Overlord Volume 14 Epilog

Epilog

Elias Brandt Dale Raeven turun dari keretanya, seketika itu juga dirinya tercengang, ketakutan menatap pemandangan di hadapannya.

Yang terbentang di depan matanya hanyalah tumpukan puing.

Sulit baginya untuk mempercayai jika ini merupakan ibukota. Dia justru lebih percaya jika ada seseorang memberitahunya bahwa ini hanyalah ilusi, tetapi kenyataannya bukan itu yang terjadi. Pemandangan di depannya adalah kebenaran, kesimpulan dari pertempuran.

Ekspresi Marquis Raeven berubah ketika melihat tragedi di depannya.

Berapa banyak tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menghancurkan sebuah kota sebesar ibukota sejauh ini?

Mungkin pasukan yang tak terbayangkan jumlahnya, satu-satunya yang memiliki kekuatan untuk melakukan ini yaitu Sorcerer King, seseorang yang dapat digambarkan sebagai petaka.

Langkah kaki di belakangnya semakin dekat ketika sebuah suara mulai berbicara kepadanya.

“Marquis…”

Dia merupakan bangsawan dari fraksinya sendiri, yang telah menemaninya dalam perjalanan ke sini. Meskipun dia hanyalah seorang baron, Marquis Raeven sangat menghargai kemampuannya. Sampai dimana dia berencana menaikkan gelar pria ini di depan publik.

Untuk alasan itu saja, ketika ditanya oleh bawahan Sorcerer King ‘siapa saja bangsawan yang cukup luar biasa untuk diselamatkan’, pria ini merupakan orang kedua yang disebut namanya. Bahkan orang terhormat seperti itu tidak dapat berbicara, karena dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya, hingga mereka gemetaran. Dia pasti memiliki emosi yang sama seperti Raeven sendiri ketika menyaksikan pemandangan di depan mereka.

Marquis Raeven menoleh ke belakang dan mengkonfirmasi jika kedua belas bangsawan sudah turun dari sepuluh kereta.

“Seseorang yang ingin bertemu dengan kita sudah menunggu.”

Tidak ada yang keberatan dan itu seperti yang diharapkan. Mereka telah dipanggil ke tempat ini oleh Sorcerer King sehingga tidak mungkin mereka masih bisa mengatakan sesuatu semacam”Tolak saja.” Mereka bahkan tidak bisa mengumpulkan keberanian sebanyak itu – tidak, lebih akurat untuk dikatakan jika tidak ada dari mereka yang sebodoh itu.

Masalahnya saat ini, mereka disuruh mendatangi ibukota tanpa lokasi yang ditentukan.

Marquis Raeven melihat sekeliling untuk menemukan bangunan yang masih berdiri jauh: istana. Lapangan kastil, yang dimaksudkan untuk berfungsi sebagai pertahanan istana, telah dibuat juga menjadi tumpukan puing.

Alasan mengapa Marquis Raeven bisa melihatnya dari tempat mereka mungkin karena ‘mereka’ sudah membersihkan puing-puing di sekitarnya dengan sengaja.

Bangunan tunggal di tengah gunungan puing. Raeven belum memikirkan hal ini sebelumnya, tetapi ini bukan gambaran dari keselamatan. Sebaliknya, itu sudah menjadi bangunan yang menggambarkan sebuah kejijikan tak terkatakan dan kejam pada orang-orang yang melihatnya.

“Ayo kita lanjutkan.”

Rombongan Marquis Raeven saat ini berada di reruntuhan yang dulunya merupakan tembok ibukota, oleh sebab itu istana berada cukup jauh dari mereka. Meskipun mungkin lebih cepat bagi mereka untuk menaiki kereta, mereka harus menghindari dilihat masih berada di dalam kerata karena pihak Sorcerous Kingdom bisa saja merasa tidak dihargai. Mereka ke tempat ini lebih awal dari waktu yang dijadwalkan untuk pertemuan, jadi mereka bisa sampai di sana dengan banyak waktu yang tersisa bahkan jika mereka berjalan santai di sepanjang jalan

Marquis Raeven tersandung ketika dia melangkah ke depan.

“Apakah ini jalan itu…?”

Dia mendengar seseorang di belakangnya bergumam.

Jalan utama menuju istana itu bebas dari puing-puing. Jalannya sangat bersih sehingga mungkin saja sudah dibersihkan sebelum mereka ke tempat ini.

Dengan kata lain, satu-satunya hal yang masih utuh di sini hanyalah jalan. Tidak ada sisa rumah atau dinding di sisi jalan. Sepertinya itu semua sudah dihancurkan dan kemudian dibakar sampai bersih. Dalam perjalanan mereka menuju ibukota, mereka sudah melihat desa-desa dan kota-kota yang hancur juga, namun tidak satu pun dari itu semua sebanding dengan tingkat kerusakan yang ditunjukkan di ibukota.

“Marquis, penduduk ibukota…”

“—Jangan membicarakan itu lagi.”

Mereka pasti khawatir mengenai keselamatan penduduk kota ini. Namun, Raeven belum pernah mendengar mereka dipindahkan atau melihat pengungsi di luar ibukota. Mengingat itu yang terjadi, hanya ada satu takdir bagi mereka.

Marquis Raeven memandang ke reruntuhan di sampingnya. Berapa banyak orang yang terkubur di bawahnya? Dia bahkan merasa seolah sedang berjalan melewati kuburan raksasa.

