetapi agar itu terjadi, seseorang harus menyatukan para penduduk di bawah satu bendera.

Jika itu adalah sang putri, dia mungkin bisa melakukannya, tetapi dirinya sepertinya tidak ingin bergerak seperti itu.

{Kalau bukan aku di sini, tetapi dirinya, apakah semuanya akan berubah berbeda…? Mungkin saja.}

Dia sangat menyadari jika mereka tidak memiliki peluang untuk menang dalam pertempuran ini, melihat dengan matanya sendiri ketika pasukan sebesar 400.000 orang berangkat. Brain sangatlah yakin. Bahkan, dia tidak melihat peluang 0,01%- tidak, 0,000001% atau malah 0,0000000001% yang bisa mereka menangkan.

Zanac mungkin telah memimpin mereka dalam misi bunuh diri, tetapi itu bukan untuk sebuah angan-angan tinggi. Yang dia lakukan sesuai dengan taruhan terbaik mereka dalam skenario itu.

—Seperti apa yang akan dilakukan Brain.

Brain tertawa dalam kesendiriannya dan merasakan sesuatu.

{Apakah udaranya… berubah?}

Pada kenyataannya tak ada yang berubah, ibukota masih berbau seperti biasanya, tetapi ada perbedaan yang nyata. Ini merupakan sesuatu yang bisa disadari seorang warrior yang telah melalui pertempuran mempertaruhkan nyawa. Itu agak berbeda dari bau yang bisa dicium dengan hidung, hanya semacam bau psikologis.

Itu aroma yang sama dengan yang dia cium ketika dirinya dan Climb melihat ke arah langit malam E-Rantel.

Bau kehilangan dan kekalahan.

{Apakahh tentara Sorcerer King sudah melakukan gerakan?}

Itulah satu-satunya alasan dia bisa memikirkan perubahan mendadak seperti ini.

Kesempatan telah datang.

Jika Brain tidak menggunakan trik apa pun ketika mendekati Sorcerer King, kemungkinan dia bisa sampai di sisinya benar-benar rendah. Tidak, itu pernyataan yang meremehkan – sangat benar jika dikatakanya dia tidak memiliki kesempatan sedikitpun.

Namun, ada kemungkinan dia bisa mencapai tujuannya di tengah kekacauan pertempuran. Tentu saja, itu tergantung pada situasi keamanan kamp musuh. Namun, untuk menginjak-injak sebuah kota sebesar ibukota, pasukannya membutuhkan waktu dan kemudian, menurunkan penjagaannya.

Brain berhenti berjalan untuk merenungkan apa yang dilakukan selanjutnya dan melihat tembok kota berubah putih.

Seolah-olah cat putih telah dituangkan di atasnya.

Jeritan bisa terdengar dari jauh.

Ini merupakan awal dari pengepungan. Jeritan itu datang dari tempat penampungan sementara yang dibangun untuk para pengungsi dari kota-kota lain di dekat tembok kota. Target musuh yaitu kastil, jadi mungkin tidak akan ada pengungsi yang berlari menuju Brain – menuju kastil.

{Apa yang harus aku lakukan? Apakah lebih baik meninggalkan rencana awal begitu pengepungan dimulai?}

Rencana awalnya yaitu untuk keluar dari ibukota terlebih dahulu dan menunggu saat pasukan musuh memasuki ibukota. Dia berencana untuk menyelinap melewati pasukan ketika pengepungan dimulai lalu mendekati Sorcerer King.

Namun, jika musuh sudah memasuki ibukota, akan lebih baik baginya untuk menyembunyikan diri saat ini, menunggu tentara pergi, dan kemudian keluar dari tembok kota.

Tetapi jika dia melakukan itu, ada kemungkinan besar Sorcerer King mungkin memilih untuk meninggalkan kampnya. Dia harus mencari tahu di mana Sorcerer King berada sehingga dia tidak akan membuang waktu untuk berlari tanpa tujuan.

Mungkin dia bisa bersembunyi di dekat kastil dan menunggu sampai Sorcerer King memimpin pasukannya ke dalam untuk menyerang.

Yah, bagaimanapun juga—

{Semua rencana ini bergantung pada cara diriku bersembunyi.}

Bisa dikatakan, dia tidak harus menutupi kehadirannya dengan sempurna seperti rogue atau assassin. Dia pasti baik-baik saja selama dirinya bersembunyi dari pandangan musuh.

Sementara dia mempertimbangkan tempat terbaik untuk menyembunyikan diri, gerbang kota mulai runtuh. Pecahan peluru putih yang tertancap pada gerbang memantulkan cahaya terang gemerlap indahnya sehingga Brain tidak bisa untuk tidak berhenti dan mengagumi pemandangan ini, bahkan dalam situasi seperti ini.

{Apakah itu… semacam skill?} Tetapi jika dia memikirkannya, musuhnya adalah Sorcerer King, seseorang yang bisa men-summon semua mahluk mengerikan. Seharusnya tidak ada yang luar biasa baginya pada saat ini.

Sebesit titik kecil melewati gerbang yang runtuh. Itu hanya terlihat kecil karena begitu jauh, dilihat dari jarak sejauh ini, ukurannya pastilah raksasa jika dibandingkan dengan manusia pada umumnya.

Meskipun telah melangkah melewati ambang pintu, tidak ada tentara yang bergegas untuk menghentikannya. Hanya ada satu alasan kenapa itu terjadi.

Mereka sudah mati.

Seluruh tubuh Brain mulai gemetaran.

Itu pasti monster super atau sesuatu yang serupa.

Sosok makhluk itu perlahan mulai bertambah besar, langkahnya lambat dan tegap.

Ekspresi Brain berubah.

Dia merupakan makhluk dengan kekuatan fisik yang luar biasa, maka kecepatannya seharusnya setara. Bergerak maju melewati jalanan yang kosong ini seharusnya tidak memakan waktu terlalu lama, maka mengapa dia menghabiskan begitu banyak waktu—

{Ahhh, memang benar. Mereka sudah menghancurkan pertahanan ibukota, maka untuk mereka melakukan pembantaian lagi merupakan hal yang mudah. Mereka bisa mengulur waktu sebanyak yang mereka inginkan!}

Jadi tidaklah aneh bagi musuh untuk merasa tenang.

Namun – Brain menyipitkan mata dan melihat ke arah lawannya yang perlahan mendekat namun masih jauh.

Ini merupakan jalan tempat dia dipungut, ditarik paksa oleh Gazef.

Ini merupakan jalan yang dia lewati bersama Climb untuk menyerang fasilitas Eight Finger, tempat dia bertemu Sebas.

Ini merupakan jalan tempat dia membimbing anak-anak yang ditakdirkan menjadi warrior-captain berikutnya.

Jalan ini, saat ini diinjak-injak oleh monster dengan seenaknya. Jalan yang dilalui Brain dengan semua orang yang telah dia temui sedang diinjak-injak.

Tidak bisa dimaafkan.

Brain berubah pikiran. Dia tidak lagi mempedulikan Sorcerer King. Di sini, saat ini, dengan monster di depannya—

—Dia bersumpah untuk membayarnya.

Anak-anak di bawah perlindungan Brain sudah meninggalkan tempat ini.

{Apakah mereka berhasil melarikan diri dengan aman, aku penasaran.} Mereka seperti benih yang dia tabur untuk masa depan, sumber ketenangannya. Mungkin – ada peluang 0,01%, tidak, peluang 0,000001% jika salah satu dari mereka bisa tumbuh menjadi cukup kuat untuk menyaingi Sorcerer King. Angan-angan jauh ke masa depannya ini meningkatkan suasana hatinya.

Brain berdiri di tengah jalan, menunggu lawannya mendekat.

Pasti terlihat sangat bodoh!

Apa yang seharusnya dia lakukan yaitu bersembunyi dan menunggu kesempatan untuk membalas dendam pada Sorcerer King, dan tidak melawan monster yang bertugas sebagai garda depan mereka.

Seseorang yang menyaksikannya mungkin mengatakan sesuatu seperti, “lihatlah kenyataannya, jangan lakukan sesuatu yang begitu bodoh,” kepadanya.

Namun, tujuan hidup Brain yaitu untuk hidup dengan pedangnya, jadi dia lebih suka membabi buta bertarung dengan seluruh kemampuannya.

Setelah waktu yang cukup lama berlalu, akhirnya pada jarak di mana dia bisa melihat cukup jelas sosok lawannya.

Lawannya bukanlah manusia.

Namun, secara naluriah ia dapat memahami jika raksasa berwarna cyan muda ini merupakan ras yang jauh lebih tinggi dari rasnya.

Tidak lama setelah—

{…sangat dingin.}

Dari arah lawannya badai bertiup dan dikirim ke arahnya, suhunya sedingin hawa di musim dingin. Seluruh tubuh Brain gemetaran, bukan karena dia merasakan haus darah atau aura yang menindas, tetapi dari dinginnya angin yang tertiup. Nafas putih yang keluar dari mulut Brain membuktikan bahwa ini bukan ilusi.

“Apa….?”

Dia mau tak mau bergumam pada dirinya sendiri.

Apakah lawannya mahluk yang mengeluarkan hawa dingin? Ketika dia memikirkannya, gerbang pada saat itu – bukankah diselimuti es dan kemudian rubuh menjadi serpihan?

{Memangnya seberapa dinginnya dia…}

Gerbang itu sama sekali tidak kecil, jadi domain apa pun yang dimiliki oleh monster ini, benar-benar menakutkan baginya.

Bisa dikatakan – dia sudah tahu ini.

Brain mempererat cengkeraman pada katananya dan menunggu lawannya.

Tangannya gemetaran, bukan karena kegembiraan atau karena kedinginan, tetapi karena emosi tertentu.

Emosi itu dikenal sebagai rasa takut.

Berulang-ulang dia meratap dalam benaknya, suara hati yang menyuruhnya untuk melarikan diri dan meringkuk ketakutan. Mahluk itu, meskipun seekor monster, cara dia menarik tombaknya dari tanah saat berjalan memancarkan aura seorang warrior. Jika dia meringkuk di sisi jalan, mungkin dia akan diabaikan seperti kerikil.

Rumah-rumah yang berjajar di sisi jalan memiliki tanda-tanda kehidupan, tetapi sepertinya mahluk itu tidak mempedulikannya.

Dan karena itu – Brain mungkin harus melakukan hal yang sama.

Jika dia melakukan itu, hidupnya mungkin akan terselamatkan.

Tetapi – kakinya menolak untuk bergerak.

Dia tidak melarikan diri dari mahluk ini.

Dia memfokuskan kekuatannya ke satu tangan yang mencengkeram gagang pedang dan menampar dirinya sendiri dengan tangan lainnya.

“Baiklah!”

Dia tidak lagi gemetaran. Dia telah membulatkan tekadnya, tubuh dan jiwanya.

Sementara mahluk itu sudah secara visual mengidentifikasi kehadiran Brain, raksasa berwarna cyan muda terus melangkah tanpa mengubah kecepatannya.

Makhluk yang memegang tombak di salah satu tangannya memancarkan aura menekan yang semakin meningkat ketika jarak di antara mereka secara bertahap berkurang. Brain menelan seteguk air liurnya.

Brain menunggu, seperti sebuah penghalang bagi raksasa berwarna cyan muda.

Karena kehadirannya yang luar biasa, Brain gagal menyadari jika daritadi terdapat sosok beberapa wanita di belakang makhluk itu. Mereka mengenakan pakaian berwarna putih, warna kulit mereka mirip dengan pakaiannya, rambut panjang mereka berwarna hitam, dan dari sosok mereka, angin dingin juga bertiup ke arahnya.

Dia dibuat sangat sadar dengan tatapan mereka pada dirinya.

Musuh belum mengambil tindakan apa pun terhadap Brain, yang berdiri di jalur mereka, masih belum.

Dia mengeluarkan botol dari ikat pinggangnya dan langsung meminumnya. Dia meminum sebotol lagi setelah itu, dan satu lagi setelah itu. Secara keseluruhan, Brain telah mengaktifkan tiga jenis sihir buff pada tubuhnya.

Meskipun dia telah meminum beberapa potion, bentuk tindakan perlawanan dirinya pada mereka, musuh-musuhnya kelihatannya tidak berencana untuk segera menyarangnya. Tetap saja, dia merasakan sesuatu yang mirip dengan semangat juang dari mereka.

Jarak antara mereka telah berkurang menjadi sekitar lima meter atau lebih.

{Oy oy oy, tebing tinggi yang harus dilampaui lagi ya?}

Pada jarak ini, semakin jelas bagi Brain jika lawannya merupakan makhluk yang memiliki keunggulan absolut dari dirinya. Sudah mencapai ketinggian yang Brain bahkan tidak pernah bisa berharap untuk mencapainya. Bagi Brain, seseorang yang telah meningkatkan kemampuannya hanya sebatas jari, jika dibandingkan dengannya, lawannya merupakan makhluk yang jelas-jelas tidak bisa dia kalahkan.

Meski begitu – meskipun dia mengetahui itu, Brain masih menolak untuk melarikan diri.

Lawannya menghentikan langkahnya.

Jarak di antara mereka tiga meter.

Mempertimbangkan panjang lengannya dan tombak di tangannya, Brain sudah berada dalam jangkauan serangannya.

“—Brain Unglaus.”

Dia menyatakan namanya, mengangkat pedangnya, dan memfokuskan pikirannya.

“Seseorang. Yang. Melayani. Langsung. Sosok. Supreme. Being. Yang Mulia Ainz Ooal. Gawn,. Cocytus.”

Pada saat itu, mata Brain melebar karena terkejut.

Itu mungkin nama lawannya. Dia tidak menyangka bisa menerima balasan.

Sementara dia terkejut, dia juga merasakan déjà vu.

{Apa itu?} Dia merasa seperti pernah mendengar nama ini sebelumnya tetapi dia tidak ingat dari mana. Mungkin dia hanya terlalu memikirkannya.

Dan kemudian, Brain merasakan rasa malu yang tertahankan karena sungguh tak sopannya dirinya.

Lawan di depannya bersedia menbalasnya, namun dia melakukan tindakan tak sopan dengan tersesat dalam ingatannya sendiri yang berlumpur.

Alasan mengapa pikirannya menuju ke arah itu yaitu karena lawannya merupakan monster yang tidak pernah bisa harapkan untuk menandinginya, mahluk itu mungkin pada tingkat yang sama dengan Sebas atau Shalltear Bloodfallen. Itu menyiratkan bagi lawannya, dia tidak lebih dari seekor semut yang menghalanginya. Terlepas dari semua itu, lawannya tidak memperlakukannya seperti makhluk yang lebih rendah.