Raeven tidak lagi menggunakan hidungnya untuk bernafas karena dia tidak ingin mencium bau anyir mayat. Tapi, secara ajaib, tidak tercium aroma itu sedikitpun. Satu-satunya aroma yang tersisa di udara hanyalah aroma benda-benda dan abu yang sangat banyak.

Untuk sementara waktu mereka sudah menyusuri jalan, tetapi masih jauh dari istana.

Apakah hati mereka melemah karena melihat tragedi seperti itu? Raeven mendengar seseorang bergumam.

“—Raja Gila”

Marquis Raeven segera berbalik dan berteriak.

“Dasar keparat!”

Tatapan tajamnya berputar di sekitar para bangsawan, kulitnya berubah pucat dan wajahnya terus berkedut.

Mereka yang telah hidup cukup lama sebagai bangsawan seharusnya sudah belajar untuk menundukkan emosinya hanya untuk menyembunyikan ekspresi mereka, namun pemandangan di depannya masih membuatnya menyerah secara internal.

Dia bisa berempati dengan mereka, tetapi bahkan jika dirinya setuju dengan pemikiran itu, mereka {di sini}. Tidak disarankan untuk membuat musuh dari {mereka}, maka dari itu dia harus menegur mereka secara vokal.

“Kalian semua merupakan bakat yang luar biasa, itu sebabnya aku memilih untuk menyelamatkan kalian… jadi cobalah untuk menghindari menyia-nyiakan usahaku melalui kesalahan besar seperti itu … Tidak perlu meminta maaf atau berterima kasih padaku. Kumohon cobalah untuk memahami apa yang kumaksud.”

Tidak ada tanggapan, tetapi ia memiliki keyakinan jika keinginannya tersampaikan dengan baik.

“Marquis-sama. Umm, jika kita hanya berjalan tanpa mengatakan apapun, pikiran kita secara alami akan dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran negatif. Bagaimana kalau kita mengobrol mengenai beberapa topik positif saat kita berjalan?”

“… itu saran yang bagus. Lalu… bisakah kita membicarakan mengenai kelahiran anak keduaku?”

Para bangsawan memberi selamat padanya secara bersamaan. Dalam beberapa bulan terakhir yang menyedihkan ini, bagi Marquis Raeven, ini merupakan satu-satunya kabar gembira yang dapat mengabaikan semuanya. Itu sebabnya dia sudah membicarakan topik ini beberapa kali pada mereka.

Dia akan memuji anaknya selama berjam-jam, tetapi apa yang dia bicarakan sebagian besar tanpa substansi.

Namun, mengingat kenyataan jika itu bisa sedikit mengurangi suasana hati, dia masih terus melanjutkan membicarakan anaknya. Ketika dia kembali pada kenyataan, mereka sudah berjalan setengah jalan di jalan panjang menuju istana.

Mungkin dia sudah mengatakannya sedikit – memang, hanya sedikit – terlalu banyak.

Meskipun dia masih memiliki banyak hal untuk dikatakan, dia tahu sudah tiba saat baginya untuk berhenti. Raeven sengaja memalsukan batuknya.

Semua orang yang telah mengabaikannya saat ini menjadi tegang.

“Kalau begitu, kita akan lebih banyak membicarakan mengenai anakku ketika kita kembali. Apa yang harus kita usulkan kepada Sorcerer King agar anak-anak kita dapat hidup bahagia di masa depan?”

Mereka telah membahas topik ini berkali-kali sebelum tiba di sini, tetapi sudah waktunya mereka mencapai kesimpulan.

Marquis Raeven mengamati sekeliling mereka untuk memastikan tidak ada tentara Sorcerous Kingdom di sini.

“Meskipun ini merupakan pertanyaan yang harus kita hadapi secara langsung, sejatinya Yang Mulia Sorcerer King adalah undead. Tidak seperti makhluk hidup seperti kita, pemerintahannya akan abadi. Akankah cucu dan cicit kita melupakan tragedi ini dan melakukan sesuatu yang dapat membuat marah Yang Mulia?”

“Itu sangat mungkin. Meskipun cucu-cucu kita mungkin baik-baik saja, mereka yang terlahir setelah mereka membuatku khawatir.”

“Lagipula, bisa saja orang bodoh mewarisi peran kepala keluarga.”

“… Sejujurnya, kita tidak harus mengambil tanggung jawab sebanyak itu. Jika dorongan datang untuk mendorong, mengapa kita tidak membiarkan mereka binasa saja? Berikan mereka kematian tercepat?”

Pidato yang akan mengejutkan siapa pun, yang merasa bangga dengan garis keturunan bangsawan mereka, diucapkan oleh seorang penguasa wanita yang keluarganya hanya diangkat menjadi bangsawan selama generasi ayahnya. Dia ada di sini sebagai wakil ayahnya yang sakit.

Karena itu berasal dari seseorang yang akar kaum bangsawannya tidak terlalu dalam, banyak yang memasang ekspresi tidak senang.

“Lihatlah apa yang ada di depanmu, segalanya tidak akan berakhir hanya dengan keluarga seseorang yang dibantai.” Kata-kata Raeven membuatnya mengalihkan pandangannya ke bawah,”… jadi itu sebabnya hanya ini yang bisa kita lakukan: Buatlah pemandangan tragis ini diingat oleh anak cucu dan beri tahu anak-anak kita mengenai apa yang terjadi di sini. Kita harus memohon Yang Mulia Sorcerer King untuk mengabadikan pemandangan ini.”

“Bukankah kita seharusnya membangun kota baru dengan alasan ini?”

Raeven mendengar pertanyaan dari sisi kanannya, yang disambut dengan bantahan di sebelah kirinya.

“Membangun kembali ini ketika sudah sudah dihancurkan hingga seperti ini? Apakah kau tidak menyadari jika itu sulit untuk dibayangkan?”

Marquis Raeven setuju dengan yang terakhir. Namun, Sorcerer King memiliki kekuatan yang tidak bisa dia dan seluruh umat manusia tidak bisa kumpulkan. Mungkin dia ingin membangun kota idealnya dari bawah ke atas, dan itulah sebabnya dirinya melakukan semua ini.

Tetapi, jika mereka terus memikirkan hal ini, mereka tidak akan menemui kesimpulan.

“Juga, bagaimana dengan situasi penyanderaan? Marquis?”

Ini merupakan topik yang paling dia benci.

Raeven menggigit bibir bawahnya.

Mereka tidak yakin apakah Sorcerer King akan menuntut sandera dari mereka, tetapi, dibandingkan dengan pihak lain yang menyarankan ini, akan lebih menguntungkan bagi mereka untuk mengusulkan ide ini. Marquis Raeven memutar otak dan mencapai kesimpulan.

“Aku akan menjadi seseorang yang menyarankan proposal itu kepada Sorcerer King.”

Dengan kata lain, dia menganjurkan agar mereka secara aktif menyerahkan sandera. Banyak bangsawan mungkin tidak setuju dengan keputusan ini di hati mereka, tetapi tidak ada dari mereka yang berbicara atau mengubah ekspresi.

Setelah mereka membuat keputusan akhir mengenai sejumlah hal, istana akhirnya terlihat.

Apa yang dilihat Raeven dan yang lainnya hanyalah gunungan puing yang sepertinya menghalangi pintu masuk. Bertengger di atasnya terdapat sosok undead.

Undead itu berbicara dengan Perdana Menteri Sorcerous Kingdom, Albedo. Mungkin ‘mereka’ sudah menyadari kehadiran mereka dan berbalik menghadap mereka.

Masih ada sedikit jarak di antara mereka, tetapi Raeven dan rombongannya mulai berlari.

Begitu mereka semakin dekat, mereka akhirnya melihat bentuk sebenarnya dari gunungan puing tempat Sorcerer King duduki. Yah, tidak benar untuk menyebutnya ‘bentuk sebenarnya’ karena itu memang gunungan puing, namun tidak seperti itu dari sudut pandang yang berbeda.

Ditempatkan di atasnya, sesuatu yang bersinar: mahkota Kingdom.

Itu merupakan sebuah takhta yang terbuat dari puing-puing, sebuah karya seni yang melambangkan akhir Kingdom.

Sulit bagi mereka untuk membayangkan jika puing-puing yang membentuk takhta ini berasal dari kota ini. Mungkin itu dikirim kesini dari tempat lain.

Mengerikan.

Monster yang mampu membayangkan ide seperti itu dan juga bisa menjalankannya, menakutkan.

Mereka berlari dengan sekuat tenaga dan berlutut di hadapannya seolah-olah mereka tersandung. ‘Hooo, hooo’ mereka menghela napas, terengah-engah.

“Kami di sini untuk memberikan penghormatan kepada Yang Mulia Sorcerer King.”

Marquis Raeven membungkuk dan merasakan Sorcerer King melirik bagian belakang kepalanya.

“Raeven kan? Kau berhasil sampai di sini tepat waktu. Kemudian, umm … bagaimana aku harus mengatakan ini, aturlah nafasmu terlebih dahulu…? Lagipula, kau sudah banyak berkeringat.”

“Te-telah menunjukkan pemandangan memalukan seperti ini kepada anda, saya sangat meminta maaf sedalam-dalamnya.”

Suaranya penuh dengan keakraban sehingga mengejutkannya. Itulah mengapa dia menakutkan.

Otaknya meneriakkan kata ‘jebakan’ kepadanya. Situasi mereka hanya akan memburuk jika mereka terus menjaga ketidakpedulian mereka. Raeven mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka keringat dari dahinya.

“… Bagaimanapun juga, aku yang telah memanggil kalian semua ke sini, etiketnya, seharusnya aku yang akan menyapa kalian terlebih dahulu. Namun, aku tidak suka obrolan yang tidak berarti, jadi mari kita percepat.”

“Kami mengerti!”

Apakah dia akan membahas dengan Raeven dan yang lain mengenai sesuatu yang belum mereka diskusikan sebelumnya?

“Pasukanku – Sorcerous Kingdom telah menghancurkan wilayah para bangsawan dari Barat hingga ke Selatan kota ini. Mereka akan segera kembali. Kalian semua harus mengelola wilayah kalian seperti biasanya. Meskipun nanti kami mungkin saja mengubah penetapan teritorial, kami belum berencana untuk melakukannya – benar begitu kan, Albedo?”

“Ya, sesuai seperti yang dikatakan Ainz-sama.”

“Itu saja. Mulai sekarang, Albedo akan memberi tahu kalian tentang segala perubahan penting yang mungkin kami lakukan pada kehidupan kalian. Kalian harus mengikuti hukum yang sama dengan yang kalian terapkan hingga saat ini.”

Bukan hanya Raeven, tetapi para bangsawan lainnya juga bersiap untuk merespons.