Jika peran mereka terbalik, apa yang akan dilakukan Brain? Dia mungkin akan menebasnya tanpa banyak pertimbangan dan melanjutkan perjalanannya. Brain sangat tidak penting dibandingkan dengan lawannya, dia mungkin bahkan tidak bisa meninggalkan kesan dirinya dalam ingatan mahluk itu.

Brain menegakkan punggungnya dan dengan lembut menundukkan kepalanya, seperti apa yang akan dilakukan seorang siswa pada gurunya.

“Terima kasih banyak.”

“Tidak. Perlu.”

Brain mencengkeram gagang katana-nya dengan erat. {Lebih kuat, lebih kuat.}

Mengacungkan senjatanya pada makhluk yang memiliki kekuatan luar biasa tanpa memikirkan sebuah rencana, terasa seperti dia mengkhianati niat baik mereka yang telah menyelamatkannya. Apa yang dia lakukan saat ini tidak berbeda dengan bunuh diri.

Juga, jika dia memikirkannya, apa gunanya menghentikan musuh di sini?

Tidak ada sama sekali.

Namun tetap saja—

{Aku seorang idiot, Cocytus-danna ini bukan satu-satunya yang menyerang kota ini. Aku sudah gagal untuk kedua kalinya… tidak, aku bukan lagi anak-anak. Masa depanku ini merupakan apa yang aku inginkan. Itu benar… itu ada di tanganku dan cuma ada di tanganku saja.}

Cocytus, yang sedang melihat Brain, menancapkan tombaknya ke tanah.

“—God. Slaying. Emperor. Blade.”

Odachi dengan bentuk raksasa, jauh lebih tinggi dari tinggi Brain, tertarik keluar dari udara tipis, yang dengan itu Cocytus mengambil posisi Jōdan.

Ini suatu kehormatan.

Tak perlu ada pertukaran kata-kata. Cocytus sudah menyampaikan keinginannya untuk menyelesaikan ini dengan mata pedangnya.

Brain menghembuskan napas berat dan dengan cepat menghembuskannya lagi. Sepertinya dia sedang berusaha mengeluarkan seluruh udara yang tersisa di paru-parunya.

Dia benar-benar tidak berdaya saat melakukannya, namun Cocytus tidak bergerak satu inci pun. Dari posturnya, Brain tahu jika lawannya sangat menghormatinya.

Bukan hanya kekuatannya yang tingkat tinggi, tetapi juga karakternya.

Jika dia setingkat dengan monster yang dikenalnya sebagai Shalltear, maka dia mungkin bisa menggunakan senjatanya dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada kecepatan yang mampu dicapai Brain, bahkan dalam posisi tegak seperti itu. Meski begitu, Cocytus tidak mengubah sikap tubuhnya.

Ini bukan karena dia memandang Brain sebagai lawan yang tangguh.

Tetapi dengan alasan jika Brain telah membulatkan tekadnya, Cocytus memperlakukannya dengan kehormatan sesama warrior.

Tindakan seperti itu membuat Brain kewalahan.

{Dia tidak sama dengan Shalltear.}

Tidak, dirinya tidak sopan untuk membandingkan keduanya.

{Hmm? Shalltear? Cocytus? Aku bersumpah telah mendengar nama mereka di suatu tempat… kurasa— Tidak, jangan! Bagaimana kau masih bisa membuang-buang waktu untuk pemikiran yang tidak perlu ini di saat-saat seperti ini? Sungguh bodoh.}

Brain memusatkan kekuatan otaknya semata-mata untuk meraih kemenangan.

Untuk menangkis serangan jōdan odachi raksasa ini tidak diragukan lagi pastilah sulit. Jika lawannya memiliki atribut fisik yang mirip dengan Shalltear, menerima serangan dengan katananya sendiri tidak akan bisa menghentikan lajunya. Kepala Brain mungkin akan terbelah menjadi dua, katananya mungkin juga akan hancur.

Jadi, haruskah dia mencoba menghindari serangan pertama Cocytus?

Tidak, bahkan jika dia beruntung dan menghindari serangan pertama, itu tidak seperti lawannya akan berhenti di situ. Serangan kedua dan ketiga pasti akan berlanjut setelah titik itu. Strategi umumnya yaitu dengan menangkis serangan pertama lawan dan menyerang balik saat lawannya memperbaiki postur tubuhnya. Namun, melawan musuh yang luar biasa ini, bahkan untuk mengganggu keseimbangan dan posturnya pasti membutuhkan kekuatan penuh Brain. Itu menyiratkan bahkan jika dia mencapainya, dia tidak akan memiliki sisa kekuatan yang cukup untuk melakukan serangan balik. Karena itu, Cocytus mungkin akan mengakhiri pertarungan dengan menebas ke atas sebagai serangan keduanya.

Yang berarti—

{Ini situasi lakukan-atau-mati kan?}

Dia mengingat sesuatu yang dikatakan Vesture kepadanya.

Jika dia ingin menang melawan Cocytus, dia tidak punya pilihan selain untuk menyerang beberapa milidetik lebih cepat darinya. Bisa dikatakan, bahkan jika dia berhasil menebas tubuh atau kepala Cocytus, itu tidak akan mengubah lintasan pedangnya. Pertempuran akan berakhir dengan keduanya saling menyerang.

Maka dia harus membidik pergelangan tangan Cocytus, yang memegang pedangnya.

Menginginkan bergerak lebih cepat dari monster di level Shalltear dan memotong pergelangan tangannya merupakan lelucon yang tak tau diri.

Namun-

{Ini merupakan satu-satunya pilihanku, aku tidak punya pilihan selain menggunakan gerakan itu…}

Brain meerendahkan posisi pinggangnya.

Dia memakai postur serupa yang mampu memotong kuku Shalltear Bloodfallen – Hidden Blade Nail Clipper.

-Tidak.

Ini bukan lagi sekadar Hidden Blade Nail Clipper.

Awalnya, Nail Clipper merupakan gerakan yang menggabungkan seni bela diri yang menjamin serangannya, [ Field ], kecepatan [ God Flash ], dan [ Fourfold Slash of Light ]. Kristalisasi setiap keterampilan yang digunakan Brain masih mengambil seluruh kekuatannya untuk memotong kuku Shalltear. Tentu saja, memotong kukunya sudah merupakan pencapaian besar – tidak akan terlalu aneh baginya untuk menjadi legenda yang diceritakan dalam sejarah. Namun, Brain tidak menghentikan kemenangannya di sana, dia terus menempa diri dengan satu-satunya tujuan mencapai puncak yang sama seperti yang perempuan itu.

Karena alasan inilah Brain berusaha menjadi lebih kuat, sampai meminta bimbingan pada orang itu – guru Gazef Stronoff dan mantan petualang peringkat Adamantite, Vesture Croff di Leoghain. Di bawah bimbingannya dan melalui pelatihan tanpa henti, dia akhirnya bisa menggunakan [ Sixfold Slash of Light ]. Sayangnya, dia tidak dapat mencapai tingkat pemahaman yang dimiliki Gazef mengenai seni itu.

Maka sementara penggunaan [ Field ] dan [ God Flash ] tetap sama, penggunaan [ Sixfold Slash of Light ] lalu diteruskan dengan [ Fourfold Slash of Light ] membuatnya menjadi teknik baru.

Seni bela diri menggunakan sesuatu yang mirip dengan konsentrasi. Semakin kuat seni bela diri, semakin banyak yang dibutuhkan. Warrior luar biasa – warrior tingkat tinggi, sementara mereka memiliki kesempatan untuk menguasainya, mereka juga akan menemukan kesulitan untuk menggunakan beberapa seni bela diri pada saat yang sama. Memang, Brain memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih tinggi daripada warrior rata-rata pada umumnya, tetapi dia sudah mencapai batasnya lagi ketika dirinya menggunakan Nail Clipper melawan Shalltear.

Jadi seharusnya tidak mungkin baginya untuk menggunakan [ Sixfold Slash of Light ], seni yang membutuhkan konsentrasi lebih dari [ Fourfold Slash of Light ], dengan seni bela diri lainnya.

Hanya ada satu alasan mengapa dia bisa terlepas dari semua itu.

Brain Unglaus yang berdiri di sana sudah melampaui Gazef Stronoff – dia telah memasuki ranah para pahlawan.

Semua ini memuncak dengan teknik baru Brain – True Nail Clipper©.

Cocytus menggerakkan kakinya sedikit ke depan untuk mengurangi jarak di antara mereka, jarak yang sangat pendek.

Mempertimbangkan perbedaan dalam kekuatan mereka, tidak aneh bagi Cocytus untuk dengan mudah menutup celah di antara mereka dan secara langsung menebas ke bawah dengan katananya.

Jadi mengapa dia melakukan hal seperti itu?

Jawabannya sederhana, dia ingin memberikan Brain kematian yang sesuai dengan seorang warrior.

Penghargaan Brain pada Cocytus sebagai seorang warrior semakin dalam ketika dia menggunakan postur True Nail Clipper ©.

{Belum…}

{Tidak… berada dalam jangkauan …}

Sihir buff yang diterima Brain dari potionnya menyiratkan jika dirinya jauh lebih kuat daripada sosoknya ketika menghadapi Shalltear.

Walaupun begitu.

Manusia bernama Brain Unglaus tidak bisa berharap untuk mencapai domain para monster seperti Cocytus.

Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk itu. Lagi pula, tidak mungkin seekor semut menang melawan seekor naga. Sebuah fakta yang sulit untuk ditelan, tetapi dia tetap harus menelannya.

Tetap saja, dia tidak ingin kalah. Apa yang harus dia lakukan? Jelas lebih baik untuk mengurangi kesenjangan kekuatan yang luar biasa di antara mereka meskipun hanya sedikit, tetapi bagaimana dia harus menyelesaikannya?

{—Aku seorang warrior, maka aku harus menyelesaikannya seperti para warrior.}

“- [ Ability Boost ]”

Brain mengaktifkan seni bela diri.

Dia telah menghabiskan seluruh kekuatannya pada True Nail Clipper©, seharusnya tidak ada yang tersisa untuk seni bela diri lainnya.

Namun – Mata Brain mulai dipenuhi dengan darah dan darah mulai mengalir ke lubang hidungnya. Kapilernya baru saja pecah.

Suara {shing} terdengar seakan-akan menandakan transisi. Kemampuan fisiknya ditingkatkan ke tingkat berikutnya.

Dia mengaktifkan seni bela diri lain.

Kemampuan fisiknya ditingkatkan sekali lagi.

Tetapi – {Belum… belum…}

Dia masih tidak bisa melakukannya.

Jadi apa yang harus dia lakukan?

Hanya ada satu jawaban.

Brain mengaktifkan seni bela diri yang lain.

“-[ Greater Ability Boost ]”

overlord bahasa indonesia

Brain Unglaus sekali lagi, mencapai sesuatu yang mustahil.

Dia sendiri tidak menyadarinya.

Sifat sebenarnya dari bakatnya yaitu peningkatan kapasitas konsentrasinya, hanya dengan ini dan penambahan levelnya yang lebih tinggi dia mampu mengaktifkan seni bela diri yang dibutuhkan oleh Nail Clipper.

Tetapi, meskipun begitu, Brain mencapai batasnya. Dia tidak bisa menggunakan seni bela diri lagi dari itu, batas yang berikan padanya oleh dunia.

Tetapi, pada saat itu – Brain menghancurkan aturan dunia ini sekali lagi.

Keajaiban untuk kedua kalinya.

Yang pertama yaitu ketika dia memotong kuku Shalltear.

Yang kedua, dibuat pada saat ini.

Konsekuensi dari menghancurkan aturan dunia yaitu tubuhnya mulai rusak.

Tubuhnya mungkin tidak akan bertahan selama satu menit.

Namun, bagi mereka yang kuat, satu menit merupakan waktu yang lama.

Cocytus memasuki—

Ke dalam jangkauan Brain—

Tebasan Jōdan dengan God Slaying Emperor Blade—

Brain mengeluarkan katananya sendiri untuk menerima serangan dari katana Cocytus—

Lalu-

– suara darah dan daging yang tertebas dapat terdengar.

Setelah mengayunkan God Slaying Emperor Blade, Cocytus menghempaskan darah dan lemak dari katana dan menghilangkannya di udara. Dia menarik tombaknya dari tanah dan menatap mayat pria yang baru saja dia bunuh.

Dia – merupakan seorang warrior yang hebat.

Cocytus tidak terluka, serangan Brain tidak mencapai dirinya, namun skillnya sebagai seorang warrior terpuji.

{… Aku. Belum. Pernah. Mendengar. Ada. Warrior. Sehebat Dirinya…}

Sangat memalukan jika dia harus membunuhnya.

Jika itu mungkin, dia ingin menyelamatkan hidupnya dan membuatnya setia kepada masternya. Dia bisa saja dengan mudah mematahkan pedang lawannya, menerima serangannya, atau mematahkan keempat anggota tubuhnya, tetapi itu bukan cara seorang warrior.

Cocytus sudah merasakannya ketika dia melihat pria ini berdiri sendiri dari jauh, dia mengetahuinya lebih baik lagi ketika dia berdiri berhadap-hadapan dengannya: dia merupakan seorang warrior yang telah membulatkan tekadnya.

Cocytus tidak bisa tidak menghormati pria semacam itu.

Dia sangat tahu betapa bermanfaatnya membawa pria ini di bawah kekuasaan mereka, tetapi masih tetap membunuhnya. Tidak salah jika dikatakan dia telah mengkhianati Nazarick.

Tetap saja.

Dia ingin bercakap-cakap dengannya melalui benturan pedang mereka.

Jika Warrior Takemikazuchi ada di sini, dia mungkin akan memuji Cocytus atas keputusannya.

{Dari. Levelnya,. Dia. Kemungkinan. Berada. Pada. Level. 40.}

Namun, dia merasa jika selain serangan tunggal itu, tidak ada banyak kekuatan di dalam dirinya. Mungkin itu seperti Srangan Vidyārāja Strike Cocytus, atau mungkin dia menggunakan kemampuan khusus untuk memperkuat dirinya sendiri.

Kemampuannya tidaklah signifikan jika dibandingkan dengan Cocytus, tetapi dalam aturan dunia ini dia kuat.