“Apakah kalian memiliki pertanyaan atau sesuatu yang membuat kalian bingung?”

“Tidak sama sekali! Hanya saja, untuk membuktikan kesetiaan saya dan kebangsawanan saya, bawahan anda, saya ingin mengajukan beberapa proposal.”

Marquis Raeven berbicara seolah-olah dia sedang batuk darah. Setelah dia mengatakan kata-kata ini yang sangat memberinya tekanan, dia melihat Sorcerer King menoleh untuk melihat sesuatu yang jauh. Dia mungkin memikirkan sesuatu seperti ‘manusia biasa berani berbicara kepadaku selain untuk menjawab pertanyaanku? Sungguh sombong.’

Apakah dia tidak senang padanya? Raeven merasa seolah-olah perutnya dipenuhi timah. Jika dia hendak selesai dengan pekerjaan yang melelahkan, lalu melihat bawahannya menambahkan lebih banyak dokumen ke tumpukan, dia mungkin akan membuat ekspresi yang mirip dengan yang dimiliki Sorcerer King saat ini. Raeven memikirkan sesuatu semacam ini dalam usaha sia-sianya untuk melarikan diri dari kenyataan.

Setelah apa yang terasa seperti keabadian berlalu, Sorcerer King dengan malas berbicara, “Hmmm, benarkah begitu? Bicarakanlah pada Albedo setelah ini.”

“Itu mengakhiri pembicaraan ini… Benar, untuk memungkinkan orang menyadari betapa bodohnya menentangku dan kerajaanku, tempat ini akan dibiarkan dalam keadaan saat ini. Dilain sisi, jika beberapa wabah terlahir dari ini, itu akan cukup merepotkan. Untuk alasan itu, kami akan merapalkan sihir di sini setelah membakarnya terus menerus. Untuk menghindari hal-hal seperti itu terlahir, ingatlah untuk tidak mengizinkan siapa pun mendekati tempat ini.”

“Kami mengerti!”

“—Albedo, panggil Guren ke sini dan bakarlah seluruh tempat ini. Namun, eksterior indah istana harus tetap dijaga. Pindahkan furnitur dan yang lainnya ke dalam E-Rantel.”

“Saya mengerti”.

Meskipun dia ingin tahu siapa Guren, itu mungkin sesuatu yang tidak dimaksudkan untuk telinganya. Jika dia harus mengkategorikan segalanya menjadi ‘harus tahu’ dan ‘tidak boleh tahu’, segala sesuatu di sekitar Sorcerer King mungkin menjadi yang terakhir.

“Sekarang, meskipun Kingdom telah benar-benar dihancurkan – Raeven, aku harus bertanya. Bentuk sejati dari kebodohan menentangku seharusnya saat ini sudah menjadi pengetahuan umum, benarkan?”

“Benar sekali… Kenyataan betapa bodoh Kingdom menentang Yang Mulia Sorcerer King yang perkasa pasti akan menjadi pengetahuan umum di masa-masa yang akan datang.”

Karena kepalanya tertunduk, dia tidak bisa mengatakan ekspresi apa yang dimiliki Sorcerer King – tentu saja, Sorcerer King tidak memiliki kulit dan dengan demikian tidak ada ekspresi yang bisa dibicarakan – tetapi, dia bisa merasakan sedikit kegembiraan dalam tanggapannya.

“Begitukah? Maka apa yang kami lakukan di sini tidak sia-sia. Aku cukup puas karena itu.”

Mendengar pendapat Sorcerer King, yang telah membantai delapan juta rakyat Kingdom, membuat Raeven sangat ingin muntah. Tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa berdoa.

Suatu hari seorang pahlawan akan membunuh raja iblis ini.

“Aku tidak melakukan kesalahan apapun.”

Philip mengulangi frasa yang sama yang telah diulanginya beberapa kali sepanjang minggu ini.

Memang, tindakannya jelas tidak memicu perang. Ini semua strategi yang dijalankan Sorcerous Kingdom. Jika dia memikirkannya seperti itu, semua pada akhirnya akan masuk akal.

Dia dieksploitasi.

Ada kemungkinan jika alasan mengapa wilayahnya tidak menghasilkan panen yang melimpah dan mengapa usulannya sepertinya tidak pernah ditanggapi itu semua karena skema jahat Sorcerous Kingdom.

{Mereka pasti telah menyuap orang-orang itu atau menyebarkan hal buruk tentangku. Aku tahu mereka merencanakan sesuatu padaku. Tentu saja, pasti begitu!}

Philip turun dari tempat tidur dan mengulurkan tangannya ke meja. Dia mengambil botol di atasnya dan mengaduknya, tetapi dia tahu dari beratnya saja jika itu sudah tak terisi air.

“Pfff”

Philip mendecakkan lidahnya dan melihat sekeliling ruangannya.

Botol-botol kosong minumam keras berserakan di lantai. Meskipun ruangan itu mungkin dipenuhi dengan aroma alkohol yang menyengat, hidung Philip sudah lama beradaptasi sehingga dia tidak akan bisa membedakannya.

Dia secara acak memilih botol dari lantai dan menempelkannya ke bibirnya, tetapi tidak satu tetes pun menetes ke tenggorokannya.

“Sialan!”

Dia melemparkan botolnya.

Mendengar suara botol pecah, dia menjadi semakin frustrasi.

“Oy! Minuman kerasku habis!”

Bahkan jika dia berteriak, tidak ada yang akan memberinya alkohol lagi. Biasanya akan ada pelayan – orang-orang Hilma – yang siaga di ruangan ini, tetapi saat ini setelah dipikir-pikir, dia merasa seperti sudah lama tidak melihatnya.

“Bawalah lebih banyak minuman keras!”

Dia berteriak sekali lagi.

Tubuhnya bergoyang-goyang. ‘Oww’ dia tak seimbang ketika menopang tubuhnya sendiri di tempat tidur. Daripada kemabukannya, tubuhnya mungkin lebih tak bertenaga karena sudah beberapa hari dirinya tak meninggalkan ruangan ini.

Philip berjalan perlahan menuju pintu.

“Oy! Di mana semua orang!?”

Dia berteriak sembari menendang pintu dengan sekuat tenaga. Dirinya tidak menggunakan tinjunya karena takut itu bisa menyakitkan.

Tidak ada respon. Dia mendecakkan lidahnya, membuka pintu, dan berteriak dengan seluruh tenaganya sekali lagi.

“Kalian semua tuli! Kubilang minuman kerasku habis! Bawakan lagi!”

Masih tidak ada jawaban.

Philip dengan marah meninggalkan ruangan.

Mansion itu sunyi.

Ayahnya dan keluarga kakak laki-lakinya semuanya pindah ke tempat lain karena Philip ingin memanfaatkan mansion utama. Hanya pelayan yang tetap di sini selain dirinya.

Sementara bangunan itu merupakan mansion bangsawan, mansion itu hanya setara dengan gelar baron saja. Dia bisa dengan mudah mencapai ruang makan dari ruangannya sendiri.

Saat dia membuka pintu menuju ruang makan, mata Philip melebar.

Itu karena dia melihat seorang wanita berpakaian putih, duduk di atas salah satu kursi.

“Hoooh, apa kau sudah bangun? Kau butuh waktu sangat lama sehingga aku hampir ingin menjemputmu sendiri.”

Wanita itu adalah Perdana Menteri Sorcerous Kingom, Albedo. Senyumnya tetap tidak berubah dari sejak pertama kali bertemu dengannya. Dia terlihat tidak marah pada Philip atas apa yang telah dia lakukan. Tiba-tiba, pemikiran jika Sorcerous Kingdom mungkin bahkan tidak peduli mengenai apa yang telah dilakukannya muncul di benak Philip.

Pasti begitu.

Jika mereka benar-benar marah kepadanya, mereka akan memulai invasi dari wilayah kekuasan Philip terlebih dahulu. Namun mereka tidak melakukannya, jadi dengan kata lain, mereka tidak marah padanya. Sebaliknya, mereka pasti berterima kasih kepadanya karena memberikan alasan untuk memulai perang dengan Kingdom. Mungkin dia ada di sana untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka.

Tidak, tidak. Mungkin dia belum mengetahuinya. Mungkin mereka tidak mengetahui jika Philip yang melakukan semua itu.

Senyum Albedo menular, menyebabkan Philip juga tersenyum padanya.

“T-Terima kasih sudah berkunjung ke tempat yang menyedihkan ini, Albedo-sama. Saya tidak percaya anda menunggu di sini! Saya pasti akan memarahi para pelayan itu nanti.”

Albedo tertegun sejenak, sebelum tersenyum masam.

“Untuk mencapai setingkat ini benar-benar mengesankan. Aku cukup kagum… fufu, aku di sini untuk menyelesaikan apa yang harus dilakukan, tetapi sebelum itu, aku sudah membawakanmu hadiah. Apakah kau ingin membukanya?”

Diletakan diatas meja, kotak putih dengan lebar setidaknya lima puluh sentimeter.

Philip menyesal karena tidak sesegera mungkin beranjak dari tempat tidurnya ketika dia mengangkat bagian atas kotak. Aroma bunga yang indah membuat hidungnya gatal. Dengan napas tertahan melihat benda berharga yang ada di dalam kotak ini, Philip membukanya dan melihat isinya.

Isinya terdapat kepala Baron Delvin dan Baron Rokerson.

Apakah mereka mengalami rasa sakit yang tak tertahankan sebelum mereka mati? Ekspresi berkerut mereka membuatnya merasa jijik.

“—Eeek!”

Albedo dengan tenang berbicara kepada Philip, yang tubuhnya menegang.

“Kau itu sungguh bodoh ya? Kami telah merencanakan untuk mempersiapkan seorang idiot, tetapi tidak pernah terbesit dalam pikiranku seseorang sebodoh dirimu bisa ada.

‘Woosh’, itu merupakan suara Albedo yang berdiri.

Wajahnya tersenyum, tetapi saat ini segalanya telah berkembang ke titik ini, bahkan Philip menyadarinya.

Dia benar-benar marah.

Jika dia tidak melarikan diri dari tempat ini, segalanya tidak akan berakhir baik baginya.

Philip berbalik untuk berlari, tetapi dalam kepanikannya, kakinya tersandung kaki lainnya, menyebabkan dia terjatuh di lantai dengan suara keras.

‘Clop, clop’, suara langkah kaki semakin dekat. Dia sudah berjalan ke arahnya.

“Kalau begitu – ayo kita pergi.”

“Tidak! Tidak! Aku tidak ingin ikut!”

Memberikan perlawanan sia-sia, dia meringkuk menjadi bola.

“Apakah kau benar-benar mempercayai jika bertingkah seperti anak manja bisa membuatmu keluar dari situasi ini?”