Cocytus mengambil katana yang dijatuhkan Brain.

“Aku. Akan. Mengambil. Ini.”

Di antara senjata yang dimiliki Cocytus, senjata ini sangat lemah – sesuatu yang praktis tidak berguna baginya. Mungkin akan lebih baik untuk meletakkan pedang ini di sisinya untuk menandai kuburnya, tetapi Cocytus memutuskan untuk mengambil pedang itu.

Dia tidak terlalu ingin meninggalkan tubuhnya seperti apa adanya.

“Kalian,. Bekukanlah. Pria. Ini.”

Setelah dia memberi perintah pada para Frost Virgin, tubuh pria bernama Brain itu perlahan mulai membeku.

Saat Cocytus hendak melangkahi Brain, dia menghentikan dirinya lagi.

Dia melihat ke arah kastil di belakang Brain.

“…”

Cocytus menoleh sembari berpikir keras.

Dia berbelok ke kanan dan berjalan ke jalanan yang lebih sempit dari sebelumnya. Dia menyusuri jalan itu sampai dirinya tiba di jalan utama lagi, setelah itu dia berbelok ke kanan lagi. Dia berjalan sembari mengkonfirmasikan posisi kastil, mengambil jalan memutar kanan yang dia lihat lalu membawanya kembali ke jalan utama.

Cocytus melihat ke arah kanannya.

Mayat Brain dari sini cukup jauh.

Cocytus kemudian diam-diam berjalan menuju sisi kirinya – menuju kastil.

“Halo-halo~, jangan menghalangi jalanku~”

Aura menyapa para tentara yang ketakutan di atas tembok kota. Dia memanfaatkan celah yang ada di tembok dan hendak melewatinya dalam satu gerakan.

Sementara para tentara di atas tembok ingin menggunakan tombak mereka untuk menyerang, apa yang mereka saksikan selanjutnya yaitu gerakan tidak manusiawi – dia melompati para tentara, berputar di udara—

“Hyup”

—Dan mendarat dengan sempurna di sisi lain dari benteng.

“V!”

Gerakan tangannya membentuk huruf V agar dapat terlihat oleh para tentara.

Sorotan mata yang menuju pada Aura, walau penampilannya seperti anak-anak, semuanya dipenuhi dengan rasa takut. Setelah melihat tubuhnya yang luar biasa ringan beraksi, pasti tidak ada dari mereka yang masih mempercayai jika dia seorang anak biasa. Ditambah, ada juga masalah magical beast yang berada di bawah, sedang menunggu.

Aura mengabaikan manusia dan mengeluarkan secarik kertas dari saku di pinggangnya dengan santai.

Para tentara bergerak ke arah Aura selangkah demi selangkah untuk mengepungnya, tombak mereka di acungkan ke arahnya namun dia terus mengabaikan mereka.

“Oke, semuanya. Aku akan mengatakan ini lagi~ – Jangan menghalangi jalanku~ -”

Aura membuka gulungan kertas untuk membandingkan ibukota di depannya dengan apa yang digambar di peta.

Jika seluruh pemandangan simbol kotanya serupa, akan lebih mudah untuk dibaca.

Dia dengan mudah menemukan Guild Magician, tujuan pertama yang hendak dirinya tuju.

Aura, saat ini dalam keadaan puas, berbalik untuk menatap para tentara yang mengepungnya. Ujung beberapa tombak diposisikan tepat di depan matanya pada jarak di mana sedikit gerakan saja akan membuatnya menyentuh mereka.

“Jujur saja, bahkan jika aku merupakan satu-satunya yang naik ke sini, apakah itu benar-benar ide yang cerdas untuk hanya memusatkan perhatian kalian padaku? Kalianpun sudah tahu kan, mereka juga bisa kemari?”

Para tentara saling memandang dan tatapan mereka merambat seperti mata air yang mengalir ke sisi luar tembok, tetapi sudah terlambat. Magical beast Aura memanjat dinding satu demi satu.

Daerah di sekitar mereka bergema dengan ratapan menyedihkan tentara lain.

Aura memiliki kemampuan tempur yang lebih besar daripada mereka dan sementara memang benar jika penampilan dapat menipu, ini masihlah terlalu berat untuk mereka.

Para tentara yang benar-benar kehilangan keinginan untuk bertempur, mulai saling berebut untuk melarikan diri terlebih dahulu.

Masih ada tentara yang meyakini jika posisi ini harus dipertahankan, tetapi dengan begitu banyak rekan sekerajaannya yang terburu-buru melarikan diri, sulit bagi mereka untuk mempertahankan moralnya.

Konstruksi tembok kota tebal membuat benteng-bentengnya cukup lebar, tetapi para tentara yang dipojokkan oleh rasa takut masih saling mendorong dan berdesak-desakan mencoba untuk melarikan diri. Jika mereka masih mempertahankan akal sehatnya, mereka mungkin bisa melarikan diri lebih cepat. Pada saat ini mereka hanya saling mendorong dan membuat pintu keluar dalam keadaan kacau.

Meskipun sangat mudah bagi para magical beast untuk mengejar dan memusnahkan mereka semua, mereka sama sekali tidak tertarik melakukannya. Mereka belum menerima perintah dari tuannya, itulah sebabnya mereka membiarkan para tentara melarikan diri. Itu berlaku untuk semua magical beast kecuali satu ekor.

Magical beast berlevel 71, terbesar yang pernah dia bawa untuk acara itu, seekor Iris Tyrannus Basileus. Posturnya mirip dengan Tyrannosaurus Rex, tetapi memiliki sirip di belakang punggungnya. Seperti namanya, binatang itu bersinar dengan cahaya terang. Aura tidak terlalu yakin dengan rinciannya, tetapi dia mengingat jika penciptanya pernah mengatakan, “desain aslinya didasarkan pada King of the Monsters™.”.

Iris Tyrannus Basileus meraung.

Raungan yang cukup keras membuat tanah bergemuruh.

Itu bukan untuk menegaskan dominasi atau ekspresi emosinya sendiri.

Itu merupakan jenis kemampuan khusus – Brifing Bellow.

Jika seseorang memiliki level yang sama dengan binatang itu atau memiliki resistensi efek mental, itu hanya akan menjadi raungan biasa. Keadaan para tentara saat ini menunjukkan apa yang akan terjadi jika kau tidak memenuhi pengecualian tersebut.

Ketakutan mereka berubah ke tingkat ekstrem bermanifestasi menjadi tentara yang mulai berjatuhan.

Kematian instan yang disebabkan oleh rasa takut.

Binatang itu tidak melakukan ini karena kematian manusia yang ketakutan memberikannya kebahagiaan, tetapi hanya karena merasa bosan selalu dilihat dengan tatapan seperti itu. Para tentara mati karena alasan sesepele itu.

Tetapi itu bukan seolah-olah Iris Tyrannus Basileus tak menerima konsekuensinya, biaya kekuatan seperti itu besar.

Iris Tyrannus Basileus dikelilingi oleh lima dari enam binatang yang tersisa – Fenrir berlevel 78, Hound of the Wild Hunt berlevel 77, Kirin berlevel 76, Amphisbaena berlevel 76, dan Basilisk berlevel 74.

Kirin memulai memukulnya, diikuti oleh Hound of the WIld Hunt yang menginjaknya. Magical beast lainnya satu per satu bergabung untuk menendang Iris Tyrannus Basileus.

“Kau terlalu berlebihan,” mungkin itulah yang ingin mereka sampaikan.

Sementara kemampuan tempur tidak ada hubungannya dengan ini, monster itu masih dibully oleh binatang dengan level yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Iris Tyrannus Basileus mencoba mencari simpati dari Aura dengan merengek, yang hanya menyebabkan magical beast lainnya mengintensifkan serangan mereka.

Jika pemukulan mereka sebelumnya sebanding dengan para senior dari sebuah klub yang mendisiplinkan junior mereka, apa yang terjadi saat ini lebih seperti pemukulan yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri.

Sebagai catatan, satu-satunya binatang yang tidak berpartisipasi dalam pemukulan yaitu Avaricious Frog berlevel 58 bernama Gagarpur.

Binatang itu merupakan magical beast yang terlihat seperti mahluk dalam sebuah dongeng fantasy, seperti katak raksasa namun… bukan. Di mulutnya terdapat barisan demi barisan gigi kuning kotor dan matanya terlihat seperti lelaki paruh baya yang sering begadang.

“Suduh cukup! Teman-teman, aku tidak marah, sekarang berhentilah membully Iris-chan.”

Aura menyilangkan tangannya dan melihat magical beast dengan setengah mata terbuka. Para magical beast mulai terisak.

“Baiklah, baiklah, aku juga tidak marah pada kalian.”

Setelah dia mengatakan itu, magical beast – selain Iris Tyrannus Basileus – berkumpul mengelilingi Aura dan menggunakan tubuh raksasa mereka untuk membelainya.

“Myuu~”

Aura mengeluarkan suara yang menggemaskan. Sementara kekuatan fisiknya tidak kalah dari kekuatan mereka, didorong oleh tubuh raksasa mereka masih membuatnya mengeluarkan suara itu.

“Hei, hei! Beri aku – ruang!”

Di depan Aura, yang telah menepukkan tangannya, para binatang mulai berbaris – bisa dibilang, tubuh mereka besar, maka berbaris membentuk satu barisan itu cukup sulit. Masing-masing dari mereka berada dalam posisinya dan ekspresi mereka berubah menjadi tegang. Sikap manja yang mereka tunjukkan ketika membelai Aura tidak terlihat.

“Sekarang, kita akan mulai menginvasi ibukota untuk mengambil alih beberapa bangunan. Sangat disayangkan jika beberapa dari kalian mungkin tidak dapat bersinar itu saja.”

Yang terbesar dari kelompok itu, Iris Tyrannus Basileus, mulai terlihat acuh tak acuh.

“Kalau begitu aku akan memberimu misi khusus! Susurilah tembok kota dan remaslah setiap manusia yang kau lihat.”

“Bwooooo…”

Raungan Iris Tyrannus Basileus mengguncang udara di sekitar mereka, suaranya perlahan-lahan menggema. Monster itu menundukkan kepalanya dan dengan hati-hati melihat ke arah Aura dan binatang lainnya.

“… Mmm, bagus. Sekarang, anak-anak, operasi dimulai! Bergegaslah!”

Aura melompat turun dari tembok kota dan berhasil melewati garis pertahanan ibukota. Dia mendarat di atas atap bangunan acak dan berlari melompati atap-atap itu.

Magical beast mengikutinya dan melompat. Langkah mereka terlihat begitu mudah ketika mengekor di belakang Aura.

Sembari berbalik untuk memeriksa para binatang, Aura memandang Iris Tyrannus Basileus mengayunkan ekornya yang tebal dan kekar. Aura melambai padanya, menyebabkannya melambaikan ekornya dengan lebih bersemangat, tanpa sengaja menghancurkan setengah konstruksi benteng.

{—Kalian harus bergerak juga!}

Iris Tyrannus Basileus melompat berdiri sesaat setelah dia memberi perintah secara telepati dan mulai berjalan dengan cepat di sepanjang dinding.

Tujuan pertama Aura yaitu Guild Magician. Karena itu merupakan rumah bagi berbagai macam magic item, bangunan itu pastilah dalam keadaan siaga penuh. Secara luas bangunan itu dianggap sebagai tempat yang akan memberikan perlawanan terbesar di ibukota.

Meskipun kekuatan tempur musuh bukanlah masalah, mengumpulkan setiap magic item di tempat itu kemungkinan akan memakan banyak waktu. Mungkin dia harus memanggil bala bantuan.

Aura melintasi ibukota melalui atap demi atap saat dia memikirkan hal-hal ini.

Ibukota merupakan wilayah yang luas, tetapi dengan kecepatan Aura ketika dia serius, itu bukanlah masalah sedikitpun.

Tidak lama setelah dia melompati tembok kota, dirinya sampai di tujuannya.

Tak satu pun dari magical beast yang tertinggal. Yah tidak, Gagarpur bisa saja tertinggal, jadi binatang itu digendong oleh Basilisk.

Terdapat tiga menara lima lantai di garis pandangnya. Guild Magician, yang pada dasarnya merupakan beberapa bangunan tinggi dengan dua lantai yang lebih tinggi daripada lebarnya, telah menutup gerbang berbentuk kotak mereka. Di sisi-sisi gerbang ada dua menara setinggi dua lantai.

Dia belum mendeteksi keberadaan orang-orang yang berada di luar, tetapi aktivitas manusia bisa terlihat di dalam bangunan itu. Manusiapun menyadari dirinya.

Aura melompat ke wilayah guild dan melihat peta di tangannya, membandingkan penampilan bangunan.

“Mmm — Hmm. Itu ada di sana, jadi ini ada di sini ya?”

Memanfaatkan informasi yang mereka terima dari pendukung mereka di ibukota, mereka memiliki sketsa kasar bangunan guild. Magic item bisa berada di suatu tempat di dalam sini.

Namun, karena ada banyak lokasi yang memiliki kemungkinan tinggi, mereka tidak yakin di mana item sihir itu disimpan. Mereka juga tidak bisa menangkap magic caster berlevel tinggi untuk menginterogasinya, jadi Aura harus membuat penilaiannya sendiri.

Sementara itu melelahkan, luas wilayah yang dimiliki Guild Magician menyiratkan bangunan ini jauh lebih efisien untuk serangan sihir dibandingkan dengan serangan gelombang manusia.

“Ayo pergi.”

Pada saat yang sama Aura mulai berjalan lurus menuju gerbang, orang-orang muncul dari sana. Ada lima pria dan seorang wanita. Seorang pria tua berdiri di depan mereka.

Aura tiba-tiba berpikir, {oh.}

Jika mereka memegang posisi tinggi di Guild Magician, itu akan menghemat banyak waktu, tetapi Aura tidak bisa tidak merasa kecewa setelah melihat pria tua itu.

Pria tua itu pastilah seorang warrior dari penampilannya.

Dia mengenakan pakaian khas dojo, dari pinggang kebawah berwarna hitam dan dari pinggang keatas berwarna biru laut. Dua pedang tergantung di sisi pinggangnya dan pelindung dada menutupi tubuhnya.

Kepalanya tertutupi rambut putih, tidak ada sehelai rambut pun yang hitam. Lengannya ramping, seperti yang diharapkan dari usianya, namun kulitnya tidaklah kendur. Sosoknya kurus namun keras seperti baja.

Mata persepsi berukuran seperti mata binatang Aura naik-turun beberapa kali.

“Mungkinkah, ayo kita konfirmasi terlebih dahulu. Bocah, kau itu bawahan Sorcerer King kan?”

Aura mengamati para manusia di belakang pria tua itu. Sementara mereka mengenakan pakaian yang sama dengannya, tak satu pun dari mereka yang membawa pedang. Pria tua ini mungkin merupakan master dojonya dan sisanya adalah muridnya.

Sementara dia tidak bisa mencari tahu hubungan seperti apa yang dimiliki Guild Magician dengan sebuah dojo, pastilah mereka memiliki hubungan karena melindungi tempat ini.

Meskipun Aura merasa seperti mereka mungkin bisa memberikan lebih banyak informasi kepadanya daripada magic caster biasa, itu kemungkinan informasi yang tidak penting.

“-Kenapa kau tidak menjawab? Aku ingin memberitahumu jika aku tidak akan bermain-main, bahkan jika kau hanya seorang anak kecil.”

Untuk memasang penampilan seperti itu terlepas dari magical beast milik Aura mungkin karena magical beastnya tidak menunjukkan niat jahat atau haus darah. Atau mungkin lawan mereka seorang pemberani, sudah membulatkan tekad, dan percaya diri.

“Mmm — Hmm. Umm, jika kau bersedia menjadi pemanduku, aku tidak akan membunuhmu lho? Ah, anak-anak ini juga tidak akan menyerangmu.”

Aura berencana untuk menepati janji itu, lagipula nanti Mare lah yang akan membunuh mereka semua.

“Berani sekali kau mengoceh, bocah. Kau mungkin tidak bisa melewati tempat ini. Aku tidak bisa membiarkan item pemanggil iblis itu jatuh ke tangan orang-orang sepertimu.”

Aura kehilangan ketenangannya dan tertawa.

Mengetahui jika item itu masih di sini sudah cukup baginya. Dia harus mengamankannya dan mengembalikannya kepada Demiurge.

“Ah – begitu ya. Jadi apa jawaban kalian untuk pertanyaanku?”

“Aku menolak. Bagaimanapun, aku, Ves—”

Pria tua itu roboh dengan bunyi gedebuk.

Aura melepaskan panah.

Kepala pria tua, yang tertusuk lesatan anak panah Aura, terbelah seperti delima. Isinya berceceran ke mana-mana.

“Aku tidak punya waktu untuk mengobrol – yah, selanjutnya – sepertinya semua orang merasakan hal yang sama ya? Jika itu masalahnya, bagaimana kalau kalian berlari dan memanggil magic caster kuat untuk membantuku?”

Para manusia yang berjaga di belakang pria tua itu tertegun tanpa ekspresi. Aura merasa seperti itu akan terlalu merepotkan untuk menunggu sampai otak mereka kembali tersadar maka dia memberi perintah kepada binatangnya.

“Bunuhlah mereka semua.”

Aura mengatakan itu saat dia berjalan menuju gerbang. Binatang meluncur melewatinya seperti angin topan dan menerkam manusia yang tersisa. Hanya darah dan isi perut yang tertinggal di tanah setelahnya.


Mare duduk sendirian di atas menara tertinggi kedua yang ada di kastil, menghadap kearah ibukota.

Pada pertempuran yang dimulai tiga hari sebelum mereka tiba di kota ini, Mare sudah membunuh begitu banyak manusia. Namun kebanyakan dari mereka adalah pria, dia belum melihat wanita atau anak-anak di antara mereka. Kalau begitu, yang tersisa kemungkinan hanyalah orang-orang lemah.

Ekspresi Mare dipenuhi dengan kesedihan.

Dia tidak bisa lagi menghitung berapa kali dia menghitung angka-angka itu di kepalanya.

—Dia tidak bisa mengetahuinya.

“Apa yang harus aku lakukan…”

Jika seseorang ada di sekitarnya, Mare akan berkonsultasi dengan mereka, tetapi tidak ada orang lain di sana. Yah tidak, para Hanzo seharusnya ada di sana, tetapi mereka tidak akan muncul di depan Mare. Ditambah, tidak ada gunanya menanyakan pertanyaan ini kepada mereka.

{Umm. A-apa yang harus aku lakukan… untuk menghancurkan kota seluas ini dengan efisien dan membunuh setiap manusia di dalamnya…?}

Sebelum Mare tiba di ibukota, dia telah menghancurkan beberapa kota bersama masternya dan mendapatkan pengalaman yang relevan untuk itu. Itulah sebabnya dia memiliki pemahaman yang jelas mengenai betapa sulitnya menghancurkan sebuah kota – betapa sulitnya tugas untuk membunuh setiap penduduk di dalamnya.

Penggunaan sihir yang berulang dan terus menerus dapat menghancurkan setiap struktur di kota dan menjadikannya tumpukan puing, tetapi untuk memastikan jika segala sesuatu di dalam kota mati bersamaan dengan itu merupakan hal yang sulit untuk dilakukan.

Misalnya, jika dia menggunakan sihir untuk memicu gempa bumi, itu akan menghancurkan semua bangunan di atas tanah serta fasilitas bawah tanah. Orang-orang di dalam bangunan tersebut sebagian besar akan tertindih hingga mati atau terkubur hidup-hidup.

Gempa yang disebabkan menggunakan sihir tidak dapat mempengaruhi benda-benda di luar jangkauan mantra, sehingga seseorang yang bersembunyi di rumah-rumah di daerah lain tidak akan menyadarinya. Suara bangunan yang runtuh dan jeritan orang-orang yang sekarat merupakan masalah lain.

Jika orang-orang mendengar suara-suara itu, mungkin ada banyak orang yang keluar dari persembunyian mereka untuk mencari tahu, melihat keluar jendela, atau yang lainnya.

Orang-orang yang menutup mata dan telinga mereka dalam ketakutan merupakan yang terbaik, karena jika mereka hanya meringkuk ketakutan di dalam rumah mereka sendiri dan berharap semuanya segera berlalu, dia hanya akan mengucapkan satu mantra dan menyelesaikan mereka semua.

Yang menjadi masalah yaitu orang-orang yang percaya jika mereka akan menjadi yang berikutnya untuk dihancurkan atau kelompok pemberani. Yang bahkan lebih menyusahkan adalah orang-orang lemah yang akan melakukan tindakan bunuh diri, mereka akan berlari ke segala arah yang tak terduga.

Kecemasan mereka akan menular ke orang-orang lainnya.

Begitu seseorang melihat mereka melarikan diri, orang itu juga akan meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri.

Jika mereka memilih lari ke bangunan yang masih berdiri, segalanya masih akan mudah. Namun, orang-orang yang ketakutan cenderung membuat keputusan yang tidak rasional seperti memilih berlari menuju daerah yang sudah hancur atau bahkan mencoba menyelamatkan orang lain yang terjebak di bawah puing-puing. Mereka membuat situasi jauh lebih sulit untuk ditangani.

{Aku benar-benar berharap mereka tidak akan lari…}

Jika situasi berubah menjadi seperti itu, dia harus menggunakan mantra AOE lain untuk membunuh mereka, tidaklah efektif melakukan dua kali pekerjaan untuk hasil yang sama.

Jika tidak terkendala waktu, melakukan pekerjaan dua kali tidak akan menjadi masalah besar, tetapi ini merupakan operasi yang dilakukan bersama masternya. Tidak mungkin dia bisa membiarkan hal seperti itu terjadi.

Alasannya karena dia akan menyia-nyiakan waktu berharga masternya, tetapi juga karena dia akan merasa malu jika harus mengakui dirinya tidak mampu untuk mengakhirinya dalam satu kali gerakan.

Jika solusinya menggunakan sesuatu yang berhubungan dengan gempa bumi, dia tidak dapat menjamin jika itu akan membunuh semua orang. Akan ada lebih banyak orang yang selamat dari yang diharapkannya. Sementara dia bisa membakar semuanya untuk berjaga-jaga membunuh mereka yang masih hidup, api akan sangat terlihat oleh orang-orang yang berada di kejauhan. Ini juga bisa memicu masalah utama, yaitu membuat lebih banyak orang melarikan diri.

Sungguh dilema.

{Aku harus berlatih lebih giat dan menjadi lebih alami dalam hal ini!}

Bukubukuchagama telah memberi Mare kemampuan untuk menghancurkan musuh dalam jumlah besar. Dalam hal seberapa luas area yang bisa dia pengaruhi, Mare yakin jika tidak ada Floor Guardian lainnya yang bisa menyaingi kemampuannya.

Itu sebabnya jika dia tidak bisa berhasil menghancurkan kota dan membunuh semua penghuninya, itu akan membuatnya mempertanyakan nilai dan keberadaannya sendiri.

Mungkin Bukubukuchagama akan marah yang melihat Mare seperti ini.

“Nnnnng, nnnnng…”

Mare tidak bisa tidak membayangkan Bukubukuchagama memarahinya, menyebabkan matanya mengumpulkan air mata. Sebelum air mata itu jatuh, Mare menyekanya.

“Aku harus mencoba yang terbaik… Ainz-sama juga sudah mengatakan itu.”

Mare sangat menghormati dan berterima kasih kepada Ainz.

Jika Ainz tidak membiarkan Mare untuk berlatih menghancurkan kota-kota dan untuk menambah pengalaman melalui beberapa percobaan, dia tidak akan bisa berkembang seperti dirinya saat ini.

Saat dia memikirkannya, ketika perang pertama kali dimulai, Mare diminta untuk menghancurkan kota kecil. Hasil dari peristiwa itu benar-benar mengerikan.

Hasilnya bisa membuat malu Bukubukuchagama.

Tetapi ketika Mare menerima serangan egonya, kata-kata Ainz yang lembut membuatnya sangat bahagia sehingga dia bisa menangis kapanpun.

Ainz mengatakan kepada Mare bahwa selama dia memahami jika dirinya tidak memiliki pengalaman dalam sesuatu, yang harus dia lakukan yaitu belajar dengan giat untuk menempa dirinya sendiri.

Jika salah satu guardian yang mengatakan itu kepadanya, itu tidak akan menggerakkan hati Mare sebanyak ini. Namun, seseorang yang mengatakan itu merupakan sosok yang setara dengan Bukubukuchagama, salah satu Supreme Being.

Mare membulatkan tekadnya.

Dia akan menghancurkan lebih banyak kota dan desa lalu membunuh lebih banyak orang untuk menjadi seseorang yang bisa dibanggakan Bukubukuchagama.

“Baiklah!”

Sementara suaranya masih seperti anak kecil yang lucu, intonasinya dipenuhi dengan tekad yang luar biasa kuat, sesuatu yang tidak diharapkan dari Mare. Jika guardian lainnya melihat dia saat ini dan membandingkannya dengan Mare yang mereka tahu, mereka mungkin hanya akan mematung karena terkejut.

“Aku akan melakukannya!”

Mare mengepalkan telapak tangannya.

Bagaimanapun, dia harus memanfaatkan apa yang telah dia pelajari sejauh ini—

“Untuk menghancurkan ibukota dan membunuh semua penghuninya – hei, hei-”

Mare melemparkan kepalan tangannya nya yang terkatup erat ke atas.

Para Hanzo yang bersembunyi di belakangnya juga mengangkat kepalan tangan mereka.

Climb berdiri di lorong, mengamati pemandangan di luar melalui jendela kaca yang terlalu tebal.

Renner mengatakan kepadanya jika dirinya akan sedikit lebih lama merias wajahnya, sehingga dia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri kalau-kalau pasukan Sorcerer Kingdom tiba sebelum dirinya bisa bertemu dengan ayahnya, itulah sebabnya Climb diusir keluar dari ruangan. Dia juga memberitahu Climb bahwa Renner ingin juga mengganti pakaian yang dirinya kenakan. Tentu saja itu akan memakan waktu yang cukup lama.

Dia melihat kembali koridor, koridor yang kosong, tak bernyawa, dan sunyi.

Para knight yang masih tersisa di istana sampai detik ini semuanya telah bersiap untuk menghadapi tentara Sorcerer Kingdom secara langsung. Mereka telah meninggalkan pos mereka dan berkumpul untuk memblokir pintu masuk menuju istana.

Beberapa orang mungkin akan mengejek mereka karena mencoba melakukan perlawan yang sia-sia.

Tidak seperti kumpulan warrior yang dipimpin oleh Gazef Stronoff, sebagian besar knight ini hanya sedikit lebih kuat dari tentara biasa. Jika mereka bertarung melawan monster dari Sorcerer Kingdom, mereka mungkin akan dihancurkan semudah bagaikan seseorang mematahkan ranting-ranting pohon yang sudah kering. Namun, sebagai pria yang telah dianugerahi gelar knight oleh keluarga kerajaan, mereka ingin menunjukkan kesetiaan mereka sampai akhir. Mereka dengan sukarela berjuang tanpa mengeluh. Karena itulah, seseorang yang menyedihkan adalah orang-orang yang mengejek mereka.

Jika dia jujur, karena pengalaman masa lalunya, Climb tidak memiliki rasa simpati pada sebagian besar knight. Dia selalu mengira jika situasi hidup atau mati muncul, mereka akan lari seperti ayam. Climb tidak bisa menahan diri untuk tidak mengolok-olok dirinya sendiri dalam benaknya.

Justru karena kesetiaan murni mereka kepada keluarga kerajaan sehingga mereka tidaklah salah, tidak dapat menerima tikus jalanan yang sedekat ini melayani keluarga kerajaan.

Climb telah salah menilai kesetiaan mereka pada takhta.

Dia melihat ke arah pintu masuk.

Bukankah dia seharusnya bertarung berdampingan dengan para knight? Climb merenungkannya dan menyimpulkan jika dia seharusnya tidak melakukannya.

Saat itu, dia tidak diselamatkan oleh keluarga kerajaan. Seseorang yang menyelamatkannya, yaitu Renner sendiri.

Jika Renner memerintahkannya untuk melakukannya, dia akan bergabung dengan para knight tanpa ragu-ragu. Namun, karena dirinya tidak memberikan perintah seperti itu, Climb harus tetap di sisinya. Jika dia bisa mengulur bahkan satu detikpun untuk mati sebelum Renner, itu akan menjadi tugasnya, segalanya baginya.

Kehidupan dan jiwanya telah lama menjadi milik Renner, sejak dia menyelamatkannya.