Telinganya ditarik, mengirimkan rasa sakit ke otaknya begitu kuat sehingga dia mulai penasaran apakah telinganya akan robek.

“Sakit! Sakit sekali! Hentikan!”

“Maka berjalanlah. Di sini, berdiri.”

Philip ingin mendorong tangan Albedo, yang masih memegangi telinganya, menjauh. Namun, meskipun tangannya kecil dan halus seperti yang diharapkan dari seorang wanita, kekuatan cengkeramannya jauh lebih kuat daripada miliknya.

“Sakit! Sakit sekali!”

Telinganya ditarik hingga posisi tubuhnya berdiri.

Penglihatannya kabur oleh air matanya, tetapi Philip masih berusaha memukul wajah Albedo. Namun, kepalan tangannya dengan mudah dihentikan di udara, dan kemudian—

“Hiyaaaaah!!”

Sebuah kekuatan yang cukup kuat untuk menghancurkan tulang diaplikasikan pada kepalan tangannya, dan mulai membuat suara berderak.

“… Jika kau hanya menurut untuk berjalan, aku tidak akan menghancurkan tanganmu, bagaimana rasanya?”

“Aku mengerti! Aku mengerti! Aku akan berjalan! Kumohon jangan lakukan itu lagi!” Kekuatan di tangannya terangkat.”Mengapa….? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?”

Air mata deras Philip mengalir seperti air terjun.

Dia sudah mencoba yang terbaik dalam segala hal, tetapi bukan saja dia tidak berhasil, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.

Mengapa dia menjadi korban kekerasan seperti ini?

Mengapa tidak ada yang datang untuk membantunya? Apakah dia sudah dijual ke Sorcerous Kingdom untuk keselamatan orang lain?

Mereka semua pengecut.

Seluruhnya, pengecut.

Albedo tidak bereaksi pada Philip yang menangis karena kepalan tangan dan telinganya. Dia hanya melangkah maju seolah tidak ada yang terjadi sama sekali. Philip mengikuti tanpa perlawanan, karena telinganya masih di tarik tangan Albedo.

Mereka berjalan di luar dari pintu masuk utama.

“—Eeek!”

Philip menjerit melihat pemandangan di hadapannya.

Sebuah hutan muncul di depan mansion.

Tetapi tidak seperti hutan normal, hutan ini tidak terbuat dari rumput dan pepohonan.

Banyak pohon berbentuk aneh ada di sana.

Mereka seperti pasak dengan tangan dan kaki.

Penyaliban.

Semua penduduk desa telah disalib.

Pria-wanita, tua maupun muda semuanya disalib di sebuah tiang. Tidak satu pun dari mereka yang selamat.

Mereka semua tersalib dari dubur ke mulut.

Semuanya menceritakan penderitaan mereka melalui masing-masing ekspresinya, tak ada yang lain. Darah mengalir dari setiap lubang dan genangan darah yang terbentuk di dasar tiang.

Kapan mereka melakukan hal seperti ini? Mustahil bagi Philip untuk tidak menyadari hal ini terjadi.

“Ini … bukan mimpi. Aku menggunakan sihir kedap suara pada ruanganmu. Itu pasti benar-benar sunyi kan? Haaah, jika kau bahkan sedikit lebih pintar, kau mungkin sudah menyadari sesuatu yang mencurigakan… tetapi dari apa yang aku lihat, sejauh ini kau benar-benar tidak mengerti.”

Philip mencoba meletakkan semua kekuatannya di tangannya untuk melepaskan telinganya dari cengkeraman Albedo lagi. Albedo bereaksi dengan memukul wajahnya saat dia berkata kepadanya.

“Aku sudah mempertimbangkan membiarkan penduduk desa mengeksekusimu sendiri, tetapi itu akan membosankan. Apa yang aku kagumi, Ainz-sama, sangat menekankan pengalaman praktis dan pelatihan. Itu sebabnya aku ingin menguji beberapa metode penyiksaan untuk mengumpulkan informasi darimu. Kau harus – berguna bagiku.”

Setelah melihat ekspresi Albedo, senyuman yang sepertinya bisa merobek wajahnya sendiri, Philip kehilangan kesadaran.

“Haaah … sungguh pria ini…? Haaah, baiklah. Lagipula, ayahmu telah memintaku untuk, ‘biarkan orang idiot itu merasakan penderitaan semua orang!’ Aku akan menepati janjiku kepadanya.”

Philip tidak bisa lagi mendengar apa yang dikatakannya.


Semenjak Albedo mengatakan dia harus menyelesaikan beberapa hal, dia berpisah dengannya di tengah jalan menuju tempat ini. Ainz kembali ke ruangannya sendirian dan berkata dengan nada serius kepada maid yang bertanggung jawab melayaninya hari ini.

“Aku akan meninjau strategi yang harus diterapkan Sorcerous Kingdom di masa depan. Tetap di sini dan jangan biarkan orang lain melewati titik ini.”

Ainz melihat maid yang menemaninya telah mengalihkan pandangannya ke arah sisi pintu ruangan, ke arah maid yang bertanggung jawab atas ruangannya hari ini. Dia mungkin akan memberitahunya, “Aku akan menyerahkan semua yang disini padamu, aku akan menunggu perintah lainnya Yang Mulia Ainz-sama.” Begitulah biasanya mereka beroperasi.

Ainz mengetahui hal ini sebelumnya, jadi dia bergerak sebelum mereka bisa melakukannya.