Di lorong yang sunyi dan kosong ini, Climb merenungkan segala macam hal.

Dia memikirkan hidupnya hingga saat ini, mengenai Renner, mengenai hipotesis masa depan mereka, dan—

Climb melihat sekelilingnya. Tentu saja, tidak ada seorang pun di sana. Seseorang yang juga melayani Renner bersamanya, Brain Unglaus, sudah lama meninggalkan istana.

Dia tidak tahu ke mana Brain pergi.

Jika pasukan Sorcerer Kingdom telah sampai di kastil, dia mungkin sudah mati.

Climb berkabung dalam hati.

Brain seperti seorang mentor, teman, dan kakak baginya. Dia telah mengajari Climb banyak hal dan telah membimbingnya selama beberapa saat.

Dibandingkan dengan Gazef, Climb lebih dekat dengan Brain. Bagi Climb, yang menganggap Renner sebagai seseorang yang paling penting di dalam hatinya, Brain merupakan seseorang yang berada di urutan kedua.

“Mengapa semuanya berakhir seperti ini…”

Bisikan Climb menghilang di koridor tak bernyawa ini.

Tetapi bagaimana segalanya terjadi seperti ini?

Climb selalu berpikir jika kedamaian mereka akan bertahan lama, jika esok hari dan seterusnya akan kembali baik-baik saja. Namun, melihatnya saat ini — tiba-tiba, pintu ruangan dibanting. {Bang} suara keras terdengar.

Karena suara itu lebih brutal daripada yang pernah dia bayangkan, Climb segera melihat ke arah pintu dan mendapati Renner di sisi pintu. Dia tidak mengganti pakaiannya, hanya ada sedikit warna merah di wajahnya, agak terang sehingga dia tidak bisa mengetahui apakah Renner sudah merias wajahnya atau belum.

Dirinya telah menghabiskan begitu banyak waktu di sana tetapi penampilannya tidak berbeda dibandingkan dengan sebelumnya.

Di tangannya ada Razor Edge, masih dalam sarungnya.

Apa sesuatu terjadi? Saat Climb hendak bertanya, Renner berbicara.

“Climb, ayo cepat.”

“Baik!”

Renner mengatakan kalimat itu dan berlari di sepanjang koridor.

Climb mengikuti dan bertanya.

“Apakah terjadi sesuatu?”

Renner meliriknya dan melihat kembali ke depan.

“Ya. Aku mengingat sesuatu yang harus dilakukan. Jika kau mau, balas dendam kecil kepada Sorcerer Kingdom. Itu sebabnya kita harus bergegas ke tempat ayahku tersayang. Kita harus memeriksa apakah dia masih di ruanganya dulu!”

Sepanjang jalan, Renner menyerahkan Razor Edge kepadanya. Dia mengikuti perintahnya dan berjalan menuju ruangan raja.

Tentu saja, tidak ada juga knight di sana.

Renner tidak bermaksud mengurangi momentumnya, ketika dia membanting pintu ruangan ini juga.

Di dalamnya ada Rampossa III, dalam keadaan terkejut.

“Renner. Ada apa…”

Setelah mendengar begitu banyak kegaduhan, ternyata itu putrinya sendiri. Dia pasti mengira ada orang lain yang menerobos memasuki ruangannya. Rampossa III berhenti berbicara ditengah kalimatnya.

Climb merasa tatapan raja telah bergeser dari Renner kepadanya, karena itu dia menundukan kepalanya sebagai permintaan maaf.

“Ah, ayah, ayah masih di sini! Aku baru mengingat sesuatu yang sangat penting.”

Renner segera berbicara.

Dia berlari ke sini, namun napasnya tetap tenang dan stabil. Climb juga sama, tetapi dia masih penasaran bagaimana Renner, yang jarang dia lihat berlari, memiliki tingkat stamina yang sama dengannya. Tetap saja, dia belum pernah terlihat berlari secepat itu, maka mungkin itu tidak perlu dikhawatirkan. Climb dengan cepat menyingkirkan pikiran itu.

“Renner, apa yang terjadi? Juga, mengapa kau membuka pintu seperti itu?”

“Aku merasa hal-hal seperti ini tidak terlalu penting sekarang.”

Renner berbicara sedikit lebih cepat daripada biasanya, menyebabkan Rampossa III tersenyum masam.

“… Yah, perkataanmu memang tepat. Jadi, Renner, memangnya ada apa? Kau menyebutkan ada sesuatu yang penting tadi?”

“Ya! Jadi pada dasarnya—” Renner memiringkan kepalanya dengan cara yang menggemaskan sebelum melanjutkan, “Ayah, mengapa ayah ada di sini?”

“Aku dikunci di sini oleh anak itu, apakah kau tidak mengetahuinya?”

“Ya, ternyata onii-sama.”

“Haaaaah, Zanac memang bodoh untuk mengatakan kalian berdua akan pergi sebelum aku melakukannya. Anak itu…”

Ekspresi Rampossa III penuh dengan kesedihan. Semua orang tahu pada titik ini tentara yang mereka kirim dari ibukota seminggu yang lalu, tidak ada yang kembali. Meskipun tidak ada dari mereka yang mengetahui nasib tentara itu, tidak terlalu sulit untuk membayangkan alasan mengapa mereka tidak kembali.

“… dan kemudian kemarin, ketika aku akhirnya dibebaskan, kupikir kita harus melakukan persiapan sebelum Sorcerer King tiba. Itu sebabnya aku masih mempersiapkan diri di sini dalam kesendirianku. Para knight menawarkan bantuan tetapi aku menyuruh mereka semua pergi. Aku ingin tahu kemana tempat mereka melarikan diri…”

Climb tidak bisa memaksa dirinya untuk mengatakan kepadanya jika para knight itu ada di pintu masuk, bersiaga sampai akhir. Renner sepertinya juga sama.

“Berbicara mengenai persiapan, maksudmu itu?”

“Memang, itu.”

Ke arah dimana mereka berdua memandang, yaitu harta seperti mahkota dan banyak buku.

“… Jadi, mengapa Renner, mengapa kau masih di sini? Apakah anak itu… tidak membolehkanmu melarikan diri?”

“Itu— Apakah itu tidak sama untuk ayah?”

“Aku tidak akan lari. Anak itu hanya seorang pangeran. Aku seharusnya menjadi seseorang yang memikul tanggung jawab itu. Namun, anak itu… hmmm? Bukankah pedang itu…”

Rampossa III memperhatikan pedang di pinggang Climb. Dia melihat ke arah belakang Climb dan kemudian kembali menatap Renner.

“Seseorang yang melayanimu … warrior yang bisa menyaingi Gazef, apa yang terjadi padanya?”

“Brain-san telah meninggalkan tempat ini untuk bertarung dengan Yang Mulia Sorcerer King.”

“… sementara aku tidak yakin jika dia bisa mengalahkan Sorcerer King, dirinya seharusnya cukup bisa memberikan perlawanan. Kenapa, kenapa dia tidak membawa pedang itu bersamanya? Mungkin, dengan pedang itu, dia bisa…”

“Aku tidak merasa… seperti hal itu mungkin terjadi. Bagaimanapun, itu merupakan lawan yang bahkan Warrior Captain tidak bisa kalahkan. Segalanya telah telah berevolusi menjadi seperti apa adanya, maka bahkan jika Sorcerer King dikalahkan, tidak ada yang secara mendasar akan berubah.”

“Begitukah… memang benar. Itu benar. Jika kita tidak bisa membuat pasukan Sorcerer Kingdom mundur, segalanya hanya akan menjadi tidak berarti.”

Rampossa III tiba-tiba melihat ke luar jendela dan melanjutkan.

“Kenapa aku masih di sini. Aku yakin jika diriku memiliki kewajiban untuk meneruskan sejarah garis keturunan kerajaan kita kepada penakluk kita. Aku harus melakukannya, sebagai raja terakhir, menunjukkan kepada mereka martabat kita.”

Rampossa III tertawa seolah-olah dia lelah. Yah tidak, secara aktual dia memang lelah.

“-Climb. Itulah tugas seorang raja. Bawa Renner dan larilah. Meskipun mungkin sudah terlambat, istana memang memiliki jalan rahasia untuk keluar dari ibukota. Saat pasukan Sorcerer Kingdom memasuki istana, gunakan lorong rahasia itu.”

“—Tidak perlu untuk itu, Climb.”

Sampai saat ini, perintah Raja dan Renner tidak pernah saling bertentangan. Kali ini berbeda.

Climb memikirkannya sejenak, dan tidak melakukan apa pun. Dia hanya mengepalkan tangan dengan erat.

Memang, Climb tidak ingin membiarkan Renner untuk mati, tetapi mengikuti perintah Renner lebih penting baginya. Bagaimanapun, jika dia benar-benar ingin mematuhi perintah ini, dia akan membiarkan Evileye membawanya saat itu.

“-Climb.”

“-Climb.”

Setelah melihat Climb tidak bergerak, keduanya memanggil namanya. Namun emosi yang tertanam dalam suara mereka, benar-benar berbeda.

“Ayah, Climb adalah milikku. Dia tidak akan mendengarkan perintahmu.”

“Memang benar … kelihatannya begitu… tapi, Climb… jika kau benar-benar setia, aku yakin seharunya kau melarikan diri dengan anak ini. Lakukan, bahkan jika itu hanya memungkinkan garis keturunan Vaiself bisa diteruskan sedikit lebih lama. Jika kau melarikan diri dengan anak ini, sebagai hadiahmu, kau mungkin bisa menikahinya.”

Mata Climb membelalak.

Saran ini benar-benar memikatnya, menyebabkan jantungnya goyah. Jika dikatakan dia tidak pernah membayangkan hal ini, itu jelas sebuah kebohongan. Dia bahkan sering membayangkan Renner untuk {menghibur} dirinya sendiri.

Tetapi, dia sudah memutuskan takdinya akan mati sebagai tameng Renner.

“Meskipun hadiahnya sangat menggiurkan… tetapi itu terlalu berharga bagi saya untuk menerimanya… jadi ijinkan saya menolak tawaran anda…”

Ketika Climb mengatakan itu, dia merasa seperti sedang memuntahkan darah.

Dia mencuri pandang kearah Renner, untuk melihat senyum luar biasa di wajahnya. Tentunya itu karena pujian atas kesetiaannya.

“… Sekarang, giliranku untuk mengatakan mengapa aku bergegas ke sini… Ayah. Tolong serahkan mahkota kepadaku.”

“Mengapa?”

“Aku yakin jika kita seharusnya tidak langsung menyerahkan mahkota, harta yang membawa sejarah keluarga kita, kepada Yang Mulia Sorcerer King.”

“… Dia merupakan seseorang yang menghancurkan kerajaan ini, jadi gerakan simbolik untuk menyerahkan mahkota harus dilakukan. Juga, jika harta seperti mahkota terus diturunkan, sejarah keluarga kita akan dipertahankan. Itulah apa yang aku pikirkan, itulah sebabnya aku mengambil ini dari ruang harta.”

“Kupikir semua barang ini harus disembunyikan di kota. Kemudian, kita dapat mengatakan kepada Sorcerer King, ‘harta-harta milik Kingdom semuanya tersembunyi di dalam kota, jadi jika kau menghancurkan ibukota, kau berisiko kehilangan semuanya.'”

“…Aku mengerti. Mungkin ini… rencana yang bagus. Mungkin akuisisi mahkota dan menghancurkan ibukota akan menjadi dilema baginya. Meskipun hidupku tidak akan selamat, jika ini bisa membantu para penduduk, bahkan jika sedikit, itu harus dilakukan.”

Rampossa III mengambil mahkota dari kepalanya.

“Ayah, bukan hanya yang itu, tapi yang lain juga. Aku yakin mahkota yang digunakan untuk upacara penobatan memiliki nilai untuk disembunyikan.”

“Ah, memang. Itu benar.”

“Juga harta-harta lain yang dibawa ayah. Staf, perhiasan yang digunakan untuk penobatan, dan meterai nasional. Bisakah ayah menyerahkan segala sesuatu yang melambangkan tahta dan Kingdom kepadaku? Lagipula, semakin banyak kartu yang bisa kita mainkan, itu akan semakin baik.”

“… Mmm. Tentu saja, itu baik-baik saja.”

“Lalu, Climb. Bisakah aku merepotkanmu untuk menyembunyikan barang-barang ini?”

“Tentu saja, Renner-sama. Tapi, di mana saya harus menyembunyikannya? ”

“Ya. Aku sudah mendiskusikan ini dengan onii-sama saat itu.”

“Apa? Dengan Zanac?”

“Ya, ayah. Aku sebenarnya mendapatkan ide ini dari onii-sama. Prosedur untuk menyembunyikan barang-barang ini sudah direncanakan. Namun, karena dia mungkin mendapatkan ide ini dari Marquis Raeven, aku merasa tidak nyaman mengenai itu…”

“Benarkah? Anak itu sudah berpikir sejauh itu?” Suara Rampossa III membuntuti saat dia bergumam pada dirinya sendiri. Matanya tampak sedikit basah.

“Jadi, Climb. Pada distrik gudang yang telah ditinggalkan karena serangan Jaldabaoth. Ada gudang kecil di sana.”

Sementara Renner telah menjelaskan secara rinci, instruksinya cukup rumit sehingga Climb tidak percaya diri untuk menemukannya.

Renner berjalan di sekitar Rampossa III untuk menggunakan meja, menggambar peta yang mudah dipahami di selembar kertas. Itu sederhana, tetapi saat ini dia tidak perlu khawatir tersesat.

“Ada ruang bawah tanah rahasia di sini. Kumohon sembunyikan barang-barang itu di dalam sana.”

“Baik! Saya akan mematuhi perintah anda!”

“Setelah kau menyelesaikannya—”

Climb menatap wajah Renner dengan penuh perhatian, berharap dia tidak akan mengatakan sesuatu seperti, “jangan kembali.” {Tolong biarkan aku tetap di sisimu sampai akhir.} Apakah pikirannya mencapai wanita itu? Renner berbicara setelah ragu-ragu dalam waktu yang lama.

“Kumohon- kembalilah dengan selamat.”

Sementara mereka tidak yakin di mana lokasi-lokasi yang telah dicapai pasukan Sorcerer Kingdom, kemungkinan besar mereka telah menerobos ibukota dan menguasai berbagai lokasi. Kalau begitu, meninggalkan tempat ini sangat berisiko. Namun, Climb tidak akan ragu. Karena tuannya telah memerintahkannya, dia harus melakukan apa yang diperintahkan.

“Baik!”

“Kau harus kembali tanpa terluka. Jangan mencoba bertarung. Jika kau melihat musuh, larilah sekuat tenaga. Apakah kau mengerti?”

Rasanya seperti Renner telah memahami tekadnya, tetapi tidak bisa menempatkan banyak kepercayaan pada kemampuannya. Renner mengulangi mengatakannya lagi.

“Baik!”

Climb mengangguk dengan berat. Pada titik itu, sepertinya Renner akhirnya merasa lega.

“-Bagus. Sekarang, ayah. Mengingat situasi saat ini, akan sulit baginya untuk berhasil keluar dari istana… jadi bisakah kau memberi tahu Climb?”

“Kau ingin aku memberitahu lorong rahasia keluar dari istana menuju ibukota kan?”

“Ya.”

“Aku mengerti. Biarkan aku memberitahunya.”

Setelah mendengar penjelasan raja, Climb benar-benar terkejut. Dia telah berjalan melewati terowongan itu beberapa kali namun tidak pernah mendeteksi keberadaan jalur rahasia itu.

“Climb, Tidak apa-apa meskipun kau kembali sedikit lebih lama. Bisakah kau tetap berhati-hati dan tidak membiarkan barang-barang ini jatuh ke tangan musuh?”

“Tentu saja, Renner-sama! Saya akan menyelesaikan misi ini bahkan jika itu merupakan hal terakhir yang saya lakukan!”

“Setelah kau menyembunyikan barang-barang itu, bahkan jika sesuatu yang mengkhawatirkan muncul, kembalilah ke sini secepat mungkin terlepas dari konsekuensinya. Mengingat situasi saat ini, kita tidak tahu kapan pasukan Sorcerer Kingdom akan tiba.”

Sementara struktur kalimat itu agak berbeda, Renner mungkin hanya mengulangi perkataannya sendiri untuk memaku ide itu ke dalam pikiran Climb. Itu menunjukkan betapa Renner peduli padanya.

Jadi Climb, yang harus melakukan apa saja untuk sedikit menenangkan pikirannya, menegakkan dirinya dan merespons dengan positif.

“Tentu saja! Saya akan berlari kembali dengan sekuat tenaga.”

“—Bagus, kalau begitu aku akan menyerahkan itu padamu.”

Renner tersenyum seperti biasanya. Sebelum Climb keluar dari ruangan, dia memperhatikan Rampossa III telah memberikan beberapa potion kepada Renner.

Seseorang bisa membayangkan apa itu.

Climb menunduk dan keluar dari ruangan. Dia berlari menuju lorong rahasia.

Setelah itu, dia menggunakan lorong rahasia itu untuk memasuki ibukota.

Rasanya nyata. Seolah-olah setiap penduduk ibukota telah menghilang. Begitulah kesunyian itu.

Saat dirinya mendengar raungan beberapa binatang raksasa, dia tak tahu apa itu dari posisinya saat ini. Ibukota sangat luas, jika dia tidak memiliki titik pandang dari ketinggian kastil atau tembok kota, akan sulit baginya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Namun, untuk Climb saat ini, itu tidak diperlukan. Yang harus dia lakukan yaitu berlari dengan kecepatan penuh menuju gudang.

Dia tidak bertemu dengan siapa pun sebelum dia mencapai tujuannya.

Ini merupakan rencana yang mendesak, tetapi tempat ini cukup jauh. Selain betapa berhati-hati dirinya dalam perjalanan ke sini, dia telah menghabiskan sedikit waktu di perjalanan.

Gudang itu tidak sebesar yang dia bayangkan. Climb mendekati pintu dan menyadari pintu itu tidak dikunci.

Dia mengembalikan bel yang telah disiapkannya kembali ke dalam tasnya dan menyelinap masuk.

Tidak ada yang disimpan di gudang ini, isinya kosong.

Aroma debu menghiasi wajahnya. Tidak ada lampu dan jendelanya tertutup, jadi bagian dalamnya sangat gelap. Namun ada, sinar cahaya yang menerobos melalui beberapa celah, jadi gudang itu tidak sepenuhnya gelap.

Climb berjalan melewati pintu masuk dan menahan napas. Dia berkonsentrasi pada suara yang datang dari luar.

Dia mengkonfirmasi jika tidak ada suara yang mendekati gudang dan berjalan menuju dinding di seberangnya seperti yang diperintahkan kepadanya.

Ada banyak rak kosong di sana. Dia menemukan rak ketiga dari kanan dan mendorongnya dengan paksa. Pada awalnya, tidak ada yang terjadi, tetapi setelah dia memberikan sedikit kekuatan secara bertahap, suara klik dapat didengar. Rak itu tidak lagi menahan dorongannya dan mengayun terbuka seperti pintu.

Di dalamnya benar-benar gelap, sebuah ruangan tanpa jendela.

Climb memakai pelindung kepalanya.

Dengan kekuatannya, dia bisa melihat sekelilingnya. Ruangan kosong, di lantai, ada tonjolan seperti pegangan. Setelah mengangkat pegangan itu, tangga spiral menuju ruang bawah tanah muncul.

Di bagian bawah tangga pendek ada sebuah ruangan kecil dengan satu rak.

Itu sama kosongnya seperti di atas, tidak ada substansi di dalamnya. Debu yang menumpuk di ruangan itu membentuk lapisan tebal yang menutupi segalanya. Dia menempatkan harta kerajaan di sana.

Setelah itu, misinya selesai.

Climb kembali ke permukaan dan keluar dari gudang.

Saat ini, dia harus berlari kembali dengan kecepatan penuh.

Dia melihat kembali ke arah kastil dan tidak bisa menahan diri untuk bergumam, “hah?”

Kastil itu seputih salju. Dinding tebal mengelilingi kastil, tetapi mereka juga berwarna putih. Cahaya bersinar di atasnya terpantul benderang.

Bagi pihak ketiga, itu pasti pemandangan yang indah, tetapi sebagai salah satu penghuninya, ini merupakan situasi yang mendesak—

“Ah! B-bagus, kau tidak terjepit… umm… akan berbahaya bagimu untuk berada di sini lho?”

Dia mendengar suara anak kecil di sebelahnya.

Dia melihat ke arah di mana suara itu berasal. Di atas gudang seorang gadis menatapnya. Di tangannya ada tongkat hitam. Kulitnya hitam, dia mungkin dari ras yang dikenal sebagai Dark Elf.

“Kau….?”

“… eh, um, umm, ummm. Tempat ini dijadwalkan untuk dihancurkan… jadi, umm, karena kau mungkin terjebak di dalamnya, akan lebih baik bagimu untuk pergi dari sini dengan cepat lho?”

Sekarang setelah dia mengatakan itu, dia mengerti.

Gadis ini tidak diragukan lagi berasal dari Sorcerer Kingdom.

Tangannya, meraih untuk menghunus pedangnya, lalu menghentikannya.

Meskipun dia terlihat tidak kuat, tidak mungkin baginya untuk pergi sendirian ke tempat ini. Akan berbahaya memperlakukannya sebagai gadis sederhana.

Meskipun dia mungkin memenangkan pertarungan ini, jika dia menyebabkan kegaduhan di sini dan membuat undead Sorcerer Kingdom berkumpul, dia tidak akan bisa kembali ke sisi Renner. Tugasnya bukan untuk mengalahkan musuh, tetapi untuk melayani di sisinya.

Ditambah, tidakkah Renner sudah berulang kali memperingatkannya mengenai hal ini?

Dia ingin melihat kembali kearah gudang, tetapi berhasil memadamkan keinginan itu. Karena dia tidak bisa membunuhnya untuk membungkamnya, dirinya harus mencoba yang terbaik untuk tidak membangkitkan kecurigaannya.

Climb memunggungi gadis itu dan berlari. Dibandingkan dengan ketakutannya menerima serangan dari belakang, keinginannya untuk kembali ke sisi Renner sesegera mungkin jauh lebih kuat.

Climb mulai berlari. Saat dia berbelok di sudut gang, dia mendengar suara bangunan runtuh. Dia harus membunuh keinginan untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.

Serangan yang dia waspadai tidak pernah terjadi. Climb tiba dengan selamat di pintu masuk lorong rahasia. Sementara dia memeriksa apakah dia diikuti, Climb melihat kepulan asap membumbung tinggi diatas langit.

“… Ibukota sedang terbakar?”

Karena rumah-rumah menghalangi pandangannya, dia tidak dapat memastikan dari mana asap itu berasal, tetapi dirinya yakin jika itu berasal dari beberapa sumber.

Jadi gadis itu bukan bagian dari garda depan, tetapi divisi cukup besar dari pasukan Sorcerous Kingdom yang sudah memasuki dan menjarah ibukota.

Jadi kenapa dia tidak bisa mendengar teriakan—

Climb mengabaikan pertanyaan yang muncul dalam benaknya.

Dia tidak memiliki banyak waktu untuk di sia-siakan pada pertanyaan ini. Dia harus kembali ke sisi Renner dan melaporkan jika dirinya telah menyelesaikan misinya. Setelah itu, dia bisa tetap di sisinya sampai akhir.

Climb berlari melewati lorong dan kembali ke istana.

Di dalam istana, keadaannya sangat sunyi dan tenang. Dia tidak bisa mengerti mengapa.

Sebelumnya, kastil itu seperti telah membeku. Tidak dapat disangkal itu merupakan hasil dari beberapa bentuk serangan yang dilakukan Sorcerer Kingdom. Jika itu yang terjadi, sementara mungkin tidak banyak yang tersisa, masih ada beberapa knight yang tersisa untuk mempertahankan tempat ini.

Meskipun tempat ini jauh dari garis pertahanan para knight, dia seharusnya masih bisa mendengar semacam suara, bahkan jika itu hanya suara pedang yang bersentuhan dengan sesuatu. Ngomong-ngomong soal-

{Bahkan lebih sunyi dari sebelumnya.}

Dibandingkan dengan sebelumnya, keheningan menjadi lebih tidak nyaman. Di dalam istana, kesunyian yang dia rasakan saat ini seolah-olah dirinya merupakan manusia terakhir di dunia ini.

Climb sengaja berlari dengan langkah yang lebih berat untuk membuat lebih banyak suara saat dia berjalan menuju ruangan raja. Mungkin dia seharusnya mengikuti tata krama bagaimana dia membuka pintu, tetapi Climb tidak mempedulikannya lagi. Dia membuka pintu dengan sekuat tenaga.

Tidak ada seorang pun di sana.

Dia melihat sekeliling. Dia tidak bisa menemukan Renner atau Rampossa III.

Ruangan raja terhubung ke ruangan lain, mungkin mereka ada di sana. Tepat ketika Climb hendak melewati ambang pintu, dia menyadari ada selembar kertas di atas meja.

Itu merupakan jenis kertas yang sama digunakan Renner untuk menggambar peta.

Dia mengambilnya dan melihatnya.

Terdapat tulisan tangan Renner yang sangat familiar, instruksi baginya untuk pergi ke ruang tahta.

Setelah itu, Climb berlari keluar ruangan.

Ketika Climb mendekati ruang tahta, dia melambat. Koridor menuju ruang takhta dipenuhi dengan banyak sosok di kedua sisi. Tidak ada yang pernah dilihatnya sebelumnya di istana.

Wajah mereka pucat pasi – wanita yang tidak mungkin manusia.

Mereka pastilah bawahan Sorcerer King. Mereka sepertinya tidak memusuhi Climb, yang telah berlari ke arah mereka. Yah tidak, itu lebih seperti mereka tidak tertarik sama sekali.

Haruskah dia menghunuskan pedang, atau tidak.

Climb tidak bisa mengambil keputusan. Salah satu wanita berbicara.

“Silakan masuk, manusia terakhir dari istana ini.”

Setelah dia mengatakan itu, dia menutup mulutnya seolah-olah tidak tertarik lagi.

Dia memiliki firasat buruk mengenai apa yang wanita itu katakan, rasa dingin merayapi tulang punggung Climb.

Climb berlari di antara para wanita menuju ruang tahta.

Pada saat berikutnya, begitu banyak informasi membanjiri otaknya sehingga seakan kepalanya mau pecah.

Yang duduk di atas takhta bukanlah Rampossa III, melainkan monster kerangka yang memancarkan tekanan luar biasa – Sorcerer King Ainz Ooal Gown. Di sebelah kiri dan kanannya terdapat seorang pria dengan ekor panjang, Perdana Menteri Sorcerer Kingdom, Albedo, dan monster serangga yang terlihat seperti terbuat dari es.

Tidak jauh dari mereka, tanpa kehidupan dan di lantai, ada Rampossa III. Pakaiannya bernoda merah tua dan di sebelahnya Renner yang tengah terduduk, pakaiannya dibasahi oleh darah. Di lantai, di dekatnya, tergeletak Razor Edge.

Bilah pedang dilumuri dengan darah. Tidak salah lagi, itu merupakan senjata yang digunakan untuk membunuh Rampossa III.

“Putri”

“Climb.”

“Hon,” orang lain tertawa. Tawa mengejek, mungkin.

Climb berdiri di antara Renner dan mereka lalu menyiapkan pedangnya. Keduanya mungkin akan mati di sini. Untuk melindungi Renner sampai akhir meskipun kenyataan itu merupakan demonstrasi kesetiaan tertinggi Climb.

“Di depan Ainz-sama, kepalamu terangkat terlalu tinggi. 「 Berlutut 」.”

Climb segera berlutut. Dia tidak bisa menolak sedikitpun. Lebih akurat untuk dikatakan sebelum dia menyadarinya, tubuhnya sudah menggunakan postur ini. Dia melihat seseorang di belakangnya melakukan hal yang sama.

Renner.

Gambaran Renner yang pikirannya dikendalikan melintas di benaknya dan semuanya mulai terhubung bersamaan.

“Kau mengendalikan – mengendalikan Renner-sama seperti ini?”

Tragedi di depan tahta: Renner dikendalikan dan dipaksa untuk membunuh ayahnya sendiri. Kemarahannya mendidih namun dia masih tidak bisa bergerak. Seolah-olah tubuh ini bukan lagi miliknya.

“Ahhh, aku ingat. Aku sudah bertemu dengannya selama duelku dengan Gazef Stronoff. Batalkan mantra pengendali.”

“Baik! 「 Kau bebas 」.”