“Aku harus mempertimbangkan sesuatu untuk skala tahun ke depan. Sedikit saja gerakan dapat mengganggu proses pemikiranku, apakah kau mengerti?”

“Baik! Saya akan mencoba yang terbaik untuk sepenuhnya menghapus hawa keberadaan saya mulai saat ini!”

Sementara Ainz ingin mengatakan jika dia tidak bermaksud seperti itu, apakah ini juga tidak baik? Sejujurnya, semakin dia memikirkan hal ini, semakin dia tidak ingin memikirkannya.

“Baiklah. Kalau begitu, mengingat dirimu tidak bisa menghapus kehadiranmu untuk saat ini, kau harus tetap di sini.”

“Baik, Ainz-sama.”

Maid yang bertugas melayaninya tetap berada di ruang kerja. Ainz sendiri berjalan lurus ke tempat tidurnya.

Tubuhnya baik-baik saja, tetapi pikirannya benar-benar lelah. Ainz melompat ke tempat tidurnya seolah-olah dia sedang menyelam ke sebuah kolam.

Tempat tidur empuknya menerima tubuhnya.

Rebahan yang luar biasa.

Jika seseorang mempertimbangkan ‘hang time’, jarak yang dia lompati, lokasi dia mendarat, pose dia saat mendarat, dan sebagainya, gerakannya akan mendapatkan pujian yang secara objektif layak diterima.

Ini merupakan keterampilan yang dia dapatkan melalui latihan dan pengalaman, karena dia selalu menyelam ke tempat tidurnya setiap kali dia kelelahan mental.

“Haaaah!”

Ainz menghela nafas lega dengan cara yang sama seperti pria paruh baya. Desahan itu juga indah. Seribu orang dari seribu orang yang disurvei akan mengatakan jika memang itulah yang dilakukan pria paruh baya. Alasan untuk ini yaitu sama seperti sebelumnya, Ainz telah berlatih juga mendesah beberapa kali sebelumnya.

Ainz berguling-guling di tempat tidurnya setelah itu. Terkadang ke kiri, terkadang ke kanan.

Dari kemarin dia sudah berada di reruntuhan ibukota, sehingga tubuhnya tertutup debu dan kotoran. Sementara dia menyadari jika lebih baik dirinya mandi lendir terlebih dahulu, dia tidak memiliki kapasitas mental untuk itu lagi.

{Sangat melelahkan…}

Apakah dia berhasil bertindak sebagai penjahat? Apakah dia sudah benar menghadapi pria dengan armor platinum itu? Meskipun ada beberapa poin yang membutuhkan pertimbangan dan peninjauan, mereka akhirnya mengelompokkan masalah-masalah besar.

-Bukan.

Ini hanya langkah awal yang sukses dalam rencana besar mereka, seseorang bisa mengatakan jika segalanya hanya akan semakin sulit bagi mereka mulai saat ini. Namun dengan mengatakan itu, mereka mendapatkan kehancuran yang tidak ada artinya, salah satu bagian sederhana dari rencana. Apa yang akan terjadi yaitu penghancuran pada skala yang lebih kecil, dengan kata lain, pekerjaan presisi. Apa yang benar-benar merepotkan, yaitu upaya pembangunan kembali yang akan datang setelah itu.

Sampai saat ini, wilayah kekuasan Sorcerous Kingdom kecil – tidak termasuk dataran Katze – namun memiliki kerajaan-kerajaan raksasa sebagai bawahannya. Tetapi, segalanya berbeda saat ini. Mereka baru saja mendapatkan wilayah yang cukup luas, masalah yang bisa muncul dari ini sudah jelas.

Tentu saja, seseorang yang tangannya penuh dengan urusan internal merupakan Albedo, tetapi jika sesuatu yang serius muncul, dia pasti akan berkonsultasi dengan Ainz mengenai hal itu. Masalah-masalah yang dapat terjadi di masa depan pasti akan menjadi lebih kritis dan sulit daripada saat ini. Dia sama sekali tidak percaya pada dirinya sendiri jika dia bisa menyelesaikan masalah itu dengan tepat.

Juga, dia tidak bisa mencari tahu apakah dia sudah mengacaukan suatu bagian pada saat itu. Saat ini, tidak hanya ada Albedo dan Demiurge, dua jenius Nazarick di sekelilingnya, wanita gangguan mental bernama Renner juga telah ditambahkan juga pada jajaran Nazarick. Dia tidak ada hubungannya dengan Yggdrasil, murni orang luar, seseorang yang tidak terikat oleh flavour text, dan dengan demikian bisa menganalisis Ainz dari sudut pandang yang sepenuhnya objektif. Yang lebih meresahkan yaitu kecerdasannya dengan mudah setara dengan dua orang jenius Nazarick.

Bisakah dia benar-benar berakting dan bertindak dengan benar sebagai Ainz Ooal Gown yang telah dia bangun sampai saat ini di depan orang seperti dirinya?

“—Aku ingin lari.”

Ini merupakan kebenaran – kebenaran sesungguhnya dari lubuk hati Ainz.

Ainz mengatakannya seperti budak perusahaan yang sudah melakukan kesalahan besar dan mungkin akan ketahuan pada hari berikutnya ketika dia masuk kantor.

{Kupikir aku sudah mencapai batasku saat itu. Bukankah ini saatnya aku membiarkan semua orang tahu jika aku merupakan seorang tanpa bakat selama ini? Bukankah aku sudah mempersiapkan diri secara mental untuk melakukan hal itu?}

Namun-

{Saat aku memikirkan hal itu sudah semakin dekat… Aku takut akan reaksi macam apa yang akan mereka… sialan. Apakah itu tidak cukup untuk mengaktifkan penekanan emosi…?}

Seolah-olah kemampuan Ainz mengatakan kepadanya jika ini sama sekali tidak perlu dikhawatirkan.

Ainz merenung dan merenungkan beberapa hal lagi untuk sampai pada suatu kesimpulan.

“—Baiklah, aku akan lari.”

Namun, itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Tidak mungkin meninggalkan segalanya lalu melarikan diri akan diterima. Seolah-olah dia tidak menyerahkan dokumen untuk penggantinya namun ingin menggunakan semua jatah cutinya untuk liburan sebulan sebelum dia mengundurkan diri. Itu jelas bukan cara yang dapat diterima untuk keluar dari seuatu pekerjaan.

Sementara dia bisa mengatakan, “baiklah, aku akan lari.” dan benar-benar melarikan diri, dia akan dipandang rendah karena itu.

Dia akan membutuhkan alasan yang tepat untuk ketidakhadirannya.

Apakah dia tidak punya apa-apa?

Ainz memeras otaknya yang tidak ada.

{Itu dia!}

Sebuah ide muncul di benaknya.

Dia sudah memberlakukan beberapa rencana pengambilan jatah cuti dahulu, tetapi semuanya sia-sia. Jika itu yang terjadi – bagaimana kalau dirinya memberi contoh bagi mereka dengan berlibur terlebih dahulu?

Membebaskan diri dari belenggu Nazarick untuk sementara waktu, dan menyerahkan pekerjaan yang diperlukan pada Albedo, pasti akan menjadi taruhan yang lebih aman daripada menyerahkan pekerjaan kepadanya.

Tetapi ada kemungkinan Albedo akan mengatakan jika Ainz, sebagai pemimpin tertinggi Nazarick, harus dilibatkan dalam proses perencanaan strategi. Jika dia mengatakan itu…

“Aku sudah menggunakan alasan mereka harus berlatih mandiri untuk jaga-jaga jika aku mati, maka ini bisa menjadi varian dari itu. Aku akan memberi tahu mereka, ketika aku tidak bisa dihubungi, Albedo akan bertanggung jawab atas segalanya – itulah rencana yang akan aku jalankan.”

Ainz mengepalkan tangannya.

Hanya saja—

{Kemana aku harus pergi?}

Dia bisa meningkatkan hubungan mereka dengan Empire dan hubungannya dengan Jircniv dari jalan-jalan mengunjungi Empire.

Atau dia bisa melakukan penyelidikan di pegunungan yang berisi bangsa Dwarven.

Holy Kingdom—

{—Kupikir itu tidak perlu, karena bagiku tidak ada yang bernilai di sana.}

Segala macam mimpi terwujud dalam benaknya saat mereka berkembang menjadi semakin rumit.

Dan kemudian, Ainz tiba-tiba teringat sesuatu.

{Bagaimana kalau aku mengirim anak-anak itu pergi agar mendapatkan teman elfnya?}

Aura dan Mare. Dia sudah memikirkan hal ini sebelumnya, tentang apakah dia menyerahkan terlalu banyak pekerjaan pada mereka berdua. Meskipun ini merupakan hal yang wajar dalam norma di dunia itu, Yamaiko berulang kali mengomel kepadanya jika cara mereka melakukan sesuatu salah. Jika itu yang terjadi, dia mungkin harus lebih toleran terhadap anak-anak itu.

Maka, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia mengajak mereka berdua pergi jalan-jalan?

{Kedengarannya bagus… tidak, bukankah itu rencana yang bagus? Jika aku melakukan itu, itu bisa menjadi contoh untuk para Floor Guardian tentang pengambilan jatah cuti, tetapi itu juga akan menjadi percobaan untuk melihat seberapa baik Nazarick akan tetap berjalan tanpa mereka.}

Dia sudah menyadari masalah meningkatnya beban kerja para Floor Guardian sejak lama. Mungkin dia bisa mencari solusi untuk masalah itu melalui ini.

“Baiklah!”

Setelah dia menyelesaikan sejumlah pekerjaan, dia harus membawa anak-anak itu menuju kerajaan Elf untuk mencari teman.

Ainz berdiri dan berjalan keluar dari ruangan dengan rencana yang tertanam dalam hatinya.


Overlord (LN)

Overlord (LN)

Ōbārōdo, オーバーロード, 不死者之王, 오버로드
Score 9
Status: Ongoing Type: Author: Artist: Released: 2010 Native Language: Japanese
Pada abad ke-21, dunia memasuki tahap baru VR Games ... dan "YGGDRASIL" dianggap di atas semua MMORPG ... tetapi, setelah mengumumkan bahwa semua servernya akan mati, game internet 'YGGDRASIL' ditutup ... atau seharusnya terjadi, tetapi untuk beberapa alasan, karakter pemain tidak keluar beberapa waktu setelah server ditutup. NPC mulai menjadi sementara. Seorang pemuda normal yang mencintai bermain game di dunia nyata tampaknya telah diangkut ke dunia alternatif bersama dengan guildnya, menjadi penyihir terkuat dengan penampilan skeleton, Momonga. Dia memimpin guildnya "Ainz Ooal Gown" menuju petualangan fantasi legendaris yang belum pernah terjadi sebelumnya!

Comment

Options

not work with dark mode
Reset