Dengan dilepaskannya mantra itu, Climb melompat ke sisi untuk mengambil Razor Edge, yang berada di lantai. Dia berdiri dengan cepat, mengatur napas, dan membangun posturnya. Lawannya, Sorcerer King.

Tentu saja, ini tidak ada artinya melawan lawan yang mampu membunuh Warrior Captain dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa mengikuti gerakannya dengan matanya sedikitpun. Tetap saja, dia merupakan tameng daging Renner. Tak ada hal lain kegunaan dirinya selain berdiri diantara mereka.

Sang Sorcerer King bangkit dari tahta dan berjalan santai menuju Climb.

“Kau harus bersyukur jika seorang raja, sepertiku, akan bersedia untuk berduel secara pribadi denganmu. Ah, ya… jika aku menang, aku akan mengambil pedang itu.”

Sorcerer King berjalan ke arahnya tanpa peduli, dia benar-benar tidak waspada.

Kemarahan menguasai tubuh dan pikiran Climb.

Ini semua salahnya.

Jika dia tidak ada, kedamaian akan terjamin lebih lama, tidak ada yang akan mati—

“— Putri tidak akan mengalami kesedihan ini!”

Sorcerer King terlihat seperti sedang mencibir padanya.

Tebasan tidak akan bisa mengenainya. Dia mengingat ketika Warrior Captain dibunuh. Apa langkah terbaiknya?

Dia berpegangan erat pada Razor Edge—

Sorcerer King membuat gerakan dan pada saat itu, Climb melemparkan Razor Edge dengan seluruh kekuatannya.

Sepertinya bahkan Sorcerer King tidak mengharapkan ini.

Saat dia melemparkan pedang, dia kehilangan keseimbangan.

Climb mengurangi jarak di antara mereka, mengepalkan tinjunya, dan meninjunya.

Tinjunya diarahkan ke wajah Sorcerer King.

“Climb!”

Dia mendengar Renner dengan sedih memanggil namanya.

Monster tipe kerangka yang lemah terhadap damage yang di akibatkan serangan benda tumpul merupakan suata fakta yang sudah banyak diketahui, namun dia merasakan sakit yang hebat begitu tinjunya terhubung.

Sorcerer King di sisi lain, tampaknya tidak terpengaruh sedikitpun.

“Jika ini adalah dongeng—”

Sorcerer King mengulurkan tangannya dengan kecepatan luar biasa untuk meraih pelindung dada Climb. Dia mencoba melarikan diri, tetapi dia bahkan tidak bisa membuka tangannya.

“—Semangat akan membangkitkan kekuatan yang tidak aktif, untuk memberikanmu kemampuan untuk mengalahkanku.”

Sorcerer King mengangkat Climb. Perlawanannya tidak memiliki efek, seolah-olah dia sedang berjuang melawan tembok yang kokoh.

“Tapi – ini merupakan kenyataan. Tidak ada yang begitu sempurna akan terjadi.”

Dia terlempar. Tubuh Climb terbang di udara selama beberapa saat sebelum jatuh ke lantai.

Tumbukan punggungnya mengenai lantai membuat udara keluar dari tubuhnya.

Climb berdiri dengan panik dan memandang Sorcerer King. Setelah melemparkan Climb, dia tidak melanjutkan serangannya. Dia sepertinya tidak mempertimbangkan untuk melakukan serangan lanjutan.

Ini merupakan kebaikan yang diberikan kepadanya oleh kekuatan Sorcerer King yang luar biasa.

“Kau akan mati di sini… kau tidak layak diselamatkan. Kau, yang tidak memiliki bakat atau kemampuan, tidak layak diselamatkan. Namun, jangan putus asa.”

Sorcerer King sepertinya sedang menatap Climb, tetapi juga tidak pada saat yang bersamaan. Matanya seolah-olah memandang ke suatu tempat yang jauh.

“Dunia ini tidak setara. Ketidaksamaan yang kau alami mulai saat kau dilahirkan. Kelahiran mereka yang memiliki bakat tentu saja mengartikan, ada orang-orang yang lahir tanpa bakat. Terlebih, lingkungan tempat seseorang dilahirkan berbeda. Keluarga kaya melawan keluarga miskin, bahkan kepribadian saudara-saudari sepelatihanmu juga penting. Mereka yang beruntung akan terus memiliki kehidupan yang memuaskan, tetapi mereka yang tidak memilikinya, maka itu akan menjadi hal sebaliknya. Namun, harus aku tegaskan, jangan putus asa pada ketidaksetaraan itu. Alasannya – yaitu karena kematian merupakan kesetaraan yang diberikan kepada semuanya. Kau bisa menyebutnya – diriku. Kebahagiaan yang diberikan oleh penguasa maut untuk segalanya yang dianggap sebagai kesetaraan absolut di dunia yang penuh dengan ketidaksetaraan.”

Climb tidak bisa mengerti apa yang dia katakan sedikitpun, dia mungkin menyuruhnya untuk beristirahat dengan tenang.

Tak ada yang bisa dia lakukan lagi selain kewalahan oleh kehadirannya.

Dia merupakan kematian, makhluk yang tidak bisa dilawan oleh makhluk hidup. Seolah-olah Climb akan ditelan oleh kesombongan Sorcerer King sendirian.

Perbedaan di antara mereka, pada tingkat biologis, terlalu besar.

Tentu saja, Sorcerer King, kepala kerajaan dan seorang pengguna mantra yang dapat dengan mudah menghancurkan pasukan, sama sekali berbeda dibandingkan dengan warrior tanpa bakat yaitu Climb. Namun, perbedaan di antara mereka bukan hanya itu saja.

Seperti semut, merindukan langit. Itulah perbedaan antara domain mereka.

Meski begitu – meskipun dia mengetahui betul jika dirinya tidak bisa menang, dia telah membulatkan tekad untuk memberikan segalanya, untuk menjadi tameng daging Renner hingga akhir.

Keberanian melonjak melalui dirinya.

Jantungnya yang layu terbakar sekali lagi.

Ya.

Semua ini untuk Renner.

Untuk wanita yang menyelamatkannya pada hari hujan itu.

Untuknya, yang melihatnya sebagai manusia—

“… Aku mengerti. Mata itu.”

Sorcerer King mengatakan sesuatu yang aneh.

Dia pasti merasakan keinginan Climb untuk bertarung. Sorcerer King memperlihatkan punggungnya yang tak berdaya menuju Climb, mengambil Razor Edge yang tergeletak di tanah, dan melemparkan ke arahnya.

“Bangkitlah.”

Sorcerer King mengulurkan satu tangan dan dalam sekejap, sebuah pedang hitam muncul. Panjang bilahnya seperti pedang panjang.

Climb menatap Sorcerer King yang tidak sedikitpun meningkatkan kewaspadaannya ketika dia mengambil Razor Edge. Mau tidak mau dia harus meninggalkan kesempatan pada saat ini. Dia teringat duel Gazef. Tepat sebelum pertarungan dimulai, Sorcerer King pernah mengatakannya sendiri jika senjata tanpa enchant yang memadai tidak dapat melukainya, namun juga pedang ini dapat membunuhnya.

Bahkan set ini – set armor yang diberikan kepadanya oleh Renner, yang memiliki banyak enchant melekat padanya, tidak dapat menghancurkan pertahanan Sorcerer King. Ini merupakan kenyataan yang menyedihkan, yang telah dia konfirmasi pada serangan tadi.

“Climb…”

Kepada Renner, yang mencondongkan tubuh ke arahnya dengan khawatir di matanya, Climb tersenyum dan berbisik.

“Putri, aku akan memberi anda waktu. Jika… anda mau, kumohon secepatnya melakukan itu.”

Pikirannya tersampaikan ketika Renner mengangguk.

Climb menciptakan jarak antara dia dan Renner sebelum dia mengangkat Razor Edge.

“Apakah kau sedang mengucapkan selamat tinggal?”

“Aku memiliki permintaan. Setelah kau membunuhku, maukah kau juga membunuh sang putri?”

Sorcerer King tetap diam.

Climb tidak bisa menganggap itu tidak aneh.

Ini bukan wakunya untuk diam. Pertanyaannya dijawab dengan “haha” oleh Sorcerer King, tawa yang lembut.

“Bagaimana aku akan menyiksamu…? Cara terbaiknya yaitu dengan tidak menjawab pertanyaanmu.”

“Sorcerer King!”

Dia mengayunkan Razor Edge, yang dengan mudah ditangkis oleh pedang Sorcerer King. Setelah beberapa serangan, Sorcerer King tetap berdiri di tempatnya.

Sorcerer King tidak menyerangnya, dia malah bermain dengannya, seperti yang dilakukan orang dewasa menjahili anak kecil.

Namun, ini tidak masalah baginya.

Dia mengangkat Razor Edge tinggi-tinggi dan mempertaruhkan segalanya dalam serangan tunggal ini.

Seperti sebelumnya, Sorcerer King menangkis serangannya dengan pedang hitam murni itu.

Saat ini adalah waktunya.

Untuk mempertaruhkan semua yang dia miliki.

Climb mengaktifkan seni bela dirinya. Tidak hanya itu, tetapi dia juga mengaktifkan kemampuan cincin itu juga. Pada saat itu, kemampuan tempur Climb melonjak secara signifikan.

Pada saat itu – karena Sorcerer King sudah terbiasa dengan hal ini, serangan ini lebih seperti penyergapan baginya.

Dia berpura-pura menggunakan semua kekuatannya untuk mengayunkan pedang ke bawah, mengendurkan otot-ototnya, dan menarik pedangnya kembali dengan sekuat tenaga saat pedang itu diblokir. Dalam satu pukulan, dia menusukkannya ke bola merah di perut Sorcerer King.

Dia sudah memikirkannya sejak lama.

Itu mungkin titik lemah Sorcerer King.

Bahkan jika bukan, jika dia berhasil menghancurkannya, bukankah itu juga dianggap sebagai bentuk balas dendam?

“—oooof.”

“—Aku mengerti, serangan yang mengesankan.”

Serangan yang telah dia lakukan dengan seluruh kekuatannya, ditangkap di jalurnya oleh Sorcerer King dengan satu tangan.

Climb merasakan bahunya terbakar, sensasi lembab mulai mengembang darinya, dan pada saat berikutnya, panasnya berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa.

Dia segera melompat mundur, mengetahui bahunya telah ditebas.

Armor yang diberikan kepadanya oleh Renner dengan mudah ditebas oleh pedang Sorcerer King. Bisa dikatakan, pedang itu tidak memiliki kemampuan menghancurkan senjata, karena armor itu sendiri tidak hancur.

Dia masih bisa menggerakkan lengannya, tetapi masalahnya yaitu dia tidak bisa lagi melakukan serangan yang baru saja dirinya gunakan.

Pemikiran jika dirinya bisa membalas mereka yang telah mati hanyalah mimpi belaka.

“Bisakah Razor Edge menghancurkan World Class Item? Aku sangat tertarik dengan hasil percobaan semacam itu. Jika itu bisa merusak salah satunya, nilai pedang itu akan meroket. Bisa dikatakan—” Sorcerer King melemparkan pedangnya dan menghilang di udara, “—Aku bisa menunggu sampai setelah aku membunuhmu untuk menjalankan eksperimen itu.”

Sepertinya Sorcerer King hendak melemparkan sihirnya.

Climb tertawa. Sorcerer King memilih untuk menggunakan sihir melawan seseorang seperti dirinya, jadi dia tidak boleh mmemberikan lawannya cukup waktu untuk melemparkan sihirnya.

Climb melompat. Ketika dia mendengar kalimat “[ Grasp Heart ]”, dia merasakan sakit yang begitu luar biasa, seolah-olah tubuhnya terkoyak dari dalam.

“Luar biasa.”

Lalu-

Penglihatannya—

Benarkah—

Berarti—

“Kalau begitu saya mohon undur diri, woof.”

Dia mendengar suara asing di sisinya diikuti oleh suara pintu yang tertutup. Itu membangunkannya, seperti sebuah pemicu yang telah diaktifkan.

Seharusnya terjadi sesuatu, tetapi semuanya terasa seperti memudar. Dia merasakan sesuatu yang serupa dengan perasaan melupakan mimpi di pagi hari.

Climb merasakan otot-otot dan tulang-tulangnya meleleh karena dia tidak bisa mengumpulkan kekuatannya sedikitpun. Bahkan tindakan sederhana seperti memutar leher pun sangatlah sulit.

Dia mencoba yang terbaik untuk mengamati sekitarnya.

Ruangan paling mewah yang pernah dilihat Climb sejauh ini dalam hidupnya yaitu ruangan Renner, tetapi dalam hal kemewahan, ruangan ini melampaui miliknya. Dia memiliki semacam kenangan fotografi, namun dirinya tidak mengingat pernah melihat ruangan ini di istana.

Apa yang terjadi padanya?

Kenapa… apakah dia masih hidup?

Juga – apa yang terjadi pada tuannya?

Meskipun dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar, dirinya bisa merasakan kehadiran orang lain di ruangan itu.

“Aaaa…”

Dia mencoba memanggil mereka, tetapi suara yang keluar dari mulutnya tak bisa disebut sebagai sebuah ucapan. Namun, seseorang di ruangan itu memahaminya saat sosok itu bergegas mendekatinya.

“Climb! Sudah bangun!”

Dia masih tidak bisa menyuarakan tanggapannya, seperti yang sudah di duga. Seluruh tubuhnya tanpa kekuatan, sehingga pita suaranya tidak bisa bergerak. Namun itu bukan alasan mengapa dia tidak bisa berbicara, hal itu dikarenakan campuran emosi yang memenuhi pikirannya.

Matanya berlinang air mata.

Itu benar, ini semua mimpi buruk.

Kingdom diserang Sorcerous Kingdom dan sosok Renner yang terpaksa membulatkan tekadnya untuk mati, semuanya hanyalah mimpi buruk.

“Aaa, saa…”

“Uhmm, ya. Aku Renner. Climb.”

Senyum yang sama seperti biasanya.

Tidak, Renner hanya terlihat dari ujung penglihatannya saja, namun dia masih bisa mengatakannya dengan jelas, ini berbeda dari senyumnya yang biasanya.

Apa sesuatu telah terjadi?

Climb menggerakkan matanya dan mendapati sesuatu yang aneh di punggung Renner.

Sayap hitam.

Seperti kelelawar.

Sayap itu mengepak beberapa kali, membuat suara”pak pak” saat sosoknya berjalan mendekat.

Bahkan jika sayap itu buatan manusia, itu terlalu realistis. Bagaimanapun, Climb harus berhenti menyangkal untuk menghibur dirinya sendiri.

Mungkin karena Renner menyadari sumber kebingungannya. Ekspresinya berubah menjadi datar.

“Mengenai ini… Aku telah diubah menggunakan kemampuan Sorcerer King. Aku bukan lagi manusia – malainkan iblis.”

Mata Climb membelalak.

“Saaaaaa…”

“Benar-benar sebuah tragedi, karena hanya dirikulah satu-satunya yang selamat.”

Dia ingin memberitahunya apa yang dikatakan Renner itu tidak benar, tetapi dirinya tidak bisa mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkannya. Dia hanya bisa mengerang dengan suara “aa—” dan “oo—”.

Tetesan air mata mulai berjatuhan.

Renner dengan lembut menyeka air matanya.

Climb gemetar penuh emosi ketika dia mengerang. Tidak peduli seberapa banyak penampilan Renner telah berubah, di dalamnya masihlah seorang Renner.

“Jadi… pasti kau penasaran kenapa masih bisa hidup kan? Sebelum aku menjawab pertanyaan itu… Climb… apakah kau bersedia mendengarkan permintaan egoisku? Aku telah berubah menjadi iblis, maka aku akan tetap berada di dunia ini untuk selamanya. Hidup sendirian merupakan suatu hal yang sangat menyakitkan untuk dijalani.”

Renner memandang ke arahnya.

“Climb, apakah kau juga mau berubah menjadi iblis?”

Dia tidak ragu, dirinya sudah memutuskannya sejak lama untuk memberikan segalanya pada Renner. Climb berjuang melawan tubuhnya yang tidak bisa digerakkan untuk menganggukkan kepalanya.

“Terima kasih … maka izinkan aku untuk menjawab pertanyaanmu. Kebenarannya adalah, aku sudah bersumpah setia kepada Yang Mulia Sorcerer King. Itulah biaya kebangkitanmu.”

Climb membelalakkan matanya sekali lagi.

“Jangan biarkan itu membebani hatimu. Aku yakin ini bukanlah pertukaran yang buruk. Lagipula, aku tidak akan harus hidup sendirian… Climb, apakah kau juga bersedia bersumpah setia kepada Yang Mulia Sorcerer King?”

“Ya.”

Sementara dia masih agak bingung, jika Renner bersedia bersumpah setia pada Sorcerer King, dia juga harus memilih untuk bersumpah setia. Tidak, lebih akurat jika dikatakan, ini merupakan satu-satunya pilihan yang dimilikinya.

“Terima kasih, Climb. Setelah kau bersumpah setia kepada Yang Mulia Sorcerer King, dia pasti akan memberikan beberapa tugas untuk menguji kesetiaanmu. Mungkin akan menyakitkan bagimu, dan itu membuatku sedih…”

“Itu, tidak akan, menjadi, masalah.”

“… terima kasih… Climb, hanya itu yang harus kukatakan untuk saat ini. Istirahatlah, aku akan terus menjagamu.”

Dia mempertahankan senyumnya dan menghilang dari pandangan Climb. Dari arah ke mana Renner pergi, dia bisa mendengar suara pintu yang terbuka diikuti dengan suara pintu tertutup.

Tubuh Climb perlahan relax.

Segera setelah itu, keinginannya untuk tidur menguasainya.

Climb, yang wajahnya dipenuhi air mata, kehilangan kesadarannya seolah-olah dia baru saja tenggelam ke dalam lumpur. Emosi di balik air mata itu terlalu rumit untuk dijelaskan. Bahkan Climb sendiri tidak tahu mengapa dirinya menangis.


Renner meninggalkan ruangan dan berjalan menuju ruangan disebelahnya. Setelah melihat dengan jelas melihat seseorang yang menduduki sofa, dia berlutut dengan terburu-buru.

“Albedo-sama,” Renner membungkuk dalam-dalam, “Saya tidak bisa berterima kasih kepada master kita tepat waktu, saya sangat menyesali itu. Mempersiapkan racun dan sandiwara di ruang singgasana, bahkan hingga merepotkan Yang Mulia Sorcerer King untuk secara pribadi membantu disana, saya sangat berterima kasih untuk itu.”

“Fufu. Sudah cukup. Tidak perlu mengkhawatirkan mengenai hal-hal ini. {Jika} itu untuk individu yang luar biasa, hal sepele seperti itu sepadan dengan waktu yang dibutuhkan.”

“Terima kasih banyak, Albedo-sama.”

Bagian ‘jika’ dari kalimat itu agak lebih ditekankan daripada yang lain, menyebabkan Renner bergidik ngeri. Dia tidak tahu apakah sosok itu bahkan menyadarinya dalam aspek ini. Albedo tidak melanjutkan perkataannya, tetapi dia merasakan tatapannya di belakang kepalanya.

“… Fufu. Tidak perlu setegang itu berada di dekatku. Demiurge dan aku memahami sepenuhnya kemampuanmu yang sudah kau tunjukkan untuk mengurus Kingdom.”

Saat itu, sejak dia bertemu dengan iblis Demiurge hingga kehancuran Kingdom, sekitar 90% dari rencana telah disarankan oleh Renner sendiri. Dia sudah dengan ahli memanipulasi semua pihak dengan memanfaatkan kesombongan mereka. Satu-satunya hal yang dia waspadai, yaitu ketika rencananya telah berubah menjadi pembantaian hampir seluruh penduduk Kingdom. Dia khawatir apakah dirinya akan dibuang atau tidak setelahnya. Selain itu, banyak hal berjalan sesuai dengan rencananya.

“Kemampuan luar biasa seperti itu harus dimanfaatkan di Nazarick – di bawah perintahku.”

“Sesuati perkataan anda, Albedo-sama.”

“Ainz-sama sangat memujimu. Aku tidak akan membiarkanmu mengecewakannya.”

Tambahan, dia hanya bisa mendeteksi perbedaan kecil, tetapi nada Albedo agak berubah.

Renner terus bertindak dengan patuh. Dalam situasi ini, ini mungkin pilihan paling cerdas yang bisa dia lakukan.

“Hadiah untuk pengabdianmu dari mulai saat ini, hingga ribuan tahun kedepan, akan diberikan padamu sekarang juga.”

Suara sesuatu yang diletakkan di atas meja bisa terdengar.

“Fallen Seed yang kuberikan padamu sebelumnya, ini merupakan salah satunya. Langkah selanjutnya yaitu mempersiapkan pengorbanan. Kau dapat memulainya setelah dia pulih. Sementara sihir bisa mempercepat pemulihan, berdasarkan spesifikasimu, kami tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Terima kasih banyak, Albedo-sama. Tolong sampaikan terima kasih saya juga kepada Yang Mulia Sorcerer King.”

“Renner. Akan aku tegaskan… jangan mengecewakanku. Ini tidak diberikan kepadamu karena kau memiliki nilai yang melekat sebagai sandera, tetapi sesuatu yang kau peroleh dari usahamu dan kepercayaan yang telah dibangun di antara kita. Apakah kau mengerti?”

Setelah mendengar suaranya yang lembut namun dingin, Renner menundukkan kepalanya lebih rendah dari sebelumnya.

“… Baik, Albedo-sama. Untuk membalas kedermawanan anda, bawahan anda ini, saya akan mempertahankan, tidak, saya akan berusaha untuk melayani anda lebih baik dari sebelumnya.”

Atasannya meninggalkan tawa lembut ketika dia berdiri dan pergi.

Renner menundukkan kepalanya sampai dia mendengar suara pintu ditutup. Dia menghela napas lega. Dalam napasnya tercampur sensasi ketakutan yang masih tersisa.

Dia telah mengatasi rintangan terakhir.

Bagaimanapun juga, lawan bicaranya merupakan sosok iblis yang kejam, tidak akan aneh baginya untuk mengatakan semua ini dilakukan untuk meningkatkan harapannya lalu menghancurkannya pada saat terakhir. Namun hal semacam itu tidak terjadi. Beban di pundaknya akhirnya terangkat, tetapi dia tidak bisa membiarkan dirinya meyakini jika posisinya saat ini benar-benar sudah aman dan terjamin.

Baginya untuk mendapatkan kepercayaan mereka – tidaklah mungkin. Skenario kasus terbaik yaitu jika mereka mempercayai dirinya berharga sebagai pion, yang layak untuk digunakan. Itulah sebabnya Renner harus berkontribusi sebanyak yang dia bisa. Jika dia tidak bisa membuktikan dirinya layak menerima kebaikan mereka, semuanya akan mengarah pada hasil kebalikannya.

Bagaimanapun juga, ini merupakan tempat tinggal dari monster-monster itu, mereka sangatlah mengetahui jika dirinya benar-benar tidak berdaya di sini tidak peduli seberapa keras dia berusaha. Namun, bahkan itu belum cukup bagi mereka.

Untuk alasan itu, Renner harus mengungkapkan kelemahannya kepada mereka, semakin banyak semakin baik. Dia pada dasarnya menyerahkan ujung tali itu kepada mereka untuk memberi tahu mereka jika dirinya merupakan hewan peliharaan yang setia, dan mereka adalah tuannya. Dia harus menegaskan sejelas mungkin hubungan superior-inferior di antara mereka. Jika dia tidak melakukannya, mereka mungkin tidak akan repot-repot berpura-pura mempercayai dirinya.

Itulah sebabnya mereka melakukan pertunjukan seperti itu di ruang tahta.

Climb merupakan kelemahan terbesar Renner – untuk menunjukkan betapa pentingnya dia bagi Renner, Renner telah mengatakan sesuatu mengenai Climb pada interaksi pertamanya dengan Albedo – hanya ketika kebenaran ini disajikan di depan monster-monster ini, apakah dirinya akan berakhir sebagai budak.

Nilai Climb sebagai sandera mereka harus ditegaskan, tetapi dia juga memiliki alasan terpisah untuk itu. Bagaimanapun, itu sudah terlihat jelas, tapi karena segalanya ternyata lebih baik dari yang dia harapkan, itu bukanlah masalah besar.

Ada hal lain yang bahkan tidak bisa diramalkan oleh Renner.

Dia tidak membayangkan Sorcerer King yang akan memerankan karakter itu sendiri.

{Sungguh Supreme Being yang menakutkan.}

Setiap kali Renner memikirkan sosok yang bernama Ainz Ooal Gown, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggigil.

Seharusnya sudah lebih dari cukup bagi Perdana Menteri Albedo untuk memerankan peran itu, tetapi tak disangka Sorcerer King sendiri yang memainkan peran badut itu. Ini pasti menyiratkan jika dirinya memiliki nilai yang cukup tinggi. “Bisa dikatakan, sang penguasa telah melakukan sejauh ini untuk mengikuti permainan bodohmu. Tentunya kau mengerti apa artinya itu kan?” mungkin itulah apa yang disiratkan Albedo melalui pernyataannya.

Albedo pasti menentang keputusan itu.

Jika seseorang yang dia kagumi harus menurut untuk memerankan sandiwara di atas panggung, itu akan membuatnya tidak senang juga. Bisa diartikan niat baiknya pada Renner, seseorang yang bertanggung jawab membuat sosok itu berada di atas panggung, mungkin sudah di ujung tanduk.

{Jika Yang Mulia Sorcerer King sengaja melawan Albedo-sama untuk memerankan adegan itu, hal itu akan membuat segalanya menjadi lebih buruk bagiku. Bila mereka beranggapan bahkan untuk sepersekian detik saja diriku tidak lagi berguna, aku pasti akan dibuang…}

Dia sudah merencanakan untuk hanya menunjukkan sebagian dari kemampuannya dan menyembunyikan kemampuan sejatinya, tetapi saat ini setelah Sorcerer King secara pribadi menemuinya untuk bekerja sama, dirinya sudah terpojok.

{… Yang Mulia Sorcerer King mungkin sudah meramalkan semua ini. Sepertinya atasan yang luar biasa tidak selalu menjadi sesuatu yang baik bagi bawahan mereka.}

Terlepas dari semua itu, Renner masih tersenyum.

overlord bahasa indonesia

Mimpi kecil di masa lalunya. Entah bagaimana, mimpi itu saat ini tumbuh menakjubkan karena dia telah bertemu dengan mereka.

Sungguh beruntung dirinya jika dia bisa mewujudkan mimpi seperti itu hanya dari pengkhianatan sederhana dan pengorbanan Kingdom kan?

Dia ingin menari.

Dia ingin bernyanyi.

Kegembiraan di hatinya meluap-luap.

Dia benar-benar, sangat gembira. Otaknya terasa seakan bisa pecah kapanpun karena semua kebahagiaan ini.

Iblis itu abadi. Terkurung di sini berarti dia baru saja menemukan tempat berlindung di tempat teraman di dunia ini.

Karena itu yang terjadi – Renner melihat ke arah pintu di belakangnya. Bukan, ke arah pemuda yang tertidur di atas ranjang di dalamnya.

“Climb. Akan selalu disini bersamaku untuk selamanya ~ Ayo bertukar ‘waktu pertama’ kita hari ini.”

Renner hampir meleleh saat mengatakannya.

“Atau haruskah aku lebih menghargainya – dan berhenti melakukannya hari ini? Ini merupakan pertama kalinya bagiku mengalami dilema seperti itu – aaaah, sungguh bahagia.”


Overlord (LN)

Overlord (LN)

Ōbārōdo, オーバーロード, 不死者之王, 오버로드
Score 9
Status: Ongoing Type: Author: Artist: Released: 2010 Native Language: Japanese
Pada abad ke-21, dunia memasuki tahap baru VR Games ... dan "YGGDRASIL" dianggap di atas semua MMORPG ... tetapi, setelah mengumumkan bahwa semua servernya akan mati, game internet 'YGGDRASIL' ditutup ... atau seharusnya terjadi, tetapi untuk beberapa alasan, karakter pemain tidak keluar beberapa waktu setelah server ditutup. NPC mulai menjadi sementara. Seorang pemuda normal yang mencintai bermain game di dunia nyata tampaknya telah diangkut ke dunia alternatif bersama dengan guildnya, menjadi penyihir terkuat dengan penampilan skeleton, Momonga. Dia memimpin guildnya "Ainz Ooal Gown" menuju petualangan fantasi legendaris yang belum pernah terjadi sebelumnya!

Comment

error: Jan kopas gaesss!!!

Options

not work with dark mode
Reset